10 Konglomerat Indonesia Investasi Startup

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Dec 1, 2015.

Discuss 10 Konglomerat Indonesia Investasi Startup in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,760
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Beberapa minggu terakhir, Tech in Asia menyatakan bahwa landskap bisnis di Asia Tenggara akan segera diambil alih oleh para generasi millenial. Di Indonesia, ini berarti generasi kedua & ketiga keluarga konglomerat nasional akan memiliki kewenangan lebih dalam pengambilan keputusan.

    Generasi muda nan ambisius ini diyakini akan mencari celah investasi yg baru. Generasi millennial super kaya ini memiliki warisan yg harus dijaga, namun mereka juga mungkin akan merambah area bisnis baru & berjaya di sana. Menurut hemat kami, ranah baru ini tak diragukan lagi adalah bidang teknologi.

    Investasi di bidang teknologi adalah hal yg menarik bagi generasi millennial. Alasannya, teknologi telah menjadi bagian dari keseharian mereka, sehingga mereka jauh lebih mengerti potensi ekonomi digital di Asia Tenggara ketimbang orang tuanya. Kedua, modal awal untuk terjun di teknologi baru tak begitu berisiko. Namun, jika sukses, ini dapat mendatangkan keuntungan besar.

    Perusahaan milik keluarga di Indonesia yg sukses dengan perkebunan kelapa sawit, misalnya, kemungkinan tidak tertarik mengucurkan investasi $100.000 (sekitar Rp1,3 miliar) pada e-commerce baru. Mereka akan lebih memilih menanam modal ratusan juta dolar untuk membuka lahan baru di Kalimantan.

    Hal yg terpenting bagi mereka adalah memangkas biaya operasional, kecuali bahan baku & tenaga kerja. Sama halnya dengan raja real-estate yg beranggapan menggelontorkan dana $300.000 (sekitar Rp4,1 miliar) untuk sebuah aplikasi kencan lebih berisiko dari pada membangun pusat perbelanjaan baru di Jakarta Baratyang biayanya bisa sampai triliunan rupiah.

    Kenyataannya, telah terjadi transisi. Konglomerat bisnis di Indonesia sadar bahwa mereka harus menjadi bagian dari perkembangan teknologi ini, jika tak mau tergerus perubahan zaman sepanjang 10 tahun ke depan.

    Berikut, secara acak, 10 konglomerat di Indonesia yg telah memulai investasi di startup teknologi nasional. Meskipun tak semuanya diambil alih oleh para generasi millennial, bisa jadi perusahaan-perusahaan ini mendapat masukan dari mereka.
    1. Lippo Group[​IMG]Para pimpinan Venturra Capital John Riady (kiri), Rudy Ramawy (tengah), & Stefan Jung (kanan)

    Sejak beberapa tahun silam, Lippo Grup adalah perusahaan yg terlihat paling intens merambah lanskap teknologi & e-commerce nasional. Secara historis, perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pengembang real-estate terbesar di Asia Tenggara. Mereka juga memiliki aset dalam jumlah besar di Tanah Air, seperti Siloam Hospitals, departmentstore Matahari, & masih banyak lagi.

    Beberapa bulan terakhir ini, Lippo berinvestasi dengan meluncurkan MatahariMall, perusahaan e-commerce yg berharap mengambil alih tampuk kekuasaan Lazada sebagai e-commerce nomor satu di Indonesia. Lippo Group juga telah melakukan beberapa investasi di bidang teknologi, namun yg paling menyita perhatian hingga saat ini adalah sokongan dana di Venturra Capital sebesar $150 juta (sekitar Rp2 triliun) untuk startup di Indonesia & Asia Tenggara.
    Baca juga: Inilah strategi MatahariMall untuk mengalahkan Rocket Internet di Indonesia
    2. Sinar Mas[​IMG]Ardent Capital

    Sinar Mas termasuk ke dalam jajaran konglomerat paling berpengaruh di Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh pebisnis sukses Indonesia keturunan Tionghoa, Eka Tjipta Widjaja, yg menjalankan bisnis di berbagai sektor seperti pulp & kertas, real-estate, layanan keuangan, agrobisnis, telekomunikasi, serta pertambangan.

    Baru-baru ini mereka mendirikan venture capital sendiri bernama Sinar Mas Digital Ventures(SMVD). Perusahaan itu telah berinvestasi di beberapa startup semacam aCommerce, Female Daily, Network, GiftCard Indonesia, Cantik, serta HappyFresh. Di luar SMDV, Sinar Mas juga tergolong sebagai investor langganan bagi Ardent Capital, salah satu e-commerce paling agresif di Indonesia & Asia Tenggara.
    3. Emtek[​IMG]Emtek

    Didirikan tahun 1983 dengan nama PT. Elang Mahkota Teknologi, Emtek berawal sebagai perusahaan yg menyediakan layanan PC. Mereka telah berkembang menjadi grup perusahaan yg modern & terintegrasi dengan tiga sektor bisnis utama: media, telekomunikasi & solusi kebutuhan IT, serta konektivitas. Kini Emtek dikenal sebagai salah satu grup media terbesar di Indonesia.

    Sebagian besar aktivitas yg berhubungan dengan teknologi startup dilakukan oleh Emtek lewat anak perusahaannya, KMKLabs. Namun, di luar itu, mereka juga berinvestasi di beberapa startup lokal, yaitu situs e-commerce Bobobobo, marketplace Bukalapak, toko online khusus busana muslim HijUp, serta pemain e-commerce yg membawa transaksi online ke offline Kudo.
    4. Salim Group[​IMG]Salim Group

    Salim Group adalah salah satu raksasa dari Indonesia. Aset yg dimilikinya termasuk Indofood, produsen mi instan terbesar di dunia, & Bogasari, perusahaan penggilingan tepung terigu. Selama beberapa dekade terakhir, Salim Group juga terlibat dalam pengembangan properti & industri hiburan. Bisnisnya juga termasuk hotel & pengembangan resor, lapangan golf, & real-estate komersial.

    Salim Group tak begitu gencar dalam ranah investasi teknologi di Asia Tenggara. Namun, perusahaan milik generasi kedua mereka, Anthony Salim, yaitu Philippine Long Distance Telephone Company, menginvestasikan $455 juta (sekitar Rp6,2 triliun) untuk 10 persen saham perusahaan teknologi asal Jerman, Rocket Internet.

    Salim Group bisa dikatakan merupakan perusahaan pertama yg berkecimpung di dunia e-commerce sejak tahun 1997 silam. Walaupun mereka gagal mengambil alih aset yg pernah mereka jual, namun mereka menyatakan akan kembali mencoba mendirikan raksasa e-commerce.
    5. Djarum[​IMG]Martin Hartono

    Djarum merupakan perusahaan rokok dengan nilai yg telah berdiri sejak awal tahun 1950. Pada tahun 1970 Djarum menjadi salah satu penyedia rokok kretek terbesar di dunia. Pemiliknya yg bernama Budi & Bambang Hartono memutuskan untuk melakukan diversifikasi terhadap bisnis mereka.

    Setelah krisis finansial yg melanda Asia pada tahun 1998, Djarum menjadi bagian konsorsium (termasuk Lippo Group) yg membeli Bank Central Asia (BCA). Djarum menguasai 51 persen saham BCA. Keluarga Hartono terus-menerus menempati posisi teratas keluarga terkaya di Indonesia, dengan total kekayaan mencapai $16,5 miliar (sekitar Rp221 triliun).

    Putra Budi yg bernama Martin Hartono berinvestasi di bidang teknologi sejak beberapa tahun lalu saat ia mendirikan Global Digital Prima (GDP) Venture, di bawah bendera Djarum. Dua investasi yg paling terkenal milik GDP Venture ialah komunitas online Kaskus & situs jual beli online Blibli.

    Merah Putih inkubator teknologi & digital pertama di Indonesia, yg menanamkan investasinya di Infokost.id, Bolalob, Mindtalk, DailySocial, Kincir, serta Opini, juga berada di bawah naungan GDP Venture.
    6. Kompas Gramedia Group[​IMG]Edi Taslim yg menjabat sebagai digital group directordi Kompas Gramedia

    Kompas Gramedia (KG) merupakan konglomerat media terbesar di Indonesia. Awalnya mereka menerbitkan surat kabar dengan oplah 4.800 eksemplar di Jakarta Pusat. Sejak saat itu, mereka mengembangkan sayap bisnisnya ke radio, majalah, televisi, toko buku, perhotelan & pariwisata, serta media online.

    KGG menjalankan inkubator teknologi Skystar Ventures Universitas Multimedia Nusantara, Indonesia. Mereka juga mendanai Skystar Capital. Sebelumnya KGG juga berinvestasi di Apps Foundry, induk perusahaan dari Scoop Newsstand.
    7. Ciputra Group[​IMG]Junita Ciputra, direktur utama Ciputra Group Indonesia

    Ciputra Group telah mendirikan 11 sektor bisnis di Indonesia, termasuk real-estate & pengembang properti. Mereka mengembangkan beberapa proyek seperti pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, pusat layanan kesehatan, lahan pertanian, fasilitas telekomunikasi, & masih banyak lagi. Ciputra Group merupakan salah satu perusahaan dengan diversifikasi properti paling besar di Indonesia khususnya dalam jumlah produksi, lokasi, & segmen pasar.

    Meski Ciputra belum terang-terangan berinvestasi secara langsung ke dalam startup teknologi, namun mereka mendirikan inkubator Ciputra, GEPI yg berlokasi di jantung kota Jakarta. Misi mereka adalah memberikan wadah pelatihan untuk mengembangkan startup tahap awal.

    GEPI juga memiliki co-working space & secara berkala menjadi tuan rumah dalam acara-acara komunitas. Mereka juga mengklaim memberikan manfaat-manfaat inkubasi seperti mentoring & akses ke pendanaan. Mayoritas startup yg ada di bawah naungan GEPI berfokus pada teknologi.
    Baca juga: Pemimpin Ciputra Group, Junita Ciputra, Ingin Membantu Ciptakan 4 Juta Entrepreneur Baru
    8. MedcoEnergi[​IMG]Fasilitas Medco Energy

    MedcoEnergi merupakan perusahaan publik yg terdaftar sebagai perusahaan gas & minyak bumi. MedcoEnergy didirikan pada tahun 1980 oleh Arifin Panigoro. Cakupan bisnis mereka di antaranya adalah eksplorasi & produksi gas & minyak bumi, pengeboran, pembangkit tenaga listrik, pipa gas, serta pertambangan batu bara.

    Pada tahun 2013, MedcoEnergi mendanai Grupara VC perusahaan venture yg dipimpin pebisnis lokal Aryo Ariotedjo. Perusahaan juga pernah menanamkan modal kepada startup teknologi yg tak lagi beroperasi seperti Lolabox, & situs busana pria Maskoolin, yg baru-baru ini mendapat tambahan pendanaan.

    Ariotedjo mengakui kalau dalam beberapa tahun ini Grupara tidak begitu agresif, namun ada sumber yg mengatakan kalau kita akan menyaksikan aktivitas terbaru mereka dalam waktu dekat.
    9. MNC Group[​IMG]Menara MNC

    MNC Investama (MNC Group) didirikan di Surabaya pada tahun 1989 oleh Hary Tanoesoedibjo yg kini menjadi miliarder. Perusahaan ini awalnya hanya berfokus pada pasar modal. Sejak saat itu MNC telah melakukan diversifikasi bisnis. Saat ini mereka dikenal karena berkecimpung dalam berbagai sektor seperti media, transportasi, serta investasi.

    Pada tahun 2013. MNC membangun joint venture dengan Tencent, perusahaan teknologi asal China, bernama MNC Tencent. Tujuannya untuk memuluskan langkahnya dalam pasar online di Indonesia.

    Meskipun gaung joint venture itu tak lagi terdengar, & WeChat, aplikasi chatting milik Tencent, tak mendapatkan traksi di Indonesia, ada sumber yg mengatakan kepada Tech in Asia bahwa MNC diam-diam masih menanamkan investasi di bidang teknologi.
    10. Bakrie Group[​IMG]Path yg diakuisisi oleh grup Bakrie

    Bakrie Group merupakan konglomerat lokal yg didirikan oleh Achmad Bakrie pada tahun 1942. Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor seperti pertambangan, gas & minyak bumi, pengembangan properti, infrastruktur, perkebunan, media, serta telekomunikasi. Bakrie Group merupakan salah satu kelompok bisnis terbesar di Indonesia, bersama 10 perusahaan yg terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.

    Pada Januari 2014, jejaring sosial tertutup Path membukukan pendanaan tahap C sebesar $25 juta dengan Bakrie Group sebagai investor utama. Pada tahun 2011, perusahaan ini juga menyatakan ketertarikannya saat mereka mengatakan akan mengucurkan dana sebesar $15 juta (sekitar Rp205 miliar) untuk startup teknologi di Indonesia. Saat ini mereka juga melakukan kerja sama terbatas dengan VC bernama Converge Ventures, tanpa punya kontrol atas operasional perusahaan tersebut.
    Baca juga: Bakrie Group Pimpin Investasi Path Sebesar $25 juta

    (Diterjemahkan oleh Faisal Bosnia & diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page