3 Kisah Nyata tentang Gempa dan Tsunami yang Inspiratif

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Aug 4, 2015.

Discuss 3 Kisah Nyata tentang Gempa dan Tsunami yang Inspiratif in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,126
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]Udara terasa berat & gerah sore itu. Hawa gempa, begitu menurut para petani Jepang. Benar saja, lindu melanda tak lama kemudian. Tapi kekuatannya tak sampai bikin merinding. Negeri Sakura sering digoyang kekuatan alam.

    Tapi, Hamaguchi Gohei merasa aneh. Itu bukan gempa biasa. Durasinya panjang, gerakan yg berdenyut membuat kepala pria itu puyeng bukan kepalang.

    Dari balkon rumahnya yg terletak di atas bukit, mata Hamaguchi memandang ke arah kampung halamannya di Hiro-Mura, Semenanjung Kii.

    Rumah-rumah memang sempat berderak & bergoyang lembut, lalu diam & kembali tegak. Namun, firasatnya mengatakan, hal buruk akan terjadi.

    Lalu, seperti yg dikutip dari liputan6.com, ia pun bangkit dari duduknya, memandang ke arah laut yg seketika terlihat gelap gulita. Ombak bergerak terbalik, menjauhi bibir pantai. Segara yg surut membuat ikan-ikan menggelepar di atas pasir.

    Penduduk desa juga menyaksikan fenomena itu. Ramai-ramai mereka berlarian menuju pantai, ke laut yg mendadak berubah jadi daratan.

    Hamaguchi Gohei juga belum pernah melihat hal seperti itu terjadi. Entah mengapa, nasihat sang ayah langsung terngiang di telinganya: jangan dekati laut yg surut, berlari menjauh menuju bukit.

    Hamaguchi sadar, malapetaka segera terjadi. Tak cukup waktu untuk memperingatkan penduduk desa / meminta para biksu membunyikan lonceng keras-keras. Pengusaha itu memeras otak. Ia lalu ingat tumpukan padi di sawah. Hasil panen musim gugur yg memuaskan.

    Tada, cepatcepat! Nyalalakan obor, teriak Hamaguchi kepada cucunya yg berusia 10 tahun, seperti dikutip dari situs www.inamuranohi.jp.

    Taimatsu — obor dari kayu pinus — ia sulut ke timbunan padi. Tumpukan sekam meledak jadi kobaran api, rabuk berterbangan liar, asap hitam membumbung tinggi membentuk cendawan.

    Tada heran bercampur takut. Bocah itu menangis histeris. “Ojiisan! Ada apa? Ojiisan!, teriaknya berkali-kali, menuntut jawaban. Tapi Hamaguchi diam. Tak ada waktu untuk memberi penjelasan.

    Ojiisan berarti kakek. Penduduk desa juga memanggilnya dengan sebutan itu, tapi dengan alasan berbeda: Hamaguchi adalah orang paling kaya. Ia juga punya jabatan resmi, sebagai Choja / tetua.

    Pertanyaannya tak digubris, Tada pun berlari pulang. Kala itu dia yakin, kakeknya sudah gila.

    Tsunami Menerjang

    Melihat asap yg mengepul, penduduk bergegas naik ke bukit. Para pemuda & remaja pria sampai lebih dulu, disusul perempuan, lansia, ibu-ibu yg menggendong bayinya, juga anak-anak. Wajah mereka diliputi heran. Matahari sedang mendekati cakrawala kala itu. Siap terbenam. Langit terlihat memerah dengan rona ganjil.

    Kakek jadi gila, aku takut, kata Tada di tengah kerumunan, terisak. Dia sengaja membakar lumbung padi: aku melihatnya sendiri.

    [​IMG]Inspirasi gempa Jepang dalam Inamura no Hi

    Anak itu benar. Aku membakar padi-padi itu. Apakah semua orang ada di sini?, jawab Hamaguchi.

    Ya, semua ada di sinilainnya segera sampaiTapi, Choja, kami sama tak mengerti, jawab perwakilan penduduk, memohon penjelasan.

    Lalu, Hamaguchi menunjuk ke arah laut. Semua mata pun menoleh ke mana ujung jarinya mengarah. Warga desa menyaksikan ombak raksasa meluncur cepat. Tsunami!, suara teriakan orang-orang teredam gemuruh.

    Gelombang gergasi menghantam bukit. Sampai lima kali. Cipratan air bercampur busa membumbung tinggi. Tak ada yg berkata-kata. Ngeri, takut, cemas… Mata-mata mereka menatap sedih ke bawah, ke rumah-rumah yg rata dengan tanah. Harta benda mereka musnah digulung bah.

    Kemudian, suara Hamaguchi memecah keheningan. Itu alasan mengapa aku membakar lumbung padi. Hari itu ia menyelamatkan 400 nyawa.

    Kepahlawanan Hamaguchi tertulis dalam kisah ‘Inamura No Hi’. Yang diambil dari kisah nyata gempa bumi Ansei-Nankai, Jepang, pada 1854.

    Saat kejadian, Hamaguchi baru 34 tahun.

    Hamaguchi meninggal pada 21 April 1885 di New York, saat mewujudkan keinginannya berkelana ke Eropa & Amerika Serikat. Dua bulan kemudian, sekitar 4.000 orang menghadiri upacara pemakaman yg digelar di desanya.

    Hamaguchi Gohei sudah lama tiada, namun, kisahnya abadi. Menjadi inspirasi.



    Legenda Lele Raksasa[​IMG]Gempa Ansei-Nankai yg terjadi pada 1854 memiliki kekuatan 8,4 skala Richter. Di Kyusu, ia menghabisi sekitar 10.000 nyawa.

    Saat Hamaguchi menyelamatkan ratusan jiwa, orang-orang justru sibuk menyalahkan seekor lele raksasa. Namazu namanya. Demikian menurut Journal of Social History, seperti dikutip dari situs sains LiveScience.

    Lele raksasa konon tinggal di perut bumi, tepat di bawah Jepang. Gerakan liar ikan berwarna hitam & berkepala gepeng itu diyakini memicu guncangan hebat. Hanya Dewa Kashima yg bisa mengendalikan polahnya. Menggunakan batu besar yg diletakkan di kepala hewan itu. Mirip matador yg menunggang banteng.

    Saat pengawasan Kashima lengah, Namazu menjadi liar. Gempa pun terjadi. “Selama Dewa Kashima beserta kita,” demikian cuplikan kalimat dari buku puisi Jepang dari Abad ke-8, ‘Manyoshu’ seperti dikutip dari Japan Times. “Batu poros itu mungkin bergoyang, tapi ia tak akan hancur.”

    Setahun kemudian, gempa lain mengguncang.

    Awalnya, penduduk Edo yakin, kota mereka kebal gempa. Belajar dari insiden lindu 1703, sumur-sumur dibangun di wilayah yg kini bernama Tokyo. Sebagai sumber air sekaligus ventilasi bagi energi bawah tanah. Jangan sampai kekuatan itu terkumpul makin besar & menunggu saatnya meledak.

    Juga agar kekuatan ‘yang’ yg panas tak terjebak di lingkungan sejuk ‘yin’ & menimbulkan malapetaka.

    Belakangan, keyakinan itu terbukti salah. Pada 11 November 1885, pukul 10.00 waktu setempat, tanah yg mereka injak berguncang hebat. Kekuatannya ‘hanya’ setara 7 skala Richter, namun akibatnya dahsyat.

    Kota luluh lantak, 14 ribu bangunan hancur. Kebakaran terjadi di sana sini. Edo menjadi lautan api.

    Aroma kematian bercampur dengan pekatnya asap. Tujuh ribu hingga 10 ribu manusia tewas. Kondisi mereka yg masih bernyawa pun tak lebih baik. Setiap hari terjadi 80 kali gempa susulan, yg baru reda setelah matahari terbit untuk kesembilan kalinya.

    Mendadak, ikan lele bertebaran di kota. Bukan fisil, melainkan dalam bentuk gambar / namazu-e.

    “Dua hari setelah gempa, gambar-gambar ikan lele dijajakan di penjuru kota, ” kata Greg Smits, ilmuwan Pennsylvania State University kepada Journal of Social History. Lebih dari 400 motif.

    Bedanya, warga tak serta merta menuding lele raksasa itu sebagai sumber bencana. “Namazu-e menjadi semacam kode / cara masyarakat mengekspresikan dirinya, kata Smith.

    Gambar namazu digunakan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa bakufu, pemerintah militer tak berdaya melawan kekuatan alam. Kedigdayaan pemerintahan tiba-tiba dipertanyakan. ”

    Lele raksasa juga dianggap mewakili simbol lain.

    Setelah gempa besar Tokyo 1855, namazu juga digambarkan sebagai Yonaoshi Daimyoujin, dewa yg memperbaiki kondisi dunia. Sebab, dengan gempa, ia telah mendistribusikan kekayaan dari yg kaya ke miskin.

    Mengapa lele?[​IMG]Namazu, lele raksasa dalam mitologi Jepang

    Di masa lalu warga Jepang memperhatikan tingkah sejumlah hewan, diyakini dengan cara itu mereka akan mengetahui kapan bumi akan bergoyang. Terutama lele.

    Gagasan bahwa lele bisa memprediksi gempa bumi bahkan masih bertahan hingga kini di Jepang. Pemerintah bahwa mengucurkan anggaran penelitian soal lele pada 1993. Pasca-gempa 9 SR yg memicu tsunami di Negeri Sakura, surat kabar diwarnai spekulasi tentang kaitan ikan & gempa.

    Pelajaran BerhargaGempa Kanto 1923, yg menewaskan 140 ribu orang di Tokyo, menjadi pelajaran berharga bagi Jepang. Kini, Negeri Sakura memiliki sistem peringatan dini paling baik di dunia.

    Tak hanya itu, pelatihan bencana dilakukan secara serius. Sekitar 795.000 orang, termasuk perdana menteri, ikut dalam simulasi bencana yg dilakukan tiap 1 September — hari di mana Gempa Kanto mengguncang.

    Masyarakat Jepang sadar bencana. Di dekat pintu rumah, mereka mempersiapkan ransel yg berisi air botolan, makanan kering / makanan kalengan, obat-obatan P3K, uang tunai, pakaian kering, radio, senter, & beberapa baterai pengganti. Boleh juga ditambahkan suplemen, kacamata, obat-obatan khusus, / makanan bayi dalam tas khusus mereka. Alat-alat penyelamatan gempa bahkan dijual di supermarket.

    Pelatihan menghadapi bencana dilakukan secara rutin, bahkan dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah-sekolah dasar.

    Kekayaan Jepang sebagian diinvestasikan untuk membangun gedung & infrastruktur tahan gempa. Mahal memang, tapi menurut ahli, kebijakan ini terbukti telah menyelamatkan ribuan jiwa.

    Dan ini yg tak kalah penting: Kemungkinan kecil gedung sekolah / rumah sakit rubuh saat gempa. Sebab, fasilitas publik dibangun tanpa ulah nakal & korupsi para penyelenggara negaranya.



    Baca juga mengenai prasasti-prasasti kuno peringatan tsunami di jepang disini



    Kisah Smong di Aceh[​IMG]

    Smong dumek-dumek mo (tsunami itu air mandimu)Linon uwak-uwak mo (aempa ayunanmu)Elaik Keudang-keudang mo (petir kendang-kendangmu)Kilek suluh-suluh mo (halilintar lampu-lampumu)

    Angalinon ne mali (jika gempanya kuat)Oek suruk sauli (disusul air yg surut)Maheya mihawali (segeralah cari tempat)Fano me tenggi (dataran tinggi agar selamat)

    Masyarakat Simeulue tahu benar syair itu. Kearifan lokal dari nenek moyang yg terbukti menyelamatkan mereka dari maut. Menjadi jembatan informasi antar-generasi tentang bencana yg bahkan yg terdata para ilmuwan gempa.

    Pada 26 Desember 2004 lalu Aceh dilanda gempa hebat. Ratusan ribu orang tewas di sejumlah negara karenanya. Namun, sebagian besar warga Simeulue selamat.

    Berdasarkan penelitian geologi yg dilakukan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh bersama Earth Observatory Singapore (EOS), Aceh diperkirakan beberapa kali dihantam tsunami di antaranya pada 1394 & 1450 Masehi.

    Tsunami purba saat itu diperkirkan menjadi penyebab hilangnya Kerajaan Lamuri pada Abad ke-14, & menenggelamkan pusat Kerajaan Indrapurwa di Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar.

    Setelah 1934 & 1450, tsunami diperkirakan pernah melanda Pulau Simeulue pada 1907.

    Sementara di kalangan masyarakat pesisir Aceh lainnya, tsunami merupakan istilah baru. Tsunami 2004 menjadi pelajaran pertama. Bencana itu juga menjadi pengingat, bahwa Nusantara rentan terhadap bencana. Terutama gempa.

    Pelajaran mahal yg — semoga — tak mudah dilupakan. Baca juga mengenai tsunami aceh setelah 10 tahun disini & peluang terjadinya tsunami disini

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten 3 Kisah Nyata tentang Gempa dan Tsunami yang Inspiratif diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. 3 Kisah Nyata tentang Gempa dan Tsunami yang Inspiratif.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page