4 Alasan Kenapa Indonesia Butuh Game Rating Sendiri

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Sep 9, 2014.

Discuss 4 Alasan Kenapa Indonesia Butuh Game Rating Sendiri in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,135
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Yo N3 Mania!

    Sistem game rating selalu ada di setiap negara yg sudah cukup maju industri game nya, di beberapa negara tersebut kita mengenal sistem rating CERO dari jepang, ESRB dari Amerika & PEGI untuk Eropa. Kalau dilihat latar belakangnya tujuan dari pembentukan masing masing sistem rating tersebut tidak lepas dari maksud untuk menyediakan konten yg sesuai untuk pemirsa di masing masing negara / wilayah tersebut.

    Sebagai negara yg konsumen produk game nya sudah mencapai puluhan juta orang, inilah alasan kenapa kita harus sudah mulai menciptakan sistem penilaian sendiri.

    4
    Membantu Masyarakat Percaya

    [​IMG]

    Untuk menjelaskan hal ini saya mengambil salah satu contoh yg terjadi pada konsumsi produk makanan,Manakah yg kita akan pilih konsumsi, produk yg sudah mempunyai ijin BPOM or yg belum mempunyai ijin ?. Mungkin ini analogi yg tidak sempurna karena produk makanan berbeda dengan konten game, namun demikian tidaklah salah beranggapan bahwa masyarakat akan lebih percaya terhadap segala sesuatu yg sudah dijamin oleh lembaga yg memiliki otoritas.

    Dengan melabeli produk game maka pemerintah akan turun tangan menjaminkesesuaian dari suatu produk yg akan dikonsumsi masyarakat.Kami percaya bahwa turun tangannya pemerintah ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk game di indonesia yg pada akhirnya berpotensi mengakselerasi pertumbuhan industri.

    3
    Budaya nya Lain

    [​IMG]

    Meskipun ini tentang budaya, saya akan skip segala sesuatu tentang budaya “ketimuran”. Saya lebih percaya ambang batas “wajar” terhadap suatu produk budaya akan bergeser seiring waktu, contohnya adalah sekitar 10 tahun lalu amat sulit menemukan sejoli yg peluk pelukan di tempat umum, tapi sekarang sih biasa saja. Di masa yg tidak terlalu jauh kedepan mungkin tindakan yg lebih jauh-contoh : ciuman akan menjadi peman&gan yg wajar.

    Namun demikian di indonesia ada beberapa hal yg secara built inkita sangat tidak toleran, contohnya LBGT, saya percaya sampai masa hidup kita usai, urusan ini tidak akan dianggap wajar oleh masyarakat, bahkan kalaupun nantinya diperbolehkan oleh pemerintah. Ada juga hal fundamental lain dimana kitasemakin toleran terhadap isu rasial, sebutan cina, onta, item, ambon, tokek, bulus & hewan hewan lain itu sangat biasa, bahkan mengarah ke ledekan biasa saja & bukan SARA

    Kondisi tersebut secara praktis menjadikan kita sangat berbeda dengan negara lain yg telah menerapkan sistem rating. Oleh karena itu perbedaan persepsi terhadap budaya tersebut harus diwadahi dengan rangkaian sistem rating yg didesain khusus untuk Indonesia.

    2
    Sudah ada Sistem Rating Yang Sudah Berjalan

    [​IMG]

    Memang sih, dulu hadirnya LSF ini sangat lekat dengan kebijakan di masa orba yg otoriter, terutama mengenai konten. namun seiring berkembangnya waktu rasanya semangatnya sedikit banyak sudah bergeser. Sekarang semangatnya lebih condong ke melindungi kepentingan masyarakat banyak.Lebih jauh lagi, menurut penelusuran kami lembaga ini relatif sukses , memang sih standarnya saya rasa cukup bergeser. Dulu jika ada adegan agak mesra sedikit pasti dipotong & diganti peman&gan. Kalau sekarang rasanya asal tidak terlalu intim cukup dipotong seperlunya. hehehe

    Dengan kesuksesan lembaga tersebut menjadi benteng konten film, kenapa tidak dikembangkan sedikit lebih jauh ke konten permainan interaktif. Penambahan fungsi ini juga rasanya rasanya jauh lebih efisien daripada menambah lembaga baru.

    1
    Industri Sudah Siap

    [​IMG]

    Dengan potensi pasar mencapai $490 Juta dollar, Industri game indonesia rasanya sudah cukup siap untuk mulai masuk dalam fasa ratingisasi ini. Sebagai pembanding, Australia yg industrinya baru mencapai $900 juta dollar pada tahun 2007 sudah mengimplementasikan sistem rating pada tahun 1970 an.

    Selain ukuran pasar, di Indonesia pelaku bisnisnya juga sudah cukup banyak, menurut catatan kami per 2014 ini sudah ada lebih dari 25 game publisher & 100 game developer yg pernah mengadu peruntungan di kancah dunia game Indonesia. Jumlah yg sudah cukup banyak ini tentu menjadikan struktur persaingan pasar sempurna, yg berarti sudah siap untuk berkembang lebih jauh.

    Proteksi non tarif juga merupakan isu yg penting, dengan mengimplementasikan kebijakan ini kita bisa mendorong produk game luar yg ingin memasarkan produk di Indonesia untuk mengadopsi konten lokal. Sehingga dengan demikian mau tidak mau budaya kita akan berkembang melalui media game.

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten 4 Alasan Kenapa Indonesia Butuh Game Rating Sendiri diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page