6 startup potensial asal Asia Tenggara tahun 2016

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Dec 1, 2015.

Discuss 6 startup potensial asal Asia Tenggara tahun 2016 in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,757
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Sepertinya tahun 2015 masih menjadi tahun yg menakjubkan bagi startup di Asia Tenggara. Mengacu pada database milik Tech in Asia, jumlah keseluruhan pendanaan venture capital dari kuartal tiga tahun 2014 hingga periode yg sama pada tahun ini ada di angka $1,7 miliar (sekitar Rp23 triliun )dua kali lipat lebih besar dari setahun sebelumnya.

    Meskipun pendanaan di wilayah ini masih jauh dari apa yg didapatkan India, yg mendapat menarik dana investasi startup sebesar $6,4 miliar (sekitar Rp88,5 triliun ), Asia Tenggara masih bisa optimis.

    Di penghujung tahun 2015 ini, kita bisa mengintip apa yg akan terjadi pada tahun depan. Dalam artikel ini, kami melacak enam startup yg dapat memberi pengaruh besar di Asia Tenggara tahun 2016, termasuk tren baru yg mereka bawa.
    Honestbee: Pertarungan filosofi
    [​IMG]

    Startup asal Singapura, Honestbee, tampil sebagai layanan yg mengirimkan para pegawai mereka untuk membeli kebutuhan grosir kita. Honestbee adalah versi Asianya Instacart. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk memperoleh $15 juta (sekitar Rp207,5 miliar) dari investor untuk ekspansi secara regional.

    Ini memberi mereka waktu untuk membuktikan bahwa model bisnis mereka bisa berhasil. Dengan pendekatan yg sama, Honestbee & Happyfresh asal Indonesia berada di posisi yg sama. Redmart-nya Singapura berada di posisi yg lain.

    Honestbee percaya mereka dapat berkembang cepat dengan memanfaatkan infrastruktur supermarket yg sudah ada untuk mengirim barang kepada konsumen. Ini adalah model aset rendah yg membutuhkan modal eksternal lebih sedikit.

    Redmart menentang pendekatan ini. Mereka merasa model bisnis Honestbee secara keseluruhan lebih tinggi. Bisa-bisa konsumen harus membayar lebih banyak. Redmart lebih memilih membangun infrastruktur dari nol. Biayanya meningkat cepat, tapi tertutupi lewat investasi yg mereka dapatkan.

    Tahun 2016 akan menjadi tahun yg krusial bagi keduanya. Bagi Honestbee, mereka perlu meningkatkan volume pemesanan agar bisnis mereka bertahan.

    Mereka harus melakukannya tanpa membebankan biaya tambahan terhadap konsumenatau setidaknya berharap mereka mendapat cukup keuntungan dari konsumen yg tidak keberatan membayar lebih.
    Bagi Redmart, mereka perlu mendapatkan lebih banyak pendanaan, khususnya rencana mereka ekspansi ke Hongkong mungkin akan memerlukan investasi yg besar.

    Agar Redmart bisa menarik pendanaan, tantangan terberatnya adalah meyakinkan investor akan model bisnis yg belum terbukti kesuksesannya ini. Sebagai pertimbangan, sejauh ini Asia lebih condong terhadap e-commerce dengan aset rendah.

    Seperti misalnya Lazada yg berkembang dari perusahaan dengan inventori sendiri menjadi sebuah marketplace. Lalu ada Alibaba, yg saat awal kemunculannya, menghubungkan satu bisnis dengan bisnis lainnya namun tidak bermain di logistik.

    Redmart bergerak secara perlahan namun pasti, dan, sejauh yg kami tahu, tahun depan startup ini masih hanya tersedia di Singapura dang Hong Kong, meski telah berdiri sejak tahun 2012.
    Baca juga: Rencana Besar RedMart untuk Menjadi Toko Serba Ada di Asia Tenggara
    GO-JEK: Memberi perlawanan kepada GrabTaxi
    [​IMG]



    GrabTaxi mungkin bisa dikatakan sebagai rajanya aplikasi booking taksi di Asia Tenggara, namun mereka tetap harus siaga dengan kompetitor yg ada.

    GrabTaxi boleh menjadi pilihan teratas saat kita ingin memesan taksi, namun raksasa di bisnis yg sama, Uber, adalah pilihan yg tepat jika kita mencari privasi. Lalu, untuk urusan bus shuttle di Filipina, U-Hop adalah aplikasi on-demand paling utama.

    Sedangkan di Indonesia ada GO-JEK, transportasi on-demand berbasis sepeda motor. Popularitas _startup ini meledak pada tahun 2015. Meski GO-JEK menolak untuk membeberkan berapa jumlah rider mereka, sebuah sumber mengatakan kepada kami bahwa pertumbuhannya terbilang mengejutkan.
    Helm bertuliskan GO-JEK kini bertebaran di jalanan macet Jakarta, & startup ini berhasil menerima pendanaan dari venturecapital_ papan atas, Sequoia.

    Tak diragukan lagi, GO-JEK memiliki target pada tahun 2016. Mereka sedang menghadapi kesulitan & merasa semakin sulit memuaskan para ridernya. Mereka telah melakukan uji coba layanan pesan antar sebagai bagian dari fitur utama.

    Itu selangkah di depan Uber yg hanya berkecimpung di bidang logistik sebagai strategi marketing saja. GO-JEK perlu melewati ujian ini untuk sampai di level tertinggi.
    Baca juga: Persaingan Sengit GrabBike & GO-JEK di Indonesia
    Belazee: Bisakah mereka menghadirkan keajaiban di Asia Tenggara?
    [​IMG]

    Pada tahun 2015, Magic muncul dari akselarator startup ternama, Y Combinator, dengan pendanaan Sequoia senilai $40 juta (sekitar Rp553,5 miliar).

    Keunggulan utamanya? Mereka berfungsi sebagai kurir yg dapat dipesan lewat SMS untuk berbagai keperluan, entah itu berbelanja di Amazon / memesan makanan di GrubHub. Katakan saja layanan apa yg kita inginkan, & mereka akan menanyakan kita beberapa pertanyaan sebelum menerima pesanan.

    Pada dasarnya, Magic mempermudah kita transaksi dengan layanan e-commerce yg sudah ada. Dan, dengan kenyamanan yg ditawarkan, mereka yakin konsumen mau mengeluarkan biaya ekstra.

    Startup semacam ini menjamur di berbagai tempat. Di Asia Tenggara, Be Lazze (atau Be Malas dalam bahasa Malaysia) berada di garis depan setelah mendapatkan seedfunding. Ada juga _startup serupa seperti Djenee (dilafalkan genie) & YesBoss. Facebook juga ikut meramaikan persaingan dengan M, yg memadukan mesin & manusia untuk memenuhi permintaan pengguna.

    Kami tak tahu apakah model bisnis seperti ini akan berhasil di Asiabegitupun wilayah lain. Bahkan Magic sendiri belum dapat dikatakan berhasil. Pada tahun 2016, Be Lazee & kawan-kawan harus membuktikan kalau mereka tidak sedang menuju jurang kegagalan.
    Carousell: Ditantang dari segala penjuru
    [​IMG]

    Carousell, startup favorit di Singapura saat ini, adalah perusahaan pertama yg bermain di model e-commerce mobile dari konsumen ke konsumen di Asia Tenggara. Carousell adalah salah satu aplikasi gaya hidup yg sedang tren di beberapa negara. Kami dengar, volume barang yg mereka jual mencapai ratusan juta.

    Meski begitu, kejayaan mereka sedang dalam ancaman.

    Facebook sedang berusaha mengubah layanan mereka lebih ke arah marketplace. Shopee, aplikasi milik Garena, perusahaan teknologi asal Asia Tenggara dengan sumber daya melimpah, termasuk di dalamnya. Selain jumlah unduhan aplikasi mereka fantastis, Shopee punya fitur yg tidak dimiliki Carousel: Pembayaran dalam aplikasi beserta layanan pesan antar.

    Dan kami belum menyinggung Tokopedia, Bukalapak, Duriana, & Trezo. Karena persaingan di bisnis ini semakin ramai, masing-masing harus memilih antara konsolidasi yg tak bisa dihindari / gulung tikar.

    Kami belum melihat bagaimana Carousell akan bereaksi terhadap kedatangan Shopee. Meskipun Carousell adalah yg pertama, mereka belum juga memperkenalkan fitur pembayaran / logistik. Akankah mereka akan bernasib sama seperti Friendster? Ataukah mereka akan menjawab tantangan dengan percaya diri.
    Ninja Van: Menghadapi para raksasa
    [​IMG]

    Ninja Van melihat booming-nya e-commerce di Asia Tenggara sebagai peluang untuk menyediakan jasa antar satu hari. Startup ini menyatakan telah mengembangkan semacam algoritma untuk mempercepat pengiriman barang, menekan biaya, selain juga lebih dapat diandalkan.

    Keunggulan utama Ninja Van adalah mereka mampu menangani permintaan antar barang yg tiba-tiba membeludak. Ini dilakukan dengan memanfaatkan mobil-mobil milik perusahaan lain yg sedang tak digunakan. Baru-baru ini, Ninja Van ekspansi ke Indonesia. Di sini, keandalan layanan mereka akan diuji.

    Ninja Van berkompetisi dengan sejumlah pemain lain di wilayah yg sama. Seperti Singpost yg keunggulannya terletak pada kerja sama mereka dengan raksasa e-commerce asal China, Alibaba, & keahlian mereka mengirimkan barang lintas negara.

    Sementara itu, Rocket Uncle juga ingin menguasai bisnis layanan pesan antar satu hari. Bahkan GO-JEK sedang berbenah untuk menjadi pemain di bidang logistik dengan mengandalkan para rider mereka. Anchanto, Courex, & aCommerce juga membidik pasar yg sama.

    Melihat e-commerce akan terus tumbuh di negara berkembang, semua startup ini memiliki kesempatan yg sama untuk bertahan. Namun, mengingat ini adalah permainan volume, ada kemungkinan terjadinya merger.
    Iflix: Venture besar milik Patrick Grove?
    [​IMG]

    Patrick Grove mungkin baru saja ditasbihkan menjadi pebisnis internet paling sukses di Asia Tenggara dengan exit terbarunya, iProperty, yg dihargai senilai $534 juta (atau sekitar Rp7,3 triliun) .
    Jadi apa rencana Patrick selanjutnya? Lewat situs online streaming iFlix, ia ingin menggulingkan industri TV & TV kabel di Asia.
    Sayangnya, pemilihan waktu untuk terjun di ranah ini tampaknya kurang tepat.

    Netflix akan masuk ke Asia. Mereka menghadirkan sekumpulan konten produksi sendiri yg sangat menarik. Belum lagi operator telekomunikasi terbesar di Singapura, SingTel, telah meluncurkan Hooq. HGO Go juga sudah masuk ke Singapura dengan menggandeng perusahaan TV kabel StarHub.

    Ditambah lagi, sistem berlangganan konten di pasar berkembang tergolong sukses karena konsumen rela membayar. Ini merupakan ranah yg sangat dikuasai oleh Netflix. Sehingga rencana mereka ekspansi ke Asia bagai gayung bersambut. Netflix sudah diluncurkan di Jepang & akan memulai debutnya di Singapura, Korea, Hong Kong, serta Taiwan pada tahun 2016.

    Pasar di negara berkembang sudah dalam genggaman, namun Netflix belum menunjukkan strategi apa yg akan mereka terapkan. Mengingat rendahnya daya beli konsumen & enggannya mereka mengeluarkan uang untuk menikmati konten, Netflix mungkin perlu menurunkan skema harganya.

    iFlix & Hooq yg hadir duluan di Asia menawarkan biaya langganan $3 (sekitar Rp41 ribu) per bulan, jauh lebih rendah dari paket paling murah Netflix yg berada di angka $7,99 (Rp109 ribu).

    Tak seperti Netflix, iFlix & Hooq memperbolehkan pelanggan untuk mengunduh video agar bisa ditonton offline. Juru bicara iFlix mengatakan kepada Tech in Asia bahwa ini merupakan fitur penting di negara-negara dengan akses internet lambat & tak stabil.

    Pengguna tak perlu koneksi internet untuk menikmati tontonan di iFlix. Ini membuka peluang bertambahnya pelanggan serta menyingkirkan keharusan memiliki akses internet berkecepatan tinggi. Pengguna dapat mengunduh saat koneksi sedang bagus, & menontonnya secara offline saat koneksi sedang lambat. Ini juga menjamin pengalaman menonton yg sempurna bagi pelanggan, tambahnya.
    Baca juga: Layanan Internet TV iFlix Akan Segera Masuk Ke Indonesia

    (Diterjemahkan oleh Faisal Bosnia & diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page