Liga Jerman Belajar Mencintai Diego Simeone

Discussion in 'Bola' started by Bola, May 5, 2016.

Discuss Belajar Mencintai Diego Simeone in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    42,662
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Selasa, 30 Juni 1998, satu pelanggaran konyol yang kemudian menjadi legendaris dilakukan David Beckham, pada menit ke-47 dalam duel babak 16 besar Piala Dunia 1998 antara Argentina dan Inggris.

    Emosi lantaran mendapat terjangan keras dari seorang penggawa Argentina, Beckham yang masih terjatuh tengkurap secara sengaja mengangkat kakinya untuk menyandung sang pelanggar.

    Sentuhan yang diberikannya ringan, sangat ringan, namun sang pelanggar yang sadar pandangan wasit mengarah padanya langsung berakting jatuh seakan diterjang tekel dua kaki.

    Sontak saja sang wasit, Kim Milton Nielsen, memberi kartu merah langsung pada Beckham! Sementara untuk terjangan badai plus diving sang Argentina, pemimpin laga asal Denmark itu hanya mengganjarnya dengan kartu kuning.

    Inggris yang tengah menampilkan performa heroik, lantas hanya bermain dengan 10 orang dan akhirnya kalah di babak adu penalti usai bermain imbang 2-2 selama 120 menit.

    Hal itu lantas membuat publik Inggris dan dunia murka, karena pemain yang bisa dikatakan paling dipuja dan populer saat itu dinodai dengan cara yang licik. Dan kebencian itu ditujukan untuk satu sosok saja, bukan pada Nielsen melainkan sang pelanggar, yakni Diego Simeone.

    "Saya melanggarnya, kami berdua jatuh ke tanah. Saat saya mencoba untuk berdiri saat itulah dia menendang saya dari belakang. Dan saya mengambil keuntungan dari aksi itu. Saya pikir semua orang akan mengambil keuntungan dari aksi tersebut dengan cara yang sama,” ungkap Simeone empat tahun usai kejadian.

    [​IMG]

    Licik memang, tapi begitulah Simeone dikenal. Ia selalu menghalalkan segala cara untuk menang, tak peduli bagaimana khalayak sepakbola yang mengakui 'suci' bereaksi.

    Berposisi sebagai gelandang tengah semasa bermain, Simeone merupakan sosok paling tak disukai setiap lawannya. Tekniknya biasa saja, tapi permainan kerasnya, kelihaiannya melakukan diving, dan provokasinya di sepanjang laga, sungguh-sungguh mampu membuat emosi lawan meledak.

    Sikap kontroversial itu bahkan dipertahankan Simeone hingga kini menjadi pelatih. Ada begitu banyak dan segalanya makin tegas ketika dirinya mencuat bersama Atletico Madrid.

    Mulai dari memanfaatkan anak gawang mencegah lawan melakukan serangan balik, memengaruhi wasit untuk mengusir pelatih lawan dari bangku cadangan, menantang pemain lawan berkelahi, melempar lawan dengan bola, hingga menampar ofisial timnya sendiri! Ah, masih banyak lagi.

    Bukan hanya faktor non-teknis karena jika bicara teknis, gaya taktikalnya juga mengundang hujan kritik. Simeone punya filosofi permainan pragmatis yang dinilai kebanyakan orang amat membosankan.

    Timnya diinstruksikan bertahan total, punya rerata mencetak gol yang tak sampai menyentuh angka dua, bermain keras, dan memaksimalkan berbagai kesempatan untuk bersikap licik, entah lewat diving, mengulur-ulur waktu, bahkan mengeringkan lapangan sebelum laga.

    "Soal gaya bermain Atletico, Saya tidak senang menonton tim yang ‘menutup toko’ mereka, menumpuk para pemainnya di belakang," kritik legenda Barcelona, Xavi Hernandez, atas gaya bermain tim asuhan Simeone.

    Plus kebiasaan Simeone menunjukkan sisi antagonisnya dengan selalu berpakaian serba hitam di setiap laga, tentu sangat mudah untuk membencinya bukan?

    [​IMG]

    Namun tak adil jika melihat Simeone dari sisi buruknya saja, karena saat ini kita dihadapkan pada fakta untuk melenyapkan kebencian padanya. Ya, dengan caranya sendiri El Cholo seakan memaksa kita belajar mencintainya.

    Keberhasilan terbaru pria 46 tahun ini mengantarkan Atletico ke final Liga Champions untuk kali kedua dalam tiga musim terakhir, merupakan penegas atas kesuksesan masifnya sebagai pelatih muda.

    Sebelumnya dalam lima tahun terakhir Los Colchoneros sudah diantarkannya meraih gelar Liga Europa, Piala Super Eropa, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, hingga La Liga Spanyol.

    Deretan pencapaian brilian itu akan tergolong biasa jika Simeone meraihnya bersama klub yang punya tradisi juara. Namun ia menggapainya bersama Atletico, tim yang sebelum kedatangannya dianggap biasa saja di Spanyol bahkan tak masuk hitungan tim elite Eropa.

    SIMAK JUGA
    Simeone Senang Kalahkan Dua Tim Terbaik Eropa
    Simeone Tampar Delegasi Atletico
    Alasan Inter Harus Gaet Simeone

    Berbekal skuat seadanya, Simeone fantastis mengubah Atletico jadi tim yang kompetitif dengan Barcelona, Real Madrid, dan Bayern Munich. Caranya tentu saja dengan bermain pragmatis.

    Gaya bermain macam itu memang menjemukkan, bahkan beberapa pihak yang pro dengan tiga tim pesaing di atas menyebut Simeone telah mengkhianati sepakbola.

    Namun Simeone jelas tahu dirinya tak menyalahi aturan apapun apalagi mengkhianati sepakbola. Ia juga percaya itulah satu-satunya cara untuk membendung tim adidaya macam Barca, Madrid, dan Bayern yang dibekali skuat bintang lima sehingga bisa bebas menjalankan taktik model apapun.

    "Saya menghormati semua opini. Dalam sepakbola, kita semua punya alasan masing-masing. Saya hanya mencoba untuk mengeluarkan yang terbaik dari pemain yang saya punya. Begitu saya punya kesempatan menangani tim nasional nanti, saya bisa memilih sendiri semua pemain saya inginkan. Di situlah saya akan mencoba gaya yang berbeda. Di klub, kita tidak bisa bertindak sesuai dengan idealisme kita," ujar Simeone atas segala kritik yang hadir padanya.

    [​IMG]

    Lantas bagaimana dengan segala gimmick kontroversial yang kerap jadi bumbu Simeone untuk memenangkan laga? Mari kita sebut saja hal itu sebagai bagian dari susunan rencana besar sang pelatih.

    Ketika Simeone sadar bahwa di level teknis timnya tak kuasa memenangi laga, maka trik mind games merupakan jurus terakhir. Hal sederhana itulah yang bisa menghancurkan fokus lawan, agar mereka membuat kesalahan sendiri dan menghadirkan celah bagi kita untuk masuk membunuh. Meski harus diakui terkadang cara itu bisa jadi senjata makan tuan.

    Fakta yang wajib diketahui adalah Simeone hanya melakukan hal tersebut ketika pertandingan berlangsung. Saat laga usai, ia pun menyudahi segala aksi mengesalkannya itu. Mantan penggawa FC Internazionale ini akan jadi orang yang benar-benar berbeda di luar lapangan.

    Matias Almeyda yang pernah jadi rekan sekaligus lawannya sempat mengungkap bahwa Simeone merupakan sosok rendah hati, bersahabat, dan menyenangkan di luar lapangan.

    Selain itu mari telusuri, siapa musuh Simeone di sepakbola, apakah Anda menemukannya? Atau pernahkah pengoleksi 108 caps untuk Argentina ini menyimpan dendam sepakbola layaknya Jose Mourinho dan Arsene Wenger? Ayah tiga anak itu justru lebih kerap tertangkap media memuji lawan-lawannya.

    "Saya bertemu lagi dengannya [Simeone] di Piala Dunia 2002. Sepanjang laga, terutama ketika saya mengeksekusi penalti kemenangan, dia begitu hebat memprovokasi saya. Pada akhirnya ketika duel selesai dan Argentina kalah, Simeone menghampiri saya dan berkata 'selamat Beckham dan semoga beruntung di sisa turnamen'. Saya bisa melihat gesturnya begitu tulus dan segalanya memang berakhir ketika pertandingan usai, termasuk insiden di Piala Dunia 1998 lalu," tutur Beckham soal kenangannya berduel dengan Simeone.

    [​IMG]

    Citra diri yang dibentuk Simeone juga tak menghadirkan masalah buat Atletico. Mereka bahkan dibuat makin menyatu sebagai tim, tanpa ada satu pun bintang yang benar-benar mencolok dan menimbulkan ketergantungan

    Atletico tak dikenal seperti Barca yang punya Messi atau Madrid yang punya Ronaldo. Los Rojibalncos dikenal sebagai tim seutuhnya, yang memiliki pemimpin berkharisma dalam diri Simeone. Itulah mengapa Diego Godin cs bisa begitu spartan di setiap pertandingan, kendati nyaris selalu dibuat menderita oleh lawan-lawannya.

    "Saya sudah pasti memilih Simeone seribu kali. Saya mencintainya. Taktiknya langsung mengarah pada tujuan dan intensitasnya spektakuler. Ia mampu membuat timnya begitu menyatu dan selalu bisa menghadirkan pertandingan yang mendebarkan. Mengatakan sepakbolanya jelek adalah kebohongan besar!" ujar pelatih legendaris Italia, Giovanni Trapattoni.

    Kini Simeone siap mencapai kesempurnaannya. Atletico berada di ambang juara La Liga Spanyol dengan memimpin klasemen bersama Barca serta masuk ke partai final Liga Champions.

    Bila kesempurnaan itu akhirnya dicapai dengan membawa The Mattress Makers ke tangga juara, apakah Anda masih kesulitan untuk belajar mencintai Simeone?

    liga jerman, u19, hari ini, logo, seri b, malam ini, klasemen, Belajar Mencintai Diego Simeone
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page