Liga Indonesia CATATAN WFA Expert Meeting 2015: Jangan Pernah Abaikan Hierarki Dalam Sepakbola!

Discussion in 'Bola' started by Bola, Jun 24, 2015.

Discuss CATATAN WFA Expert Meeting 2015: Jangan Pernah Abaikan Hierarki Dalam Sepakbola! in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Pengantar Redaksi: Setelah tahun lalu mengikuti serta membagi pengetahuan yang didapat dari World Football Academy (WFA) Expert Meeting kepada pembaca Goal Indonesia, direktur operasional sepakbola Villa 2000 sekaligus founder www.kickoffindonesia.com, Ganesha Putera, kembali berbagi ilmu setelah mengikuti event yang sama di Barcelona, 3-7 Juni lalu.

    WFA Expert Meeting (WEM) dihadiri oleh lebih dari 50 pakar yang menyebarkan pengetahuan serta membagi pengalaman dari banyak studi kasus dan metodologi dari berbagai organisasi sepakbola dunia. Perwakilan asosiasi Jerman, Spanyol, akademi Barcelona, dan Real Madrid di antaranya hadir sebagai pemateri. WFA sendiri adalah institut kepelatihan independen yang bertujuan menjadikan sepakbola lebih baik. Guus Hiddink menjadi duta lembaga ini dan salah satu tim eksekutifnya adalah Raymond Verheijen, pakar latihan pengondisian fisik yang pernah menjadi staf pelatih timnas Belanda, Korea Selatan, dan Rusia.

    Tulisan ini merupakan bagian pertama dari tujuh bagian yang diterbitkan secara khusus oleh Goal Indonesia.

    "Di sepakbola, Anda baru dapat belajar dari praktisi top bila Anda bekerja di top level. Persoalannya, bagaimana Anda mencapai top level tanpa belajar dari praktisi top?”. Itulah kegalauan Guus Hiddink yang mengilhami Raymond Verheijen mendirikan lembaga pendidikan independen bernama World Football Academy (WFA). WFA bertujuan mencetak praktisi yang dapat ciptakan dunia sepakbola lebih baik.

    WFA kemudian membentuk Expert Group, dengan menyeleksi jebolan kursus-kursusnya yang aktif menjadi duta ilmu sepakbola di lingkup kerjanya masing-masing. Setiap tahun grup ini berkumpul dalam suatu forum bertajuk WFA Expert Meeting (WEM). Untuk tahun ini Barcelona terpilih menjadi kota penyelenggara WEM 2015.

    Selama hampir sepekan, WEM 2015 menyajikan topik menggiurkan seperti Football Tactics, Football Braining, Youth Football, Football Management, Football Braining, Football Strength & Rehab dan masih banyak lagi. Sederet nama beken menjadi instruktur, diantaranya: Bert Van Lingen (eks-KNVB), Oscar Garro (RFEF), Juan Villa Bosch (Barcelona), Javi Mallo (Real Madrid), Bernd Stober (DFB), Prof. Dr Samuele Marcora, dll. Penulis merasa beruntung dapat kembali menghadiri WEM 2015.

    Filosofi

    Kelebihan kursus WFA adalah penekanan pada filosofi. Kami tidak selalu terfokus pada "What", tetapi juga pada "How". Tentu saja ini termasuk pada tataran "what and how to learn", "what and how to think", dll. Raymond Verheijen membuka kursus dengan menegaskan referensi. Sekali lagi peserta diajarkan untuk selalu melakukan refleksi dengan berpikir zoom out pada referensi dan zoom in pada detail.

    Raymond menjelaskan konsep Filosofi dan Aplikasi. Filosofi merupakan fakta objektif yang universal dan tidak dipengaruhi oleh faktor eksternal. Filosofi ini tidak dapat diperdebatkan mengingat ini adalah fakta, misalnya rumput berwarna hijau. Sedangkan aplikasi turunan dari filosofi yang telah menjadi opini subjektif pada tingkat lokal. Juga amat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

    Tentu saja filosofi yang harus kami gunakan adalah sepakbola. Ya, filosofi sepakbola adalah fakta objektif yang universal. Dalam hal ini sepakbola dengan menyerang-bertahan-transisi berlaku di negara manapun dan apapun levelnya. Meski demikian pada aplikasinya, sepakbola akan dipengaruhi faktor eksternal seperti budaya, sejarah, geografis dll. Sehingga pada tataran filosofi, sepakbola Indonesia dan Spanyol sama saja. Tetapi pada tataran aplikasi, sepakbola Indonesia dan Spanyol bisa berbeda.

    Konsep sederhana kembali menyadarkan penulis untuk jangan meniru aplikasi pihak lain secara membabi buta. Ini terjadi karena pihak lain dan lingkungan kita memiliki faktor eksternal yang berbeda. Proses belajar dan berpikir yang harus dilakukan saat belajar dari aplikasi pihak lain adalah naik melakukan teorisasi (Zoom Out). Lalu baru kembali turun ke aplikasi di lingkungan sendiri (Zoom In).

    [​IMG]/divpstrongFilosofi Sepakbola/strong/ppPenulis pun meyakini bahwa praktik di sepakbola harus dimulai dari filosofinya yang objektif. Objektivitas pertama yang mengikat tentu saja FIFA Law of the Game. Peraturan permainan ini yang kemudian menentukan seperti apa sepakbola dimainkan: 11vs11, satu bola, 90 menit, menang dengan selisih memasukkan dan kebobolan gol./ppObjektivitas kedua adalah tiga momen sepakbola, yakni sepakbola terdiri dari menyerang-bertahan-transisi. Lalu, pada tiap momen terdapat aksi-aksi sepakbola. Misal empassing/em pada momen menyerang atau empressing/em pada momen bertahan. Nah, setiap aksi memiliki elemen taktik, teknik dan fisik. Pendekatan ini objektif ketimbang pendekatan sepakbola terdiri dari teknik-taktik-fisik-mental. Sebab empassing/em yang masuk kategori teknik misalnya, juga merupakan aktivitas fisik dan taktik. Oleh karena itu, pendekatan parsial ini tak bisa mendapatkan tempat di sepakbola./ppObjektivitas ketiga adalah definisi performa sepakbola. Semua latihan sepakbola kemudian harus mendorong terjadinya: 1) Aksi sepakbola yang lebih baik, 2) Aksi sepakbola yang lebih sering dalam waktu singkat, 3) Memelihara aksi sepakbola yang baik selama 90 menit dan 4) Memelihara aksi sepakbola yang sering selama 90 menit. Keempat atribut ini adalah definisi performa sepakbola yang objektif./ppObjektivitas keempat adalah hierarki dalam sepakbola. Kita memahami bahwa di dalam sepakbola terdapat komunikasi, keputusan, eksekusi, dan fisik. Meski keempatnya sama-sama penting dan saling terkait, tetapi ada hierarki di dalamnya. Hierakri tertinggi adalah komunikasi, diikuti oleh keputusan, lalu eksekusi, baru fisik./ppSepakbola adalah olahraga tim, maka proses aksi di sepakbola selalu dimulai dari KOMUNIKASI. Andres Iniesta pegang bola sebagai isyarat ke Lionel Messi untuk buka ruang. Setelah ber-KOMUNIKASI (verbal atau non verbal), Messi ambil KEPUTUSAN dan EKSEKUSI untuk buka ruang, sedang Iniesta ambil KEPUTUSAN dan EKSEKUSI untuk pemassing/em. Proses ini harus dilakukan berkualitas, tempo tinggi selama 90 menit./ppUrutan proses ini yang merumuskan hierarki di sepakbola. Di hierarki tertinggi adalah KOMUNIKASI yang datangnya dari TAKTIK, lalu hierarki di bawahnya adalah KEPUTUSAN yang datangnya dari WAWASAN PERMAINAN. Kemudian di bawahnya adalah EKSEKUSI yang datang dari TEKNIK. Terakhir terbawah tempo tinggi 90 menit datang dari FISIK!/ppJadi hierarki tertinggi adalah TAKTIK, bukan TEKNIK atau FISIK. Tidak percaya? Mari kita bandingkan performa Messi di Barcelona dan timnas Argentina. Semua sepakat bahwa Messi lebih sangar di Barcelona. Bagaimana mungkin pemain yang sama dengan kondisi FISIK sama dan TEKNIK sama, performanya bisa berbeda? Jelas! KOMUNIKASI dari TAKTIK di Barcelona lebih terbangun ketimbang di timnas, mengingat durasi kebersamaannya./ppSekali lagi hierarki ini tidak menentukan satu aspek lebih penting dari aspek lainnya. Sudah pasti semua aspek itu penting. Penulis membayangkan seperti perusahaan penerbangan ada CEO dan Pilot. Keduanya penting dan saling terkait. Hanya saja hierarki CEO harus lebih tinggi dari Pilot. Apa yang terjadi bila Pilot hierarkinya lebih tinggi dari CEO? Yes, KEKACAUAN!/pdiv align="center"img src="http://static.goal.com/di/DCD075BBF6F946A2A8568AC6C528C5C0.jpg" width="50%"" />​

    Subjektivitas

    Filosofi ini menjadi penting, sebab banyak praktisi di sepakbola yang memulai dari aplikasi. Tanpa mempertimbangkan filosofinya itu sendiri. Dengan kata lain sepakbola sering memulai konsepnya dengan subjektivitas. Celakanya, orang lain kemudian mempertanyakan itu dengan kontra konsep yang berangkat dari subjektivitas juga. Terjadilah komunikasi berupa debat subjektif yang kacau.

    Fenomena subjektif tergambar jelas di sepakbola yang saat ini sedang mengalami "sports science tsunami”. Berbagai disiplin ilmu di luar sepakbola mengklaim dirinya penting dan merasa sejajar di hierarki sepakbola. Penulis kemudian memvisualisasikan suatu metafora yang pas untuk jelaskan fenomena ini. Saat menghadapi problem gerobak di atas, apa yang bisa disumbangkan sports science?

    Pakar fisik menganalisa petugas gerobak dengan referensi fisik dan katakan mereka perlu latihan beban. Psikolog menganalisis dan menemukan bahwa petugas gerobak alami fear of failure, sehingga perlu dilatih positive self talk. Nutrisionis melakukan tes dan menemukan petugas gerobak kelebihan kolestrol dan harus diet. Semua program dibuat agar petugas lebih kuat, lebih positif dan lebih langsing.

    Apakah kerja petugas gerobak jadi lebih baik? Mungkin! Tapi apakah selesaikan akar masalahnya? Jelas tidak! Para sports scientist bertindak seperti salesman yang menjual produknya membabi buta. Padahal, langkah pertama yang harus dilakukan adalah analisis sepakbola dengan filosofi sepakbola. Hierarki tertinggi adalah KOMUNIKASI dari TAKTIK. Jadi kedua hal ini harus diperbaiki dengan cara mengubah arah petugas gerobak di belakang. Juga menyuruh turun petugas gerobak tengah untuk ikut menarik!

    Ya, solusi sepakbola adalah terbaik untuk problem sepakbola. Dengan analisis referensi sepakbola ini, baru sport scientist bekerja dengan keilmuannya. Tentu pendekatannya individual. Misal, latihan beban untuk petugas yang mendorong dan menarik mungkin berbeda. Lalu psikolog bisa gunakan ilmunya untuk pengaruhi pola pikir petugas gerobak tengah agar mau turun dari gerobak, dst.

    liga indonesia isl, live score, wikipedia, pes 2013, divisi 1, 2014, super, CATATAN WFA Expert Meeting 2015: Jangan Pernah Abaikan Hierarki Dalam Sepakbola!
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page