Liga Jerman Dante Bisa Jadi Pembunuh Bayern Munich

Discussion in 'Bola' started by Bola, Apr 21, 2015.

Discuss Dante Bisa Jadi Pembunuh Bayern Munich in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Bayern Munich bakal melakoni laga super berat menghadapi FC Porto di Fussball Arena, pada leg kedua babak perempat-final Liga Champions, Rabu (22/4) dini hari WIB.

    Laga ini mungkin jadi tantangan terberat Bayern selama kiprah mereka di Liga Champions dalam kurun lima musim terakhir. Bagaimana tidak, karena pada leg pertama menghadapi Porto, tim asuhan Pep Guardiola harus terkapar 3-1. Akibatnya mereka diharuskan menang minimal 2-0 di kandang sendiri.

    Segalanya akan semakin buruk jika Bayern sampai kebobolan barang sebiji saja, yang berarti mereka diwajibkan mencetak lebih dari tiga gol. Statistik memang tidak sampai mendukung mimpi buruk tersebut, karena di Liga Champions musim ini FC Hollywood selalu menang di kandang tanpa pernah kebobolan. Namun melihat situasinya sekarang, potensi jala Manuel Neuer untuk kebobolan mulai membesar.

    Badai cedera tengah melanda Bayern hingga di semua lini, tak terkecuali di sektor pertahanan, yang jadi kebanggaan mereka musim ini. Sang raksasa Jerman adalah pemilik pertahanan terbaik di Eropa musim ini dengan baru kebobolan 21 gol. Namun absennya pilar-pilar lini belakang Die Roten macam David Alaba, Mehdi Benatia, hingga Javi Martinez, dalam bentrok hadapi Porto nanti tentu akan mengurangi kekokohan pertahanan secara signifikan.

    Hal itu tampak jelas pada leg pertama di Do Dragao tengah pekan lalu. Bayangkan, tiga gol yang bersarang di jala Neuer kesemuanya berasal dari blunder para penggawa Bayern. Dan sosok yang paling disorot dalam kekalahan itu, tak lain tak bukan, adalah bek pelapis asal Brasil, Dante.

    [​IMG]

    Pertanyaan mengapung, sejatinya apa yang terjadi pada Dante? Sepanjang musim ini ia nyaris tak pernah bisa tampil di puncak performa, layaknya di sepasang musim terakhir. Satu hal yang membuat legenda klub dan Jerman, Franz Backenbauer, melempar kritik sebelum jeda musim dingin lalu.

    "Dante bermain jauh lebih baik dan jauh lebih konsisten musim lalu. Sekarang dia terlalu banyak membuat kesalahan. Mungkin jeda musim dingin akan membuatnya lebih baik dan membantunya pulih,” ujar Backenbauer, seperti dikutip Abendzeitung.

    Statistik memaparkan bahwa dari 20 partai yang sudah dilakoni, performa Dante cenderung serupa dari musim lalu, meski tak lebih baik dari musim perdananya bersama Bayern, yakni 2012/13. Dirinya juga mampu beradaptasi dengan skema variatif Guardiola, walau tak bisa luput dari kebijakan rotasi pemain.

    Dante merupakan tipe bek areal, yang amat baik dalam skema zone marking ketimbang man to man marking. Hal itu bisa dilihat dari minimnya jumlah tekel yang berbanding terbalik dengan jumlah intersep dan sapuan bola. Dirinya juga amat handal mengatur posisi dan mengomandoi rekannya dalam taktik high defensif line. Karenanya tak heran jika dalam satu laga, mantan pemain Borussia Moenchgladbach ini bisa melepaskan rerata 70 operan ke atas dan mengreasikan setidaknya satu peluang mencetak gol.

    Sekali lagi, secara statistik tak banyak yang berubah dari Dante hingga kini menjalani musim ketiganya di Bayern. Namun seperti kata pepatah, "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Di tengah paparan statistik apiknya, Dante juga konsisten menyelipkan sepercik kesalahan mendasar, yang berakibat fatal bagi timnya.

    Musim ini jadi yang terparah, karena Dante terekam sudah melakukan enam blunder fatal. Tiga di antaranya berujung gol kala Bayern seri 1-1 di kandang Schalke 04, menang 3-1 atas Hannover 96, dan tentunya kalah 3-1 melawan Porto. "Jika ia dari Islandia atau dari Kutub Utara, saya akan bilang, 'Okelah, ia masih mengenakan sepatu ski'. Tapi tidak, ia cuma harus menahan bolanya," kritik Backenbauer, selepas laga hadapi Porto. Sementara blunder yang tak berujung gol terjadi dalam kemenangan 1-0 kontra Hertha Berlin, menang 2-0 melawan SC Freiburg, dan di partai terakhir saat memecundangi Hoffenheim 2-0.

    Seperti yang dipaparkan sebelumnya, proses blunder Dante terjadi akibat kesalahan mendasar yang tak layak dilakukan pesepakbola selevel dirinya. Entah itu salah dalam menempatkan posisi, salah timing mengontrol bola, hingga melepaskan umpan manis ke pihak lawan. Mengesampingkan statistik yang berkata terbalik, maka faktor non teknis memiliki peran besar dalam hadirnya masalah tersebut.

    [​IMG]
    Dante kerap lakukan kesalahan sejak kekalahan 7-1 dari Jerman

    Dante bukannya pemain yang suci dari blunder sebelum musim ini berlangsung, dirinya pasti penah melakukan dosa tersebut. Tentunya dalam taraf kuantitas yang normal dan tidak mencolok seperti musim ini. Dan jika dicermati lebih dalam segalanya dimulai pada 9 Juli 2014, saat timnas Brasil dibantai Jerman lewat skor menakjubkan 7-1, di babak semi-final Piala Dunia 2014.

    Dante yang diplot sebagai bek tengah menggantikan Thiago Silva yang absen lantaran skorsing, tampil begitu buruk. Ia sama sekali tak menunjukkan pengalaman segudangnya selama enam musim di Bundesliga Jerman. Selain Fernandinho, Di akhir laga Dante ditunjuk sebagai pemain terburuk pertandingan.

    Dikecam oleh publik negaranya sendiri, Dante pun di-bully habis-habisan oleh publik Jerman, tempatnya mencari nafkah. Banyak meme bertebaran hingga kemampuannya mulai diremehkan. Lebih ironis, rekan seklubnya, Thomas Muller, nyaris selalu melemparkan lelucon soal pertandingan malapetaka tersebut. Sekali waktu Dante pernah benar-benar emosi dengan memperingatkan Muller untuk tak lagi melempar celaan.

    "Kita boleh saja melempar lelucon soal apapun, tapi tidak untuk satu ini [kekalahan 7-1 Brasil dari Jerman]. Tidak semua orang Jerman menyukai hal ini, tapi Muller adalah pelawak. Jika ia melakukannya lagi, saya akan terus mengasarinya di setiap latihan! Saya sama sekali tak tertawa mendengar leluconnya. Dan jika seseorang tak tertawa terhadap lelucon seseorang, maka mereka merasa terganggu," tegas Dante, seperti dikutip The Guardian.

    Perasaan diremehkan oleh publik, media, bahkan rekan setim sendiri tak dapat dipungkiri jelas menghantui Dante. Diakui atau tidak, sang pemain jelas tak akan bisa mencapai level kepercayaan diri terbaik setiap kali berlaga. Imbasnya jelas pada performa bermain. Ketika statistik tersenyum, namun terselip satu hal bodoh yang merugikan tim dari seorang pemain, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak menaruh fokusnya dalam posisi yang tepat. Kurang lebih, situasi itulah yang terjadi pada Dante nyaris di sepanjang musim ini.

    Di sisi lain penurunan performa ini juga merupakan efek semakin menuanya Dante. Usianya sudah menginjak 31 tahun, yang artinya sudah melewati usia emas seorang pesepakbola di angka 28 atau 29 tahun. Meski masih terlihat samar, ketahanan fisik dan kecepatan Dante jelas sudah berkurang dibanding saat mengantarkan Bayern juara Liga Champions 2012/13 lalu.

    Dengan kondisi seperti itu ditambah tekanan yang besar untuk mengejar defisit gol, Dante bisa saja jadi pembunuh langkah Bayern di Liga Champions. Guardiola bisa saja mencadangkan Dante dan memakai skema alternatif, lewat empat bek dengan Jerome Boateng dan Holger Badstuber sebagai duet bek tengah. Tapi jika diharuskan untuk turun sedari awal laga, pemain bernama lengkap Dante Bonfim Costa Santos itu tentu tak boleh lengah sedetik saja dan memberi pembuktian akan kualitasnya!

    liga jerman, u19, hari ini, logo, seri b, malam ini, klasemen, Dante Bisa Jadi Pembunuh Bayern Munich
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page