Liga Italia DEBAT: AS Roma, Rival Utama Juventus Atau Serigala Ompong?

Discussion in 'Bola' started by Bola, Mar 1, 2015.

Discuss DEBAT: AS Roma, Rival Utama Juventus Atau Serigala Ompong? in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,241
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Layaknya musim lalu, pada awal musim ini AS Roma kembali menegaskan bahwa merekalah antagonis utama Juventus dalam perburuan scudetto Serie A Italia 2013/14. Dari sepuluh giornata pertama, Francesco Totti cs sanggup meraup tujuh kemenangan, sekali imbang, dan hanya dua kali kalah.

    Roma pun kokoh berada di pos runner-up, tak henti mengusik ketenangan Juve yang jadi pemuncak klasemen. Keyakinan publik pun semakin menguat, karena mereka sempat menunjukkan performa luar biasa di Juventus Stadium, saat kalah 3-2 dari sang pesaing utama. Il Giallorossi sukses mendominasi jalannya laga dan mengklaim layak menang, seturut dengan beberapa kontroversi yang terjadi di sepanjang laga.

    "Kami layak menang! Anda lihat sendiri bagaimana kami bermain. Kalah dengan cara seperti itu sungguh menyakitkan dan tidak dapat diterima. Parasaan ini tak dapat dihapuskan begitu saja," geram sang pelatih, Rudi Garcia, yang dalam duel itu diusir dari pinggir lapangan.

    Selepas grande partita tersebut, Roma semakin mengganas. Meski sempat mengejutkan publik sepakbola dunia dengan kekalahan 7-1 dari Bayern Munich di Liga Champions, performa Tim Serigala tetap konsisten di Serie A. Mereka tak pernah lagi kalah sejak giornata 10 dan mengakhiri musim panas dengan hanya berjarak sebiji poin dari Juve, yang jadi Campione d'Inverno.

    [​IMG]
    Brilian di musim panas, Roma melempem di musim dingin

    Namun segalanya lantas berjalan buruk, selepas liburan musim dingin. Roma memang mengawalinya dengan kemenangan sulit 1-0 atas Udinese di Friulli, pada giornata 17. Mereka memang tidak pernah kalah hingga giornata 24 ini, tapi secara mengenaskan Tim Ibu Kota bagai kehilangan taringnya dengan hanya meraih sepasang kemenangan!

    Tragedi ini sedikit banyak mengulang apa yang terjadi semusim sebelumnya. Tampil super dengan meraih 12 kemenangan dan hanya sekali kalah di putaran pertama, Roma menurun di putaran kedua dengan kalah empat kali hingga musim berakhir. Kala itu scudetto mereka 'lepas' sebelum Maret berakhir, dengan Juve bak melaju sendirian.

    Berkaca dari kejadian musim lalu, sang allenatore, Garcia, sepertinya tak belajar akan sepercik kesalahan yang dibuatnya. Benar jika Roma semakin atraktif dengan skema super menyerang dalam formasi 4-3-3. Namun taktik itu membutuhkan intensitas yang sangat tinggi dan fokus di sepanjang 90 menit laga. Untuk tuntutan tersebut, para pemain seakan belum siap mental.

    Dalam penerapannya diimbangi dengan komposisi skuat yang dimiliki, taktik itu nyaris tanpa kelemahan. Namun segalanya akan jadi petaka, manakala mereka tertinggal lebih dahulu. Sejak Garcia dipilih jadi nakhoda musim lalu, Roma sudah menelan 12 kekalahan. Segalanya terjadi ketika lawan mencetak gol lebih dahulu, jika situasi terbalik, maka Roma secara luar biasa tak pernah menelan kekalahan barang sebiji pun! Hal itu kembali menegaskan jika secara taktikal sejatinya Roma sudah nyaris sempurna.

    Dalam analisisnya, Chief Editor Goal Indonesia, Agung Harsya, menyebut empat syarat pelatih hebat, yakni memenangi kamar ganti, memenangi meja direksi, memenangi hati tifosi, serta puncaknya merebut trofi juara. Syarat pertama itu yang agaknya tak dimiliki oleh Garcia, yang bermuara pada syarat keempat. Sosok asal Prancis akan kebingungan membangkitkan mental para pemainnya, jika dalam kondisi tertekan

    "Kami dalam masa yang sulit. Kami akan jauh lebih kuat jika setiap pemain merasa yakin dengan situasi di sekitar mereka. Hal itu yang tak terjadi pada kami, saya berharap publik bisa membangun kritik yang konstruktif," ujar Garcia, menyiratkan dirinya yang kesulitan membangun kembali mental Roma.

    [​IMG]
    Garcia sulit bangkitkan mental bertanding Roma

    Masalah mental seakan memang sudah jadi penyakit kronis Roma. Tak bisa dumungkiri, La Maggica bukanlah tim yang memiliki sejarah apik layaknya Juve, FC Internazionale, atau AC Milan, yang langganan juara dan masuk Liga Champions.

    Roma masih layak disebut sebagai tim papan atas Italia, tapi tidak untuk tim yang rajin merengkuh gelar juara. Jumlah scudetto klub Kota Abadi baru menyentuh angka tiga, yang menempatkan mereka di urutan kedelapan daftar pengoleksi gelar terbanyak. Satu fakta yang seakan diamini oleh presiden klub, James Palotta, dengan menyiratkan kepuasan berada di peringkat kedua.

    "Tim sudah mencoba yang terbaik dan ini hanya sebuah fase sesaat. Terlebih, kami juga masih menjadi yang kedua dalam klasemen. Setiap tahun tujuannya adalah untuk memenangkan Scudetto, saya tidak melihat apa yang menjadi masalahnya. Kadang-kadang Anda menang dan kadang-kadang Anda gagal," tutur Palotta.

    Kini sembilan poin dengan Juve adalah jarak yang harus dipangkas Roma, jika masih berhasrat meraih scudetto keempatnya. Pembuktian tak bisa menunggu lagi selain Selasa (3/1) dini hari esok, dalam grande partita menghadapi sang musuh utama, Juventus.

    Jika kalah atau seri sekalipun 90 persen scudetto jadi milik Si Nyonya Tua, tapi bila berhasil menang mungkin keajaiban yang diharapkan bisa terwujud. Mampukah Roma?

    liga italia seri a b, liga italia era digital, liga italia tabla, liga italia terkini, liga italia tvri, liga italia klasemen, DEBAT: AS Roma, Rival Utama Juventus Atau Serigala Ompong?
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page