Dokumen Snowden Ungkap Perang Siber AS-Iran

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Feb 23, 2015.

Discuss Dokumen Snowden Ungkap Perang Siber AS-Iran in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,101
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Berita Internet (IT) N3, yang memberikan informasi terbaru kepada users N3 tentang IT pada khususnya dan lainnya pada umumnya. Dokumen Snowden Ungkap Perang Siber AS-Iran

    Sebuah dokumen rahasia yg dirilis oleh The Intercept, situs daring yg menaygkan dokumen dari Snowden memaparkan bahwa sejak tahun 2012 hingga 2013, baik AS & Iran telah terlibat perang siber. Dokumen tersebut mengungkapkan bahwa Iran pernah menyerang balik dengan melumpuhkan sistem jaringan Bank of America & JP Morgan melalui DDoS attack sebagai balasan karena AS terlebih dahulu melumpuhkan sistem pengayaan nuklir Iran dengan Stuxnet. Dua tahun setelah serangan Stuxnet, Iran menyerang balik dengan mengirim jutaan data pada dua perusahaan keuangan terbesar AS yg mengakibatkan para nasabah & klien tidak bisa mengakses sistem mereka. Serangan DDoS yg dalam standar ancaman tahun 2015 tidak begitu canggih, pada tahun 2012 serangan tersebut adalah ancaman terbesar.

    Dokumen rahasia yg dibocorkan oleh Snowden tersebut ditujukan pada Jendral Keith Alexander yg merupakan mantan kepala NSA. Jendral Alexander sendiri sekarang sudah pensiun & memiliki perusahaan keamanan sendiri. Dari dokumen tersebut, AS melalui NSA & Inggris dengan GCHQ-nya, berusaha menangkal pengembangan senjata siber yg dikembangkan oleh Iran. Mereka pun sangat yakin bahwa pengembangan senjata siber tersebut ditujukan untuk melumpuhkan AS beserta sekutunya. NSA & GCHQ telah melakukan pengintaian terhadap pengembangan korps siber Iran yg akan mereka terapkan di negara Mullah tersebut pasca serangan Stuxnet.

    Aktifitas perang siber yg tak terlihat oleh publik tersebut ikut menyeret juga Sekretaris Negara AS, John Kerry untuk melakukan diplomasi & negosiasi di Swiss dengan diplomat-diplomat Iran untuk meredakan ketegangan itu. Walaupun diplomasi & negosiasi tetap dilakukan, baik AS & Iran tetap melakukan pengembangan keamanan siber seandainya peperangan tersebut semakin meluas. David J. Rothkopf, pengarang buku terkenal yg berjudul National Insecurity mengatakan bahwa perang siber bukanlah hal yg mustahil. Biaya untuk membuat senjata pemusnah masal seperti nuklir sangat mahal, sehingga tidak banyak negara yg bisa membuatnya, tutur Rothkopf. Tetapi biaya untuk membuat senjata siber tidak mahal, sehingga banyak negara yg ketagihan membuatnya, lanjutnya.

    Direktur NSA yg baru, Admiral Michael S.Rogers mengatakan bahwa pengawasan terhadap beberapa negara berbahaya seperti Iran dilakukan untuk mencegah serangan siber pada negara AS. Hal ini sesuai dengan dua halaman dalam dokumen yg ditujukan bagi Jendral Alexander bahwa dokumen tersebut menerangkan bagaimana caranya AS bisa menangkis & menyerang balik jika musuh menyerang melalui dunia maya. Terkait dengan serangan DDoS terhadap sejumlah institusi keuangan AS, pejabat senior Iran tidak menampik bahwa mereka tahu akan serangan tersebut. Mereka pun tidak mengelak ketika disinggung bahwa kedua negara tersebut terlibat perang siber yg tak kasat mata.

    Terkait perang siber ini, ada perbedaan signifikan antara pemerintahan Bush & Obama dalam menanggapinya. Pemerintahan Bush terkesan menutupi, tetapi Obama lebih lantang untuk menjawab siapa dalang di balik serangan siber terhadap negara AS. Sebelumnya Presiden Obama pernah mengalamatkan lima perwira militer China yg terbukti mencuri kekayaan intelektual dari sejumlah perusahaan AS. Tidak itu saja, Obama pun yakin bahwa Korea Utara adalah aktor di balik peretasan Sony Pictures. Walaupun tidak memberikan info secara detail, Obama mengungkapkan bahwa serangan terhadap Sony Pictures tersebut sudah dirancang dari tahun-tahun sebelumnya.
    Dokumen rahasia itu mengungkapkan pula latar belakang Jendral Alexander mengapa ia ingin bekerja sama dengan GCHQ Inggris untuk berperang secara siber dengan Iran. Hal itu tidak terlepas dari serangan siber Iran yg melumpuhkan sistem komputer Saudi Aramco & menghancurkan sepuluh ribu data perusahaan tahun 2012.

    Iran melakukan serangan siber karena perusahaan minyak Iran terlebih dahulu dilumpuhkan oleh pihak yg masih belum diketahui keberadaannya. Kerja sama siber antara AS & Inggris bukanlah pertama kalinya. Pemerintah AS terlebih dahulu pernah bekerja sama dengan Israel untuk mengembangkan Stuxnet yg digunakan pada reaktor nuklir Iran. Di satu sisi, GCHQ sendiri menginginkan a&ya kerja sama trilateral antara NSA, GCHQ & Unit 8200 milik Israel sebagai media untuk mengembangkan keamanan siber.

    Comments
    comments

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena kontenDokumen Snowden Ungkap Perang Siber AS-Iran diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page