Empat Risiko Saat Mengadopsi Cloud

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Feb 12, 2015.

Discuss Empat Risiko Saat Mengadopsi Cloud in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,141
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Berita Internet (IT) N3, yang memberikan informasi terbaru kepada users N3 tentang IT pada khususnya dan lainnya pada umumnya. Empat Risiko Saat Mengadopsi Cloud

    Fenomena cloud computing memang tidak ada habisnya untuk diperbincangkan. Salah satu topik yg seringkali diperbincangkan adalah apakah cloud computing bebas dari risiko? Shaun Han, Vice President Applications Oracle Corporation ASEAN mengatakan bahwa ada empat risiko yg harus diperhatikan saat mengadopsi cloud computing. Han mengatakan bahwa sudah banyak yg mengerti manfaat memindahkan beberapa proses bisnis ke cloud. Kalkulasi return on investment (ROI) untuk berbagai penerapan cloud pun banyak tersedia. Namun, potensi risiko dalam memindahkan fungsionalitas bisnis tertentu ke dalam cloud masih kurang dipertimbangkan or masih dinomorduakan, ujar Han.

    Lebih lanjut ia pun mengutarakan bahwa bagi perusahaan skala menengah, keputusan untuk mengevaluasi penerapan cloud apa pun harus dimulai dengan membentuk suatu dewan perencanaan & evaluasi risiko. Dewan ini beranggotakan pelaku proses bisnis yg relevan, spesialis manajemen risiko, manajer koordinasi vendor, ahli hukum, & anggota tim strategi perusahaan, di samping kepala departemen TI & strategi, kata Han. Dewan ini dibentuk untuk mengevaluasi risiko-risiko berikut:
    Akses ke data privat: Di dunia bisnis yg penuh persaingan sengit ini, perusahaan harus bisa lakukan apa pun untuk melindungi kerahasiaan & ketersediaan datanya. Selagi merencanakan transisi ke cloud, dewan ini harus bisa mengidentifikasi rencana yg mendetail untuk memastikan kerahasiaan transaksi & data master selama, & setelah, migrasi berlangsung. Riset sebelum menentukan akan menerapkan cloud or tidak, sebaiknya menygkut hasil evaluasi vendor mana yg akan mengurus infrastruktur keamanan, & laporan akhirnya harus berisi kebijakan yg mengatur akses pengguna & segregasi tugas; keduanya di aplikasi cloud yg baru & juga di titik pertemuan antara sistem cloud baru & sistem aplikasi on-premise yg sudah ada. Hal ini lebih penting lagi, jika rencana perusahaan adalah untuk menyewa fasilitas di lingkungan dengan banyak penyewa/tenant.

    Ketersediaan platform: Dewan ini, bukan hanya departemen TI, bertanggungjawab untuk merumuskan rencana kelanjutan bisnis & melaksanakannya, jika memang ketersediaan lingkungan cloud menjadi penting bagi operasi bisnis. Untuk semua proses yg berhubungan dengan pelanggan & berimplikasi pada pendapatan, semua penyebab ketidaktersediaan yg mungkin saja terjadi harus sudah diidentifikasi. Pilihan untuk mundur, baik itu disebabkan oleh vendor cloud-nya or yg menygkut kemampuan membangun cloud oleh bagian TI di internal perusahaan, harus ditentukan sebelum pengambilan keputusan untuk bermigrasi disahkan. Definisi ketersediaan untuk proses yg berhubungan dengan pelanggan secara eksternal, harus memasukkan juga respon standar yg bisa diterima pelanggan mengenai arus transaksi utama, Aspek kedua mengenai ketersediaan ini mengacu pada pilihan-pilihan yg ada di masa depan. Dewan ini harus memastikan bahwa perusahaan selalu memiliki seluruh data master & transaksi di lingkungan cloud, & kontrak dengan vendor terpilih harus memungkinkan perusahaan untuk memindahkan konten di kemudian harinya dengan biaya finansial & operasional yg minim.

    Penyelarasan proses: Dampak dari penerapan perangkat lunak bisnis apa pun tergantung pada pemetaan proses bisnis yg se&g berlangsung dengan data & interaksi pengguna yg mengalir di aplikasi. Infrastruktur cloud memang membuat transisi itu lebih menantang, karena tidak ada kesempatan untuk mengkostumisasi aplikasi selain beberapa personalisasi standar. Dewan harus memetakan semua proses yg akan dilakukan untuk alur aplikasi vendor & melakukan modifikasi yg diperlukan dalam cara yg dilakukan sebelum transisi diputuskan bukan setelah migrasi selesai & terjadi rintangan. Dewan harus menentukan proses bisnis mana yg akan pindah ke cloud, menentukan titik integrasi dengan infrastruktur on-premise yg sudah ada, & memastikan tidak ada investasi di infrastruktur on-premise or aplikasi lainnya yg jadi rusak. Tentu saja, mengatasi tantangan ini lebih mudah jika beberapa bagian dari aplikasi bisnis yg ada sudah didukung oleh vendor terpilih.

    Dapat diterima oleh seluruh pegawai: Keberhasilan proyek TI apa pun bergantung pada bagaimana komunitas pengguna menerima penerapan aplikasi tersebut. Agar penerapannya berhasil, dewan sebaiknya memberikan pelatihan bertahap kepada calon pengguna, yaitu para pegawainya. Perpindahan ke cloud untuk pertama kalinya juga melibatkan penyesuaian tugas departemen TI, yg selama ini terbiasa mengatur seluruh infrastruktur TI perusahaan. Akhirnya, saat aplikasi internal pindah ke cloud, semua departemen akan menyadari manfaatnya ini terjadi jika tercipta keselarasan pekerjaan. Banyak pengguna sistem melihat pekerjaan & tugasnya diseleraskan ulang berkali-kali. Dewan harus mempersiapkan pengguna yg mungkin kena dampaknya & segera menangkap kekhawatiran mereka, sehingga transisi ke cloud tidak membuat para pegawai kebingungan.

    Han menutup diskusinya dengan mengatakan bahwa selama ini, perusahaan menyerahkan sepenuhnya proses bisnis yg berhubungan dengan aplikasi TI ke pundak departemen TI di internal perusahaan. Memindahkan proses TI ke dewan perencana yg mampu & bertanggungjawab atas evaluasi risiko, & memahami dengan baik empat risiko yg dijabarkan di atas, dapat membantu proses adopsi ke cloud di perusahaan menjadi lebih mulus, tutur Han.

    Comments
    comments

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena kontenEmpat Risiko Saat Mengadopsi Cloud diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page