Liga Spanyol FOKUS: Senatural Roger Federer, Ronaldo Fenomena Sejati Sepakbola Di Masa Jayanya

Discussion in 'Bola' started by Bola, Nov 14, 2014.

Discuss FOKUS: Senatural Roger Federer, Ronaldo Fenomena Sejati Sepakbola Di Masa Jayanya in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Fakta bahwa Ronaldo sukses menembus Goal Hall of Fame merupakan penegasan akan impak yang dihasilkannya pada sebuah generasi fans sepakbola. Namun terasa lebih istimewa lagi bila mempertimbangkan bahwa karier striker legendaris Brasil ini akan selalu dihiasi perasaan bahwa ia mungkin bisa lebih hebat.

    Bagaimana kalau rangkaian cedera lutut yang dideritanya bisa dihindari? Bagaimana kalau dia fit di hari final Piala Dunia 1998? Dan baagaimana kalau dia menunjukkan level dedikasi dan determinasi yang sama seperti beberapa rekannya untuk lebih mengasah bakatnya?

    Jawabannya adalah barangkali tak akan ada argumen mengenai pemain terbaik sepanjang masa. Bahkan dengan segala problema di atas, O Fenomeno tetap sanggup menginspirasi sebuah generasi, dari Zlatan Ibrahimovic hingga Lionel Messi, Karim Benzema sampai Neymar.

    Ibrahimovic mewakili perasaan banyak orang ketika dia mengatakan: "Tak ada yang seperti Ronaldo dalam memengaruhi sepakbola dan pemain-pemain yang baru muncul."

    "Dia sebagus Pele. Tak ada pemain sepertinya. Buat saya, Ronaldo adalah yang terhebat."

    Lantas apa yang membedakannya dari yang lain? Ada banyak sekali pemain yang dianggap luar biasa, memenangi segala prestasi yang mungkin direngkuh dalam sepakbola - meraih trofi jauh lebih banyak dari Ronaldo, yang tak pernah mampu mengklaim titel Liga Champions sepanjang kariernya.

    Mantan rekan setimnya, Zinedine Zidane, yang juga masuk ke dalam Goal Hall of Fame, memberikan penjelasan: "Setiap hari saya berlatih dengannya, saya melihat sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang indah. Itulah yang menghasilkan perbedaan antara pemain sangat bagus dan pemain eksepsional."

    Dalam kasus Ronaldo, terdapat kejeniusan yang menginspirasi dan, terutama di tahun-tahun awal kariernya, sebuah talenta mentah, tak tertahankan. Kemampuan untuk menerobos pertahanan, mempertahankan kontrol bola dan menjaga ketenangan untuk menaklukkan kiper dilakukannya secara reguler. Dari momen breaktrough-nya di Cruzeiro, lalu kepindahan ke Belanda dengan PSV, hingga musim istimewa dengan Barcelona pada 1996/97 dialah simbol penyerang modern.

    Salah satu pelatih pertamanya, Roberto Gaglianone, telah memperkirakan bahwa Ronaldo suatu hari bakal memimpin lini depan Brasil.

    "Pada Desember 1992 saya mengatakan, 'Saya telah mengirim seorang bocah ke Cruzeiro yang akan menjadi striker Brasil berikutnya. Dia akan bermain di Piala Dunia 1998.' Mereka menanyakan namanya dan saya jawab 'Ronaldo'," kenang Gaglianone.

    [​IMG]

    Sebelum mencapai Spanyol, tak seorang pun yang pernah melihat pemain sepertinya. 47 gol dalam 49 penampilan memastikan raihan Piala Winners dan Copa del Rey untuk tim Barcelona yang saat itu terbilang biasa saja. Romario memang tampil gemilang di Camp Nou sebelum Ronaldo, tapi saat itu dia didampingi rekan-rekan sekelas Hristo Stoichkov dan Michael Laudrup. Ronaldo menghancurkan La Liga nyaris seorang diri. Apabila sebuah gol dapat menjelaskan atribut seorang pemain, itu adalah dribel memukaunya kontra Compostela, meliuk-liuk melewati enam pemain sebelum melepas tembakan akurat dan membuat semua orang, termasuk pelatih Sir Bobby Robson, tercengang tak percaya. Itulah efek yang dapat dihasilkannya pada semua orang yang menonton aksinya.

    Kepindahannya dari Barcelona ke Internazionale adalah momen di mana karier Ronaldo menuju ke arah berbeda, dan mungkin bukan arah yang lebih baik. Transfer itu sendiri terbilang ricuh, Barca bersikukuh dia bakal bertahan, sementara Ronaldo merasa pendapatannya kurang setimpal dengan kontribusinya mengangkat tim. Inter pun menggaetnya dan dua tahun pertamanya di Italia diwarnai sukses besar. Ronaldo meraih Ballon d'Or pertamanya pada 1997 dan mengantar Nerazzurri ke tangga juara Piala UEFA dengan mengalahkan Lazio di final setahun berselang.

    Namun pada 1999 problem lututnya mulai muncul, dan beberapa comeback yang terlalu tergesa-gesa hanya memperparah cederanya. Dia jarang sekali bermain selama tiga tahun dalam build-up menuju Piala Dunia 2002, dan di usia 25 tahun banyak yang memandang kariernya telah habis.

    Ronaldo mementahkan anggapan itu dengan aksi gemilang di Jepang dan Korea Selatan yang membantunya mengukuhkan posisi dalam deretan pemain-pemain besar. Dan ini bukan cuma berkat kebrilianannya di lapangan dan efisiensi tingginya dalam menuntaskan peluang, ciri khas yang terus terlihat bahkan hingga pengujung kariernya. Yang teristimewa adalah bagaimana dia mampu bangkit dari keterpurukan, untuk memastikan dirinya menorehkan momen gemilang dalam masa sulit. Itu adalah pencapaian yang membuat semua orang berempati dan membantu menempatkan dirinya di atas pemain-pemain lain.

    Delapan golnya di PD 2002, termasuk dwigol di final melawan Jerman, adalah cara luar biasa untuk mengeliminasi memori buruk beberapa tahun sebelumnya.

    Eks pemain internasional Jerman, Dietmar Hamann, yang menghadapi Ronaldo dalam laga tersebut menuturkan kepada Goal: "Saya pikir dia tidak 100 persen dalam turnamen tersebut, tapi dia tetap mencetak delapan go. Dia membawa centre-forward play ke level yang lebih tinggi. Ketika dia melakukan stepover dengan kecepatan tinggi, saya tak pernah melihat itu sebelumnya. Begitu dia mulai berlari ke arah pemain lawan, habis sudah - satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan melanggarnya."

    "Saat itu dia pemain terbaik [di dunia] dan dia mungkin masih berada di antara lima pemain terbaik sepanjang masa."

    [​IMG]

    Kecemerlangan Ronaldo di Piala Dunia 2002 bermuara kepada trofi Ballon d'Or kedua dan kepindahan ke Real Madrid. Ia terpaksa mengembangkan dirinya menjadi pemain dengan tipe berbeda, kerentanan lututnya membuat Ronaldo kehilangan kecepatan yang dulu begitu vital dalam gaya mainnya. Tapi kemampuan finishing-nya tak pernah memudar. Madrid memaksa Manchester United menyerah di Old Trafford di Liga Champions berkat hat-trick Ronaldo, dengan suporter tuan rumah memberikan standing ovation saat ia meninggalkan lapangan. Pada 2003/04 ia merebut gelar El Pichichi La Liga untuk kali kedua, mengemas 24 gol meski sempat absen lama, lagi-lagi karena cedera lutut.

    Sayangnya, bisa dibilang itulah momen terakhir yang layak dikenang dari Ronaldo karena ia kemudian kembali akrab dengan cedera dan beberapa comeback-nya pun tak berjalan sesuai harapan. Di Piala Dunia 2006 ia sukses memecahkan rekor Gerd Muller dengan mencetak golnya yang ke-15 di turnamen terakbar itu, tapi tetap diserang kritik seiring tersingkirnya Brasil di perempat-final oleh Prancis. Momen buruk lebih dominan ketimbang yang baik. Dan kendati Ronaldo berusaha keras untuk bertahan di puncak kejayaan, kondisi fisiknya tak lagi bisa diandalkan.

    Pada akhirnya, setelah sempat bermain untuk AC Milan dan Corinthians, pada 2011 Ronaldo memutuskan gantung sepatu. Dalam konferensi pers yang penuh haru ia menyatakan: "Sangat sulit untuk meninggalkan hal yang membuat saya sangat bahagia. Secara mental saya ingin terus bermain, tapi saya harus mengakui bahwa saya kalah oleh tubuh saya."

    Itulah akhir dari kisah idola banyak orang, dengan segala ketidaksempurnaannya. Seperti yang dituturkan mantan koleganya di Brasil, Emerson, pola latihan Ronaldo tidak sekeras seperti yang dilakukan, misalnya, Cristiano Ronaldo, tapi seringkali memang ia tak harus begitu.

    "Saya pikir Ronaldo merasa tidak perlu bekerja sekeras kami, bahwa dia bisa melakukan dalam dua hari hal yang perlu kami lakukan dalam sepuluh hari. Dan biasanya dia benar," ungkap Emerson.

    Dan kalimat tersebut amat pas dengan reputasi dari julukan Ronaldo. O Fenomeno mampu melakukan segala sesuatunya dengan natural. Seperti Roger Federer dalam olahraga tenis, ada kenikmatan dalam menyaksikan hal yang kita tahu sangat sulit tapi dieksekusi sang bintang dengan sangat mudah. Pada masa jayanya, Ronaldo sanggup melakukan hal tersebut dengan lebih baik ketimbang pemain-pemain lainnya yang pernah mengecap permainan ini, dan kita tak boleh melupakan itu.

    liga spanyol table, klasemen, seri b, malam ini, terkini, divisi 2, FOKUS: Senatural Roger Federer, Ronaldo Fenomena Sejati Sepakbola Di Masa Jayanya
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page