Liga Inggris FOKUS: Tak Jauh Beda Dari David Moyes, Louis Van Gaal Hadirkan Gaya Membosankan

Discussion in 'Bola' started by Bola, Feb 10, 2015.

Discuss FOKUS: Tak Jauh Beda Dari David Moyes, Louis Van Gaal Hadirkan Gaya Membosankan in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,286
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Mungkin tak ada yang salah dengan ucapan Sam Allardyce, manajer West Ham United, yang menyebut Manchester United arahan Louis van Gaal sebagai tim berlabel ‘long-ball United’. Pernyataan itu muncul setelah timnya ditahan imbang Setan Merah 1-1 dalam lanjutan Liga Primer Inggris matchday ke-24 pada akhir pekan kemarin.

    Seperti diketahui, United datang ke Boleyn Ground hampir dengan kekuatan penuh namun mereka justru tertinggal satu bola terlebih dahulu menyusul gol yang dicetak Cheikhou Kouyate di menit ke-49. Terlepas mereka yang menempatkan sejumlah pemain bintangnya, The Red Devils terlihat kesulitan di sepanjang laga dan bermain cenderung membosankan.

    [​IMG]

    Membosankan | United tampil kurang atraktif.​

    Dirasa menemui jalan buntu, United lantas memasukkan gelandang jangkung Marouane Fellaini dan menarik keluar Adnan Januzaj di menit ke-72. Pergantian pemain di 18 menit terakhir itu jelas dimaksudkan untuk mencari gol penyama, di mana Van Gaal menjadikan Fellaini sebagai target man untuk long ball yang kini semakin ia gemari.

    Untuk diketahui bersama, United di musim ini menjadi tim urutan kedua tertinggi untuk urusan umpan panjang, dengan catatan 1.861 umpan. Posisi teratas ditempati Burnley, lawan mereka pada pertengahan pekan ini, dengan catatan 1.877 umpan.

    Adapun di posisi tertinggal, United menerapkan formasi yang janggal dengan memerintahkan Wayne Rooney bermain sebagai gelandang kanan dan Angel di Maria di posisi No. 10 – padahal dua pemain ini akan lebih baik jika bertukar posisi. Selain itu, Van Gaal justru tidak memanfaatkan kecepatan dari James Wilson yang tersedia di bangku cadangan selagi duo strikernya seperti Radamel Falcao dan Robin van Persie yang tidak bersinar.

    Beruntung, permainan membosankan yang diusung Van Gaal berbuah hasil dengan gelandang Daley Blind yang sukses mencetak gol penyama di masa injury time. Saat pertandingan menunjuk menit ke-92, pemain internasional Belanda itu mampu menjebol gawang Adrian setelah memanfaatkan kesalahan clearance Carl Jenkinson akibat kehadiran Fellaini di kotak penalti.

    [​IMG]

    Selebrasi hasil seri | Blind merayakan golnya bersama Fellaini.​

    Setelah laga, Allardyce punya komentarnya sendiri. Dalam keterangannya, manajer kawakan itu mengakui bahwa timnya kesulitan untuk meladeni umpan-umpan panjang nan membosankan dari Setan Merah, di mana menurut catatan lawannya itu melepaskan 30 long ball lebih banyak ketimbang The Hammers.

    "Kami [West Ham] tidak mampu mengatasi ‘long-ball United', mereka melepaskan bola ke depan dan melihat apa yang bisa mereka dapatkan. Pada akhirnya, hal itu terbayar,” ujarnya kepada Sky Sports News. "Ketika Anda memiliki Fellaini di depan, maka itu sulit bagi kami. Ini bukan cara Anda biasanya melihat Man United bermain, tapi pada akhirnya mereka mendapatkan satu poin,” imbuhnya.

    [​IMG]

    'Long ball United' | Kritik Allardyce untuk gaya bermain yang diusung Van Gaal.​

    Masih jelas dalam ingatan ketika Van Gaal menerapkan formasi 3-5-2 yang kurang sukses di awal musim. Saat menerapkannya, tiga bek yang ia mainkan di belakang memiliki banyak tugas, salah satunya adalah mengirimkan umpan panjang ke lini depan. Pun demikian saat ia mengubah formasi menjadi skema empat bek, permainan bola panjang masih saja ia agungkan padahal United sangat berbeda dengan timnas Belanda yang ia pegang sewaktu di Piala Dunia 2014.

    Jika di Belanda ia memiliki sejumlah pemain yang piawai dalam bertahan dan melakukan transformasi serangan, maka hal itu tidak ia dapatkan pada diri Phil Jones, Chris Smalling, Jonny Evans, Tyler Blackett bahkan Paddy McNair sekalipun. Ketika Sir Alex Ferguson masih berkuasa, barisan pertahanan yang ia miliki sangat jarang diperintahkan membantu serangan kecuali mereka para full-back.

    Dari 24 pertandingan perdana di Liga Primer, Van Gaal pun boleh dihakimi bahwa ia tidak lebih baik dari David Moyes, mantan manajer United yang menjadi pendahulunya. Tercatat, pria Skotlandia itu hanya kalah empat poin dari sang meneer selagi Moyes meraih angka yang sama soal capaian kemenangan – 12 – dan timnya yang mencatatkan lebih banyak shots on goal, baik itu yang mengarah ke gawang maupun tidak, dan memaksakan sepak pojok yang lebih banyak.

    Beda Van Gaal beda Moyes. Pada musim lalu, suksesor Sir Alex itu kehilangan pekerjaannya setelah yang bersangkutan tidak kunjung memberikan hasil baik bagi timnya hingga April 2014, selagi ia yang mengubah starting XI sebanyak 51 kali – atau di tiap pertandingan.

    [​IMG]

    Inkonsisten | Moyes memainkan 51 starting XI berbeda saat masih di United.​

    Jika kebanyakan pelatih dalam beberapa pertandingan sudah bisa melihat bayangan inti dari timnya, namun hal berbeda justru diperlihatkan Moyes, yang waktu itu – mungkin – merasa bahwa pergantian skuat di tiap laga akan mendatangkan manfaat.

    Tak heran, banyak orang lantas memberi istilah baru kepada mantan manajer Everton itu. Selain disebut sebagai ‘The Chosen One’ karena dialah yang ditunjuk langsung oleh Sir Alex, maka ia sempat mendapat predikat sebagai ‘The Clueless One’, karena dianggap tidak tahu menahu perihal potensi timnya.

    Berkaca dari kegagalan pendahulunya, Van Gaal kiranya tidak ingin dicap dengan predikat serupa. Laga melawan Burnley pada pertengahan pekan ini setidaknya harus ia manfaatkan sembari mencari alternatif formasi yang lebih menjanjikan dan menghibur.

    Ketika Anda, para penikmat bola, mendapati United bermain dengan skema long ball, maka ada baiknya untuk mematikan televisi karena pasukan Setan Merah yang bermaterikan pemain-pemain mewah terlihat kurang gagah dan cenderung payah.

    [​IMG]

    Payah | Skema long ball tidak cocok untuk United.​

    United selama ini ditakdirkan untuk menyerang melalui segala lini. Seruan ‘attack, attack, attack’ yang dikumandangkan dari Stretford End harus mereka dengarkan dan Van Gaal jelas akan mempertaruhkan reputasinya jika terus memakai strategi yang bertentangan dengan filosofi klub.

    Kegagalan Moyes yang menerapkan negative football sudah sepatutnya ia jadikan pelajaran agar mendatangkan kebaikan bagi dirinya dan juga tim yang ia tangani. Di atas itu semua, United masih memiliki 14 pertandingan tersisa dan di sepakbola tidak ada yang tidak mungkin. Go big or go home!

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, FOKUS: Tak Jauh Beda Dari David Moyes, Louis Van Gaal Hadirkan Gaya Membosankan
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page