Founder story Digilive Alvin Rizky Ismail

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Sep 19, 2015.

Discuss Founder story Digilive Alvin Rizky Ismail in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,755
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Kamu penyuka musik? Lalu pekerjaan macam apa yg sempat terlintas di pikiran kamu? Menjadi musisi, composer, produser, / manager band? Founder Digilive Alvin Rizky mencoba menggali potensi industri musik lainnya lewat streaming. Seperti apa perjalanan sosok pria yg sempat bekerja di perusahaan periklanan & stasiun TV swasta ini dalam menyelami ranah entrepeneur? Simak penuturan lengkapnya kepada Tech in Asia.
    Ingin seperti ayah
    Ketika anak-anak ditanya perihal cita-cita, maka jawaban beragam profesi mainstream seperti dokter, pilot, / atlet biasanya akan terlontar. Namun lain halnya dengan Alvin, ia mengaku pertanyaan Mau jadi apa kalau sudah besar ? langsung dijawabnya dengan Ingin seperti ayah.

    Ada alasan tersendiri mengapa Alvin menjawab demikian. Ia selalu melihat sosok ayahnya sebagai orang yg bisa terlihat santai tanpa beban. Kita sekeluarga tahu bila ia adalah pekerja keras, di sisi lain ia juga selalu memiliki waktu untuk keluarganya. Enak banget liatnya, tutur Alvin.

    Karena sudah terbiasa dengan semangat sang ayah sejak berusia belia, Alvin seolah tahu bila ia harus menjalankan bisnisnya sendiri. Namun sebelumnya Alvin sempat bekerja di production house saat ia duduk di bangku kuliah semester 6. Selain itu juga sempat bekerja di perusahaan periklanan & salah satu stasiun TV swasta, jelasnya.

    Pengalaman dari bekerja dengan orang ia kumpulkan menjadi modal untuk mendirikan usaha sendiri. Alvin sendiri mengaku bila apa yg ia lihat dari sosok sang ayah sewaktu kecil mulai didapatkannya ketika mulai menjadi entrepreneur.

    Saya dari kecil selalu bermimpi suatu hari bisa seperti ayah Bisa mengatur hidupnya sendiri, bisa menentukan kapan harus bekerja, kapan bisa menikmati hasil pekerjaannya, & tentunya membuat karya yg baik
    Hidup adalah musik
    Bicara soal musik, rasanya hampir semua orang di dunia menyukai hal ini, entah sebagai pelaku di industri musik, / sekadar penikmat. Pun demikian halnya dengan Alvin. Semenjak masih duduk di bangku sekolah, ketertarikannya terhadap dunia musik sudah sedemikian besar. Dari mulai bikin band sama teman-teman & manggung di berbagai acara, mulai dari 17an, pinggir jalan & acara kampus yg nggak dibayar, sampai dapat bayaran kalau tampil, kenangnya.

    Meski begitu, karier musik Alvin sebagai musisi harus berhenti di tengah jalan setelah rekaman & membuat album. Karena satu & lain hal akhirnya mandek, ujarnya. Meski begitu, kecintaannya terhadap musik tidak luntur begitu saja. Ia tetap mengikuti perkembangan musik terkini baik dari luar maupun dalam negeri.

    Saya cukup bosan mendengar & melihat tayangan musik di televisi nasional kita yg menampilkan band / artis yg itu-itu saja. Mungkin karena alasan rating & lain sebagainya mengapa kebanyakan stasiun tv memilih untuk menampilkan band / artis yg sama setiap harinya.

    Kebosanan Alvin terselamatkan oleh adanya YouTube. Namun ia sering melihat rekaman yg ada di YouTube kualitasnya masih belum maksimal. Utamanya untuk konser band lokal. Makanya saya terinspirasi untuk membuat wadah media live streaming / recording standar broadcast, lanjutnya.
    Lupa bayar
    [​IMG]

    Sebagai pelaku startup, proses pitching adalah hal yg umum dilakukan. Namun ada satu pitching yg selalu tidak terlupakan oleh Alvin. Jadi waktu itu sebelum Digilive hadir, namanya Livebox. Nah ketika presentasi, situsnya tidak bisa dibuka karena domain lupa dibayar, kenangnya.

    Dengan kondisi yg serba salah itu, Alvin mengakali dengan membuat presentasi dadakan menggunakan Powerpoint. Alhasil yg dilihat oleh calon investor adalah gambar alakadarnya & tulisan dengan format yg masih berantakan, ujarnya seraya tertawa.
    Cinderella & Plastik
    Pria yg sangat mengagumi sosok ayah ini mengaku banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Bangun tidur, biasanya saya ajak anak ke luar rumah cari udara segar, ngobrol sama anak seolah-olah dia penasihat hidup saya, & kasih tahu dia hari ini saya mau ngapain & pencapaian apa yg mau saya raih hari ini, tuturnya ketika ditanya mengenai cara mengawali hari.

    Alvin juga cukup sering membaca buku. Namun yg sekarang tengah dibacanya justru buku anak Cinderella, yg kerap digunakan untuk bahan dongeng. Oh ya, saya juga lagi menyimak Daddy and The Hot Tea, untuk mengobati kerinduan akan band Plastik, jelasnya. Di waktu luangnya yg lain Alvin banyak melakukan browsing untuk mengetahui tren terkini di dunia maya & menonton berbagai trailer film dalam & luar negeri.
    Melawan takut dengan air dingin
    Apakah kamu pernah merasa takut untuk menjadi entrepreneur? Bila jawabannya iya, tip dari Alvin ini mungkin bisa ditiru. Ketika ada tekanan biasanya saya minum air dingin & mengingat-ingat lagi pencapaian yg didapat sampai saat ini, ujarnya.

    Meski begitu, Alvin lebih percaya bila tidak ada yg perlu ditakutkan dengan menjadi entrepreneur. Ketika memutuskan untuk menjadi entrepreneur maka sudah pasti harus bersiap untuk waktu yg lebih banyak & konsentrasi, jelasnya.

    Tip lain dari Alvin adalah bagaimana menyikapi semua lika-liku menjadi entrepreneur. Semua masalah pasti ada solusinya. Tinggal bagaimana menyikapi masalah tersebut. Jadi entrepreneur itu keren kok! katanya lagi. Kepada para pelaku startup baru, Alvin menitipkan satu pesan singkat:

    Utamakan passion & elemen fun. Selain itu juga pastinya totalitas, cari partner yg tepat & launch di momen yg pas.

    (Diedit oleh Lina Noviandari)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page