Importasi Batik Printing China Capai Rp43 Miliar

Discussion in 'Berita Online' started by Neos, May 18, 2013.

Discuss Importasi Batik Printing China Capai Rp43 Miliar in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Neos TK 0 Besar Level 2

    Messages:
    199
    Likes Received:
    89
    Trophy Points:
    28
    [​IMG]


    JAKARTA - Bendahara Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Angelina Yuri mengungkapkan bahwa impor batik printing asal China ke Indonesia tiap tahun mencapai Rp43 miliar. Serbuan batik printing asal China ini menjadi contoh nyata kerentanan daya saing produk usaha kecil dan menengah (UKM) dalam menghadapi persaingan bebas.

    "Impor batik China kini mencapai Rp43 miliar. Itu angka yang besar untuk produk UMKM. Karena harganya lebih murah, masuknya batik printing itu karena kurangnya pengawasan impor yang ketat dari pemerintah," ujarnya, di Jakarta, Jumat (17/5/2013) malam.

    Karena itu, pihaknya mendesak pemerintah, terutama Ditjen Bea Cukai agar memperketat importasi batik printing asal China ini. Selain itu, di sisi lain pemerintah harus memberikan kemudahan bagi pengusaha nasional, terutama UKM agar produknya bisa bersaing dengan produk China tersebut.

    "Sebab kalau tidak ada kemudahan dari pemerintah, sulit rasanya produk kita bisa bersaing dengan produk sejenis asal China yang harganya sangat murah tersebut," tambahnya.

    Di tempat yang sama, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Jakarta Utara Rishi Wahab meminta pemerintah aktif turun ke lapangan untuk mendukung peningkatan kemampuan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

    Ini perlu dilakukan seiring akan diberlakukannya Asean Economic Community (AEC) 2015. Menurut Rishi Wahab, waktu dua tahun bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

    "Jika tidak siap, Indonesia menghadapi masalah besar, khususnya untuk UMKM. Indonesia jangan hanya menjadi pasar produk UMKM dari negara ASEAN, tetapi harus bisa memanfaatkan peluang pasar ASEAN," ujarnya.

    Dia menjelaskan salah satu tantangan yang dihadapi saat penerapan MEA 2015 adalah meningkatnya persaingan produk UMKM di ASEAN. Untuk menghadapi hal itu, sambungnya, UMKM perlu menjaga dan meningkatkan daya saing sebagai industri kreatif dan inovatif, standar, desain, dan kualitas produk agar sesuai dengan ketentuan pasar Asean, serta diversifikasi output dan stabilitas pendapatan usaha mikro.

    Terkait dengan hal itu Hipmi DKI, HIPPI DKI, dan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) bersama menggelar seminar dan pameran sehari bertema Strategi, Peluang & Tantangan bagi UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 pada 29 Mei di Gedung Smesco.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page