Ke-Apatis-an Orang Jepang Untuk Berumah Tangga Mengancam Ekonomi Global

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Dec 29, 2014.

Discuss Ke-Apatis-an Orang Jepang Untuk Berumah Tangga Mengancam Ekonomi Global in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,687
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Yo N3 Mania! Selamat membaca Ke-Apatis-an Orang Jepang Untuk Berumah Tangga Mengancam Ekonomi Global.
    [​IMG]

    Orang Jepang sangat menolak untuk menjalin asmara. Bahkan media memberi julukan Sekkusu Shinai Shokogun, / Sindrom Bujangan karena rating pernikahan & kelahiran anak yg rendah.

    Tapi ada yg sesuatu yg lebih dari sekedar kisah tentang Jepang & budaya-nya yg unik: sebuah kisah tentang ekonomi global. Jepang adalah negara ekonomi terbesar ke-3 di dunia, link krusial dalam perdagangan global, & segala sesuatu yg berhubungan dengan ekonomi. Jepang memiliki hutang yg besar. Negara bunga sakura ini adalah partner perdagangan U.S., China & negara-negara lain. Situasi ekonomi Jepang saat ini bisa dibilang sedang dalam masalah serius yg bahkan bisa berpengaruh kepada kita.

    Kalian tahu salah satu sumber masalah utamanya? Orang Jepang tidak memiliki cukup anak untuk menopang keuangan yg sehat. Kenapa mereka tidak memiliki cukup anak? Karena mereka tidak lagi tertarik untuk berpacaran / menikah, begitu pula untuk berhubungan, ehm… seks.

    [​IMG]

    Berikut ini statistik dari Guardian & juga dari laporan Japans Population Center 2011:

    Banyak sekali orang Jepang yg berpikiran bahwa seks tidaklah menarik. 45% wanita & 25% pria, berumur 16 sampai 24 tahun, tidak tertarik & bahkan benci dalam kontak seksual.Lebih dari setengah orang Jepang single. 49% wanita & 61% pria yg belum menikah, berumur 18 hingga 34 tahun, tidak sedang menjalin asmara.Dalam berbagai rentang grup berdasarkan umur, pria & wanita Jepang yg tidak sedang menjalin asmara terus meningkat semenjak 1990.Sekitar seperempat orang Jepang tidak ingin menjalin hubungan asmara. 23% perempuan & 27% laki-laki mengatakan bahwa mereka tidak tertarik untuk menjalin asmara.Lebih dari sepertiga orang Jepang berumur produktif (yang saatnya beranak-pinak) tidak pernah melakukan hubungan seks: 39% perempuan & 36% laki-laki, umur 18 hingga 34 tahun. Jumlah itu tidak banyak berubah dalam dekade terakhir, tetapi sangat tinggi.Institut Populasi Jepang memperkirakan wanita berumur 20 tahun awal memiliki kemungkinan 25% tidak akan pernah menikah & 40% tidak akan pernah memiliki anak.
    Sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yg baru. Semenjak 2006, perempuan Jepang banyak yg komplain mengenai Soshoku Danshi / Laki-Laki Herbivora, julukan bagi mereka yg hampir tidak tertarik sama sekali dengan lawan jenis (tapi bukan homo lho!). Mungkin hal ini dikarenakan adanya industri di Jepang yg membantu pria yg menghindari kehidupan romantis & mengatasi rasa kesepian mereka melalui maid-cafe (Baca Juga: Tsundere Maid Cafe: Cocok Buat Kamu Yang Macochist!) / video game dating-simulation. Masih ingat juga dengan game Summer Lesson? (Baca Selengkapnya: Game Seperti Ini Bisa Bikin Populasi Jombloers Meningkat Pesat!)

    [​IMG]
    Summer Lesson. Game yg bisa bikin punah!

    Dilain pihak, wanita Jepang sering menghindari hubungan asmara karena hukum & norma sosial di Jepang yg membuat mereka sulit untuk menjadi seorang istri & memiliki karir. Jepang sangatlah unik, mereka memiliki gaya ekonomi Eropa, tetapi moral keluarga sosial Asia Selatan. Wanita karir sering sekali terjebak dalam kontradiksi tersebut. Bukan hanya karena jarangnya tempat penitipan anak, tetapi juga wanita yg telah menikah & hamil diharapkan untuk berhenti bekerja sehingga mereka mendapatkan tekanan sosial yg berat ketika melakukannya. Bahkan jikapun mereka masih melanjutkan pekerjaan, mereka akan berpikir bahwa mendapatkan kenaikan pangkat sangatlah mustahil.

    Karena masalah inilah, banyak wanita yg lebih memilih untuk melanjutkan karirnya daripada berkeluarga. Mereka pesimis tentang pernikahan sehingga menjadi tidak tertarik dalam menjalin asmara, juga berhubungan seks. Grafik dibawah ini menunjukan alasan yg sering digunakan untuk tetap single oleh pria & wanita Jepang berumur 25 hingga 34 tahun. Bar berwarna merepresentasikan tahun survey, mulai 1987 hingga 2011:

    [​IMG][​IMG]

    Lalu, apa hubungannya dengan ekonomi global? Well, karena orang Jepang tidak tertarik untuk menjalin hubungan asmara, mereka tidak memiliki anak, yg berarti populasi mereka mulai menurun (terancam punah) dengan sangat cepat. Tahun 2012 lalu, jumlah populasi Jepang minus 212.000 orang, terbanyak dalam sejarah. Angka kelahiran juga terjun bebas, tahun 2012 lalu hanya 1,03 juta bandingkan dengan tahun 2011 yg mencapai 1,21 juta. Minus 180 ribu!

    Berikut ini dua grafik yg menunjukkan penurunan jumlah populasi Jepang mulai tahun 1872 hingga prediksi tahun 2050 nanti.

    [​IMG]

    Sementara dibawah ini adalah persentase perubahan dari tahun 1872 hingga prediksi tahun 2050. Perhatikan bahwa setelah 2010, mereka sudah masuk kedalam zona negatif (minus).[​IMG]

    Hal ini berarti Jepang akan memiliki lebih sedikit pekerja yg mana membuat mereka kurang produktif. Ok, mungkin kamu bakalan bilang kalau pekerja bakalan digantikan oleh robot, android / semacamnya. Jepang kan negara maju?

    Nah, kalau begitu pertanyaannya adalah: siapa yg bakalan membayar pajak? Seperti yg kita tahu, orang-orang Jepang kebanyakan memiliki umur yg panjang, & orang tua di Jepang sangatlah mahal dalam artian biaya untuk merawat mereka. Hal ini dikarenakan mereka sudah terbiasa hidup dalam standar kehidupan & perawatan medis yg tinggi. Agar ekonomi tetap seimbang, tentu saja dibutuhkan pembayar pajak untuk men-support para pensiunan ini. Nah, populasi Jepang saat ini sedang menurun & yg hidup sudah mulai menua, yg berarti jumlah orang tua meroket sementara jumlah pemuda yg membayar pajak terjun bebas.

    Berikut ini adalah sebuah grafik yg menunjukkan distribusi umur dalam populasi Jepang tahun 1950, 2007 & perkiraan tahun 2050. Tahun 1950 menunjukkan banyaknya bayi yg lahir, & banyaknya pemuda-pemudi. Tahun 2007 cukup seimbang: banyak yg pensiun, tetapi banyak juga yg bekerja. Sementara tahun 2050, jumlah pensiunan hampir sama dengan jumlah yg bekerja (dan jumlah kelahiran sangat sedikit).

    [​IMG]

    Sejauh ini, semuanya tampak masih merupakan masalah untuk negara Jepang sendiri. Tapi masalah utamanya adalah: Jepang adalah salah satu negara dengan hutang terbanyak di dunia. Saat ini, kurang lebih Jepang memiliki hutang 200% dari GDP (Gross Domestic Product / pendapatan nasional) mereka lebih banyak daripada Yunani. Untuk saat ini tampak tidak apa-apa, asalkan Jepang terus tumbuh, tetapi sepertinya tidak untuk waktu yg lama.

    [​IMG]
    Tahun 2012 lalu, tokoh Ekonomi Peter Boone & Simon Johnson memperingatkan Jepang (via TheAtlantic) bahwa mereka akan menghadapi kebangkrutan, hilangnya rasa percaya diri, & mengalami krisis finansial yg lebih besar daripada yg menimpa Eropa. Investor akan mulai melihat penurunan jumlah pajak di Jepang & mulai mengambil keputusan bahwa hutang Jepang membuat invetasi disana menjadi tidak aman.

    Pemerintah Jepang tampaknya sangat menyadari masalah yg dikarenakan rendahnya jumlah kelahiran ini. Program-program nasional mendorong pria & wanita untuk menikah & politikus sering memperdebatkan bagaimana caranya untuk meningkatkan angka kelahiran di Jepang. Salah satu legislator, Seiko Noda, sudah mulai mencari solusi untuk masalah ini semenjak 1993. Pada februari, Noda bahkan mengutarakan bahwa untuk menaikkan angka kelahiran di Jepang, maka harus dibuat hukum yg melarang aborsi.

    [​IMG]
    Otaku & Wibu (Weeaboo) beda lho!

    Indonesia sendiri sebenarnya bisa saja terkena dampak yg serupa. Mengingat meningkatnya jumlah Wibu. Coba saja cari di habitat mereka: media sosial, forum & website-website lain. Perlu dicatat pula, bahwa Otaku & Wibu itu berbeda lho! Dalam artian Indonesia, Otaku berarti orang yg mendedikasikan dirinya pada hobi mereka, sementara Wibu adalah orang yg fanatik-super-akut dengan budaya Jepang. Menurut saya, kalau Otaku itu masih normal & memiliki sisi positif sementara Wibu… yah, begitulah. (Baca juga: Wibu Sepertinya Memang Tidak Hidup Dalam Realita).

    Credits: Washingtonpost

    (function($) { $(function() { if (!$('#fb-root').size()) { $('body').append('

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Ke-Apatis-an Orang Jepang Untuk Berumah Tangga Mengancam Ekonomi Global diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. Ke-Apatis-an Orang Jepang Untuk Berumah Tangga Mengancam Ekonomi Global.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page