Kekerasan Dalam Game Justru Daya Tarik Tersendiri Untuk Gamers

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Dec 6, 2013.

Discuss Kekerasan Dalam Game Justru Daya Tarik Tersendiri Untuk Gamers in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    7,623
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    <p style="text-align: justify;">Banyak memang kontroversi yang menarik untuk dibicarakan pada sebuah video games. Terlebih belakangan ini memang banyak sekali sebuah kejadian yang selalu disangkut-pautkan dengan games. Sebuah video games sudah kerap kali menjadi sebuah kambing hitam atas sebuah tindakan kriminal yang dilakukan oleh seorang anak di bawah umur. Tidak sedikit juga tindakan kekerasaan yang terjadi di dunia nyata yang dikatakan kalau memiliki sumber dari game. Namun ada sebuah opini berbeda dan cukup mencengangkan yang keluar dari seorang pengembang game yang cukup terkenal di Bioshock yang bernama Ken Levine.</p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indogamers.com/system/upload/media/pictures/52a159a42c32c1386305956jade_fatality.png" alt="Kekerasan Dalam Game Justru Daya Tarik Tersendiri Untuk Gamers" width="450" height="252" /></p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p style="text-align: justify;">Levine justru mengungkapkan sebuah pernyataan yang sangat bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh publik saat ini. Dia mengatakan kalau developer ataupun publisher seharusnya tidak menahan diri untuk terus mengungkapkan banyak konten kekerasan yang ada di dalam video games. Dalam sebuah wawancara yang digelar oleh Boston Magazine, seperti yang dikutip pada Jagad Play, Ken Levine menyatakan bahwa video game harus dengan gamblang memperlihatkan efek dan konsekuensi dari sebuah tindak kekerasan, sekejam dan sebrutal apapun itu.</p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indogamers.com/system/upload/media/pictures/52a159b260ea51386305970gta-v1-e1380513935136.jpg" alt="" width="450" height="338" /></p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p style="text-align: justify;">Selain itu dia juga menambahkan kalau, Melihat video game sebagai sebuah seni, ia harus berani menawarkan sesuatu yang tidak berani dieskpos oleh media mainstream yang lain. Menjadi tanggung jawab video game untuk memperlihatkan secara nyata apa yang akan terjadi jika seseorang ditembak senapan api, karena efeknya tidak akan dapat dideskripsikan dengan hanya kata-kata. Ini soal memicu emosi para gamer hingga level yang terdalam.</p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indogamers.com/system/upload/media/pictures/52a159b9bbfdc1386305977ir5.jpg" alt="" width="450" height="299" /></p><p style="text-align: center;">(Ken Levine)</p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p style="text-align: justify;">Levine sendiri mengatakan hal tersebut justru untuk memberikan sebuah pelajaran khusus kepada gamers yang memainkan game-game dengan tema kekerasan. Dari sini gamers semua tentu dapat belajar, jika mereka melakukan sebuah tindakan seperti mutilasi, pembunuhan, penghancuran yang menyebabkan darah dimana-mana, atau bisa juga dibilang tindakan-tindakan brutal, maka gamers seharusnya dapat berpikir akan hal tersebut untuk tidak melakukannya pada dunia nyata. Terlebih lagi dengan melakukan hal tersebut mereka sudah mengetahui dampak yang diberikan dari bermain sebuah video games tersebut.</p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p><img style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto;" src="http://www.indogamers.com/system/upload/media/pictures/52a159c2e641b1386305986video-game-violence.jpg" alt="" width="450" height="213" /></p><p style="text-align: justify;">&nbsp;</p><p style="text-align: justify;">Ini tidak salah memang, apalagi jika gamers yang bermain juga sudah memiliki umur sesuai dengan yang dianjurkan oleh sang pembuat games. Jika memang games tersebut masih belum layak untuk dimainkan oleh gamers yang belum mencapai umur yang disepakati, apakah video games itu sendiri yang selalu dijadikan kambing hitam? Bukankah orang-orang di sekitarnya-lah yang seharusnya bertanggung jawab akan hal tersebut? <bms></p>

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page