Kisah Tragis Manusia Super Jenius

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Mar 26, 2016.

Discuss Kisah Tragis Manusia Super Jenius in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    16,110
    Likes Received:
    51
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]Menjadi jenius mungkin dambaan mayoritas manusia. Masalahnya, pengharapan sekaligus tekanan berlebih bisa mengorbankan hidup orang yg berotak super. Contoh paling tragis terekam pada kisah William J Sidis, si jenius ber-IQ 250 – 300.

    Mungkin belum banyak yg mengenal nama William J Sidis. Kisah berikut akan menjelaskan siapa, apa, & bagaimana kiprahnya di dunia keilmuan. Sebuah dunia yg mendewakan manusia-manusia super cerdas, lalu lalai pada sisi kemanusiaan itu sendiri.



    [​IMG]

    Seperti dilansir apakabardunia.com, berawal dari Boris & Sarah Sidis, pasutri Yahudi Ukraina yg menjadi imigran ke Amerika Serikat di akhir abad 19 akibat tekanan politik & agama di negara asal mereka. Boris & Sarah kemudian menetap di New York. Dalam waktu singkat, Boris menjadi psikolog cukup terkenal berkat metode hipnosis.Sarah menjadi dokter, & di jaman itu ia satu-satunya perempuan yg mendapat gelar dokter. Karir pasutri ini sangat cemerlang.

    Apakah semua cukup? Belum. Mereka menginginkan anak-anak yg bakal mewarisi kecemerlangan otak mereka. Dan, pada tanggal 1 April 1898, Sarah melahirkan anak pertama pasangan itu, William James Sidis.

    Sejak kecil, pendidikan (atau pembentukan? pen.) William dimulai begitu intens. Tabungan keluarga digunakan untuk buku, mainan, serta perlengkapan lain yg bisa mendorong san anak berkembang cepat. Memanfaatkan teknik psikologi inovatif Boris , William diajarkan untuk mengenali & mengucapkan huruf dari alfabet dalam beberapa bulan. Si kecil sudah bisa berbicara seperti “door” (pintu) saat usianya 6 bulan. Serta terampil makan sendiri dengan sendok ketika 8 bulan.

    Apa bayangan Anda tentang William? ya, anak ajaib. Demikian pula Boris & Sarah, mereka sangat bangga. Bayangkan, saat menginjak usia 2 tahun William sudah bisa membaca harian New York Times & mengetik dengan bahasa Inggris & Perancis.



    [​IMG]

    Sisi negatifnya, pelatihan berlebih ditambah atensi media (berkat Sarah yg suka menulis jurnal memamerkan keberhasilan anak mereka) mengakibatkan William kehilangan sisi “anak” yg seharusnya bermain dengan teman seusianya. Di usia 9 tahun ia sudah diterima di Harvard, walau pihak kampus menolaknya hadir di kelas karena secara emosional ia belum dewasa.

    Orang tua William menekan Harvard dengan menuliskan kisah tersebut hingga dimuat di halaman pertama New York Times. Lalu Tufts College juga mengaku pada publik bahwa William mengoreksi kesalahan dalam buku-buku matematika & mencoba untuk menemukan kesalahan dalam teori relativitas Einstein.

    Akhirnya Harvard menyerah, William pun bisa kuliah. Ia terdaftar sebagai mahasiswa ketika usianya mencapai 11 tahun.

    Boston, 1910. Di puncak musim dingin, ratusan orang hadir mendengarkan bocah ajaib William J Sidis berbicara tentang dimensi ke-4 pada tubuh manusia. Kabar ini menyebar cepat, dunia terkesima. Media mendapat sumber berita paling sensasional. Wartawan pun terus menguntit William di kampusnya. Bagaikan selebritas, ia tak punya waktu privasi lagi.

    Di usia 16 tahun akhirnya William lulus dari Harvard dengan predikat cum laude. Membanggakan bagi orang tua & publik, tapi tidak bagi William. Menurut penulis biografi Sidis Amy Wallace , William pernah mengaku tidak pernah mencium seorang gadis. Suatu hal yg ‘aneh’ dalam budaya remaja Amerika. Saat wisuda, ia memberi pernyataan terbuka pada wartawan, “Saya ingin menjalani kehidupan yg sempurna. Satu-satunya cara untuk menjalani kehidupan yg sempurna adalah hidup dalam pengasingan. Saya selalu membenci orang banyak.”

    Setelah meninggalkan Harvard, masyarakat & orang tuanya mengharapkan hal-hal besar dari William. Dia memang mengajar matematika di Rice University di Houston, Texas. Faktanya, usia William yg lebih muda dari semua siswanya mengakibatkan kesulitan dalam mengajar. Dia pun mengundurkan diri & pindah kembali ke Boston.



    [​IMG]

    Di saat yg sama, Amerika sebagai negara kapitalis bertolak belakang dengan haluan komunis. Sementara William justru berpaham sosialis, hal ini membawanya ke penjara di bulan Mei 1919 karena merancang demonstrasi sayap kiri. Dalam sel, ia bertemu Martha Foley seorang sosialis Irlandia. Cinta mereka berdua berjalan rumit, sehubungan dengan faham William yg ‘unik’ soal cinta, seni, & seks hanyalah agen sebuah “kehidupan yg tidak sempurna.”

    Pengakuannya sebagai atheis & sosialis di pengadilan menghasilkan hukuman 18 bulan penjara bagi William. Untungnya, pengaruh orangtuanya membuatnya keluar penjara. Ia lalu pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, & mengubah namanya agar tak ditemukan.

    Selama dalam keterasingan hidupnya, ia menulis puluhan buku dengan nama samaran. Masa-masa inilah karya-karyanya terbilang fenomenal. Dalam The Animate and the Inanimate (1925), William mengklaim tentang wilayah gelam di alam semesta (teori yg sekarang berkembang soal dark matter, anti matter, & black hole). Sidis juga menulis sejarah Amerika dari jaman prasejarah hingga 1928. Ia menyebut bahwa orang-orang kulit merah sebagai penduduk pribumi juga hidup di waktu yg sama ketika nenek moyang kulit putih berkembang di Eropa.

    Penarikan diri William dari dunia, memutuskan kontak dengan orang tuanya, menggiring William dalam kesendirian sebagai anti-sosial. Meskipun media tetap berusaha menjadikannya sumber berita. Tulisan di The New Yorker tahun 1937 yg memuat tulisan seorang reporter wanita yg dikirim untuk berteman sambil mengorek rahasia hidup William merupakan aib terbesar dalam hidupnya. Penggambaran dirinya yg kekanak-kanakan, / menangis di tempat kerja sungguh kisah memalukan. Tuntutan William pada The New Yorker sempat sampai ke Mahkamah Agung, bagaimanapun publik telah melihat ‘kehancuran’ William yg gagal menjadi seorang pria seperti seharusnya.

    Akhirnya di sebuah hari saat musim panas bulan Juli 1944, William ditemukan tak sadarkan diri dalam apartemen kecilnya di Boston. Ia terserang stroke, otaknya sekarat. Tak pernah sadar lagi & meninggal di usia 46 tahun. Satu kenangan yg tersisa hanya foto dalam dompetnya, foto Martha Foley…



    Originally posted 2013-12-09 18:19:00. Republished by Blog Post Promoter

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Kisah Tragis Manusia Super Jenius diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. Kisah Tragis Manusia Super Jenius.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page