Kumpulan Sajak Puisi WS Rendra

Discussion in 'Sastra' started by dono, Dec 27, 2012.

Discuss Kumpulan Sajak Puisi WS Rendra in the Sastra area at Nyit-Nyit.Net

  1. dono 3 SMP STAFF N3 Tukang Sapu

    Messages:
    2,403
    Likes Received:
    2,574
    Trophy Points:
    141
    Game:
    Dota 2
    Region:
    Australia
    Pada kesempatan yang berbahagia ini saya selaku admin blog IT Terbaru mau berbagi sebuah koleksi artikel lama tentang Kumpulan Sajak dan Puisi dari WS Rendra. Artikel ini saya kumpulakan dari berbagai sumber, dan semoga artikel yang telah saya update dapat bermanfaat untuk sobat pembaca.



    Rendra (Willibrordus Surendra Bawana Rendra; lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935 – meninggal di Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009 pada umur 73 tahun) yang lebih kita kenal dengan panggilan WS Rendra dengan julukan si Burung Merak adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak". Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967. Ketika kelompok teaternya kocar-kacir karena tekanan politik, kemudian ia mendirikan Bengkel Teater Rendra di Depok, pada bulan Oktober 1985. Semenjak masa kuliah ia sudah aktif menulis cerpen dan esai di berbagai majalah. Untuk lebih lengkapnya tentang sosok WS Rendra, Klik disini

    [float='left'] WS Rendra.jpg [/float]Berikut ini sobat bisa baca dengan lengkap Kumpulan Sajak Puisi WS Rendra yang sudah saya pesiapkan sedari tadi khusus untuk sobat pecinta sajak. Oke sob, kita langsung baca dibawah ini dengan lengkap.

    =================================================

    Pamplet Cinta
    Oleh : W.S. Rendra

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
    Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

    Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
    Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
    Aku merindukan wajahmu,
    dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
    Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
    Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
    Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
    Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
    Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
    Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan

    Suatu malam aku mandi di lautan.
    Sepi menjdai kaca.
    Bunga-bunga yang ajaib bermekaran di langit.
    Aku inginkan kamu, tapi kamu tidak ada.
    Sepi menjadi kaca.

    Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
    bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan ?
    Udara penuh rasa curiga.
    Tegur sapa tanpa jaminan.

    Air lautan berkilat-kilat.
    Suara lautan adalah suara kesepian.
    Dan lalu muncul wajahmu.

    Kamu menjadi makna
    Makna menjadi harapan.
    Sebenarnya apakah harapan ?
    Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
    Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
    Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
    Aku tertawa, Ma !

    Angin menyapu rambutku.
    Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.

    Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
    Pantatku karatan aku seret dari warung ke warung.
    Perutku sobek di jalan raya yang lengang…….
    Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
    Aku menulis sajak di bordes kereta api.
    Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.

    Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
    aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
    Lalu muncullah kamu,
    nongol dari perut matahari bunting,
    jam duabelas seperempat siang.
    Aku terkesima.
    Aku disergap kejadian tak terduga.
    Rahmat turun bagai hujan
    membuatku segar,
    tapi juga menggigil bertanya-tanya.
    Aku jadi bego, Ma !

    Yaaah , Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
    Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
    dan sedih karena kita sering berpisah.
    Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
    Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih ?
    Bahagia karena napas mengalir dan jantung berdetak.
    Sedih karena pikiran diliputi bayang-bayang.
    Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

    Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
    memandang wajahmu dari segenap jurusan.

    Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ===========================================================

    Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya
    Oleh : W.S. Rendra

    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kau kenangkan encokmu
    kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
    Dan juga masa depan kita
    yang hampir rampung
    dan dengan lega akan kita lunaskan.

    Kita tidaklah sendiri
    dan terasing dengan nasib kita
    Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
    Suka duka kita bukanlah istimewa
    kerna setiap orang mengalaminya.

    Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
    Hidup adalah untuk mengolah hidup
    bekerja membalik tanah
    memasuki rahasia langit dan samodra,
    serta mencipta dan mengukir dunia.
    Kita menyandang tugas,
    kerna tugas adalah tugas.
    Bukannya demi sorga atau neraka.
    Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

    Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
    meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
    Kita adalah kepribadian
    dan harga kita adalah kehormatan kita.
    Tolehlah lagi ke belakang
    ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

    Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
    Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
    Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
    melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
    Dan kenangkanlah pula
    bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
    menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

    Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
    Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
    Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
    Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
    nasib, dan kehidupan.

    Lihatlah! Sembilan puluh tahun penuh warna
    Kenangkanlah bahwa kita telah selalu menolak menjadi koma.
    Kita menjadi goyah dan bongkok
    kerna usia nampaknya lebih kuat dari kita
    tetapi bukan kerna kita telah terkalahkan.

    Aku tulis sajak ini
    untuk menghibur hatimu
    Sementara kaukenangkan encokmu
    kenangkanlah pula
    bahwa kita ditantang seratus dewa.

    ===========================================================

    Orang-Orang Miskin
    Oleh : W.S. Rendra

    Orang-orang miskin di jalan,
    yang tinggal di dalam selokan,
    yang kalah di dalam pergulatan,
    yang diledek oleh impian,
    janganlah mereka ditinggalkan.

    Angin membawa bau baju mereka.
    Rambut mereka melekat di bulan purnama.
    Wanita-wanita bunting berbaris di cakrawala,
    mengandung buah jalan raya.

    Orang-orang miskin. Orang-orang berdosa.
    Bayi gelap dalam batin. Rumput dan lumut jalan raya.
    Tak bisa kamu abaikan.

    Bila kamu remehkan mereka,
    di jalan kamu akan diburu bayangan.
    Tidurmu akan penuh igauan,
    dan bahasa anak-anakmu sukar kamu terka.

    Jangan kamu bilang negara ini kaya
    karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
    Jangan kamu bilang dirimu kaya
    bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
    Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
    Dan perlu diusulkan
    agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
    Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.

    Orang-orang miskin di jalan
    masuk ke dalam tidur malammu.
    Perempuan-perempuan bunga raya
    menyuapi putra-putramu.
    Tangan-tangan kotor dari jalanan
    meraba-raba kaca jendelamu.
    Mereka tak bisa kamu biarkan.

    Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
    Mereka akan menjadi pertanyaan
    yang mencegat ideologimu.
    Gigi mereka yang kuning
    akan meringis di muka agamamu.
    Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
    akan hinggap di gorden presidenan
    dan buku programma gedung kesenian.

    Orang-orang miskin berbaris sepanjang sejarah,
    bagai udara panas yang selalu ada,
    bagai gerimis yang selalu membayang.
    Orang-orang miskin mengangkat pisau-pisau
    tertuju ke dada kita,
    atau ke dada mereka sendiri.
    O, kenangkanlah :
    orang-orang miskin
    juga berasal dari kemah Ibrahim

    Yogya, 4 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puis

    ===========================================================

    Aku Tulis Pamplet Ini
    Oleh : W.S. Rendra

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an

    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang

    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.
    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !

    Pejambon Jakarta 27 April 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ===========================================================

    Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang
    Oleh : W.S. Rendra

    Tuhanku,
    WajahMu membayang di kota terbakar
    dan firmanMu terguris di atas ribuan
    kuburan yang dangkal

    Anak menangis kehilangan bapa
    Tanah sepi kehilangan lelakinya
    Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
    tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

    Apabila malam turun nanti
    sempurnalah sudah warna dosa
    dan mesiu kembali lagi bicara
    Waktu itu, Tuhanku,
    perkenankan aku membunuh
    perkenankan aku menusukkan sangkurku

    Malam dan wajahku
    adalah satu warna
    Dosa dan nafasku
    adalah satu udara.
    Tak ada lagi pilihan
    kecuali menyadari
    -biarpun bersama penyesalan-

    Apa yang bisa diucapkan
    oleh bibirku yang terjajah ?
    Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
    mendekap bumi yang mengkhianatiMu
    Tuhanku
    Erat-erat kugenggam senapanku
    Perkenankan aku membunuh
    Perkenankan aku menusukkan sangkurku

    Mimbar Indonesia
    Th. XIV, No. 25
    18 Juni 1960


    ===========================================================

    Gerilya
    Oleh : W.S. Rendra


    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling di jalan

    Angin tergantung
    terkecap pahitnya tembakau
    bendungan keluh dan bencana

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan

    Dengan tujuh lubang pelor
    diketuk gerbang langit
    dan menyala mentari muda
    melepas kesumatnya

    Gadis berjalan di subuh merah
    dengan sayur-mayur di punggung
    melihatnya pertama

    Ia beri jeritan manis
    dan duka daun wortel

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan

    Orang-orang kampung mengenalnya
    anak janda berambut ombak
    ditimba air bergantang-gantang
    disiram atas tubuhnya

    Tubuh biru
    tatapan mata biru
    lelaki berguling dijalan

    Lewat gardu Belanda dengan berani
    berlindung warna malam
    sendiri masuk kota
    ingin ikut ngubur ibunya

    Siasat
    Th IX, No. 42
    1955

    ===========================================================

    Gugur
    Oleh : W.S. Rendra

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Tiada kuasa lagi menegak
    Telah ia lepaskan dengan gemilang
    pelor terakhir dari bedilnya
    Ke dada musuh yang merebut kotanya

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Ia sudah tua
    luka-luka di badannya

    Bagai harimau tua
    susah payah maut menjeratnya
    Matanya bagai saga
    menatap musuh pergi dari kotanya

    Sesudah pertempuran yang gemilang itu
    lima pemuda mengangkatnya
    di antaranya anaknya
    Ia menolak
    dan tetap merangkak
    menuju kota kesayangannya

    Ia merangkak
    di atas bumi yang dicintainya
    Belumlagi selusin tindak
    mautpun menghadangnya.
    Ketika anaknya memegang tangannya
    ia berkata :
    ” Yang berasal dari tanah
    kembali rebah pada tanah.
    Dan aku pun berasal dari tanah
    tanah Ambarawa yang kucinta
    Kita bukanlah anak jadah
    Kerna kita punya bumi kecintaan.
    Bumi yang menyusui kita
    dengan mata airnya.
    Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
    Bumi kita adalah kehormatan.
    Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
    Ia adalah bumi nenek moyang.
    Ia adalah bumi waris yang sekarang.
    Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
    Hari pun berangkat malam
    Bumi berpeluh dan terbakar
    Kerna api menyala di kota Ambarawa

    Orang tua itu kembali berkata :
    “Lihatlah, hari telah fajar !
    Wahai bumi yang indah,
    kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
    Nanti sekali waktu
    seorang cucuku
    akan menacapkan bajak
    di bumi tempatku berkubur
    kemudian akan ditanamnya benih
    dan tumbuh dengan subur
    Maka ia pun berkata :
    -Alangkah gemburnya tanah di sini!”

    Hari pun lengkap malam
    ketika menutup matanya

    ===========================================================

    Hai, Kamu !
    Oleh : W.S. Rendra

    Luka-luka di dalam lembaga,
    intaian keangkuhan kekerdilan jiwa,
    noda di dalam pergaulan antar manusia,
    duduk di dalam kemacetan angan-angan.
    Aku berontak dengan memandang cakrawala.

    Jari-jari waktu menggamitku.
    Aku menyimak kepada arus kali.
    Lagu margasatwa agak mereda.
    Indahnya ketenangan turun ke hatiku.
    Lepas sudah himpitan-himpitan yang mengekangku.

    Jakarta, 29 Pebruari 1978
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ===========================================================

    Lagu Seorang Gerilya
    (Untuk puteraku Isaias Sadewa)
    Oleh : W.S. Rendra

    Engkau melayang jauh, kekasihku.
    Engkau mandi cahaya matahari.
    Aku di sini memandangmu,
    menyandang senapan, berbendera pusaka.

    Di antara pohon-pohon pisang di kampung kita yang berdebu,
    engkau berkudung selendang katun di kepalamu.
    Engkau menjadi suatu keindahan,
    sementara dari jauh
    resimen tank penindas terdengar menderu.

    Malam bermandi cahaya matahari,
    kehijauan menyelimuti medan perang yang membara.
    Di dalam hujan tembakan mortir, kekasihku,
    engkau menjadi pelangi yang agung dan syahdu

    Peluruku habis
    dan darah muncrat dari dadaku.
    Maka di saat seperti itu
    kamu menyanyikan lagu-lagu perjuangan
    bersama kakek-kakekku yang telah gugur
    di dalam berjuang membela rakyat jelata

    Jakarta, 2 september 1977
    Potret Pembangunan dalam Puisi

    ===========================================================

    Lagu Serdadu
    Oleh : W.S. Rendra

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah

    Siasat
    No. 630, th. 13
    Nopember 1959

    ===========================================================

    Mazmur Mawar
    Oleh : W.S. Rendra

    Kita muliakan Nama Tuhan
    Kita muliakan dengan segenap mawar
    Kita muliakan Tuhan yang manis,
    indah, dan penuh kasih sayang
    Tuhan adalah serdadu yang tertembak
    Tuhan berjalan di sepanjang jalan becek
    sebagai orang miskin yang tua dan bijaksana
    dengan baju compang-camping
    membelai kepala kanak-kanak yang lapar.
    Tuhan adalah Bapa yang sakit batuk
    Dengan pandangan arif dan bijak
    membelai kepala para pelacur
    Tuhan berada di gang-gang gelap
    Bersama para pencuri, para perampok
    dan para pembunuh
    Tuhan adalah teman sekamar para penjinah
    Raja dari segala raja
    adalah cacing bagi bebek dan babi
    Wajah Tuhan yang manis adalah meja pejudian
    yang berdebu dan dibantingi kartu-kartu

    Dan sekarang saya lihat
    Tuhan sebagai orang tua renta
    tidur melengkung di trotoar
    batuk-batuk karena malam yang dingin
    dan tangannya menekan perutnya yang lapar
    Tuhan telah terserang lapar, batuk, dan selesma,
    menangis di tepi jalan.
    Wahai, ia adalah teman kita yang akrab!
    Ia adalah teman kita semua: para musuh polisi,
    Para perampok, pembunuh, penjudi,
    pelacur, penganggur, dan peminta-minta
    Marilah kita datang kepada-Nya
    kita tolong teman kita yang tua dan baik hati.

    Dikutip dari:
    Sajak-sajak Sepatu Tua
    Rendra
    Pustaka Jaya
    Dirgahayu6 – Karya Wiyata 83 Tahun XX Juli-Agustus 1997

    ===========================================================

    Sajak Sebatang Lisong

    menghisap sebatang lisong
    melihat Indonesia Raya
    mendengar 130 juta rakyat
    dan di langit
    dua tiga cukung mengangkang
    berak di atas kepala mereka

    matahari terbit
    fajar tiba
    dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
    tanpa pendidikan

    aku bertanya
    tetapi pertanyaan - pertanyaanku
    membentur meja kekuasaan yang macet
    dan papantulis - papantulis para pendidik
    yang terlepas dari persoalan kehidupan

    delapan juta kanak - kanak
    menghadapi satu jalan panjang
    tanpa pilihan
    tanpa pepohonan
    tanpa dangau persinggahan
    tanpa ada bayangan ujungnya
    ..........................

    menghisap udara
    yang disemprot deodorant
    aku melihat sarjana - sarjana menganggur
    berpeluh di jalan raya
    aku melihat wanita bunting
    antri uang pensiunan

    dan di langit
    para teknokrat berkata :

    bahwa bangsa kita adalah malas
    bahwa bangsa mesti dibangun
    mesti di up-grade
    disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

    gunung - gunung menjulang
    langit pesta warna di dalam senjakala
    dan aku melihat
    protes - protes yang terpendam
    terhimpit di bawah tilam

    aku bertanya
    tetapi pertanyaanku
    membentur jidat penyair - penyair salon
    yang bersajak tentang anggur dan rembulan
    sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
    dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
    termangu - mangu di kaki dewi kesenian

    bunga - bunga bangsa tahun depan
    berkunang - kunang pandang matanya
    di bawah iklan berlampu neon
    berjuta - juta harapan ibu dan bapak
    menjadi gemalau suara yang kacau
    menjadi karang di bawah muka samodra
    .................................

    kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
    diktat - diktat hanya boleh memberi metode
    tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
    kita mesti keluar ke jalan raya
    keluar ke desa - desa
    mencatat sendiri semua gejala
    dan menghayati persoalan yang nyata

    inilah sajakku
    pamplet masa darurat
    apakah artinya kesenian
    bila terpisah dari derita lingkungan
    apakah artinya berpikir
    bila terpisah dari masalah kehidupan

    RENDRA
    ( itb bandung - 19 agustus 1978 )

    ===========================================================

    Sajak Orang Lapar

    kelaparan adalah burung gagak
    yang licik dan hitam
    jutaan burung-burung gagak
    bagai awan yang hitam

    o Allah !
    burung gagak menakutkan
    dan kelaparan adalah burung gagak
    selalu menakutkan
    kelaparan adalah pemberontakan
    adalah penggerak gaib
    dari pisau-pisau pembunuhan
    yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

    kelaparan adalah batu-batu karang
    di bawah wajah laut yang tidur
    adalah mata air penipuan
    adalah pengkhianatan kehormatan

    seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
    melihat bagaimana tangannya sendiri
    meletakkan kehormatannya di tanah
    karena kelaparan
    kelaparan adalah iblis
    kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

    o Allah !
    kelaparan adalah tangan-tangan hitam
    yang memasukkan segenggam tawas
    ke dalam perut para miskin

    o Allah !
    kami berlutut
    mata kami adalah mata Mu
    ini juga mulut Mu
    ini juga hati Mu
    dan ini juga perut Mu
    perut Mu lapar, ya Allah
    perut Mu menggenggam tawas
    dan pecahan-pecahan gelas kaca

    o Allah !
    betapa indahnya sepiring nasi panas
    semangkuk sop dan segelas kopi hitam

    o Allah !
    kelaparan adalah burung gagak
    jutaan burung gagak
    bagai awan yang hitam
    menghalang pandangku
    ke sorga Mu

    ===========================================================

    Sajak Rajawali

    sebuah sangkar besi
    tidak bisa mengubah rajawali
    menjadi seekor burung nuri

    rajawali adalah pacar langit
    dan di dalam sangkar besi
    rajawali merasa pasti
    bahwa langit akan selalu menanti

    langit tanpa rajawali
    adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
    tujuh langit, tujuh rajawali
    tujuh cakrawala, tujuh pengembara

    rajawali terbang tinggi memasuki sepi
    memandang dunia
    rajawali di sangkar besi
    duduk bertapa
    mengolah hidupnya

    hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
    yang terjadi dari keringat matahari
    tanpa kemantapan hati rajawali
    mata kita hanya melihat matamorgana

    rajawali terbang tinggi
    membela langit dengan setia
    dan ia akan mematuk kedua matamu
    wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka

    ===========================================================

    Sajak Pertemuan Mahasiswa

    matahari terbit pagi ini
    mencium bau kencing orok di kaki langit
    melihat kali coklat menjalar ke lautan
    dan mendengar dengung di dalam hutan

    lalu kini ia dua penggalah tingginya
    dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
    memeriksa keadaan

    kita bertanya :
    kenapa maksud baik tidak selalu berguna
    kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
    orang berkata : "kami ada maksud baik"
    dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa ?"

    ya !
    ada yang jaya, ada yang terhina
    ada yang bersenjata, ada yang terluka
    ada yang duduk, ada yang diduduki
    ada yang berlimpah, ada yang terkuras
    dan kita disini bertanya :
    "maksud baik saudara untuk siapa ?
    saudara berdiri di pihak yang mana ?"

    kenapa maksud baik dilakukan
    tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
    tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
    perkebunan yang luas
    hanya menguntungkan segolongan kecil saja
    alat - alat kemajuan yang diimpor
    tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

    tentu, kita bertanya :
    "lantas maksud baik saudara untuk siapa ?"
    sekarang matahari semakin tinggi
    lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
    dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
    kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
    ilmu - ilmu diajarkan disini
    akan menjadi alat pembebasan
    ataukah alat penindasan ?

    sebentar lagi matahari akan tenggelam
    malam akan tiba
    cicak - cicak berbunyi di tembok
    dan rembulan berlayar
    tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
    akan hidup di dalam mimpi
    akan tumbuh di kebon belakang

    dan esok hari
    matahari akan terbit kembali
    sementara hari baru menjelma
    pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
    atau masuk ke sungai
    menjadi ombak di samodra

    di bawah matahari ini kita bertanya :
    ada yang menangis, ada yang mendera
    ada yang habis, ada yang mengikis
    dan maksud baik kita
    berdiri di pihak yang mana !

    RENDRA
    ( jakarta, 1 desember 1977 )

    Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
    bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
    bahwa mobilku hanya titipan Nya,
    bahwa rumahku hanya titipan Nya,
    bahwa hartaku hanya titipan Nya,
    bahwa putraku hanya titipan Nya,
    tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
    Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
    Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
    Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
    Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
    Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
    kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
    kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
    Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
    aku ingin lebih banyak harta,
    ingin lebih banyak mobil,
    lebih banyak rumah,
    lebih banyak popularitas,
    dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
    Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
    Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
    aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
    Nikmat dunia kerap menghampiriku.
    Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
    Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
    Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
    "ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

    (WS Rendra).

    ===========================================================

    Aku Tulis Pamplet Ini

    AKU TULIS PAMPLET INI
    KARENA LEMBAGA PENDAPAT UMUM
    DITUTUPI JARING LABAH-LABAH
    ORANG-ORANG BICARA DALAM KASAK-KUSUK,
    DAN UNGKAPAN DIRI DITEKAN
    MENJADI PENG-IYA-AN

    APA YANG TERPEGANG HARI INI
    BISA LUPUT BESOK PAGI
    KETIDAK PASTIAN MERAJALELA
    DI LUAR KEKUASAAN KEHIDUPAN MENJADI TEKA-TEKI,
    MENJADI MARABAHAYA,
    MENJADI ISI KEBON BINATANG

    APABILA KRITIK HANYA BOLEH LEWAT SALURAN RESMI
    MAKA HIDUP AKAN MENJADI SAYUR TANPA GARAM
    LEMBAGA PENDAPAT UMUM TIDAK MENGANDUNG PERTANYAAN
    TIDAK MENGANDUNG PERDEBATAN
    DAN AKHIRNYA MENJADI MONOPOLI KEKUASAAN

    AKU TULIS PAMPLET INI
    KARENA PAMPLET BUKAN TABU BAGI PENYAIR
    AKU INGINKAN MERPATI POS
    AKU INGIN MEMAINKAN BENDERA-BENDERA SEMAPHORE DI TANGANKU
    AKU INGIN MEMBUAT ISYARAT ASAP KAUM INDIAN
    AKU TIDAK MELIHAT ALASAN

    KENAPA HARUS DIAM TERTEKAN DAN TERMANGU
    AKU INGIN SECARA WAJAR KITA BERTUKAR KABAR
    DUDUK BERDEBAT MENYATAKAN SETUJU ATAU TIDAK SETUJU

    KENAPA KETAKUTAN MENJADI TABIR PIKIRAN ?
    KEKHAWATIRAN TELAH MENCEMARKAN KEHIDUPAN
    KETEGANGAN TELAH MENGGANTI PERGAULAN PIKIRAN YANG MERDEKA

    MATAHARI MENYINARI AIRMATA YANG BERDERAI MENJADI API
    REMBULAN MEMBERI MIMPI PADA DENDAM
    GELOMBANG ANGIN MENYINGKAPKAN KELUH KESAH
    YANG TERONGGOK BAGAI SAMPAH
    KEGAMANGAN
    KECURIGAAN
    KETAKUTAN
    KELESUAN

    AKU TULIS PAMPLET INI
    KARENA KAWAN DAN LAWAN ADALAH SAUDARA
    DI DALAM ALAM MASIH ADA CAHAYA
    MATAHARI YANG TENGGELAM DIGANTI REMBULAN
    LALU BESOK PAGI PASTI TERBIT KEMBALI
    DAN DI DALAM AIR LUMPUR KEHIDUPAN
    AKU MELIHAT BAGAI TERKACA :
    TERNYATA KITA, TOH, MANUSIA !

    ===========================================================

    Kangen

    Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
    menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
    kau tak akan mengerti segala lukaku
    kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
    Membayangkan wajahmu adalah siksa.
    Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
    Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
    Apabila aku dalam kangen dan sepi
    itulah berarti
    aku tungku tanpa api.

    ===========================================================

    Kenangan Dan Kesepian

    Rumah tua
    dan pagar batu.
    Langit di desa
    sawah dan bambu.

    Berkenalan dengan sepi
    pada kejemuan disandarkan dirinya.
    Jalanan berdebu tak berhati
    lewat nasib menatapnya.

    Cinta yang datang
    burung tak tergenggam.
    Batang baja waktu lengang
    dari belakang menikam.

    Rumah tua
    dan pagar batu.
    Kenangan lama
    dan sepi yang syahdu
     
    3 people like this.

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page