Letusan Gunung Samalas Lebih Dahsyat dari Krakatau dan Tambora

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Sep 1, 2014.

Discuss Letusan Gunung Samalas Lebih Dahsyat dari Krakatau dan Tambora in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,687
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]
    Satu Lagi Gunung di Indonesia yg meletus bahkan lebih dahsyat dari Krakor & Tambora terungkap. Abu letusannya bahkan sampai di kedua kutub bumi. …

    Salah satu misteri bencana besar dalam sejarah mungkin telah terpecahkan – yaitu kasus letusan gunung berapi terbesar dalam 3.700 tahun terakhir. Terjadi sekitar hampir 800 tahun yg lalu, letusan ini telah tercatat, & kemudian terlupakan, & mungkin juga telah menciptakan sebuah “Pompeii dari Timur”, yg mungkin terkubur & menunggu untuk ditemukan di sebuah pulau di Indonesia.

    Seperti yg dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, bukti abu dari letusan yg tersebar hingga kutub selatan maupun kutub utara, telah menunjuk kepada gunung berapi Samalas di Pulau Lombok di Indonesia. Tim peneliti, yg dipimpin oleh ahli geografi Franck Lavigne dari Universit Paris 1 Panthon – Sorbonne, kini telah memperkirakan bahwa bencana besar itu terjadi antara Mei & Oktober 1257. Penemuan ini dipublikasikan kemaren dalam Prosiding National Academy of Sciences .

    Semenjak glaciologists menemukan bukti-bukti a&ya letusan besar tiga dekade lalu, para ahli gunung berapi telah mencari asal letusan di mana-mana dari gunung berapi Okataina Selandia Baru hingga ke El Chichon Meksiko.

    Sebelumnya letusan itu diperkirakan delapan kali lebih besar dari letusan Krakor tahun 1883 & dua kali lebih besar dari letusan Tambora tahun 1815. Sampai saat ini kita selalu berpikir bahwa Tambora adalah letusan terbesar sejak 3.700 tahun, tapi studi ini menunjukkan bahwa peristiwa di tahun 1257 itu bahkan lebih besar dari Tambora.



    Misteri Letusan Terpecahkan.
    Untuk memecahkan misteri ini, tim multidisiplin ilmu menggabungkan petunjuk-petunjuk yg telah diketahui dengan hasil temuan baru, yaitu uji radiokarbon, kimia ejecta vulkanis, data stratigrafi, & catatan-catatan sejarah. Letusan ini dikenal oleh banyak disiplin ilmu yg berbeda, banyak peneliti, tetapi masalah utamanya adalah mereka bekerja secara individual. Untuk itulah dibentuk tim yg terdiri dari ahli geologi, geokimia, geografi, sejarawan, ahli uji radiokarbon & lain-lain yg kesemuanya dari spesialisasi yg berbeda untuk menggabungkan fakta-fakta.”

    [​IMG]
    Gunung Samalas, Lombok (Bawah). Hari ini yg tersisa dari Samalas adalah sebuah kawah besar (Atas).



    Letusan gunung berapi tersebut melepaskan 40 kilometer kubik puing ke langit hingga setinggi 43 kilometer, menghasilkan hujan abu yg menetap di seluruh dunia. Di dekat gunung itu sendiri, menumpuk endapan tebal yg dikumpulkan oleh tim di lebih dari 130 tempat untuk menghasilkan gambaran stratigrafi & sedimentologis dari cara letusan tersebut terjadi .

    Para ilmuwan mengetahui kapan terjadinya letusan dengan uji radiokarbon dari sampling batang & cabang pohon-pohon di sepanjang sisi-sisi dari gunung Samalas & Rinjani. Data radiokarbon adalah konsisten dengan tanggal letusan abad pertengahan & tidak menunjukkan sampel lebih muda dari 1257. Penanggalan radiokarbon ini mengesampingkan kemungkinan kandidat lainnya, seperti El Chichon & Okataina, yg letusan terjadi di luar waktu tersebut.

    [​IMG]
    Peta ini menunjukkan sebaran Pumice, batu vulkanik yg ringan & berpori sebesar 50 mm hingga sejauh 46 km ke sebelah tenggara dari vent Sumbawa. Para ilmuwan mengklaim ini menunjukkan besarnya letusan Samalas



    Lebih jauh, dua dekade lalu telah terungkap a&ya sulfat vulkanik & tephra yg terkunci dalam sampel inti es yg diambil dari Greenland & Antartika. Itulah bukti kuat or “sidik jari” dari Letusan tersebut, karena diketahui dari keduanya bahwa letusan yg terjadi adalah letusan dari Gunung berapi tropis.
    Hal itu mempersempit kandidat lebih lanjut. Gunung Quilotoa Ekuador tidak menghasilkan kaldera besar saat letusannya terjadi pada sekitar periode waktu yg sama, & hanya kaldera besar seperti di Segara Anak lah satu-satunya kandidat. Studi komposisi Geokimia dari material vulkanis yg ditemukan di kedua lapisan es di Greenland & Antartika jauh lebih sedikit kesamaannya dengan material vulkanis dari Quilotoa – tapi memiliki kesamaan komposisi yg sangat meyakinkan dengan material vulkanis Samalas.

    [​IMG]
    Peta ini menunjukkan distribusi arus kepadatan piroklastik ( pDCs ) dari letusan Samalas & lokasi sampel arang yg digunakan untuk penanggalan radiokarbon. Letusan Besar yg terjadi hampir 800 tahun yg lalu, mungkin telah membuatnya ‘Pompeii dari Timur’, menurut para peneliti



    Dampak Dirasakan di Seluruh Dunia
    Meskipun letusan itu terjadi di khatulistiwa, dampaknya terasa & tercatat di seluruh dunia. Iklim terganggu selama setidaknya dua tahun setelah letusan. Bukti ini ditemukan dalam studi cincin pohon yg mengungkapkan tingkat abnormal pertumbuhan, model iklim, & catatan sejarah dari tempat yg jauh seperti Eropa.

    Sejarah abad pertengahan, misalnya, menggambarkan musim panas 1258 sebagai musim dingin, dengan panen yg buruk & hujan terus-menerus yg memicu banjir yg merusak – dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”. Namun musim dingin yg terjadi setelah letusan itu dirasakan lebih hangat di Eropa Barat, seperti yg seharusnya terjadi dari sebuah letusan dengan kadar belerang tinggi di daerah tropis. Sebuah catatan sejarah dari Arras (Prancis utara ) berbicara tentang musim dingin yg sangat ringan “yg membeku hanya berlangsung selama beberapa hari,” & bahkan di bulan Januari 1258 “violet dapat diamati, & stroberi serta pohon apel telah bermekaran.”

    Di Indonesia, sebuah bencana besar dapat ditemukan pada catatan-catatan yg ditulis pada daun lontar, teks-teks Jawa Kuno dari Babad Lombok yg menggambarkan ledakan vulkanik besar yg membentuk kaldera di Gunung Samalas, di Pulau Lombok. Tulisannya menggambarkan kematian ribuan orang karena hujan abu yg mematikan & aliran piroklastik yg menghancurkan Pamatan, ibukota kerajaan, & daerah di sekitarnya. Meskipun catatan-catatan sejarah tersebut tidak menuliskan tanggal yg pasti, tapi mereka menyatakan bahwa bencana itu terjadi sebelum akhir abad ke-13, cocok dengan bukti ilmiah lain yg telah ditemukan dari letusan.

    Deskripsi sebuah letusan besar sebenarnya sangat jarang karena letusan seperti itu terjadi hanya sekitar sekali setiap 600 tahun. Ini semacam kronik yg hanya ditulis jika salah satu dari letusan besar terjadi cukup dekat dengan tempat orang yg menulis catatan tapi tidak sangat dekat dengan letusan yg dapat menghajar mereka itu.

    [​IMG]
    Observasi lapangan pada lapisan piroklastik dari Samalas menunjukkan ketebalan maksimum yg diukur melebihi 1 m, & kumulatif deposit mencapai hingga 1.60m



    Dalam kasus Samalas, sisa-sisa fisik jauh lebih menggoda daripada teks or catatan. Kerajaan kuno Pamatan di Lombok mungkin terkubur oleh ledakan yg sangat besar ini & menunggu untuk ditemukan. Pamatan mungkin akan mirip Pompeii & bisa disebut Pompeii nya Asia Timur .

    Ini tentu menarik. Ka&g-ka&g efek dari aliran piroklastik dapat relatif lembut, seperti Pompeii di mana abu membunuh semua orang tetapi tidak melenyapkan kota. Letusan lainnya, seperti bagian dari Gunung St Helens pada tahun 1980, meratakan seluruh desa, sehingga ka&g-ka&g piroklastik juga menghancurkan segalanya. Kita benar-benar belum tahu.



    Sekilas Urutan Kerajaan-Kerajaan di Lombok
    Secara selintas, urutan berdirinya kerajaan-kerajaan di daerah ini bisa dirunut sebagai berikut, dengan catatan bahwa ini bukan satu-satunya versi yg berkembang. Pada awalnya, kerajaan yg berdiri adalah Laeq. Diperkirakan, posisinya berada di kecamatan Sambalia, Lombok Timur. Dalam perkembangannya, kemudian terjadi migrasi, masyarakat Laeq berpindah & membangun sebuah kerajaan baru, yaitu kerajaan Pamatan, di Aikmel, desa Sembalun sekarang. Lokasi desa ini berdekatan dengan Gunung Samalas. Sekitar tahun 1257, Gunung Samalas meletus Dahsyat, menghancurkan desa & kerajaan yg berada di sekitarnya. Para penduduk menyebar menyelamatkan diri ke wilayah aman. Perpindahan tersebut menandai berakhirnya kerajaan Pamatan.

    Setelah Pamatan berakhir, muncullah kerajaan Suwung yg didirikan oleh Batara Indera. Lokasi kerajaan ini terletak di daerah Perigi saat ini. Setelah kerajaan Suwung berakhir, barulah kemudian muncul kerajaan Lombok. Seiring perjalanan sejarah, kerajaan Lombok kemudian mengalami kehancuran akibat serangan tentara Majapahit pada tahun 1357 M. Raden Maspahit, penguasa kerajaan Lombok melarikan diri ke dalam hutan. Ketika tentara Majapahit kembali ke Jawa, Raden Maspahit keluar dari hutan & mendirikan kerajaan baru dengan nama Batu Parang. Dalam perkembangannya, kerajaan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Selaparang.

    [​IMG]
    Para Kepala suku Sasak, Lombok di Jaman Kolonial



    Berkaitan dengan Selaparang, kerajaan ini terbagi dalam dua periode: pertama, periode Hindu yg berlangsung dari abad ke-13 M, & berakhir akibat ekspedisi kerajaan Majapahit pada tahun 1357 M; & kedua, periode Islam, berlangsung dari abad ke-16 M, & berakhir pada abad ke-18 (1740 M), setelah ditaklukkan oleh pasukan gabungan kerajaan Karang Asem, Bali & Banjar Getas.

    Sebelum Abad ke 16 Lombok berada dalam kekuasan Majapahit, dengan dikirimkannya Maha Patih Gajah Mada ke Lombok. Pada akhir abad ke 16 sampai awal abad ke 17, lombok banyak dipengaruhi oleh Jawa Islam melalui dakwah yg dilakukan oleh Sunan Giri, juga dipengaruhi oleh Makassar. Hal ini yg menyebabkan perubahan agama di suku Sasak, yg sebelumnya Hindu menjadi Islam.

    Pada awal abad ke 18 M, Lombok ditaklukkan oleh kerajaan Gel Gel Bali. Peninggalan Bali yg sangat mudah dilihat adalah banyaknya komunitas Hindu Bali yg mendiami daerah Mataram & Lombok Barat. Beberapa Pura besar juga gampang di temukan di kedua daerah ini. Lombok berhasil bebas dari pengaruh Gel Gel setelah terjadinya pengusiran yg dilakukan kerajaan Selaparang (Lombok Timur) dengan dibantu oleh kerajaan yg ada di Sumbawa (pengaruh Makassar). Beberapa prajurit Sumbawa kabarnya banyak yg akhirnya menetap di Lombok Timur, terbukti dengan a&ya beberapa desa di Tepi Timur Laut Lombok Timur yg penduduknya mayoritas berbicara menggunakan bahasa Samawa.

    Uraian di atas setidaknya bisa menunjukkan bahwa, kerajaan-kerajaan tersebut benar-benar ada, pernah berdiri, berkembang kemudian runtuh. Bagaimana informasi selanjutnya, seperti kehidupan sosial budaya masyarakat awam & keluarga istana saat itu? Data sejarah yg ada belum banyak mengungkap fakta tersebut.

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Letusan Gunung Samalas Lebih Dahsyat dari Krakatau dan Tambora diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page