Liga Inggris Lima Pelajaran Dari Kemenangan Liverpool Atas Stoke City

Discussion in 'Bola' started by Bola, Aug 10, 2015.

Discuss Lima Pelajaran Dari Kemenangan Liverpool Atas Stoke City in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Tadi malam (9/8) adalah malam yang sempurna bagi Liverpool. Betapa tidak, The Reds meraih kemenangan atas Stoke City di Britannia Stadium; tempat di mana mereka dibantai 6-1 di pekan terakhir Liga Primer musim lalu. Gol penentu kemenangan yang dicetak Philippe Coutinho pun bukan main: sebuah sepakan keras melengkung dari jarak 20 meter yang langsung menghunjam ke gawang Jack Butland.

    Tak lupa, gol tersebut dicetak di menit 86 – menambah kadar estetis kemenangan itu bukan?

    Fans Liverpool punya hak untuk bersukacita atas tiga poin yang mereka raih di pekan pertama Liga Primer Inggris. Lantunan rutin "This is our year!” boleh saja terus digetarkan, tapi kalau mereka benar-benar mengharapkan tiket Liga Champions, lagi puncak Liga Primer, kemenangan 1-0 di Britannia itu tidaklah cukup. Masih banyak yang harus dibenahi oleh Brendan Rodgers – walau tak bisa dimungkiri ada sisi positif yang menonjol di pertandingan semalam.

    Berikut ulasan Goal Indonesia yang terangkum dalam lima pelajaran penting. Simak!

    Upgrade Sempurna Di Tiga Posisi[​IMG]
    Sorotan pertama mengarah pada bek muda anyar asal Charlton Athletic, Joe Gomez. Gomez memberikan rasa aman di sektor kiri pertahanan dan mampu mengatasi permainan adu fisik dari Jonathan Walters dkk. Ia mampu bermain keras tanpa melakukan pelanggaran berarti. Meski begitu, ia masih punya PR untuk mengasah kemampuan melakukan transisi ke mode menyerang.

    Di sisi sebaliknya ada pula pemain anyar, yakni Nathaniel Clyne. Mantan bek Southampton ini digandang-gadang bakal jadi upgrade sempurna bagi Glen Johnson dan permainan semalam menunjukkan hal tersebut tidaklah salah. Ia mencatatkan akurasi tekel 100% dan berhasil membungkam pergerakan Ibrahim Afellay. Kombinasinya dengan Jordon Ibe masih belum nyetel, namun ia menyiratkan optimisme yang cukup besar.

    Sementara itu, kedatangan James Milner memberikan energi positif di lapangan tengah. Sang gelandang sibuk bergerak dan mengejar bola, sembari memberikan umpan-umpan akurat. Permainannya sempat terhambat karena tak diberi kebebasan dalam 4-2-3-1 yang bertransisi menjadi 4-1-41, namun setelah Emre Can masuk dan menjangkar, Milner lebih bisa berkreasi dan mendobrak dominasi Stoke di lini tengah.

    Duo Brasil Tebar Ancaman
    [​IMG]

    Kehadiran Coutinho dan Firmino berhasil menyajikan kreativitas meluap-luap.​

    Performa Coutinho memang tidak mengejutkan. Sejak datang dari Internazionale, gelandang Brasil tersebut selalu mengundang decak kagum dari tribun penonton. Rodgers sudah benar kalau menetapkan Coutinho sebagai inti permainan The Reds. Sebagai penutup, sang penyihir kecil menyahihkan anggapan khalayak dengan gol spektakulernya di menit 86 dan menegaskan kalau ia adalah seorang pembeda – layaknya Luis Suarez (?)

    Performa sang penyihir kecil juga diamini oleh sang kapten, Jordan Henderson. "Kami tahu Stoke bukan lawan yang mudah. Tapi kami sudah bekerja dengan baik sejak pra-musim dan hari ini sentuhan magis Coutinho membantu kami," ungkapnya kepada Sky Sports News. "Saya berada di belakangnya saat ia melepaskan tembakan. Saya tahu itu akan merepotkan kiper lawan, ia sering melakukan hal yang sama saat latihan jadi tidak terlalu mengejutkan."

    Decak kagum lain juga hadir ketika Roberto Firmino masuk lapangan dan menggantikan Jordon Ibe. Sentuhan magis dari Brasil berhasil mengelabui beberapa pemain Stoke. Sejak masuk ke lapangan, eks gelandang Hoffenheim tersebut langsung menghidupkan daya gedor Liverpool. Sebagai puncaknya, ia menciptakan ruang tembak bagi Coutinho di menit 86 – satu kesempatan yang jarang didapatkan hingga sang gelandang masuk lapangan.

    Duet Coutinho dan Firmino menghadirkan kreativitas yang meluap-luap di lini tengah. Ditambah dengan ketangguhan Emre Can sebagai jangkar, niscaya duo Brasil itu bakal memaksimalkan ruang gerak pemain lainnya dan menjadi senjata mematikan Rodgers untuk beberapa tahun ke depan (jika Barcelona tak menggaet Coutinho, tentunya).

    Jangan Terlalu Sering Main Aman![​IMG]
    Henderson kurang bisa mendalami peran sebagai gelandang bertahan.​

    Ketika susunan pemain Liverpool diumumkan, mungkin beberapa orang bakal mengernyitkan dahi mereka. Pasalnya, Rodgers menerapkan formasi yang sama sekali berada di luar perkiraan. Jordan Henderson bermain sebagai gelandang deep-lying, sementara Adam Lallana dan Ibe di kedua sayap. Milner dan Coutinho berduet di lini tengah, sementara Christian Benteke jadi striker semata wayang dalam formasi 4-2-3-1 yang bertransisi menjadi 4-1-4-1.

    Kejutan tersebut ternyata tidaklah mengesankan. The Reds, yang mungkin masih dihantui trauma pembantaian 6-1 pada 77 hari lalu, tidak memberikan ancaman yang berarti hingga 60 menit laga berjalan. Mereka terlalu bermain aman, memutar-mutar bola dengan umpan-umpan pendek. Ketika sampai di depan kotak penalti, mereka mengoper jauh ke belakang dan mulai dari nol lagi.

    Benteke juga terisolasi di lini depan sampai-sampai ia harus turun dan membantu distribusi bola dan ketika ia turun, tak ada tusukan berbahaya karena hampir semua pemain diam di tempatnya. Tak ada tembakan jarak jauh dan sepertinya Rodgers masih terbayang ngeri dengan serangan balik yang mungkin menyerang timnya. Tapi kalau seperti ini kapan The Reds bisa mencetak gol?

    Untung saja sang manajer menemukan solusi tepat dengan menggantikan Lallana dengan Can, lalu menerapkan formasi 4-3-3. Seolah dilepas dari belenggu, Henderson dan Milner makin rajin menusuk ke kotak penalti karena Can mengawal lini belakang dengan tangguh. Dan sebagai penutup, Firmino masuk dan menambah peluang dengan umpan plus dribel pembunuhnya.

    Satu pelajaran penting bagi Rodgers: Jangan terlalu sering main aman!

    Jantung Pertahanan Masih Mengkhawatirkan[​IMG]
    Duet Skrtel dengan Lovren masih mengkhawatirkan.​

    Ada upgrade di kanan-kiri pertahanan, tapi duet yang berperan sebagai jantung malah angin-anginan. Martin Skrtel dan Dejan Lovren memang bermain penuh 90 menit, namun penampilan mereka jauh dari kesan menjanjikan. Bahkan bisa dikatakan, mereka beruntung bisa mencatatkan clean sheet karena Simon Mignolet tampil (lumayan) on fire.

    Skrtel masih terlalu beringas dan kadang melakukan backpass yang ngawur. Beberapa kali Mame Biram Diouf nyaris merebut umpan lambat Skrtel kepada Mignolet dan umpan itu bakal menjadi blunder seandainya Migno terlambat sepersekian detik. Keberadaannya sang bek Slowakia juga masih belum layak disebut sebagai pemimpin. Pasalnya, para pemain masih mengalami disorientasi ketika menghadapi bola mati.

    Soal Lovren tak perlu ditanya. Bek Kroasia itu masih jadi sosok ngantukan di lini belakang. Terlalu sering hilang fokus dan melepas kawalan, ditambah terlalu sering keluar dari areanya tanpa sempat menutup lubang yang ditinggalkan. Sapuan yang dilakukan pun seringkali ngawur dan malah memberikan peluang pada Diouf dkk. Jika berduet dengan jendral yang tepat di jantung pertahanan, mungkin Lovren bisa tampil maksimal, tetapi Skrtel bukanlah jendral dan Lovren pun begitu.

    Mungkin Rodgers harus rela menanggalkan wacana untuk menduetkan kedua bek ini – atau malah memaksakan kedua bek itu dan menanggung risikonya.

    Christian Benteke, Nol Besar Di Laga Resmi Perdana[​IMG]
    Pelajaran terakhir dari pekan ini ialah perkara Christian Benteke. Penyerang tersebut datang dengan harga £32,5 juta dari Aston Villa dan langsung dibebani dengan sejuta ekspektasi di Anfield. Hasilnya? Nol gol. Nol tembakan akurat. Nol umpan kunci. Nol besar di laga resmi pertama.

    Benteke tak mampu memaksimalkan kemampuan predatornya di kotak penalti. Ia terasingkan di lini depan karena tak banyak mendapat dukungan dari lini tengah. Stoke berhasil mengantisipasi pergerakannya, sampai-sampai Benteke muak dan turun membantu lini tengah. Namun bantuan tersebut juga tak cukup berarti, seiring sang pemuda Belgia hanya mencatatkan 58% umpan sukses. Penampilannya mirip dengan penampilan di final Piala FA kontra Arsenal: Benteke mati kutu.

    Kemampuannya di udara memang layak dipuji. Ia memenangkan sebagian besar duel udara dan akurasi tandukannya terbilang spesial. Tetapi Liverpool tak punya cukup banyak pemain yang bisa melambungkan umpan silang akurat. Beberapa coba dilepaskan oleh Lallana dan Henderson, tapi umpannya jauh dari akurat. Seperti Balotelli, pada akhirnya ketajaman Benteke jadi tak berguna karena ia terasing di daerah kesukaannya.

    Adapun secercah harapan tersirat di pertengahan babak pertama dan penghujung babak kedua. Terlihat Benteke beberapa kali melakukan umpan satu-dua dengan Coutinho dan Firmino. Di satu sisi, ia bisa menjadi pemantul bola yang handal karena kekuatan fisiknya bisa membatasi pergerakan lawan. Di lain sisi, ia bisa menjadi pihak yang berlari mengejar bola karena ia punya kecepatan dan teknik untuk itu.

    Masalah utamanya hanyalah adaptasi. Jika ia sukses melebur dengan skema Rodgers, niscaya Benteke tak perlu jadi alien di timnya sendiri, entah nantinya menjadi aktor utama (pencetak gol) atau sekadar figuran (tembok pemantul bagi rekannya).

    [​IMG]
    //

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, Lima Pelajaran Dari Kemenangan Liverpool Atas Stoke City
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page