Masa Depan Indonesia, Prabowo dan Jokowi

Discussion in 'Entigapedia' started by dedayzzz, Aug 13, 2013.

Discuss Masa Depan Indonesia, Prabowo dan Jokowi in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. dedayzzz 2 SD Banned

    Messages:
    396
    Likes Received:
    320
    Trophy Points:
    0
    Apabila hari ini diadakan Pemilu Presiden maka pemenang adalah Prabowo atau Jokowi. Tapi bila menakar masa depan bangsa setelah kemenangan mereka maka teka-teka kembali menggelayuti. Tidak ada jaminan negara dan bangsa akan lebih maju. Ingat, bagaimana dulu rakyat kecewa dengan kinerja Presiden Megawati maupun Presiden SBY.
    Marilah kita realistis. Di jaman modern ini kemajuan bangsa ditentukan oleh spirit rakyat kebanyakan, bukan oleh tongkat ajaib satu orang pemimpin. Sebab jaman nabi dan jaman orang suci kharismatis telah berakhir. Jaman pemimpin besar sekelas Bung Karno juga sudah lewat. Jangan ngimpi kedatangan ratu adil. Jangan mengkhayal kedatangan satrio piningit. Jangan gatel dipimpin superman. Realistis sajalah.
    Sekarang kita memasuki jaman pemimpin dengan kelas “yang sedang-sedang saja”. Bila mereka jujur, tekun bekerja, tidak nyolong uang rakyat dan tidak dolanan agama aja udah bagus. Rakyat harus sadar tidak ada tongkat ajaib untuk memberantas kemiskinan dan korupsi/rasuah dalam tempo sebulan dua bulan.
    Prabowo Subiyanto:
    Memang perwira cemerlang pada jaman ketika masih jadi menantu Pak Harto. Tapi siapa menjamin akan lebih gesit dan efektif memimpin negara daripada jendral SBY? Kinerjanya akan banyak ditentukan oleh orang-orang di sekitarnya. Plus kesabaran rakyat menunggu hasil. Dua jendral ini sama-sama digemari ibu-ibu karena ganteng dan keren. Dulu SBY dipuja-puja seakan suara merdunya akan mengusir duku nestapa bangsa indonesia. Eh sialnya SBY naik malah harga barang terbang tinggi hingga 2x lipat.
    Ingat, Partai Gerindra pimpinan Prabowo adalah partai kelas gurem-menengah. Bila Prabowo naik jadi presiden mau tidak mau akan koalisi dengan “musuh dalam selimut” sebagaimana SBY koalisi dengan Partai Golkar dan PKS. Sebuah koalisi yang memaksa berbagi kuasa dengan mata curiga serta pedang siap tikam dari belakang.
    Jokowi:
    Juga senasib dengan Prabowo. Memang betul amat populer sebagai Walikota Solo dan Gubernur Jakarta. Jokowi serupa dulu Megawati yang dielu-elukan laksana ratu adil. Dulu nama Megawati berkumandang tiap hari dalam bus dan metromini oleh nyanyian puja-puji pengamen. Pada awal 2000 rakyat disuapi mimpi indah seakan dana revolusi warisan Bung Karno akan cair pas Mega naik jadi Presiden. Hutang negara lunas, krisis moneter berakhir, rakyat makmur.
    Tapi apa nyatanya? Tidak ada ratu adil. Rakyat tidak puas dengan kinerja Megawati yang dianggap lamban dan tidak cerdas. Lalu memilih ganti presiden berwajah ganteng dan pinter nyanyi. Padahal sejujurnya harga barang melonjak naik 100% sejak Megawati diganti oleh SBY yang duduk di istana negara. Itukah harga yang harus dibayar untuk memiliki presiden ganteng dan keren?
    Bagaimana Jokowi - Yusuf Mansur?
    Mungkin Anda pikir ideal bila wakil nasionalis bergandengan tangan dengan wakil islamis. Presiden Jokowi dengan Wakil Presiden Yusuf Mansur. Jokowi profesional. Yusuf punya mimpi besar Patungan Usaha dan Patungan Aset. Teorinya ideal tapi realitanya bisa bersitegang dalam pelaksanaan. Soalnya tidak mudah kongsian dua mahluk bila yang satu berpijak pada kondisi riil (profesional) dan yang satu lagi berpijak pada mimpi disertai fanatisme.
    Pada akhirnya rakyat kebanyakan harus sadar bahwa mereka pemimpin kelas “sedang-sedang saja”. Hanya berhasil bila rakyat memberi dukungan penuh untuk mengutamakan program memajukan ekonomi, berantas korupsi, menegakkan hukum, meningkatkan mutu pendidikan. Pada saat yang sama rakyat mayoritas menolak anasir kelompok yang ingin mengubah UUD dan Pancasila dengan idiologi agama. Baik elemen yang mengabdi kepada Arab Saudi maupun kepada Mesir. Karena, sebagaimana kemakmuran Malaysia dan China, bukan faktor agama yang memakmurkan bangsa tapi faktor stabilitas kemananan dan stabilitas ekonomi.
    Bagi Saya:
    Sejujurnya hanya kita sendiri sebagai rakyat yang mampu mengubah nasib agar lebih cemerlang masa depan. Saya sudah ikut PEMILU sejak tahun 1970an. Pengalaman menunjukkan hasil kerja dan kreatifitas saya yang pasti mengubah nasib dan masa depan diri saya. Mengharap keajaiban tangan pemimpin, yang sudah-sudah, cuma berakhir dengan sakit hati.
    Apabila rakyat terlalu berharap banyak kepada sosok Prabowo dan Jokowi (seakan pewaris tongkat ajaib nabi Nuh) maka kekecewaan mengintai. Kekecewaan dari sebuah bangsa yang membiarkan Pemilihan Presiden sekedar arisan kursi istana negara.
    ***

    Sumber http://politik.kompasiana.com/2013/08/13/masa-depan-indonesia-prabowo-dan-jokowi-583832.html
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page