Mengolah Lebih Baik Daripada Membuang

Discussion in 'Berita Online' started by sholeh, Jan 20, 2020.

Discuss N3 - Mengolah Lebih Baik Daripada Membuang in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. sholeh TK 0 Kecil Level 1

    Messages:
    91
    Likes Received:
    8
    Trophy Points:
    33
    Game:
    Tidak Ada
    [​IMG]

    “Udah kebiasaan mungkin dari kecilnya, jadi dicampur aja sampahnya,” ujar Yaumi, mahasiswi teknik kimia yang ditemui pada 12 Mei 2018. Begitu pun yang dikatakan Mugi, salah satu staf teknis kerja sama operasional Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung (DLHK) ketika ditanya apakah sudah memilah sampah di rumah. “Kalau saya belum. Saat ini yang terpenting adalah buang sampahnya dulu aja ke tempatnya,” ujarnya ketika ditemui di Kantor DLHK pada 2 Mei 2018.

    [​IMG]

    Mohamad Satori, dosen Program Studi Teknik Industri Unisba Bandung ini tidak setuju dengan istilah “Buanglah sampah pada tempatnya”. “Buanglah sampah pada tempatnya itu harus diganti menjadi simpanlah sampah karena sampah juga bisa dijadikan sumber daya. Kalau kata buanglah sampah itu paradigmanya orang tidak akan peduli terhadap sampah. Karena sudah di cap kalau smapah itu tidak berguna,” ujarnya ketika ditemui di kediamannya pada 28 April 2018. Menurut UU No. 18 Tahun 2008 ada penjelasan bahwa mengelola sampah itu tujuannya untuk menjaga kesehatan lingkungan dan menjadikan sampah sebagai sumber daya.

    Ketika kami melakukan survey ke berbagai lokasi popular di Bandung, seperti Balai Kota Bandung, Alun-Alun Bandung, dan Car Free Day (CFD) Dago untuk mengetahui apakah warga Bandung telah sadar dalam memilah sampah. Hasilnya adalah memang terdapat tempat sampah yang berlabel sampah organic atau anorganik tapi sampah yang dibuang tetap saja dicampur. Fakta lain pun kami temukan ketika melakukan survey ke TPS Gede Bage. Sampah yang berasal dari daerah sekitar Gede Bage pun dicampur begitu saja ke mesin pengepres. “Susah neng kalo dipilah di sini,” ujar Luki, salah satu pekerja di TPS Gede Bage.

    Dua minggu setelah kami melakukan survey ke TPS Gede Bage, kami pun memutuskan untuk pergi ke TPA Sarimukti yang ada di Cipatat. Seperti di TPS Gede Bage, sampah yang berasal dari Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan Soreang pun tidak dipilah ketika sesampainya di TPA. “Tidak ada program seperti itu (memilah sampah), yang terpenting pelayanan sampah dulu,” ujar Ikrar Riyadi, Koordinator Umum dan Pemberdayaan TPA Sarimukti.

    Menurut Hangga T. Saputra, Kepala Urusan Administrasi Operasional, PD Kebersihan Kota Bandung, kesadaran memilah sampah harus berawal dari diri sendiri dan penting untuk dilakukan. “Oh penting banget. Masyarakat itu kadang sadar tapi males. Sebenarnya banyak caranya. Salah satunya pendampingan seperti Kawasan Bebas Sampah tapi harus stay atau ada punishementreward,” ujarnya. Sejalan dengan apa yang dikatakan Riri, Kepala Seksi Kapasitas Peningkatan Edukasi DLHK yang menyayangkan bila sampah harus dibuang. “Sayang ya kalau kita harus membuang sampah. Itu bisa berarti kita membuang uang,” ujarnya ketika ditemui di Kantor DLHK.

    Satori pun menjelaskan mengenai sistem tata kelola yang utuh. Ada lima aspek yang harus diperhatikan. “Ada kelembagaan, teknis operasional, sistem keuangan, aspek hukum, dan masyarakat. Jika kita menilai, tidak bisa menilai satu persatu,” ujarnya. Sejak 2017, DLHK ditunjuk untuk mengelola pengelolaan sampah yang sebelumnya dipegang oleh PD Kebersihan. DLHK memiliki peran sebagai regulator. Riri menjelaskan kalau warga Bandung hanya diedukasi tanpa mengubah sistem, itu akan sulit. “Sekarang sistemnya mau disadur dari Perda karena harus ada hukum yang memayunginya untuk melakukan perubahan. Nah itu yang baru kita mau garap karena tidak bisa cepat,” ujarnya.

    Ketika ditanya mengenai alasan warga Bandung masih ada yang belum memilah sampah, mantan pegawai PDAM Bandung ini menjawab itu adalah PR bidang edukasi DLHK. “Nah itu PR kita, bidang edukasi untuk mengubah mindset masyarakat. Kadang kita suka lupa dampak serta bahayanya dari sampah. Seperti sampah plastik kalau dibakar itu kan ada asapnya yang bisa menyebabkan kanker atau kalau kita buangnya ke sungai, nanti di sungai sampah itu hancur dan jadi mikroorganisme, dimakan oleh ikan, ikan dimakan oleh kita. Jadi ada mikroplastik dalam tubuh kita,” ujarnya. Riri pun mengaku belum ada sensus tentang kesadaran warga Bandung akan memilah sampah.

    Bidang edukasi DLHK memiliki empat kegiatan yaitu bank sampah, Kawasan Bebas Sampah (KBS), Adiwiyata, dan Adipura. “Sebenarnya KBS sudah mulai dari 2014,” ujarnya. Menurut Riri, ia mengedukasi masyarakat di sekitar KBS dengan slogan Kang Pisman, Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan.

    “Kalau kita buang saja, tidak kita pilah, nilai jual dari sampah itu juga kan akan berkurang. Bayangkan sampah plastic akan terurai dalam kurun waktu 100 tahun. Mau jadi apa kalau kita tidak mengolahnya. Selain manfaatnya untuk diri kita sendiri, ada ladang amal kita di situ,” ujar Riri.

    Perempuan yang baru bekerja di DLHK selama satu tahun ini mengaku mencari orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi, mengorbankan waktunya untuk mengedukasi masyarakat itu yang susah. “Tapi Alhamdulillah di Bandung banyak komunitas yang cinta lingkungan. Kita lakukan pendampingan dan biayai mereka,” ujarnya. Ia pun mengaku senang bila ada banyak warga yang ingin membantu. “Makin banyak masyarakat yang membantu menyadari bahwa sampah bisa bermanfaat dengan cara mereka masing-masing, kita senang,” ujarnya sambil tersenyum.

    Membuang Sampah, Membuang Rezeki

    Please sign in/up to view this image/link


    “Bagi ibu ini sampah, bagi saya ini berkah”,. Begitulah yang diungkapkan Asep Sofyan ketika kami temui di Kampung Inspirasi, Kampung yang diresmikan pada 2015 ini bertempat di Jatibaru, Desa Jatiendah RW 17, Kecamatan Cilengkrang, Ujung Berung, Kota Bandung. Kampung Inspirasi merupakan suatu kawasan binaan ─sekolah swakelola sampah─ dalam bidang lingkungan, khususnya pengelolaan sampah di bawah tanggung jawab PT Indocement (Tbk).

    Penamaan ‘Kampung Inspirasi’ dilatarbelakangi oleh cita-cita dari Wawan, pencetus kampung ini agar sekolah swakelola sampah yang ada bisa menginspirasi warga sekitar. “Mudah-mudahan menjadi inspirasi dan Alhamdulilah sudah berjalan. Didukung pula oleh Pemda Bandung dan PT Indocement (Tbk)”, ujarnya. Apa yang dicita-citakan Wawan pun sejalan dengan yang dikatakan senior program CSR Novandy yang ditemui di sela-sela kunjungannya ke Kampung Inspirasi, 17 April 2018. “Tujuan kami adalah membicarakan konsep, konsep bagaimana kita peduli terhadap sesama karena yang terlibat dari semua usia. Ini menjadi sebuah kekuatan yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain,” ujarnya. Program CSR PT Indocement (Tbk) memiliki visi yaitu menjalin hubungan saling mendukung antara perseroan dan masyarakat, khususnya dalam peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat (dilansir dari website PT Indocement (Tbk) .

    Sebelum menjadi sekolah, dahulu terdapat gundukan sampah yang menggunung selama bertahun-tahun. Ketika Wawan menjadi ketua RW tahun 2009, hal pertama yang warga keluhkan adalah masalah sampah. “Saya menjadi ketua RW merasa memiliki tanggung jawab tentang sampah di lingkungan. Jangan sampai menjadi masalah tapi harus mampu memanfaatkan sampah khusunya memilah dan memilih,” ujarnya. Kini, Desa Jatiendah sudah mengolah sampah desanya sendiri dan sampah satu desa tetangga, Desa Giri Mekar. Itu berarti kedua desa ini tidak menyumbang sampahnya ke TPA Sarimukti. “Kami RW 17 bangga kalau sampah kami sudah tidak menjadi beban bagi pemerintah,” ujar Wawan.

    [​IMG]

    Kini, Sekolah Swakelola Sampah sudah mampu memilah 80 jenis sampah. Di antaranya adalah sampah botol plastic, kaset, kain bekas, boneka, kardus, makanan sisa, dan lain-lain. Sampah makanan sisa dimasukan ke dalam biodigester yang nantinya akan menghasilkan gas metan. Gas metan ini disalurkan menggunakan pipa ke kompor gas. “Untuk saat ini (gas metan) baru dipakai di sekolah swakelola karena kalau dibagi ke warga tidak akan cukup,” ujar Asep.

    Pria yang dulunya berjualan mainan ini menceritakan pengalamannya pada kami saat awal ia terjun ke bidang sampah. “Dulu saya bermodalkan ketulusan dan keikhlasan saja. Saya tidak punya ilmu apa-apa,” ujar pria beranak tiga itu. Asep baru terjun ke bidang sampah selama tiga tahun. Awal mulanya ketika satu hari ia belum pulang ke rumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia mengumpulkan ermas, kertas aluminium foil yang biasa ada di bungkus rokok atau makanan ringan dan pada saat itu ia bertemu Wawan. “Saya ditanya lagi apa, saya jawab lagi cari ermas. Saya ngobrol akhirnya sama Pak Haji (Wawan) terus akhirnya dizinkan untuk bekerja di sini (swakelola),” ujarnya. Menurutnya, memilah sampah itu sangat penting karena kalau tidak dipilah akan menimbulkan penyakit.

    Tak hanya Sekolah Swakelola Sampah, Kampung Inspirasi ini memiliki Komunitas Wanita Tani (KWT) yang dipimpin oleh Nining, istri dari Wawan. KWT beranggotan ibu-ibu yang memiliki kegiatan untuk membuat kerajinan dari sampah. Neneng, salah satu anggota KWT yang ditemui di tengah demo membuat bunga dari kantong plastic membagikan pengalamannya. “Saya baru setahun membuat seperti ini (kerajinan sampah),” ujarnya. Menurutnya, setiap rumah di Desa Jatiendah sudah memiliki keahlian dalam membuat kerajinan dari sampah. Ini sejalan dengan konsep yang dipegang Wawan yaitu Berhemat, Bersih, Hijau, dan Manfaat. “Secara harfiah artinya bersih diri, bersih lingkungan, hijau pekarangan sebagai infertasi kita ke alam. Bila ada sampah yang bisa dimanfaatkan, manfaatkan,” ujarnya. Kerajinan yang nantinya sudah dibuat, akan dijual ketika ada kunjungan atau dipamerkan ketika ada sosialisasi.

    [​IMG]

    Tak hanya di Cilengkrang, Ujung Berung saja, di Cipageran, Kabupaten Bandung Barat tepatnya di Puri Cipageran Indah 2 Blok D2 No. 15, Mohamad Satori mengembangkan Saung dan Edukasi 3R RW 22. “Saya mulai ini tahun 2015,” ujarnya. Ketika ditemui di tempat pada 28 April 2018, lulusan Teknik Industri Unisba ini sedang berkutat dengan tanaman. Ia pun membagikan pengalamannya selama merintis Saung dan Edukasi 3R.

    Satori menilai paradigma membuang sampah itu salah, seharusnya diganti menjadi menyimpan sampah karena sampah bisa dijadikan sumber daya. “Kalau membaca UUD No. 18 tahun 2008 bahwa mengelola sampah itu tujuannya adalah untuk menjaga kesehatan lingkungan dan menjadikan sampah sebagai sumber daya,” ujarnya. Oleh karena itu, Satori merintis Saung dan Edukasi 3R karena orang cenderung melihat konsep. “Orang itu akan cenderung melihat konsep. Kalau hanya di edukasi dengan pengetahuan tentang memilah, maka akan sulit tapi kalau melihat contoh orang akan mau,” ujarnya.

    Saung ini membagikan pelajaran pada masyarakat mengenai tata kelola sampah menggunakan konsep 3R, reduce, reuse, recycle. Reduce bisa dilakukan dari hulunya, seperti merancang produk kemasan. “Kalau kita pergi ke salah satu fast food di Singapura, ukuran dan ketebalan lunch box-nya itu dikurangi. Itu salah satu upaya pengurangan,” ujarnya. Untuk reuse kuncinya adalah memilah sampah. “Bagaimana mau menggunakan konsep 3R kalau sampahnya tercampur. Untuk apa juga kalau sampahnya sudah dipilah tapi tidak diolah,” ujarnya.

    Saung dan Edukasi 3R menerima semua jenis sampah, kecuali residu dan sampah B3. Sampah organic bisa terdiri dari sampah daun dan sampah dapur. “Sampah dapur kita olah menjadi biogas untuk masak. Kalau sampah daun kita jadikan kompos,” ujarnya. Kompos yang dibuat di Saung dan Edukasi 3R ini disebut bataterawang. Berbeda dengan takakura, bataterawang ini menggunakan bata sebagai tempat membuat kompos dan bisa menggunakan semua sampah organic. “Kalau bataterawang itu bisa semua sampah organic. Kalau takakura hanya bisa sampah dapur,” ujar Satori.

    Satori pun menjelaskan Saung RW 22 juga memiliki bank sampah. “Untuk sampah daur ulang dikumpulkan setiap Sabtu dan Minggu untuk dibawa ke bank sampah,” ujarnya. Sampah-sampah daur ulang yang sudah terkumpul di bank sampah akan dijual ke pengepul. “Berbeda dengan residu dan B3, semua sampah itu baru diangkut ke TPA,” ujar Satori. Tempat pengolahan sampah yang memiliki konsep 3R pun dapat ditemukan di TPS Babakan Sari, TPS Jalan Ambon, TPS Kobana di Tegalega.

    Selain Wawan dan Satori, mahasiswi yang baru saja menyelesaikan studinya di Universitas Udayana, Bali, Amilia Agustin memiliki konsentrasi juga di bidang lingkungan, khususnya sampah. Ia bersama kedua temannya ketika SMP, Hesty dan Iba membuat gerakan Go to Zero Waste School. “Awalnya waktu itu ada kakek-kakek habis ngangkut sampah dan langsung makan. Hal pertama yang terbayang adalah gimana kalau bakteri yang dari sampah itu termakan oleh kakek tersebut,” ujarnya ketika dihubungi melalui media sosial. Saat itulah, Amilia merasa bersalah karena SMP-nya, SMP 11 menjadi salah satu penyumbang sampah ke TPS Tegalega.

    Selain gerakan Go to Zero Waste School, ketika SMA ia juga membentuk komunitas Bandung Bercerita. “Bandung Bercerita punya fokus mengenai sampah tapi untuk anak SD,” ujarnya. Amilia memilih anak SD untuk dijadikan sasarannya karena ingin mengajarkan tentang sampah sejak dini. “Minimal pas kecil sudah paham jadi pas gede ga susah-susah amat untuk dikasih taunya,” ujar Amilia. Melihat keadaan masyarakat tentang memilah sampah, Amilia pun berharap masyarakat bisa peka terhadap sampah disekitarnya, khususnya tentang memilah. “Open your mind, open your eyes. Our earth is not fine. Hanya kita yang bisa membuat perubahan. So, let’s change, make it change, see the change. Kalo bukan kita siapa lagi. Kalo bukan sekarang, kapan lagi,” ujar Amilia.

    Berikut cuplikan tentang pemilahan sampah :



    Berita ini berasal dari Please sign in/up to view this image/link
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page