Liga Eropa Menjadi Manusia Utuh Ala Varkenoord & La Masia

Discussion in 'Bola' started by Bola, Mar 27, 2015.

Discuss Menjadi Manusia Utuh Ala Varkenoord & La Masia in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Itulah yang mengemuka dalam acara diskusi bertajuk "Varkenoord vs La Masia", yang diselenggarakan oleh Kickoff! Indonesia di Identitas Cafe, Yogyakarta, Kamis (27/3). Tema itu diangkat menilik keberhasilan akademi sepakbola Barcelona dan Feyenoord dalam menghasilkan para pesepakbola profesional.

    Diisi oleh pembicara yang sudah berpengalaman di bidangnya, yakni Ganesha Putera, direktur operasional Villa 2000, dan Guntur Cahyo Utomo, penulis yang juga mantan pelatih mental timnas Indonesia U-19, keduanya berbicara soal pengalaman masing-masing yang sempat berkunjung dan mengamati langsung pembinaan usia muda di Varkenoord dan La Masia.

    [​IMG] La Masia memberikan atensi besar pada karakter pemain.​

    Dalam kisahnya, Guntur yang sempat berkunjung ke Barcelona, Spanyol bersama timnas U-19 bertutur bahwa akademi La Masia mengalami kebangkitan pesat semenjak proposal Johan Cruyff disetujui klub pada 1979. Dari yang tadinya mati suri, La Masia mampu berkembang menjadi yang terbaik. Manajemen mulai terorganisir, struktur tim berjenjang dibentuk, membina lebih dari 300 siswa di setiap tahunnya untuk keseluruhan umur, hingga memiliki 150 pencari bakat yang tersebar di seluruh dunia.

    Fasilitas pelatihan mereka super lengkap, mulai dari peralatan gym, medis, taktikal dan segala sesuatu yang menunjang pelatihan. Belum lagi sepuluh lapangan sepakbola, satu lapangan utama, hingga satu stadion mini yang disebut Mini Camp Nou. Tak heran jika biaya besar setidaknya €8 juta harus dikucurkan Barca setiap tahunnya, untuk memenuhi segala kebutuhan akademi mereka.

    Terlepas dari sisi teknis dan segala fasilitas mewah yang dimiliki, La Masia memberikan pembelajaran luar biasa menyoal pembangunan karakter pemain. Penekanan terhadap sisi humanisme pemain ini dilakukan sejak tim usia 7-8 tahun yang disebut Eskul, usia 9-10 tahun (Benjamin), usia 11-12 tahun (Alevin), usia 13-14 (Infantil), 15-16 tahun (Cadete), 17-18 tahun (Juvenile), dan bermuara di Barcelona B dan ke tim senior Barcelona.

    Sejak dini anak-anak di Spanyol, khusunya La Masia, memang dididik untuk memiliki sikap seorang pemenang. Sikap itu harus ditunjukkan baik di dalam maupun di luar lapangan. Faktor inilah yang jadi kunci utama keberhasilan sepakbola Tim Negeri Matador menguasai dunia dalam sedekade terakhir.

    Di akademi La Masia, jadwal setiap siswa untuk mulai dari berlatih, makan, menempuh pendidikan, bersantai, hingga waktu tidur sudah diatur sedemikian rupa. Meski fleksibel, jadwal mereka benar-benar padat dan teratur. Pada hari reguler, waktu luang bahkan baru diberikan di pukul 22.00 malam, yang biasanya digunakan untuk menonton televisi atau surfing di internet.

    Rutinitas seperti itu berhasil membentuk mereka untuk jadi pemenang sejak dini. "Mereka pemenang dalam disiplin waktu, pemenang dalam mengatur pola makan, pemenang dalam istirahat, dan pemenang dalam setiap aspek kehidupan," jelas Guntur.

    Untuk pendidikan formal, pihak La Masia menempatkan hal tersebut pada prioritas khusus. Rapor pendidikan dari sekolah formal para pemain di setiap periode pendidikan memiliki standar tersendiri. Pihak klub akan melakukan bimbingan khusus jika salah satu saja anak didiknya memiliki nilai di bawah standar.

    Karenanya di kompleks latihan juga disediakan beberapa ruang yang menunjang pendidikan seperti perpustakaan misalnya. "Hebatnya buku-buku yang ada di sana bagi anak-anak di sini mungkin terlalu berat. Di usia yang dini mereka sudah membaca buku soal filsafat, dasar-dasar matematika, logika, dan masih banyak buku bagus lainnya," lanjut Guntur.

    Tak melulu segala sesuatu yang serius, La Masia mengimbanginya dengan membentuk semacam kelompok kecil yang menampung minat para siswanya di luar sepakbola. Entah itu klub melukis, menulis, buku, hingga musik. Hiburan ringan seperti Playstation juga disediakan.

    Bahkan, La Masia tidak melupakan agama sebagai faktor pendukung pembentukan mental pemain. "Spanyol adalah negara religus. Kapel atau gereja kecil disediakan di beberapa sudut kompleks La Masia untuk menunjang para pemain menjalankan ibadahnya,” tutur Guntur.

    Atmosfer keseimbangan dalam kehidupan sungguh terbentuk di lingkungan La Masia.

    [​IMG]Varkenoord yang miskin, namun tetap berkualitas.​

    Tak ubahnya dengan La Masia, Feyenoord Academy atau yang populer disebut Varkenoord juga layak disebut sebagai akademi sepakbola terbaik di dunia. Bahkan dalam satu titik tertentu, Varkenoord mampu "menang telak” atas La Masia.

    "Ketika Belanda mengalahkan Spanyol di World Cup kemarin, saat itu pula menandakan bahwa Varkenoord menang atas La Masia. Semua orang tentu tahu berapa skor akhirnya,” tutur Ganesha Putera, menjelaskan secara bercanda terkait skor menggemparkan 5-1 Belanda atas Spanyol di fase grup Piala Dunia 2014. Sebuah kemenangan yang merepresentasikan kedahsyatan Varkenoord menjadi tulang punggung Tim Oranje di Brasil.

    Kunjungan Ganesha ke Rotterdam, Belanda memang berkesan. (Goal Indonesia sebelumnya telah menerbitkan delapan tulisan berseri dari Ganesha dengan mengklik tautan ini). Ia menceritakan bagaimana Varkenoord mampu melejit menjadi akademi top di Belanda dan bahkan dunia dengan mencetak banyak pemain profesional dalam lima tahun terakhir ini, menggeser dominasi akademi Ajax Amsterdam yang secara tradisional merupakan contoh akademi terbaik.

    Namun, proses yang dilalui Varkenoord tidak semudah membalikkan telapak tangan. Adalah Stanley Brard yang membawa perubahan di Feyenoord dengan menghadirkan visi baru sejak 2005. "Tugas kami bukan memenangkan juara di level junior. Tugas kami membawa talenta terbaik ini menuju sepakbola top profesional sebaik mungkin dan secepat mungkin,” tutur Bard yang memiliki darah Indonesia.

    Kendati kini Bard sudah tidak bertugas sebagai direktur Varkenoord, -- pindah berkarier di Azerbaijan dan digantikan oleh Damien Hertog -- semangat, nilai-nilai, dan peninggalannya masih terasa sampai sekarang.

    Varkenoord menitikberatkan pada latihan yang berkualitas. Mereka belajar dari kegagalan sebelumnya di mana banyak pemain akademi yang layu sebelum berkembang akibat cedera di usia muda. Dikurangilah frekuensi latihan dengan tujuan membawa latihan pada intensitas puncak. Itulah yang diterapkan di seluruh jenjang akademi, mulai dari U-8 hingga U-19, yang terdiri dari 260 pemain.

    Uniknya, semua proses penggemblengan di Varkenoord tersebut dilakukan dalam fasilitas yang seadanya, bahkan bisa dibilang kuno, buruk, dan jauh dari standar klub-klub Eropa. Dijelaskan bahwa Varkenoord memiliki rumput lapangan yang tidak istimewa hingga ruang kelas yang kecil.

    Namun, di situlah keajaiban sepakbola terjadi. Robin van Persie mencuat sebagai alumus tersohor dan diikuti oleh nama-nama tenar lain seperti Stefan de Vrij, Bruno Martins Indi, Jordy Clasie, Tonny Vilhena, Daryl Janmaat yang rata-rata telah berada di Varkneoord sejak umur 8-10 tahun.

    "Fasilitas bukan segala-galanya. Dengan fasilitas busuk sekalipun mereka bisa melakukan sesuatu yang luar biasa,” ungkap Ganesha. Bahkan, Varkenoord juga memiliki 100 sukarelawan yang bekerja tanpa dibayar. Satu bukti bahwa passion terhadap sepakbola lebih penting ketimbang fasilitas-fasilitas berbujet puluhan juta euro.

    Namun, keunggulan sesungguhnya dari seluruh program Varkenoord adalah adanya perhatian tinggi pada perkembangan psikologis pemain. Motto dari Feyenoord adalah "development as a person ia as important as development as a player”. Dari situ, mereka selalu berkomitmen memberikan sentuhan pembinaan kelas satu dari berbagai aspek, termasuk dalam ranah psikologi.

    Di Feyenoord terdapat seorang football psychologist yang bekerja baik untuk akademi, maupun tim utama. Tidak hanya mendidik para pemain, sang psikolog sepakbola ini juga memberi arahan kepada para pelatih. Sinergi ini menciptakan mental tangguh dari para pemain dan pelatih yang terbentuk sejak dini.

    [​IMG]Kemandirian dan adaptasi jadi hambatan terbesar Indonesia.​

    Menilik apa yang sudah dilakukan Varkenoord dan La Masia, berdasar realita yang ada jelas terlihat bahwa pembinaan sepakbola usia muda di Indonesia masih tertinggal. Tak usalah terus menyalahkan tetek bengek biaya dan fasilitas yang jadi penghambat, karena Varkenoord pun bisa membantahnya. Hambatan terbesar yang mendasari terus tenggelamnya Tanah Air di dunia sepakbola justru terletak pada faktor sikap, yakni kemandirian dan adaptasi.

    Budaya ketergantungan pada setiap individu yang sudah mengakar membuat para pemula sepakbola Indonesia sulit untuk berkembang. Tidak adanya kemandirian membuat suatu individu jadi ragu dan takut untuk melakukan tindakan, sehingga tidak cepat dalam mengambil keputusan. Hal itu bahkan bisa berkorelasi langsung pada permainan di atas lapangan, menyoal sikap dalam menentukan sebuah operan saja!

    Fenomenanya terpapar jelas. Jika di Indonesia adalah hal lazim ketika kita melihat siswa SSB datang berlatih atau bertanding dengan membawa tas plastik, maka di Eropa kita akan melihat sang anak datang ke lapangan bagai akan pergi mendaki gunung. Tampak demikian karena ukuran tas yang dibawa sang anak kadang terlihat lebih besar dari tubuhnya sendiri.

    Bukan sekadar membawa minuman, Guntur menuturkan bahwa mereka bisa membawa sepatu bola, sepatu keds, sandal, baju ganti, seragam latihan, handuk, hingga peralatan mandi! Selepas latihan mereka selalu membersihkan sepatu dan ketika waktu makan tiba, semua makanan yang tersaji akan segera dilahap tanpa ada protes soal rasa.

    Ketika sikap ini terbawa hingga dewasa, sosok yang 'dianggap' sedikit lebih individualistis dari kebanyakan orang Indonesia mungkin akan terbentuk. Namun sikap itu akan membuat mereka memiliki jiwa profesionalisme tinggi terhadap profesinya sebagai pesepakbola.

    "SSB di Indonesia harus mulai dengan membangun kemandirian. Biasakanlah anak-anak untuk memecahkan masalahnya sendiri, jangan terlalu ditopang. Sehingga di masa depan tak ada lagi anak yang bahkan menanyakan jadwal latihan pada pelatihnya sendiri, masih melalui orang tuanya," papar Guntur.

    Ketika pada akhirnya kemandirian bisa diatasi, maka masalah hambatan selanjutnya yang harus ditembus adalah adaptasi. Masalah ini bukan hanya dialami Indonesia, tapi juga meluas hingga ke Asia Tenggara bahkan Asia. Faktor ini penting dalam menggapai impian berkarier di sepakbola level tertinggi, Eropa. Belakangan Iran, Jepang, dan Korea Selatan bisa memecahkannya dengan rutin mengirim pemainnya ke kompetisi Benua Biru.

    Adaptasi mencakup banyak hal, mulai dari cara bergaul, toleransi, cuaca, bahasa, makanan, dan masih banyak lagi. Kebanyakan pemain Indonesia yang dianggap sangat bertalenta dan layak bermain di Eropa, kerap gagal di faktor tersebut. Kehidupan yang 180 derajat berbeda dengan negeri sendiri, membuat para pemain jadi kehilangan fokus bermain bola dan kehilangan hasratnya.

    "Ketika di Spanyol, Evan Dimas itu bisa saja tidak makan sepekan. Dia memang sulit jika sudah soal makanan. Apa yang diinginkannya memang sangat sederhana kalau di Indonesia, tapi di Spanyol jelas sulit untuk dipenuhi," papar Guntur. Ia juga menambahkan jika pelatih Barcelona memang terkesan dengan talenta di Indonesia. Tapi tindakan nyata lantas tak dilakukan karena faktor adaptasi.

    Soal masalah ini Indonesia disarankan untuk meniru para pemain di Afrika. Eropa sangat meminati pemain di Benua Hitam lantaran mereka memiliki mental yang amat tangguh, fisik yang begitu kebal terhadap cuaca, mau melahap segala makanan yang tersaji, sementara soal bahasa dan pergaulan, secara perlahan mereka mau tekun untuk belajar.

    Pada akhirnya paparan di atas hanya akan jadi sampah jika tidak kita mulai dari sekarang. Pelan namun pasti, lupakan dulu soal dana dan fasilitas yang harus diakui belum memadai. Bangunlah dahulu sikap yang benar agar sepakbola Indonesia bisa bangkit. Jika memang sudah dilakukan, maka cepat atau lambat Indonesia pasti bisa melahirkan sosok pesepakbola berkualitas, tidak hanya raga tapi juga jiwanya.

    liga eropa hari ini, u21, chelsea, final, liga eropa 2015, Menjadi Manusia Utuh Ala Varkenoord & La Masia
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page