Misteri Rumah Kanthil Kotagede

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Aug 25, 2014.

Discuss Misteri Rumah Kanthil Kotagede in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,687
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]
    Rumah Kanthil or sering disebut Omah Kanthil oleh kebanyakan warga Kotagede adalah rumah kosong yg menjadi dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara setelah on air dalam acara uji nyali “Dunia Lain” di Trans TV.

    Seperti yg dikutip dari wisatamistisjogja.blogspot.com, saat kita menyusuri jalan Modorakan Kotagede, yaitu arah dari pasar Kotagede ke barat, kita akan melihat sebuah pintu kuno di sebelah kanan jalan kurang lebih 200 meter setelah kita beranjak dari Pasar Kotagede. Pintu di sisi utara Jalan Mondorakan itu dari luar hanya tampak seperti pintu garasi dari kayu yg sudah usang. Tidak tampak ada yg menarik dari pintu itu, apa lagi yg berada di balik pintu itu kira-kira. Pintu kayu lapuk tersebut terdiri dari dua daun pintu yg masing-masing lebarnya sekitar dua meter, cukup besar memang. Pada salah satu daun pintu terdapat sebuah pintu kecil, sehingga tepat jika disebut dengan pintu yg berpintu. Pintu itulah yg digunakan sebagai jalan keluar masuk ketika pintu utama ditutup.

    Jika kita mencoba masuk, selepas dari pintu besar tadi terbentang jalan tanah selebar sekitar empat meter yg dibatasi oleh dinding bangunan di kedua sisinya. Jalan itu tidak panjang, sekitar lima belas meter saja, & di ujungnya telah menanti dengan angkuhnya sebuah menara penerima/penerus sinyal salah satu operator telepon seluler berikut pagar kelilingnya yg begitu masif. Dari ujung jalan ini, untuk terus menuju ke utara harus terlebih dahulu mengitari pagar menara itu. Tepat di sisi utara pagar menara berdiri sebuah rumah tua yg jelas tidak lagi ditinggali.

    Rumah tua itu saat ini letaknya memang sudah sangat terbuka. Di samping & belakangnya langsung berbatasan dengan rumah penduduk, selain bagian depan rumah yg telah berubah menjadi menara tadi (menara itu menempati lahan bekas pendapa rumah tua itu). Namun begitu, terasa nuansa yg lain ketika mencoba mendekati rumah tua itu, apa lagi mencoba masuk ke dalamnya. Memang, menurut warga Kota Gede, rumah yg dikenal dengan nama Rumah Kanthil itu ada penunggunya yg dikenal dengan nama Barowo. Keangkeran rumah tua itu sudah begitu dikenal oleh warga kawasan yg sudah sangat akrab dengan organisasi Islam besar bernama Muhammadiyah itu.

    Sejak sekitar hampir 5 tahun yg lalu Rumah Kanthil ini semakin populer, tidak hanya di kalangan warga Kota Gede saja, tetapi juga warga Yogyakarta pada umumnya, bahkan kota-kota lain di Jawa. Menariknya, menurut M. Natsir dari Yayasan Kanthil Kotagede, sempat ada rombongan dari luar kota Yogyakarta yg datang ke Kotagede mencarter bus wisata hanya untuk mencari Rumah Kanthil ini. Hal ini tidak lepas dari peristiwa ketika Rumah Kanthil dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara reality show yg populer dengan uji nyalinya, yaitu Dunia Lain yg ditukangi oleh Trans TV. Tak ayal lagi, banyak orang yg semakin penasaran dengan Rumah Kanthil. Kedatangan rombongan turis tadi menjadi salah satu dampak nyatanya.



    Sejarah Omah Kanthil
    Kawasan Kanthil berada sekitar 230 meter di barat laut Pasar Kotagede. Persisnya di RT 49, RW 10 Kampung Trunojayan. Nama Kanthil diambil dari nama pohon kanthil (Michelia champaka) yg pernah tumbuh di sana. Pohon kanthil ini tumbuh besar, sehingga banyak dikeramatkan orang. Di dekat pohon kanthil, ada sebuah lumpang dari batu hitam. Sama seperti pohon kanthil, lumpang itu pun dikeramatkan warga. Ada yg percaya, orang yg kakinya lumpuh jika dimandikan di lumpang tersebut bakalan bisa sembuh.

    Pemilik Rumah Kanthil adalah Karto Jalal, or sebagian warga lebih mengenalnya dengan Karto Kanthil. Ia adalah seorang saudagar kaya di Kotagede. Usaha yg digelutinya adalah batik. Ketika batik Kotagede mengalami masa keemasan di tahun 1940-1960, Karto Kanthil pun mendulang untung. Kala itu, harga jarik amat mahal. Orang rela menukarkan tanahnya yg seluas ratusan meter dengan dua or tiga potong kain jarik. Tak heran, rumah & tanah Karto Kanthil pun terserak di segala pelosok Kotagede.

    Kalau Karto Kanthil mempunyai hajatan menikahkan anaknya, pestanya tujuh hari tujuh malam. Pengantinnya diarak keliling Pasar Kotagede. Pengantin laki-lakinya mengendarai kuda. Pengantin perempuannya naik tandu hias yg dipikul empat orang lelaki. Keluarga yg lain mengendarai kereta kuda hias. Se&gkan anak-anak yg mengiringi naik kremun (tandu kecil), di belakangnya barisan umbul-umbul, rontek bertugas sebagai pramuladi pun pria-pria pilihan, gagah-gagah berkulit kuning langsat. Pemuda-pemuda itu diambil dari kampung-kampung di Kotagede yg tergabung dalam paguyuban Susilo Mudho.

    Setelah tahun 1960, usaha batik di Kotagede surut drastis, termasuk juga usaha milik Karto Kanthil. Beberapa puluh tahun kemudian, tanah-tanah Karto Kanthil satu demi satu dijual oleh ahli warisnya. Malah, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tak jarang ahli waris menjual murah barang-barang yg masih tersisa, seperti tempat tidur besi, tanggem, daun jendela, &&g, soblok, almari, & aneka barang remeh temeh lainnya.

    Di sekitar tahun 1990 an, salah seorang menantu Karto Kantil pernah mengeluh, bahwa beberapa tanah miliknya telah dipakai oleh pemerintah tanpa seijin dirinya. Malah, di tanah yg menurut menantu tersebut adalah miliknya, telah didirikan bangunan gedung kantor pemerintah. Salah satunya adalah Balai Diklat PU di timur jembatan Winong, Kotagede. Menantu Karto Kantil tersebut mengaku pernah mengurusnya, namun karena tia&ya bukti legal formal tertulis, sang menantu tersebut akhirnya kalah.

    Sebagai ruang publik, tak banyak jejak yg bisa dilacak dari pendapa Kanthil. Selain pernah menjadi tempat ibadah sholat tarawih pengajian anak-anak Komariyah Masjid Perak, pendapa Kanthil jarang sekali dimanfaatkan untuk kepentingan publik.

    Nasib tragis pendapa Kanthil punya kisah tersendiri. Waktu itu di tahun 1990-an, seorang menantu dari Karto Kanthil se&g punya hajat menjual pohon mangga. Karena tukang tebangnya kurang perhitungan, ranting besar pohon itu menimpa pendapa Kanthil yg ada di dekatnya. Akibatnya, pendapa Kanthil pun miring. Karena tidak punya biaya untuk mengembalikan pendapa seperti semula, pendapa Kanthil itu dibiarkan miring dalam waktu yg lama. Keadaan ini diterkam makelar pendapa. Benar saja. Tak sampai hitungan tahun, pendapa Kanthil pun tercerabut dari tempatnya.

    Kini, kawasan Kanthil telah sangat berubah. Rumah tanpa induk semang itu se&g menunggu kehancurannya. Kelabang, cacing, kalajengking, & dhemit kini tinggal di sana. Karena dikenal angker, Rumah Kanthil pun pernah dipakai sebagai lokasi pengambilan gambar acara Dunia Lain, yg ditaygkan oleh sebuah televisi swasta nasional.

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Misteri Rumah Kanthil Kotagede diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page