NSA Membiayai Pembuat Senjata Siber

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, May 5, 2014.

Discuss NSA Membiayai Pembuat Senjata Siber in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,103
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Sebuah artikel memberitakan bahwa NSA membiayai pembuat senjata siber untuk membuat sebuah senjata digital yang dapat digunakan mengalahkan rival mereka di dunia maya. Di semenanjung Florida, AS, para pembuat senjata siber sedang membuat senjata digital yang diperuntukkan bagi agensi mata-mata AS. Senjata digital itu mereka gunakan untuk membombardir jaringan internet yang memiliki celah kerentanan untuk dieksploitasi oleh agensi tersebut. Di Pittsburg, Pennsylvania, AS, para peneliti yang mendapatkan kontrak kerja dari Pentagon sedang memberikan pelatihan bagaimana memindai sebuah bug dan mengeksploitasinya agar dapat digunakan sebagai senjata. Sedangkan di New Hampshire, para programer sedang melakukan tes coding error yang berpotensi untuk dijadikan area pemboman digital.
    Nationwide, sebuah perusahaan kontraktor pertahanan di AS pada saat ini sedang mendanai sebuah proyek dunia maya untuk mencari kerentanan yang dapat digunakan sebagai senjata potensial. Mereka adalah bagian dari cyber military industrial complex yang berkembang di sejumlah negara bagian dan mempekerjakan sekitar 15.000 orang. Proyek ini sangatlah rahasia dan pendanaannya pun tidak dipublikasikan ke masyarakat. Kerahasiaan ini sangatlah penting, sehingga beberapa pejabat militer di NSA dan Pentagon menolak untuk dimintai keterangan. Mengapa NSA membiayai pembuat senjata siber untuk kepentingan mereka? Were in arms race., papar Chase Cunningham, mantan kepala teknik kriptografi NSA. Chase menjelaskan bahwa proyek ini adalah gabungan perlombaan senjata seperti Perang Dingin dan Perang Bintang.
    Pemerintah AS telah menggelontorkan miliaran rupiah untuk mendanai persenjataan digital yang dikenal dengan zero day exploits, di mana mereka mampu mengeksploitasi langkah-langkah coding sehingga menimbulkan kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh para hacker. Berdasarkan informasi dari pihak internal, NSA telah menggunakannya untuk mengeksplotasi kerentanan yang ada dalam SSL ataupun Open SSL tanpa perlu mempublikasikannya pada publik. Agensi pemerintah AS tersebut dicurigai menimbun jutaan exploits untuk kepentingan mereka, sehingga hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaannya. Bloomberg News menyatakan bahwa NSA pun menggunakan Heartbleed Bug untuk kepentingan mereka. Walaupun juru bicara mereka mengatakan bahwa Heartbleed Bug tidak boleh dipublikasikan agar mereka yang terkena dampaknya dapat memperbaiki sistemnya secara mandiri.
    Michael Daniel, juru bicara White House yang membawahi bidang informasi teknologi mengatakan bahwa pemerintah AS tidak memiliki kepentingan untuk menimbun sejumlah exploits tapi meninggalkan kerentanan keamanan dunia maya. Sebaliknya, pemerintah AS akan tetap menggunakan kerentanan exploits dan mengembangkannya untuk mengamankan kedaulatan negara secara siber. Wakil Admiral Angkatan Laut AS Michael Rogers, direktur NSA dan Pusat Komando AS menyatakan bahwa sangat sulit dibayangkan apa jadinya krisis internasional saat ini bila mengabaikan keberadaan senjata-senjata digital. Berita tentang NSA membiayai pembuat senjata siber ini mengakibatkan beberapa perusahaan kontraktor senjata tradisional mengubah paradigma mereka. Lockheed Martin dan Northroop Gunman, kontraktor senjata yang berfokus pada jet dan tank pun dikabarkan akan segera memperbaharui sistem persenjataan mereka.
    Selama hampir empat tahun ini pula, Siege Technologies telah mendapatkan kontrak dari Departemen Pertahanan AS sebanyak 10 juta dolar AS untuk pengembangan senjata digital. Mereka telah mengembangkan sebuah algoritma untuk menentukan seberapa sukseskah serangan digital mereka dan seberapa seringnya serangan siber pada sistem pertahanan mereka. Siege Technologies pun telah mengembangkan sebuah program yang diberi nama Eprouvette. Sebuah program yang dapat digunakan untuk keperluan pertahanan digital. Seperti salah satunya adalah meretas pada jaringan sistem pembangkit musuh dan melumpuhkannya ataupun meretas mobile phone. Jason Syversen, CEO Siege Technologies yang memiliki latar belakang hacker dan algoritma menyatakan perusahaannya telah mengembangkan kill metric. Sebuah sistem analis untuk menjelaskan dampak yang terjadi akibat serangan digital. Pihak militer ingin melihat sebuah kawah bom dan penuh asap. Kami tidak memilikinya di dunia siber. Oleh karena itu kami mengembangkan kill metric., papar Jason.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page