Opini: Apakah Companion App Masih Relevan Digunakan?

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Feb 22, 2015.

Discuss Opini: Apakah Companion App Masih Relevan Digunakan? in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    7,623
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    22/02/2015

    Terpancing dengan artikel dihapuskannya pemakaian companion app untuk memperoleh equipment khusus dalam Assassin’s Creed Unity kemarin, dalam opini kali ini saya mengajak pembaca GIA untuk melihat kembali fungsi companion app sebagai bagian pengalaman bermain game di console generasi sekarang. Apakah gimmick “layar kedua” dari kebutuhan game modern ini masih relevan dipergunakan? Lantas apakah penggunaan companion app sebagai bagian dari layanan game AAA juga layak untuk memungut biaya kepada para penggunanya? Mari tuangkan uneg-uneg tersebut di sini.

    Penggunaan companion app sebagai pelengkap kebutuhangamingbukan lagi fenomenabaru di ranahgaming modern. Saya tidakingatkapan pastinyacompanion app diperkenalkan, tapi sepertinya companion appmulai marak dipergunakansemenjak Microsoft memperkenalkan Xbox Smartglass di tahun 2012 lalu. Saatitu Microsoft memperkenalkan kita bagaimana console game Xbox 360 dangame HALO 4 sinkron dengan Windows Phone 8 yg waktuitu gencar-gencarnya dipromosikan. Dan semenjakitulahparapelaku industrigame mulai meliriklayar kedua companion app sebagai gimmick baru dalampengalaman gaming modern.
    [​IMG]Eits… jangan salah. Ini bukanlah pamer OS perangkat mobile baru melainkan companion app Dead Rising 3 yg tampil layaknya OS smartphone asli

    Tentunya ini bukan pertama kalinya bermaingamedihiasigimmickinteraktif yg ditujukan untuk menarikminat parapemain. Jika kita melihatke belakang, setidaknya ada berbagai macam inovasigimmickbermain gameyangtelah kita lewati, mulai dari sarung tangan Power Glove, kamera Eye Toy, Kinect, & yg paling terkini: penggunaan companion app dalam smartphone.

    Beragamjudulgamerilisan developer AAA baik itu di platformXbox One, PS3, PC, Xbox 360, danPlayStation 4 rata-ratamengadopsicompanion appsebagai gimmickyang memanfaatkan keunggulan layarperangkatmobile.Dengan memanfaatkanaplikasi tadikita bisa melihat statistik permainan kita dalampertandingandeathmatch, melihat posisi kita dalam peta dunia open-world, bahkan mengatur strategi pemain dalam permainan olahraga.Taksedikit pula developer yg menyertakanelemenmini gameke dalamcompanion app sehingga aplikasi smartphone tersebut bukan sekedarmenjadi pelengkapdi saat bermaingame diconsole saja, tapi juga bisa menginzinkan kamu memainkancompanion app tersebutlayaknya sebuah game mobile yg simpel.


    Pihak developer bolehsaja beralasan mendirikan sebuah server yg menampung sinkronisasi antaramobile & console membutuhkan biaya, namun jika mereka memang tidak memiliki dana / teknologi “super murah” untuk itu, kenapa masih ngotot menghadirkan companion app?



    Seiring makin kreatifnyapara penerbit & developer, companion appberkembang dari yg awalnya sebagai mediumpelengkap hingga menjadi bagian dari progres permainankamu di luar gameutama. Konsep seperti ini saya rasa merupakan gambaran konkrit untuk menggambarkan betapa pihak penerbitgameinginpenggunaancompanion appdianggap relevan untuk menjawab kebutuhan gamingdi era yg segala sesuatunya serba terkoneksi satu sama lain.


    Gambaran sederhananya, companionappke depan bisa jadi bukansekedar menjadi penunjuk peta kamu sajatapijuga sebagai kebutuhansekunderdalam game, sehinggaalangkahsemakin menakutkannya jika hal tersebut dimanfaatkan mereka untuk mengerukkeuntungan.

    Gameyang bisasaya contohkan mengenai kasus ini adalahketika mengulas Evolve: Hunter Questbeberapaminggu lalu. Begitu kitamemainkangame mobile yg merupakan bagian companion app darigame Evolve tersebut, kita akanmenjumpaifiturcharacter progression yg bisa dibilangcukup membantu para pemain Evolvesaat sedang tidak bermain di depan PC/console. Kendalanya sekarang,Evolve: Hunter Quest terasa sepertigame freemium yg biasa kita temui di App Store, sehingga implementasi IAP mengintai keberadaan dompetmu yg keburukempis setelah membeli gameEvolveversi PC/console yang mahal.

    [​IMG]

    Hal serupa juga saya temukan ketikabermainAssassin’s Creed Unitysebelumpatch kelimanya dirilis oleh Ubisoft. Seperti yg digambarkanFahmi dalam ulasan Assassin’s Creed Unity yg ia tulis, game ini menyertakan petikhusus yg hanya bisa kamu bukasetelah menjalani misi kecil yg ada dicompanion app Assassin’s Creed Unity. Ini artinyapihakdevelopermenggiring pemainnya untuk mengunduh & memainkancompanion app game tersebut agarkamu bisa menikmati pengalaman bermaingame ini secara total.

    Tentunya ini bukanlah masalah baik itu bagigamer kasual maupungamer completionist yg doyan menghabiskan waktu agar pencapaiangamedia meraih angka100%. Yang jadi masalah adalah ketika penggunaancompanion app tersebut mulai merepotkan kita dengan beragam login akun layanan gamingkhususdan yg paling parah keberadaanmonetisasi companion appseperti yg ditunjukangambar di bawah ini.
    [​IMG]“Katchingg” (suaramesin kasir)

    Memonetisasicompanion appbagi saya pribadimerupakanhal yg tak perlu karena seharusnya aplikasi cukup menjadi pelengkap dari game utama yg kita mainkan saja. Pihak developer bolehsaja beralasan mendirikan sebuah server yg menampung sinkronisasi antaramobile & console membutuhkan biaya, namun jika mereka memang tidak memiliki dana / teknologi “super murah” untuk itu, kenapa masih ngotot menghadirkan companion app?Kita sendiri juga tidak memiliki jaminan seandainya game utama yg kita mainkan sewaktu-waktu akan kehilangan fiturcompanion app mereka enam / sepuluh tahun ke depan.

    Produk turunanyang saya bahas di atas tadi merupakan dua contoh implementasicompanion appsebagaimedium layanan yg mulai terkontaminasistandar rendah baru dari hal-hal busuk di industri game.Di luar sana ada kasuscompanion app berbayar sepertiThief

    Memang tidak semua penerbit/developer game besarmelakukan hal itudan kita juga sebagai konsumen memiliki kesadaran penuh dalammemilih apa yg terbaik untuk kesenangan hobi kita bermain game. Namun jika ke depannya kita semakin diarahkan ke perilaku yg lebih konsumtif lagi dengan memerah uang kita lewat layanan companion app, jangan salahkan kami seandainyacompanion app menjadi bagiangimmickbermain gameyang tak lagikami sentuh di kemudian hari(penulis mengetik kalimat tadidengan nada yg mengancam).
    [​IMG]“Sebagus-bagusnya mini game yg diusung companion app, masih tetap kalah seru dibandingkan game utamanya

    Bagaimana menurut kamu pembaca setia GIA? Apakah kamu pernah bermain game dengan memanfaatkan layar keduacompanion app? Setujukah kamu jikagameAAA berikutnya mengarahkanmu menggunakancompanion appagar mendapatkan konten khusus? Silakan tuanguneg-uneg kamu di kolom komentar.

    P.S.: Saat opini iniditerbitkan, saya yakin kemarin banyak pemainAssassin’s Creed Unity yg sujud syukursetelahsyaratmembuka peti khusus companion appdihilangkan & mereka akhirnya bisatidur nyenyaksetelah mendapatkan pakaian Master Assassin yg mereka idam-idamkan.

    Referensi:Gamasutra, The Guardian, danEurogamer
    Artikel opini adalah artikel yg didasarkan atas pendapat pribadi sang penulis & tidak menggambarkan pandangan N3 Indonesia secara umum. Di N3 Indonesia, kami menghargai pendapat semua orang baik penulis, kontributor, & juga para pembaca.

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page