Penemuan Dwaraka – Kota Sang Krishna yang Tenggelam

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Aug 28, 2014.

Discuss Penemuan Dwaraka – Kota Sang Krishna yang Tenggelam in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,101
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]
    Peristiwa masa lalu adalah SEJARAH. Lama kelamaan sejarah ini bercampur dengan bumbu-bumbu tambahan yg bukan kejadian sebenarnya jadilah dia LEGENDA. Lama kelamaan legenda ini bercampur dengan tambahan-tambahan lagi & didewa-dewakan, jadilah dia MITOS or mythologi. Jadi hampir semua mitos & legenda ada benang merahnya dengan sejarah. meskipung benang itu sangat tipis.

    Seperti yg dikutip dari Alam Mengembang jadi Guru, Kerajaan Dwaraka adalah sebuah kerajaan yg didirikan wangsa Yadawa setelah melepaskan diri dari Kerajaan Surasena karena diserbu oleh raja Jarasanda dari Magadha. Kerajaan ini diperintah oleh Krishna Wasudewa selama zaman Dwapara Yuga. Wilayah Kerajaan Dwaraka meliputi Pulau Dwaraka, & beberapa pulau tetangga seperti Antar Dwipa, & sebagian wilayahnya berada di darat & berbatasan dengan negeri tetangga yaitu Kerajaan Anarta. Wilayah tersebut terlihat seperti negara Yunani yaitu negeri dengan pulau-pulau kecil & sebagian berupa wilayah daratan. Kerajaan Dwaraka kira-kira terletak di sebelah Barat Laut Gujarat. Ibukotanya bernama Dwarawati (dekat Dwarka, Gujarat). Tapi kalau dilihat dari namanya, Dwaraka yg adalah bahasa Sanskrit ini berarti pintu-pintu, mirip babilon yg juga berarti pintu (baab)

    Selama masa jayanya, Dwaraka adalah kota yg dikelilngi tembok & berisikan taman yg indah, parit yg dalam, & beberapa kolam istana (Wisnu Purana), namun diyakini telah tenggelam setelah kepergian Krishna. Karena pentingnya sejarah & hubungan dengan Mahabharata, Dwaraka terus menarik arkeolog & sejarawan selain ilmuwan.

    [​IMG]

    Sri Krishna membunuh Kamsa (paman dari pihak ibu) & menobatkan Ugrasena (kakek dari pihak ibu-Nya) menjadi raja Mathura. Hal ini membuat Marah mertua Kamsa, Jarasanda (raja Magadh) bersama dengan temannya Kalayavana menyerang Mathura 17 kali. Untuk keselamatan bangsanya, Yadava, Krishna memutuskan untuk memindahkan ibukota dari Mathura ke Dwaraka.

    Sri Krishna & kaumnya, Yadava meninggalkan Mathura & tiba di pantai Saurashtra. Mereka memutuskan untuk membangun kota mereka di daerah pesisir & dipanggillah Visvakarma, dewa konstruksi. Namun, Visvakarma mengatakan bahwa tugas bisa diselesaikan hanya jika Samudradeva, penguasa laut, menyediakan beberapa tanah. Sri Kresna membujuk Samudradeva, & dengan senang Samudradeva memberi mereka tanah berukuran 12 yojanas & selanjutnya, dibangunlah oleh Visvakarma kota Dwaraka, sebuah kota emas.

    Dwaraka kemudian dikenal sebagai salah satu tempat suci selain Mathura & Vrindavana pada masa itu.



    Tenggelamnya Kota Dwaraka
    Setelah Sri Krishna pergi ke tempat tinggal-Nya & Yadawa utama kepala tewas dalam perkelahian di antara mereka sendiri, Dwaraka menjadi tenggelam di laut. Ini adalah gambaran yg diberikan oleh Arjuna dalam Mahabharata:

    “Laut, yg menghantam pantai, tiba-tiba memecahkan batas yg ditetapkan oleh alam. Laut itu bergegas ke memasuki kota & memenuhi jalan-jalan kota yg indah.. Laut menutupi segala sesuatu di kota.” Arjuna melihat bangunan indah tenggelam satu per satu Dia lalu mengamati istana Krishna.. Dalam hitungan beberapa saat semuanya berakhir. laut itu sekarang menjadi tenang seperti &au. tidak ada bekas . kota yg indah Dwarka, yg telah menjadi tempat favorit dari semua Pandawa, kini hanya nama, hanya kenangan “. – Mausala Parva, Mahabharata.



    Sejarah Dwaraka
    Kota Dwaraka telah diselidiki oleh para sejarawan sejak awal abad ke-20. Lokasi yg tepat dari kota pelabuhan telah menjadi perdebatan untuk waktu yg lama. Beberapa referensi sastra, terutama dari Mahabharata, telah digunakan untuk menunjukkan lokasi yg tepat.

    Dwaraka disebutkan dalam Mahabharata (Mausala Parva) & lampiran epik, Harivamsa, mengacu pada penenggelaman Dwaraka oleh laut. Dwaraka adalah sebuah negara kota membentang hingga ke Bet Dwaraka (Sankhoddhara) di utara & Okhamadhi di selatan. ke timur hingga Pindata. 30 hingga 40 meter tinggi bukit di sisi timur Sankhoddhara yg tingginya 30-40 meter mungkin adalah Raivataka seperti yg dimaksud dalam Mahabharata.

    [​IMG]

    Ekskavasi di Dwaraka menambah kepercayaan pada legenda Krishna & perang Mahabharata, serta memberikan bukti yg luas bahwa pernah ada masyarakat yg sudah maju yg tinggal di daerah-daerah pemukiman seperti MohenjoDaro-Harappa.

    Unit Arkeologi Kelautan (MAU) bersama-sama dengan Institut Oseanografi Nasional & Survei Arkeologi India. Di bawah bimbingan Dr Rao, seorang arkeolog kelautan yg terkenal, membentuk sebuah tim yg terdiri dari para penyelam-fotografer & para arkeolog. Teknik survei geofisika dikombinasikan dengan penggunaan gema-suara, penembus lumpur, sub-bottom profiler & detektor logam di bawah air. Tim ini melakukan ekspedisi arkeologi laut sebanyak 12 kali antara tahun 1983-1992. Artefak & barang antik yg ditemukan dikirim ke Laboratorium Penelitian Fisik untuk mengetahui usia artefak. Dengan menggunakan termo-luminescence, karbon dating & teknik ilmiah modern lain, artefak yg ditemukan berasal dari periode antara abad 15 hingga abad ke-18 SM. Dalam karya besarnya, The Lost City Dwaraka, Dr Rao telah memberikan rincian penemuan-penemuan ilmiah & artefak.

    [​IMG]

    Antara tahun 1983 sampai 1990, kota yg dikelilingi dinding Dwaraka ditemukan, dengan daerah lebih dari setengah mil dari garis pantai. Kota ini dibangun pada enam sektor di sepanjang tepi sungai. Fondasi batu dinding kota yg didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut. Secara umum, kota Dwaraka yg dijelaskan dalam teks-teks kuno sesuai dengan kota bawah laut yg ditemukan oleh MAU.

    Menurut penemuan, Dwaraka adalah sebuah kota makmur di zaman kuno, yg hancur & dibangun kembali beberapa kali. Ekskavasi besar yg dilakukan oleh Z.D. Ansari & M.S. Mate menemukan candi candi yg terkubur di dekat kota Dwaraka sekarang.

    [​IMG]

    Kesimpulan dari ekskavasi-ekskavasi yg dilakukan adalah bahwa kota ini adalah sebuah kota pelabuhan yg makmur, & bertahan sekitar 60-70 tahun di abad ke-15 SM sebelum tenggelam di bawah laut pada tahun 1443 SM (meskipun masih ada yg berpendapat bahwa dwaraka tenggelam sekitar 3102SM), tapi yg jelas kota ini berasal tidak lebih dari 5000 tahun yg lalu.

    Di antara benda-benda yg digali yg terbukti memiliki koneksi dengan Dwaraka, epik Mahabharata adalah segel diukir dengan gambar binatang berkepala tiga. Epik Mahabarata menyebutkan segel yg diberikan kepada warga Dwaraka sebagai bukti identitas ketika kota itu terancam oleh Raja Jarasanda dari kerajaan Magadh. Fondasi batu dinding kota didirikan membuktikan bahwa tanah itu direklamasi dari laut sekitar 3.600 tahun yg lalu. Epik Mahabarata juga menyebutkan kegiatan reklamasi tersebut di Dwaraka. Tujuh pulau yg disebutkan di dalamnya juga ditemukan tenggelam di Laut Arab.

    [​IMG]

    “Penemuan kota legendaris dari Dwaraka yg dikatakan telah didirikan oleh Sri Krishna, adalah sebuah tonggak penting dalam sejarah India. Karena Hal ini telah menghilangkan keraguan para sejarawan tentang historisitas Mahabharata & keberadaan kota Dwaraka. Hal ini juga mempersempit kesenjangan sejarah India dengan a&ya kelangsungan peradaban India dari era Veda sampai hari ini. Atau dengan kata lain, telah terbukti bahwa Krishna memang benar pernah ada. (meskipun tentu bukan dewa)



    Dwaraka dibanjiri oleh tsunami?
    Mungkinkah tsunami telah melanda pantai Gujarat untuk menenggelamkan kota kuno Dwaraka? Para ahli yg terkait erat dengan penemuan kota yg hilang di lepas pantai Saurashtra tidak menutup kemungkinan ini. Mereka mengatakan bahwa Mahabharata berbicara tentang laut yg tiba-tiba melanda kota setelah menghilangnya Dewa Krishna & Arjuna mengambil cucu Krishna ke Hastinapura.

    “The Bhagavata Purana (11.30.5) menyebutkan ‘ete ghora mahotpata dvarvatyam yama-ketavah, muhurtam api atra na stheyam ada Yadu-pungavah.”

    Terjemahan harfiah adalah “Bencana ini telah menjadi simbol kematian & bangsa Yadavas tak bisa bertahan di sini lebih lama lagi..” Hal ini mirip dengan kerusakan yg ditimbulkan tsunami yg mungkin terjadi pada Dwaraka kuno & penduduknya.

    Tapi ada tiga teks termasuk Harivamsa, Matsya Purana & Bhagavat-gita, yg menyatakan bahwa butuh waktu tujuh hari untuk mengosongkan Dwaraka sebelum tenggelam oleh laut. Jika kita menganggap bahwa Dwaraka tenggelam akibat tsunami, gerakan bertahap dari laut tidak dapat dijelaskan.



    Video tentang Dwaraka




    Dibawah ini kisah dwaraka dalam kitab Mosalaparwa
    Mosalaparwa or Mausalaparwa adalah buku keenam belas dari seri kitab Mahabharata. Adapun ceritanya mengisahkan musnahnya para Wresni, Andhaka & Yadawa, sebuah kaum di Mathura-Dwaraka (Dwarawati) tempat Sang Kresna memerintah. Kisah ini juga menceritakan wafatnya Raja Kresna & saudaranya, Raja Baladewa. Diceritakan bahwa pada saat Yudistira naik tahta, dunia telah memasuki zaman Kali Yuga or zaman kegelapan. Ia telah melihat tanda-tanda alam yg mengerikan, yg seolah-olah memberitahu bahwa sesuatu yg mengenaskan akan terjadi. Hal yg sama dirasakan oleh Kresna. Ia merasa bahwa kejayaan bangsanya akan berakhir, sebab ia melihat bahwa banyak pemuda Wresni, Yadawa, & Andhaka yg telah menjadi sombong, takabur, & senang minum minuman keras sampai mabuk.



    Kutukan para brahmana
    Pada suatu hari, Narada beserta beberapa resi berkunjung ke Dwaraka. Beberapa pemuda yg jahil merencanakan sesuatu untuk mempermainkan para resi. Mereka men&&i Samba (putera Kresna & Jembawati) dengan busana wanita & diarak keliling kota lalu dihadapkan kepada para resi yg mengunjungi Dwaraka. Kemudian salah satu dari mereka berkata, “Orang ini adalah permaisuri Sang Babhru yg terkenal dengan kesaktiannya. Kalian adalah para resi yg pintar & memiliki pengetahuan tinggi. Dapatkah kalian mengetahui, apa yg akan dilahirkannya? Bayi laki-laki or perempuan?” Para resi yg tahu se&g dipermainkan menjadi marah & berkata, “Orang ini adalah Sang Samba, keturunan Basudewa. Ia tidak akan melahirkan bayi laki-laki orpun perempuan, melainkan senjata mosala yg akan memusnahkan kamu semua!” (mosala = gada)

    [​IMG]

    Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Sang Samba melahirkan gada besi dari dalam perutnya. Atas perintah Raja Ugrasena, senjata itu kemudian dihancurkan sampai menjadi serbuk. Beberapa bagian dari senjata tersebut sulit dihancurkan sehingga menyisakan sepotong besi kecil. Setelah senjata tersebut dihancurkan, serbuk & serpihannya dibuang ke laut. Lalu Sang Baladewa & Sang Kresna melarang orang minum arak. Legenda mengatakan bahwa serbuk-serbuk tersebut kembali ke pantai, & dari serbuk tersebut tumbuhlah tanaman seperti rumput namun memiliki daun yg amat tajam bagaikan pe&g. Potongan kecil yg sukar dihancurkan akhirnya ditelan oleh seekor ikan. Ikan tersebut ditangkap oleh nelayan lalu dijual kepada seorang Jara seorang pemburu. Pemburu yg bernama Jara membeli ikan itu menemukan potongan besi kecil dari dalam perut ikan yg dibelinya. Potongan besi itu lalu ditempa menjadi anak panah.



    Musnahnya Wangsa Wresni, Andhaka, & Yadawa
    Setelah senjata yg dilahirkan oleh Sang Samba dihancurkan, datanglah Batara Kala, Dewa Maut, & ini adalah pertanda buruk. Atas saran Kresna, para Wresni, Yadawa & Andhaka melakukan perjalanan suci menuju Prabhastirtha, & mereka melangsungkan upacara di pinggir pantai. Di pantai, para Wresni, Andhaka & Yadawa tidak bisa menghilangkan kebiasaan buruk mereka, yaitu minum arak sampai mabuk. Dalam keadaan mabuk, Satyaki berkata, “Kertawarma, kesatria macam apa kau ini? Dalam Bharatayuddha dahulu, engkau telah membunuh para putera Dropadi, termasuk Drestadyumna & Srikandi dalam keadaan tidur. Perbuatan macam apa yg kau lakukan?”. Ucapan tersebut disambut oleh tepuk tangan dari Pradyumna, yg artinya bahwa ia mendukung pendapat Satyaki. Kertawarma marah & berkata, “Kau juga kejam, membunuh Burisrawa yg tak bersenjata, yg se&g meninggalkan me& laga untuk memulihkan tenaga”.

    [​IMG]

    Setelah saling melontarkan ejekan, mereka bertengkar ramai. Satyaki mengambil pe&g lalu memenggal kepala Kertawarma di hadapan Kresna. Melihat hal itu, para Wresni marah lalu menyerang Satyaki. Putera Rukmini menjadi garang, kemudian membantu Satyaki. Setelah beberapa lama, kedua kesatria perkasa tersebut tewas di hadapan Kresna. Kemudian setiap orang berkelahi satu sama lain, dengan menggunakan apapun sebagai senjata, termasuk tanaman eruka yg tumbuh di sekitar tempat tersebut. Ketika dicabut, daun tanaman tersebut berubah menjadi senjata setajam pe&g. Dengan memakai senjata tersebut, para keturunan Wresni, Andhaka, & Yadu saling membunuh sesama. Tidak peduli kawan or lawan, bahkan ayah & anak saling bunuh. Anehnya, tak seorang pun yg berniat untuk meninggalkan tempat itu. Dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyadari bahwa rakyatnya digerakkan oleh takdir kehancuran mereka. Dengan menahan kepedihan, ia mencabut segenggam rumput eruka & mengubahnya menjadi senjata yg dapat meledak kapan saja. Setelah putera & kerabat-kerabatnya tewas, ia melemparkan senjata di tangannya ke arah para Wresni & Yadawa yg se&g berkelahi. Senjata tersebut meledak & mengakhiri riwayat mereka semua.

    Akhirnya para keturunan Wresni, Andhaka & Yadu tewas semua di Prabhasatirtha, & disaksikan oleh Kresna. Hanya para wanita & beberapa kesatria yg masih hidup, seperti misalnya Babhru & Bajra. Kresna tahu bahwa ia mampu menyingkirkan kutukan brahmana yg mengakibatkan bangsanya hancur, namun ia tidak mau mengubah kutukan Gandari & jalannya takdir. Setelah menyaksikan kehancuran bangsa Wresni, Yadawa, & Andhaka dengan mata kepalanya sendiri, Kresna menyusul Baladewa yg se&g bertapa di dalam hutan. Babhru disuruh untuk melindungi para wanita yg masih hidup se&gkan Daruka disuruh untuk memberitahu berita kehancuran rakyat Kresna ke hadapan Raja Yudistira di Hastinapura.

    Di dalam hutan, Baladewa meninggal dunia dalam tapanya. Kemudian keluar naga dari mulutnya & naga ini masuk ke laut untuk bergabung dengan naga-naga lainnya. Setelah menyaksikan kepergian kakaknya, Kresna mengenang segala peristiwa yg menimpa bangsanya. Pada saat ia berbaring di bawah pohon, seorang pemburu bernama Jara (secara tidak sengaja) membunuhnya dengan anak panah dari sepotong besi yg berasal dari senjata mosala di dalam ikan yg telah dihancurkan. Ketika sadar bahwa yg ia panah bukanlah seekor rusa, Jara meminta ma’af kepada Kresna. Kresna tersenyum & berkata, “Apapun yg akan terjadi sudah terjadi. Aku sudah menyelesaikan hidupku”. Sebelum Kresna wafat, teman Kresna yg bernama Daruka diutus untuk pergi ke Hastinapura, untuk memberi tahu para keturunan Kuru bahwa Wangsa Wresni, Andhaka, & Yadawa telah hancur. Setelah Kresna wafat, Dwaraka mulai ditinggalkan penduduknya.



    Hancurnya Kerajaan Dwaraka
    Ketika Daruka tiba di Hastinapura, ia segera memberitahu para keturunan Kuru bahwa keturunan Yadu di Kerajaan Dwaraka telah binasa karena perang saudara. Beberapa di antaranya masih bertahan hidup bersama sejumlah wanita. Setelah mendengar kabar sedih tersebut, Arjuna mohon pamit demi menjenguk paman dari pihak ibunya, yaitu Basudewa. Dengan diantar oleh Daruka, ia pergi menuju Dwaraka.

    Setibanya di Dwaraka, Arjuna mengamati bahwa kota tersebut telah sepi. Ia juga berjumpa dengan janda-janda yg ditinggalkan oleh para suaminya, yg meratap & memohon agar Arjuna melindungi mereka. Kemudian Arjuna bertemu dengan Basudewa yg se&g lunglai. Setelah menceritakan kesdiahnnya kepada Arjuna, Basudewa mangkat. Sesuai dengan amanat yg diberikan kepa&ya, Arjuna mengajak para wanita & beberapa kesatria untuk mengungsi ke Kurukshetra. Sebab menurut pesan terakhir dari Sri Kresna, kota Dwaraka akan disapu oleh gelombang samudra, tujuh hari setelah ia wafat.

    Dalam perjalanan menuju Kurukshetra, rombongan Arjuna diha&g oleh sekawanan perampok. Anehnya, kekuatan Arjuna seoleh-oleh lenyap ketika berhadapan dengan perampok tersebut. Ia sadar bahwa takdir kemusnahan se&g bergerak. Akhirnya beberapa orang berhasil diselamatkan namun banyak harta & wanita yg hilang. Di Kurukshetra, para Yadawa dipimpin oleh Bajra.

    Setelah menyesali peristiwa yg menimpa dirinya, Arjuna menemui kakeknya, yaitu Resi Byasa. Atas nasihat beliau, para Pandawa serta Dropadi memutuskan untuk melakukan perjelanan suci untuk meninggalkan kehidupan duniawi.

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Penemuan Dwaraka – Kota Sang Krishna yang Tenggelam diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page