Qlapa, marketplace khusus produk kerajinan tangan

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Nov 19, 2015.

Discuss Qlapa, marketplace khusus produk kerajinan tangan in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,760
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Berdasarkan data Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif, nilai ekspor subsektor kerajinan berbasis aktivitas perusahaan Indonesia mencapai Rp21 miliar pada tahun 2013. Selain itu, nilai konsumsi rumah tangga subsektor mencapai Rp145 miliar pada tahun yg sama.

    Animo masyarakat Indonesia terhadap kerajinan lokal bisa dibilang cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari jumlah peserta, target pengunjung, & omzet pameran produk kerajinan tangan terbesar di Indonesia, Inacraft. Berdasarkan data yg dilansir dari Tempo, pada tahun 2015, Inacraft berhasil menarik lebih dari 1.450 peserta, dengan target pengunjung mencapai 200.000, & target omzet transaksi penjualan untuk ritel sebesar Rp127 miliar.

    Kondisi pasar tersebut telah menarik minat Benny Fajarai & Fransiskus Xaverius (Frans) untuk mendirikan Qlapa, situs marketplace khusus untuk produk kerajinan tanganbuatan lokal yg resmi diluncurkan pada 1 November lalu.

    Melalui situs tersebut, pembeli dapat membeli produk-produk kerajinan langsung dari pembuat yg berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Hingga saat ini, Qlapa mengklaim telah memiliki ribuan produk kerajinan tangan yg berasal dari ratusan perajin lokal.

    Sedangkan bagi para perajin (penjual), selain bisa menjual produk-produk kerajinan tangan yg sudah jadi, mereka juga bisa menerima pesanan custom dari pembeli. Sehingga para penjual memiliki varian produk yg tidak terbatas, & para pembeli bisa memesan produk-produk yg lebih unik & sesuai dengan keinginan mereka.

    Demi keamanan transaksi antara penjual & pembeli, Qlapa menerapkan sistem escrow / rekening bersama. Jadi pembeli yg tertarik dengan sebuah produk akan melakukan transfer terlebih dahulu ke rekening Qlapa. Kemudian setelah produk diterima barulah sang penjual menerima pembayaran yg telah dikirim pembeli sebelumnya ke rekening Qlapa. Untuk memanjakan pengguna, Qlapa juga dilengkapi fitur penghitung ongkos kirim.
    Solusi bagi perajin
    Tidak hanya mengikuti peluang & tren, alasan lain mengapa Benny mendirikan Qlapa adalah untuk memecahkan masalah yg sering dihadapi oleh para perajin.

    Pertama adalah untuk meningkatkan kepedulian terhadap perajin lokal. Para perajin biasanya mengadakan pameran & bazar demi meningkatkan kepedulian (brand awareness) produk mereka & juga sekaligus sebagai sarana untuk meningkatkan penjualan. Akan tetapi kegiatan tersebut memerlukan biaya yg besar & hanya dilakukan sesekali. Belum lagi faktor keterbatasan waktu & lokasi.

    Kedua, adalah pemanfaatan media sosial yg tidak sesuai, kerana media sosial memang tidak didesain khusus sebagai tempat untuk berjualan produk-produk kerajinan tangan. Begitu juga dengan situs-situs marketplace. Para perajin sekala kecil mau tidak mau harus bisa bersaing dengan penjual produk-produk lain yg telah diproduksi secara massal.

    Masalah itulah yg membulatkan tekad Benny & Frans untuk mendirikan Qlapa guna membantu perajin lokal di Indonesia berjualan bersama di satu tempat yg sesuai dengan kebutuhan mereka.

    Baca juga: 5 startup yg mempromosikan industri kreatif di Indonesia
    Latar belakang industri kreatif & teknologi yg kuat[​IMG]Tim Qlapa

    Seperti yg telah dijelaskan sebelumnya, Qlapa didirikan oleh Benny & Frans. Masing-masing memiliki latar belakang dari industri kreatif & teknologi yg kuat. Benny sendiri telah terjun di industri kreatif Indonesia sejak tahun 2010.

    Saat itu, saya punya mimpi yg sederhana, yaitu dapat memperkenalkan & memberdayakan kreativitas lokal melalui internet, ungkap Benny melalui press release yg diterima Tech in Asia. Hal itulah yg telah menginspirasi Benny untuk mendirikan Kreavi, media sosial & marketplace industri kreatif dua tahun kemudian.

    Sementara itu, Frans adalah seorang engineer asal Silicon Valley, Amerika Serikat yg telah bekerja di sejumlah perusahaan teknologi selama kurang lebih 5 tahun. Sebelumnya, ia sempat bekerja di beberapa perusahaan teknologi seperti Google, Blackberry, Zynga, Castlight, & Homejoy.

    Benny & Frans bertemu di awal 2014, & semenjak itu keduanya sering berdiskusi & berbagi pikiran. Hingga pada awal tahun 2015, Frans memutuskan untuk pulang kembali ke Indonesia & terlibat di Qlapa sebagai CTO.

    Tinggal & bekerja di Silicon Valley memang jauh lebih baik. Sebagai engineer, kompensasi & peluang karier memang sangat besar di Amerika Serikat. Namun, saya bisa melihat bahwa Indonesia berkembang dengan sangat pesat. Ada banyak masalah yg dapat diselesaikan & ada banyak peluang yg dapat dikembangkan dengan teknologi, ungkap Frans menjelaskan alasannya kembali ke Indonesia.

    (Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page