Liga Inggris Rapor & Persiapan Liverpool Menghadapi Liga Primer Inggris 2015/16

Discussion in 'Bola' started by Bola, Aug 6, 2015.

Discuss Rapor & Persiapan Liverpool Menghadapi Liga Primer Inggris 2015/16 in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,261
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Suasana latihan skuat Liverpool di Melwood pekan ini menyiratkan sedikit déjà vu. Satu sosok sentral telah hilang, banyak wajah baru, situasi latihan yang lengang, serta optimisme berlebihan di media. Apa yang dilakukan dan terjadi di Liverpool memiliki banyak kesamaan dengan kondisi klub musim lalu. Ingat-ingat saja suasana latihan pasca peninggalan Luis Suarez dan wajah-wajah anyar yang menyinarkan aura positif jelang musim baru. Persis, bukan?

    Namun justru di saat seperti inilah Liverpool harus waspada. Di tengah optimisme tersebut, skuat Brendan Rodgers justru kerap kali jatuh. Coba Anda putar kembali memori tentang apa yang terjadi setelah optimisme pramusim itu meluap-luap. Yap, Liverpool memang tampil gemilang, sayang, hanya bertahan hingga pekan-pekan awal.

    Semua berubah setelah iregularitas – cedera Daniel Sturridge – menyerang, mereka baru tahu apa yang kurang, tapi semua sudah terlambat. Akhir cerita, Liverpool terjerembap ke peringkat enam Liga Primer. Mereka tidak mendapatkan tiket Liga Champions, bahkan dipermalukan oleh tim medioker di dua laga terakhir yang seharusnya sakral bagi kepergian Steven Gerrard.

    Well, déjà vu yang terlihat di pramusim ini sebenarnya tak seburuk itu. Di lain sisi, ia bisa dipandang secara berbeda jika Brendan Rodgers mau menyadarinya: déjà vu ini berpotensi menjadi batu kecil untuk menaklukkan para Goliath di Liga Primer. Kira-kira mampukah Rodgers memanfaatkan déjà vu tersebut?

    Rapor Pramusim​
    [​IMG]
    Mari kita mulai dari rapor pramusim Liverpool. Seperti telah diketahui, The Reds mencatatkan hasil positif jelang musim 2015/16. Mereka berkunjung ke Thailand dan mencatatkan kemenangan meyakinkan 4-0. Tidak ada nilai kurang dalam penampilan mereka karena level lawan berada jauh di bawah mereka. Hal yang sama terlihat pula dalam kemenangan Liverpool atas Brisbane Roar dan Adelaide United.

    [​IMG]HASIL PRAMUSIM LIVERPOOL​
    4-0​
    Thailand All-Stars​
    1-0​
    Brisbane Roar​
    2-1​
    Adelaide United​
    1-1​
    Malaysia All-Stars​
    2-0​
    HJK Helsinki​
    2-1​
    Swindon Town​

    Namun setelah putar balik ke Malaysia, Liverpool kembali menampakkan penyakit rutinnya, yakni inefektivitas di depan gawang. Mereka ditahan imbang 1-1 oleh Malaysia walau mendominasi pertandingan secara total. Divock Origi, Joe Gomez, dan Jordon Ibe masih terlihat canggung dalam pertandingan tersebut.

    Kambuhnya penyakit itu mungkin sedikit memberikan dorongan bagi Rodgers untuk mengamankan Christian Benteke dari Aston Villa. Tak lama setelah hasil buruk tersebut, sang manajer memang banting tulang dan uang untuk mendatangkan sang penyerang Belgia. Maklum, ia tak ingin kesalahan yang sama terjadi di musim depan. Hasil positif pun kembali terilhat setelah kedatangannya, dua kemenangan beruntun kontra HJK Helsinki dan Swindon Town jadi buahnya.

    Sayang, Liverpool tetap tidak boleh santai-santai. Rodgers tentu sudah menyadari kalau laga pramusim adalah palsu – seperti kata Jose Mourinho. Bisa dibilang, satu-satunya keuntungan laga pramusim adalah mengembalikan kebugaran, sementara penyesuaian taktik hanya sekadar bonus lainnya. Ya, Rodgers tentu sudah sadar, betapa Liverpool begitu digdaya di pramusim 2014/15, tapi keok pada akhirnya. Gejala ini sudah jelas, déjà vu, dan Rodgers mungkin [atau harus] sudah menemukan tindakan pencegahannya.

    Aktivitas Transfer​
    [​IMG]
    Déjà vu selanjutnya ialah aktivitas transfer Liverpool. Layaknya musim lalu, mereka kehilangan pemain inti, bahkan mungkin sedikit lebih parah. Musim lalu mereka "hanya” kehilangan Suarez, sementara tahun ini mereka harus rela melepas Steven Gerrard dan Raheem Sterling. Gerrard tentu bakal memberikan pengaruh besar di luar lapangan, sementara Sterling lebih kepada penampilan di atas lapangan.

    Tetapi Rodgers langsung bereaksi dengan memboyong pemain berpengalaman dalam diri James Milner. Gelandang veteran Inggris itu diharapkan mampu mengangkat moral skuat The Reds dan setidaknya membantu menutup lubang yang tercipta pasca kepergian Gerrard. Mentalitas juara yang, katanya, dimiliki oleh Milner pun bisa menjadi nilai tambah lainnya.

    Di lini depan, Rodgers berhasil memboyong Benteke dan Danny Ings. Divock Origi yang menyelesaikan masa pinjamannya di Lille juga menjadi opsi tambahan untuk daya gedor The Reds. Walau masih disangsikan, setidaknya Rodgers yakin kedatangan penyerang-penyerang tersebut bakal membenahi efektivitas timnya di musim depan.

    Tak lupa, hobi Rodgers mendatangkan pemain muda juga tak terlewatkan. Sang manajer, serasa belum kapok, mendatangkan pemain-pemain yang belum teruji sepenuhnya. Roberto Firmino, walau sudah diakui oleh Brasil dan Hoffenheim, masih belum menampilkan konsistensi. Joe Gomez jelas masih jauh dari kualitas tim inti. Hanya Nathaniel Clyne yang kiranya sudah teruji dan bisa dipastikan jadi upgrade dari Glen Johnson.

    Kualitas Tim​
    [​IMG]
    *Statistik Liverpool di Liga Primer Inggris 2014/15​

    Kedatangan pemain-pemain anyar tersebut jelas bakal membuat lini belakang lawan ketakutan, apalagi dengan kedatangan Benteke. Firmino punya fleksibilitas untuk bermain sebagai penyerang sayap atau No.9, yang pasti naluri golnya di kotak penalti bakal jadi nilai tambah. Adam Lallana dan Lazar Markovic pantas mendapat kepercayaan lebih musim depan, sementara posisi Philippe Coutinho sebagai playmaker utama tetap tak tergantikan.

    Kehadiran Jordon Ibe sebagai pengganti Sterling, ditambah kapten Jordan Henderson, Emre Can yang semakin matang dalam bertahan. Belum lagi jika Sturridge sudah pulih dari cedera, Liverpool sangat mungkin melakoni musim yang jauh lebih baik ketimbang musim lalu.

    Soal lini belakang, sebenarnya Liverpool tidak buruk-buruk amat. Mereka mencatatkan 14 clean sheet musim lalu dan ini merupakan catatan yang istimewa. Di lini belakang, kiranya Rodgers hanya perlu membenahi tingkat konsentrasi agar para pemain seperti Simon Mignolet, Dejan Lovren, dan Mamadou Sakho tidak gagal fokus dan melakukan blunder krusial.

    Secara kualitas pemain, Liverpool bukanlah tim kacangan. Walau para pemainnya masih belum terbukti, mereka punya bakat dan potensi yang besar. Masalah yang harus dibenahi oleh Rodgers sebenarnya lebih mendasar dan krusial, yakni masalah mental.

    Liverpool tidak punya cukup percaya diri. Ketika mereka kalah dalam satu laga, kekalahan lainnya akan menyusul. Musim lalu misalnya, sebelum kalah 2-1 dari Manchester United di Merseyside, mereka mencatatkan 13 penampilan tanpa kalah, memenangkan 10 di antaranya. Setelah kekalahan tersebut, mereka hanya menang dua kali dari sembilan laga.

    Mereka tidak punya pemimpin dan ini berakibat pada mental juara yang menipis. Ketika laskar Rodgers kebobolan, para pemain akan menunjukkan sikap aslinya. Bukannya mengambil risiko, mereka malah bermain aman setelah tertinggal. Masalah ini tersebar merata dari lini belakang hingga depan. Kehadiran Milner pun diharapkan bisa membantu mengatasi masalah krusial ini, walau sebenarnya The Reds butuh lebih dari sekadar Milner.

    Singkat kata, Liverpool saat ini merupakan skuat berkualitas tanpa mental juara – gejala yang sudah terlihat sejak kepergian Xabi Alonso dan Javier Mascherano.



    Analisis & Prediksi​
    [​IMG]
    Pakem formasi Rodgers masih belum terlihat. Sepanjang pramusim, sang manajer melakukan pergantian formasi secara konsisten. Dari formasi 4-3-3, 4-2-3-1, hingga 4-4-2 coba diterapkan olehnya. Mungkin Liverpool musim depan pun bakal seperti itu dan musim-musim sebelumnya, terus berganti formasi menyesuaikan lawan dan kondisi skuat. Hanya saja, tak selamanya magic Rodgers bakal berbuah manis.

    Ditambah dengan banyaknya pemain anyar, tugas Rodgers bakal semakin berat. Mereka pasti butuh waktu untuk mencairkan diri dengan skuat dan skema, sementara waktu Rodgers sendiri makin sempit. Seandainya sang manajer gagal moncer di paruh pertama awal musim, besar kemungkinan masa jabatannya di Anfield bakal dipangkas. Tekanan besar ini bisa menjadi pedang bermata dua, namun melihat mentalitas Liverpool, sepertinya hanya luka yang bakal tercipta.

    Adapun di tengah situasi tersebut, Rodgers tetap menyampaikan optimismenya. Ia sadar betapa buruknya musim lalu dan tidaklah mudah untuk berbenah dengan kepergian beberapa pemain inti. Tetapi sang manajer yakin dan berharap pada para pemain muda The Reds.

    "Dalam hal perubahan skuat, ada perubahan alami yang terjadi setiap musim ketika Anda kehilangan beberapa poemain, mereka harus digantikan. Rencananya adalah mencoba membangun tim yang padu untuk beberapa musim ke depan, tapi hal tersebut juga bergantung pada para pemain – kadang, jika ia tak banyak bermain, sang pemain merasakan kebutuhan untuk pindah. Ini menjadi awal dari pergerakan yang mendorong kepergian dan kedatangan pemain baru,” ungkap sang manajer dalam konferensi pers di Finlandia.

    "Ini adalah skuat yang lumayan muda; ada banyak pemain muda – beberapa di antaranya pemain istimewa – dan beberapa pemain senior. Semoga kami bisa tetap seimbang ke depannya,” tandas Rodgers.

    Mampukah Rodgers bertahan dari tekanan dan memanfaatkan déjà vu sebagai batu kecil untuk menaklukkan Goliath dalam diri Manchester United, Arsenal, Manchester City, dan Chelsea? Patut disimak, tapi kisah perebutan tiket Liga Champions tak pernah semanis legenda David yang menaklukkan Goliath.

    [​IMG]
    //

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, Rapor & Persiapan Liverpool Menghadapi Liga Primer Inggris 2015/16
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page