Liga Inggris Riwayat Antonio Conte Akan Pupus Pragmatisme Chelsea

Discussion in 'Bola' started by Bola, Apr 6, 2016.

Discuss Riwayat Antonio Conte Akan Pupus Pragmatisme Chelsea in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    42,662
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    "Mendatangkan pelatih bertipe sama dari Mourinho ke Conte tak masuk akal bagi saya. Bila para pemain tak mengeluarkan kemampuan terbaik saat diasuh Mourinho, Conte yang punya kesamaan tipe dengan Mourinho, Chelsea akan kembali terjatuh bila sesuatu tak berjalan baik," ungkap mantan bomber Chelsea, Chris Sutton, seperti dikutip BBC Radio 5 Live.

    Bagi Anda yang tak benar-benar mengenal sosok Antonio Conte, pasti sepakat dengan opini kritis Sutton. Lebih kejam, mungkin Anda menilai penunjukan sang juru taktik pada Senin (4/4) lalu, membuat masa depan Chelsea yang tampak keruh bakal semakin pekat.

    Sejatinya wajar saja, karena Conte memang seorang Italiano . Ia lahir, besar, berkarier sebagai pesepakbola, sejalan dengan karier kepelatihannya, hanya di satu negara, Italia! Ya, negara yang sepakbolanya dikenal dengan filosofi catenaccio. Suatu sistem taktik yang menjadikan pertahan sebagai Dewa, demi renggut kemenangan.

    Filosofi pragmatis itulah yang belakangan membudaya di Chelsea. Pemahaman taktik yang jelas bertolak belakang dengan gaya bermain Liga Primer Inggris ala kick 'n' rush . Para suporter dan sang pemilik, Roman Abramovich, sejatinya merasa tak puas tapi urung bisa protes karena gelontoran gelar sanggup dihadirkan lewat cara bermain macam itu. Namun ketika kini segalanya jadi runyam di luar bayangan, penunjukkan Conte pun dianggap sebagai kesalahan.

    Padahal kenyataannya, Conte merupakan pengecualian. Ia tak pernah suka diajak bertahan. Tujuan utamanya di lapangan entah ketika masih bermain atau kini menjadi pelatih adalah bermain atraktif untuk melahirkan gol. Tengok komentarnya baru-baru ini, yang merepresentasikan segalanya: "Saya lebih suka kebobolan lewat serangan balik!"

    [​IMG]

    [​IMG]

    [​IMG]

    Memutar waktu ke belakang, para Juventini tentu ingat bagaimana sosok gelandang tengah seperti Conte begitu berani maju hingga kotak penalti lawan demi mencetak gol. Selama 13 musim membela Juve, hanya dua musim yang dilewatkan sang mantan gelandang energik tanpa mencetak gol. Padahal tugas utamanya lebih menjorok ke lini pertahanan, sebagai pemutus aliran bola musuh.

    Usai gantung sepatu, hasratnya untuk meracik tim yang memainkan sepakbola atraktif penuh energi selayaknya dirinya bermain dahulu, mendapat pengarahan yang sangat bagus dari Luigi De Canio. Conte dijadikannya asisten pelatih, saat dahulu menukangi AC Siena di musim 2005/06.

    De Canio ini merupakan salah satu dari sedikit pelatih di Italia yang mengedepankan permainan ofensif. Anda bisa melihat bagaimana hasil racikannya saat Udinese menang 3-1 atas Napoli akhir pekan lalu.

    Proses belajar Conte terus berlanjut, saat dirinya dikontrak Arezzo untuk jadi pelatih, di kompetisi Serie B Italia pada musim 2006/07. Tak berjalan mulus, tapi pengalaman pahit di sana membuatnya raih reputasi apik ketika mengasuh Bari semusim kemudian. Di sinilah sosok berjuluk Iron Man itu kemudian bisa mengkampanyekan gaya sepakbolanya.

    SIMAK JUGA
    Transfer Terbaik & Terburuk Conte
    Conte Diminta Tahan Costa
    Ini Masalah Terbesar Conte Di Chelsea

    Alih-alih menerapkan formasi klasik 4-4-2, pada praktiknya Conte berani mengubahnya menjadi 4-2-4 yang sangat ofensif . Sosok winger energik, yakni Stefano Guberti dan Vitor Barreto, jadi andalannya saat itu. Bermain menyerang, bukan berarti taktik Conte melupakan pertahanan. Ia sengaja menempatkan winger penuh stamina, supaya sigap ketika diajak bertahan dan memberi tekanan. Permainan Bari saat itu jadi sangat rapat nan agresif, sehingga sulit ditembus.

    Diiringi trial and error , taktik brilian Conte pun menuai hasilnya di akhir musim 2008/09. Ia membawa Bari promosi sebagai juara Serie B, plus menjadikan Il Galletti sebagai tim tersubur juga paling sedikit kebobolan.

    "Tidak mudah menggambarkan gaya bermain yang diusung Conte. Ia tak mengedepankan penguasaan bola layaknya Pep Guardiola atau bertahan seperti Jose Mourinho. Ia memberi tekanan yang begitu tinggi pada lawannya, di mana para bek juga ikut berperan. Pendekatannya agresif, dengan memenangkan perebutan bola di setiap kesempatan, bermain umpan pendek diiringi pemainnya yang terus bergerak," ujar Augusto de Bartolo, pandit sepakbola senior Sky Sport Italia.

    Jalan nasib kemudian membawanya ke Atalanta dan AC Siena untuk mengarungi kerasnya Serie A Italia. Kiprahnya tak bisa dibilang istimewa, tapi jatuh-bangun yang dialami cukup untuk membuatnya matang ketika Juventus menariknya pulang di musim panas 2011.

    [​IMG]

    [​IMG]

    [​IMG]

    Di klub kesayangannya, Conte meraih segalanya. Ia mempersembahkan hat-trick Scudetto dan dua Piala Super Italia. Ia juga mengembalikan derajat Juve sebagai salah satu kekuatan elite di Eropa, lewat kiprah di Liga Champions. Namun harus dicatat bahwa sosok yang kini berusia 46 tahun itu tak melakukannya secara instan.

    Conte memulainya dari titik terendah, di mana ia datang saat Juve mengakhiri dua musim terakhirnya dengan duduk di peringkat tujuh Serie A. Komposisi pemainnya pun tak istimewa, karena klub saat itu memang tak dibekali kekuatan finansial seperti sekarang.

    Filosofi permainan pun dibentuk, I Bianconeri diubahnya menjadi tim yang sangat agresif. Mereka intens menekan lawan, begitu disiplin menjaga kerapatan posisi, dan bermain dengan sikap yang sangat ngotot.

    Keluar dari tiga pakem itu, Conte akan langsung menggeber anak asuhnya dengan teriakan memekik telinga. Revolusi taktiknya juga sangat brilian, di mana dirinya berhasil mempopulerkan kembali skema tiga bek, lewat formasi 3-5-2.

    Nuansa tersebut terus dipertahankannya hingga kini melatih timnas Italia. Perlahan Conte menyempurnakan transisi yang sudah dimulai Cesare Prandelli, untuk membuat Gli Azzurri lebih modern, dengan tak lagi 'gemar bertahan'.

    [​IMG]

    Segalanya terpapar jelas lewat perubahan gaya permainan La Nazionale , sepanjang babak kualifkasi dan uji coba. Terkini, saat hadapi Spanyol dan Jerman, secara mengejutkan Italia mau meladeninya dengan permainan terbuka, meski kualitas pemain akhirnya berbicara.

    "Conte adalah pelatih yang sangat bagus. Ketika saya menonton tim asuhannya bertanding, saya melihat bagaimana racikan taktiknya berbicara, bagaimana pendekatan yang dilakukannya. Ia membuat timnya menjadi homogen, tim yang begitu menyatu. Anda juga bisa melihat dari sikap para pemainnya di lapangan. Mereka sangat sedikit memberi lawan ruang, bersikap dengan cara bertahan yang berkelas, tapi secara mengejutkan mampu berimaji dalam membangun serangan. Saya pun suka dengan temperamennya di tepi lapangan," sanjung pelatih legendaris Jerman, Jupp Heynckes, seperti dikutip Bavarian Football .

    Kini dengan segala proses dan pembuktiannya, statistik pun menegaskan bagaimana Conte merupakan pelatih top yang punya selera. Ia memiliki rasio kemenangan, penguasaan bola, dan jumlah umpan yang mentereng, dengan tak lupa bermuara pada raihan trofi.

    Menilik identitas permainan Chelsea dalam beberapa musim terakhir yang diwujudkan dalam rasa frustrasi Sutton, maka riwayat Conte tentu punya kuasa memupus budaya pragmatisme yang ada.

    ANTONIO CONTE​

    [​IMG]

    Nama lengkap : Antonio Conte
    Posisi ketika aktif bermain : Gelandang tengah
    Posisi kini: Pelatih
    Tempat, tanggal lahir: Lecce, 31 Juli 1969​
    Koleksi Gelar

    Pemain:

    Juventus: 5 Scudetto, 1 Coppa Italia, 4 Piala Super Italia, 1 Liga Champions, 1 Piala Super Eropa, 1 Piala Interkontinetal

    Pelatih:

    Juventus: 3 Scudetto, 2 Piala Super Italia




    Karier pemain:
    1985-1991: Lecce
    1991-2004: Juventus

    Karier Pelatih Klub:

    2006-2007: Arezzo
    2007-2009: Bari
    2009-2010: Atalanta
    2010-2011: AC Siena
    2011-2014: Juventus
    2016-....: Chelsea

    Karier timnas:

    Pemain: 1994 - 2000
    Pelatih: 2014 - 2016





    71/ 1 gol
    369/ 38 gol



    27 partai
    67 partai
    14 partai
    44 partai
    134 partai



    21/ 2 gol
    18 partai

    Bagi pengguna news app Goal dapat menyimak cuplikan pertandingan Liga Primer Inggris, Serie A Italia, dan Ligue 1 Prancis di sini.

    [​IMG]

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, Riwayat Antonio Conte Akan Pupus Pragmatisme Chelsea
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page