Sejarah Kain Sarung

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Jul 4, 2016.

Discuss Sejarah Kain Sarung in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    16,120
    Likes Received:
    51
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]Sarung sudah lekat dengan ciri khas masyarakat muslim di Indonesia. Walau sesungguhnya pemakain sarung tak menunjuk pada identitas agama tertentu. Karena sarung juga digunakan oleh berbagai kalangan di berbagai suku yg ada.

    Dalam pengertian busana internasional, sarung (sarong) berarti sepotong kain lebar yg pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh (pinggang ke bawah).

    Kain sarung dibuat dari bermacam-macam bahan: katun, poliester, / sutera. Penggunaan sarung sangat luas, untuk santai di rumah hingga pada penggunaan resmi seperti ibadah / upacara perkawinan. Pada umumnya penggunaan kain sarung pada acara resmi terkait sebagai pelengkap baju daerah tertentu.

    Menurut catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman. Di negeri itu sarung biasa disebut futah. Sarung juga dikenal dengan nama izaar, wazaar / ma’awis.Masyarakat di negara Oman menyebut sarung dengan nama wizaar. Orang Arab Saudi mengenalnya dengan nama izaar.

    Penggunaan sarung telah meluas, tak hanya di Semenanjung Arab, namun juga mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika & Eropa. Sarung pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke 14, dibawa oleh para saudagar Arab & Gujarat. Dalam perkembangan berikutnya, sarung di Indonesia identik dengan kebudayaan Islam.

    Tekstil merupakan industri pelopor di era Islam, ungkap Ahmad Y al-Hassan & Donald R Hill dalam bukunya bertajuk Islamic Technology: An Illustrated History seperti dilansir apakabardunia.com. Pada era itu, standar tekstil masyarakat Muslim di Semenajung Arab sangat tinggi. Tak heran, jika industri tekstil di era Islam memiliki pengaruh yg sangat besar terhadap Barat.

    Dalam Ensiklopedia Britanica, disebutkan, sarung telah menjadi pakaian tradisonal masyarakat Yaman. Sarung diyakini telah diproduksi & digunakan masyarakat tradisional Yaman sejak zaman dulu. Hingga kini, tradisi itu masih tetap melekat kuat. Bahkan, hingga saat ini, futah / sarung Yaman menjadi salah satu oleh-oleh khas tradisional dari Yaman.

    Orang-orang yg berkunjung ke Yaman biasanya tidak lupa membeli sarung sebagai buah tangan bagi para kerabatnya. Sarung awalnya digunakan suku badui yg tinggal di Yaman. Sarung dari Yaman itu berasal dari kain putih yg dicelupkan ke dalam neel yaitu bahan pewarna yg berwarna hitam. Sarung Yaman terdiri dari beberapa variasi, diantaranya model assafi, al-kada, & annaqshah.

    Sebenarnya di dunia Arab, sarung bukanlah pakaian yg diidentikkan untuk melakukan ibadah seperti sholat. Bahkan di Mesir sarung dianggap tidak pantas dipakai ke masjid maupun untuk keperluan menghadiri acara-acara formal & penting lainnya. Di Mesir, sarung berfungsi sebagai baju tidur yg hanya dipakai saat di kamar tidur.

    Di Indonesia, sarung menjadi salah satu pakaian kehormatan & menunjukkan nilai kesopanan yg tinggi. Tak heran jika sebagian masyarakat Indonesia sering mengenakan sarung untuk sholat di masjid. Laki-laki mengenakan atasan baju koko & bawahan sarung untuk sholat, begitu pula wanita mengenakan atasan mukena & bawahan sarung untuk sholat.

    .u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665{padding:0px;margin:0;padding-top:1em!important;padding-bottom:1em!important;width:100%;display:block;font-weight:bold;background-color:#eaeaea;border:0!important;border-left:4px solid #c0392b!important;text-decoration:none}.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665:active,.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665:hover{opacity:1;transition:eek:pacity 250ms;webkit-transition:eek:pacity 250ms;text-decoration:none}.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665{transition:background-color 250ms;webkit-transition:background-color 250ms;opacity:1;transition:eek:pacity 250ms;webkit-transition:eek:pacity 250ms}.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665 .ctaText{font-weight:bold;color:inherit;text-decoration:none;font-size:16px}.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665 .postTitle{color:#141414;text-decoration:underline!important;font-size:16px}.u5b867b82f9f2edeb3dffb426de877665:hover .postTitle{text-decoration:underline!important}
    Baca Juga: 7 Negara yg Pernah Diserang Indonesia



    Identitas bangsa saat jaman perangPada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yg dibawa para penjajah.

    Para santri di zaman kolonial Belanda menggunakan sarung sebagai simbol perlawanan terhadap budaya Barat yg dibawa kaum penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yg paling konsisten menggunakan sarung di mana kaum nasionalis abangan telah hampir meninggalkan sarung.

    Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang Muslim Nusantara yakni KH Abdul Wahab Chasbullah, seorang tokoh sentral di Nahdhatul Ulama (NU).

    Suatu ketika, Abdul Wahab pernah diundang Presiden Soekarno. Protokol kepresidenan memintanya untuk berpakaian lengkap dengan jas & dasi. Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, ia datang menggunakan jas tetapi bawahannya sarung. Padahal biasanya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang.

    Sebagai seorang pejuang yg sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan penjajah Belanda & Jepang, Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat & martabat bangsanya di hadapan para penjajah.



    Ciri khas sarung IndonesiaYang membedakan sarung Indonesia dengan sarung negara lain adalah sarung yg terbuat dari kain tenun, songket, & tapis. Masing-masing jenis bahan sarung tersebut berasal dari daerah yg berbeda di Indonesia.

    Bahan yg terbuat dari tenun, lebih dikenal berasal dari area Indonesia Timur seperti Nusa Tenggara Barat, Nusat Tenggara Timur, Sulawesi, & Bali. Sedangkan songket, sangat identik dengan ciri khas adat Minangkabau & Palembang. Sementara tapis, kita mengenal bahan ini berasal dari Lampung.

    Sarung tradisional tidak bermotif kotak-kotak. Sarung yg terbuat dari tenun, diciptakan paling sederhana. Cenderung lebih bermain warna, dibanding motif yg ‘ramai’. Sedangkan tapis & songket, sekilas akan terlihat sama.

    Hanya, motif tapis memiliki unsur alam, seperti flora & fauna. Sedangkan motif songket, terlihat lebih meriah dengan motif yg mengisi seluruh isi bahan. Ada kesamaan diantara tapis & songket, yaitu keduanya terbuat dari benang emas & perak.



    Mengapa motif sarung kotak-kotak?Nilai filosofis motif sarung kotak-kotak mengartikan, setiap melangkah baik ke kanan, kiri, atas ataupun bawah, akan ada konsekuensinya. Lihat gradasi bermotif papan catur seperti sarung bali. Saat kita berada di titik putih, melangkah ke manapun, perbedaan menghadang. Sedangkan cara amannya adalah melangkah secara gontai ke arah diagonal. Dampaknya, bukannya maju ke depan malahan menjauhi target. Jadi orang yg berani menghadang cobaan adalah orang yg akan cepat menuai harapannya.

    Republished by Blog Post Promoter

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Sejarah Kain Sarung diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. Sejarah Kain Sarung.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page