Liga Italia Simbiosis Mutualisme Internazionale & Frank De Boer

Discussion in 'Bola' started by Bola, Aug 11, 2016.

Discuss Simbiosis Mutualisme Internazionale & Frank De Boer in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    42,662
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Seandainya Internazionale menunjuk Frank De Boer dua tahun yang lalu, nuansa optimisme mungkin akan terasa kental di Appiano Gentile.

    Bayangkan, kala itu De Boer baru saja menjadi pelatih pertama yang menjuarai Eredivisie Belanda dalam empat musim secara beruntun bersama Ajax Amsterdam. Kenyataannya, De Boer telah merengkuh sembilan titel liga – jika ditambah dengan koleksi gelarnya sebagai pemain. Bahkan ikon sepakbola Belanda, mendiang Johan Cruyff, tidak pernah memenangi Eredivisie sebanyak itu.

    Ya, publik Belanda memandang De Boer sebagai pelatih muda berbakat, layaknya Pep Guardiola di Spanyol atau Antonio Conte di Italia. Beberapa klub top seperti Liverpool dan Tottenham Hotspur dikabarkan sempat mendekati eks bek dengan caps terbanyak di timnas Belanda ini, namun ia tolak dengan halus.

    SIMAK JUGA
    Mauro Icardi Masuk Rencana Frank De Boer
    Kabar Terbaru Sepakbola Italia
    RESMI: Internazionale Tunjuk Frank De Boer

    Dua tahun ternyata lebih dari cukup untuk mengubah wajah seseorang. De Boer tiba-tiba kehilangan sentuhan magisnya dalam dua musim terakhir. Ini terjadi setelah rekan seangkatan De Boer, Phillip Cocu, berhasil merubuhkan dominasi Ajax lewat PSV Eindhoven besutannya. Mei lalu, De Boer memilih mengundurkan diri dan menyerahkan tampuk kepemimpinan Ajax kepada Peter Bosz.

    Ketika Inter mendepak Roberto Mancini dan diikuti dengan penunjukan De Boer pada Selasa (9/8) kemarin, praktis tidak ada gegap gempita. Nyaris sunyi seperti prestasi Inter dalam lima tahun terakhir ini yang tenggelam di bawah rival bebuyutannya, Juventus.

    De Boer tiba di Giuseppe Meazza dengan reruntuhan kejayaan yang dibawanya dari Ajax. Sementara Inter belum bisa lepas dari krisis identitas akibat jebloknya peringkat mereka di Serie A dan juga nirgelar sejak Coppa Italia 2011. Dengan demikian, situasi keduanya jelas: sama-sama terluka dan ingin bangkit. Lantas, apa langkah yang akan ditempuh De Boer di Inter?

    [​IMG]

    Hanya menyisakan kurang dari dua minggu jelang kick-off Serie A Italia 2016/17 jelas bukan waktu yang ideal untuk De Boer. Menukangi Inter juga merupakan pengalaman perdananya melatih di luar Belanda. Sebaliknya, De Boer juga merupakan pelatih Belanda pertama yang melatih Inter.

    Bukan cuma itu, De Boer bisa dikatakan buta dengan sepakbola Italia. Persinggungannya dengan Italia mungkin hanya terjadi dua kali: (1) ketika melawan timnas Italia dalam debut internasionalnya pada 1990 dan (2) ketika gagal mengeksesusi penalti krusial dalam babak adu tos-tosan melawan Gli Azzurri di semi-final Euro 2000.

    Semua hal di atas jelas bukan pertanda baik untuk pelatih berusia 46 tahun ini. Fans Inter barangkali masih melihat masa depan klubnya sebagai segumpalan awan mendung. Bagaimana pun, kombinasi De Boer dan Inter tidak melulu mengarah pada keraguan dan pesimisme.

    De Boer tetaplah pelatih muda yang layak diperhitungkan. Memonopoli sepakbola Belanda selama empat tahun tentu bukan prestasi yang sembarangan. Ketika menggantikan Martin Jol pada 2010, De Boer langsung menggiring Ajax meraih titel liga pertama dalam tujuh tahun terakhir.

    Gaya bermain De Boer dalam bulan madunya bersama Ajax disebut-sebut merupakan perpaduan antara filosofi sepakbola seksi Johan Cruyff dan pragmatisme Louis van Gaal. Atraktif sekaligus efektif. Salah satu peragaan taktik De Boer yang paling fenomenal adalah saat Ajax membungkam Barcelona 2-1 di fase grup Liga Champions 2013/14.

    [​IMG]

    [​IMG]

    De Godenzonen dan De Boer pada akhirnya memang kesulitan berbicara banyak di kompetisi Eropa. Musim lalu menjadi yang terburuk di mana Ajax gagal berlaga di Liga Champions lantaran disingkirkan Rapid Wina di babak play-off. Dan setelah turun kasta ke Liga Europa, mereka juga langsung tereliminasi di fase grup.

    Beruntung bagi De Boer, Inter memang tidak sedang mengincar kejayaan di kasta Eropa. Nerazzurri saat ini fokus untuk memperbaiki catatan mereka di kompetisi domestik. Musim lalu, Mancini seperti akan mengembalikan Inter ke trek yang benar. La Beneamata tancap gas di awal musim 2015/16 dan mampu memuncaki Serie A jelang pergantian tahun. Sayang, inkonsistensi di paruh kedua musim membuat Mauro Icardi dkk. lagi-lagi harus menepuk jidatnya sendiri.

    Pengakuisisian oleh investor Tiongkok Suning Holdings Group yang diikuti dengan dipecatnya Mancini memaksa Inter kembali harus membuka lembaran baru di musim panas ini. Tak ayal, kedatangan De Boer membuatnya menjadi wajah sampul dari era baru Inter.

    Dengan skuat peninggalan Mancini ditambah rekrutan baru berkualitas di musim panas ini seperti Ever Banega, Antonio Candreva, dan Ener Carkin, saudara kembar Ronald De Boer itu dipastikan bakal mendapat kemewahan yang tidak ia dapatkan di Ajax. Ia akan lebih leluasa untuk memainkan pakem 4-3-3 kegemarannya atau formasi 4-2-3-1 yang kerap diterapkan di musim terakhirnya di Amsterdam ArenA.

    [​IMG]

    "Saya yakin, saya masih bisa menerapkan filosofi saya untuk menyukseskan kampanye Inter di Serie A. Saya harus bisa memastikan tim ini percaya pada pendekatan taktik saya. Para pemain akan memenangi pertandingan, tetapi timlah yang akan memenangi kompetisi,” tutur De Boer dalam jumpa pers pertamanya sebagai bos Inter.

    De Boer juga telah mengumbar optimismenya untuk menjegal Juventus meraih Scudetto keenamnya secara beruntun. "Juventus semakin kuat, tapi target kami adalah untuk menjadi lebih dekat [dengan puncak klasemen] dari apa yang kami catat sebelumnya. Kami akan berusaha sekeras mungkin agar membuat perjalanan mereka [Juventus] menjadi lebih sulit,” katanya.

    Selama satu musim ke depan, De Boer akan mendapat tantangan dan tekanan yang jauh lebih berat ketimbang enam tahunnya bersama Ajax. Selain itu, dengan Liga Europa terbentang di musim depan, De Boer juga harus pandai-pandai meracik strategi agar target utamanya, yakni bersaing di Serie A, tidak lepas fokus.

    Dalam sudut pandang optimisme, hubungan De Boer dan Inter bisa diibaratkan sebagai simbiosis mutualisme. Keduanya sama-sama saling membutuhkan untuk memperbaiki citra mereka yang belakangan tercoreng. De Boer ingin menunjukkan diri sebagai pelatih potensial, sementara Inter juga berambisi mengembalikan statusnya sebagai salah satu tim papan atas Italia.

    Bukankah sebuah kebangkitan berasal dari kerja keras antarpihak yang sama-sama terpuruk?

    liga italia seri a b, liga italia era digital, liga italia tabla, liga italia terkini, liga italia tvri, liga italia klasemen, Simbiosis Mutualisme Internazionale & Frank De Boer
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page