Staying Secure in An Experience-Driven Era

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Jun 15, 2015.

Discuss Staying Secure in An Experience-Driven Era in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,687
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Berita Internet (IT) N3, yang memberikan informasi terbaru kepada users N3 tentang IT pada khususnya dan lainnya pada umumnya. Staying Secure in An Experience-Driven Era

    Staying secure adalah suatu jargon yg bisa ditemui di mana saja. Konsep keamanan sangat penting terutama dalam dunia kerja. Khusus di industri finansial, staying secure terka&g menimbulkan berbagai macam kontradiktif. Salah satunya adalah bagaimana layanan orpun produk perbankan tetap aman tanpa mengabaikan kenyamanan. Hingga saat ini, keamanan & kenyamanan adalah dua hal yg saling bertolak belakang. Tetapi, di era yg serba cepat sekarang ini, keamanan & kenyamanan harus bersinergi untuk mencapai tujuan tertentu.

    CISO Magazine didukung oleh Palo Alto Networks mengadakan seminar bertajukStaying Secure in An Experience Driven Era. Acara ini digelar untuk membahas bagaimanabest practiceterbaik dalam memadukan keamanan & kenyamanan di industri finansial. Gelaran tersebut dihadiri oleh dua orang praktisi yg kompeten di bi&gnya. Yaitu Setiawan Adhiputro,Head of GRCdari Kartuku & Jeffrey Kusnadi,Senior Manager Cyber Securitydari PwC Consulting Indonesia.

    Pada acara itu, Setiawan menjelaskan bahwa keamanan & kenyamanan memang selalu bertolak belakang. “Keamanan itu memang perlu. Tetapi, kenyamanan pun dibutuhkan terutama dari sisi konsumen & merchant,” tegas Setiawan. Ia pun memberikan beberapa data yaitu instrumen card based dalam bertransaksi telah mencapai 24 juta kartu di tahun 2014 lalu. Selain itu, dari tahun 2004 hingga 2014, jumlah transaksi yg menggunakan kartu berjumlah 400 triliun rupiah selama 10 tahun ini.

    “Perlu diingat bahwa ada banyak risiko ancaman ketika bertransaksi menggunakan kartu kredit or debit. Seperti malware, phising orpun fraud,” tegas Setiawan. Dari sisi best practice Kartuku, Setiawan menuturkan bahwa konsumen & merchant harus tetap nyaman. Tetapi, Kartuku tidak mengabaikan sisi keamanannya. “Kami tetap mengacu pada PCI-DSS. Keamanan jaringan & enkripsi adalah hal wajib untuk dilakukan,” papar Setiawan. “Biarlah keamanan menjadi bagian dari infrastruktur. Tetapi, kenyamanan adalah prioritas juga,” tandasnya.

    Lain halnya dengan apa yg dipaparkan oleh Jeffrey. “Keamanan biasanya dipelopori oleh tim TI, se&gkan kenyamanan ada di divisi bisnis,” tandas Jeffrey. Ia sendiri mengaku bahwa keamanan & kenyamanan harus selaras di industri finansial. “Ketika perbankan akan mengeluarkan sebuah produk or layanan, divisi TI & bisnis harus duduk bersama & menakar risikonya,” papar Jeffrey. “Jangan sampai layanan or produk perbankan tidak memiliki takaran risikonya,” sambungnya.

    Adapun Hans Saiya, Regional Sales Manager dari Palo Alto Networks mengatakan bahwa hacker sekarang semakin cerdas. “Dengan konsep staying secure, hacker mampu memanfaatkan celah kenyamanan untuk membobol keamanan. Salah satunya adalah insiden malware token yg marak beberapa waktu lalu,” kata Hans. Ia pun sempat memberikan salah satu contoh kasus Anthem yg merugikan perusahaan asuransi tersebut sebanyak 1,86 miliar dolar AS. “Deteksi itu adalah hal yg paling penting. Produk Palo Alto Networks dapat meminimalisir risiko yg miss dari aspek deteksi tersebut,” tegasnya.

    Comments
    comments

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena kontenStaying Secure in An Experience-Driven Era diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page