Liga Inggris Terpuruk Di Liga Champions, Pertanda Kilau Liga Primer Inggris Mulai Meredup?

Discussion in 'Bola' started by Bola, Dec 9, 2015.

Discuss Terpuruk Di Liga Champions, Pertanda Kilau Liga Primer Inggris Mulai Meredup? in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    42,662
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Pepatah klasik bertutur bahwa kehidupan bagaikan roda yang berputar. Ada masanya kita berjaya di atas, ada pula periode buruk kala kita tersungkur di bawah. Ungkapan tersebut sungguh mengena di berbagai sendi kehidupan, tak terkecuali pada olahraga terpopuler dunia, sepakbola.

    Olahraga yang 'katanya' ditemukan di Tiongkok ini selalu punya acuan atau titik referensi sejak pertama kali diolah secara terstruktur di Inggris. Eropa adalah titik referensi itu, manakala seluruh dunia menjadikan mereka kiblat ketika bersinggungan soal sepakbola. Mulai dari sistematis kompetisi, hal-hal berbau teknis permainan, sampai bahasan ringan soal tim atau pemain favorit.

    Dan bila dilihat dari kacamata yang lebih kecil lagi, maka terdapat perputaran roda yang cukup kencang pada era sebuah liga di Eropa. Sejarah mengungkap bila tanda dimulainya putaran roda kejayaan dan keterpurukan sebuah liga di Eropa ditentukan oleh prestasi para wakilnya di kompetisi paling prestis antarklub Benua Biru, yakni Piala/Liga Champions.

    Diawali La Liga Spanyol di era 60-an, Eredivisie Belanda di era 70-an, Bundesliga Jerman di era 80-an, Serie A Italia di era 90-an, hingga kini di era globalisasi yang kita semua tahu jadi kuasa Liga Primer Inggris.

    [​IMG]

    Mari kita sepakati bahwa dimulainya era emas Liga Primer Inggris jatuh pada musim 2003/04. Kedatangan Roman Abramovich yang mengakuisisi Chelsea jadi tonggaknya. Berkat kekuatan uang tak terbatas sang taipan minyak Rusia, para bintang sepakbola dunia berdatangan dan EPL secara tegas jadi pusat perhatian khalayak sepakbola dunia, menggeser kedigdayaan Serie A Italia.

    Tak lupa, di musim tersebut EPL menandai dinastinya dengan mengirim Chelsea sebagai tim pertama Inggris yang sanggup menembus empat besar Liga Champions dalam kurun dua dekade sebelumnya, selain Manchester United.

    Sejak saat itu EPL semakin merajalela, para investor serupa Abramovich berdatangan yang diiringi persebaran pemain bintang yang merata di klub-klub EPL. Kompetisi otomatis meningkat kualitasnya, semakin kompetitif dan ketat, serta membuat para penikmatnya bertambah signifikan.

    Dampaknya meluas pada prestasi di Eropa, terutama di Liga Champions. Sejak musim 2003/04 yang jadi titik mula hingga sepuluh musim berselang, tim-tim Inggris hanya dua kali gagal masuk babak semi-final. Mereka tujuh kali masuk final dengan tiga diantaranya sukses jadi kampiun.

    Koefisien EPL terus melambung dengan selalu masuk dua besar sejak musim 2006/07 hingga musim 2014/15. Bahkan dari musim 2007/08 hingga 2011/12, EPL jadi pemuncaknya.

    KLASEMEN KOEFISIEN UEFA*​
    NEGARA2011/122012/132013/142014/15 2015/16TOTAL
    1Spanyol20.85717.71422.57120.214 10,07191,856
    2Jerman15.25016.42816.78515.857 8,85772,606
    3INGGRIS15.25017.92814.71413.571 7,62569.659
    4ITALIA11.35714.41614.16619.000 7,66666.605
    5Portugal11.83311.7509.7509.083 7,16649.748
    6Prancis10.50011.7508.50010.916 7,41649,082
    7Rusia9.7509.75010.4169.6669,300 48.882​

    (*): Update terakhir UEFA pada 1 Desember 2015​

    Namun roda nasib kini perlahan memutar EPL keluar dari dari permukaan menuju ke dasar. Kompetisi domestik mereka memang masih jadi yang terpopuler, para pemain bintang kelas satu juga masih bercokol di sana. Tapi tidak dengan kisah manis mereka di kompetisi Eropa, Liga Champions terutama.

    Dalam tiga musim ke belakang, EPL hanya memiliki dua wakil di babak perempat-final Liga Champions dan cuma punya satu semi-finalis. Bahkan di musim 2013/14 tak satupun wakil Inggris yang sanggup lolos dari babak 16 besar. Dampaknya posisi runner-up di koefisien UEFA yang dalam tiga musim terakhir diduduki EPL, kini jadi milik Bundesliga Jerman.

    Puncaknya bisa jadi hadir di gelaran musim 2015/16 ini. Dengan diwakilkan delapan tim sekaligus di kancah Eropa (seharusnya tujuh, ditambah West Ham United yang mendapat tiket ke Liga Europa berkat predikat tim fair play), EPL menunjukkan performa yang jauh dari ekspektasi.

    West Ham dan Southampton mengawali kiprah buruk dengan secara mengenaskan tak lolos babak kualifikasi Liga Europa. Kini jelang matchday pamungkas Liga Champions, hanya Manchester City saja yang baru memastikan tiket ke babak 16 besar. Wakil lainnya, Manchester United, Chelsea, dan Arsenal, malah punya potensi yang cukup besar terhenti langkahnya di babak fase grup.

    EPL yang kini di posisi tiga koefisien UEFA bisa kembali tergusur, seiring kebangkitan Serie A yang berada di peringkat empat. Kedua liga hanya dipisahkan jarak 3,059 poin saja di klasemen. Dan bila akhirnya EPL ditelikung Serie A di akhir musim ini, maka sesuai aturan bahwa mulai musim 2017/18 Negeri Ratu Elizabeth hanya bisa mengirimkan tiga wakil saja di Liga Champions.

    [​IMG]
    Mari kita telaah situasinya dari Grup B yang ditempati oleh Manchester United. Tim asuhan Louis Van Gaal diwajibkan menang di kandang pemuncak grup, VfL Wolfsburg, untuk lolos ke perdelapan-final. Karena jika hanya meraih hasil seri, maka PSV Eindhoven yang menjamu juru kunci, CSKA Moskwa, juga hanya butuh hasil imbang untuk menelikung United lantaran unggul head to head.

    Beralih ke Grup F, di mana Arsenal punya kewajiban menang lebih dari satu gol saat bermain di kandang Olympiakos. Kekalahan kandang 3-2 dari sang juara Yunani di pertemuan pertama, membuat segalanya kini sulit bagi Mesut Ozil cs. The Gunners berpotensi besar tak lolos dari fase grup untuk kali pertama sejak musim 1998/99.

    Terakhir di Grup G, meski jadi pemuncak grup bukan berarti Chelsea bisa nyaman melalui matchday pamungkas untuk memastikan tiket ke babak 16 besar. Lawan The Blues adalah FC Porto yang pada pertemuan pertama sukses menundukkan mereka. Poristas Dragoes punya kewajiban menang di Stamford Bridge, karena Dynamo Kiev yang memenangi head to head dengan mereka hanya akan menghadapi Maccabi Tel Aviv, yang belum mendulang sebiji poin pun.

    Tim asuhan Jose Mourinho sendiri sejatinya hanya butuh hasil seri untuk lolos. Namun, di tengah kondisi Chelsea yang begitu buruk musim ini, hasil imbang melawan Porto pun terasa begitu menyulitkan.

    Parahnya, Manchester City yang sudah memastikan kelolosan juga punya ketakutan lain, karena mereka kemungkinan hanya akan melenggang sebagai runner-up Grup D. Di babak gugur, The Citizens berpeluang besar bertemu tim-tim pembunuh sekelas Barcelona, Bayern Munich, atau Real Madrid, yang otomatis memperkecil peluang David Silva cs untuk sampai ke delapan besar.

    Sungguh sebuah situasi yang tak strategis bukan?

    SIMAK JUGA
    Beratnya Kans Manchester United Ke 16 Besar Liga Champions
    Mesut Ozil: Arsenal Butuh Gol Cepat Kontra Olympiakos
    Massimiliano Allegri: Juventus Harus Juara Grup!

    Kondisi tersebut tak pelak membuat para aktor utama di EPL mencak-mencak, salah satunya adalah pelatih paling senior di liga tersebut, yakni Arsene Wenger. Ia menuding tim-tim Inggris di kancah Liga Europa adalah penyebab utama penurunan prestasi ini.

    "Bukan hanya tim di Liga Champions yang terlibat, tapi demikian juga tim Inggris peserta Liga Europa. Kami mengalami posisi ini karena kekalahan tim peserta Liga Europa yang tidak menjalani kompetisi tersebut dengan serius," kecam Wenger, seperti dikutip Daily Star.

    Seturut pernyataan Wenger, sejatinya terdapat dua faktor utama yang melatari keterpurukan EPL di Eropa. Pertama adalah jadwal super padat dan yang kedua adalah motivasi ekonomi. Okelah, faktor pertama bisa kita sangsikan keberadaannya karena toh jadwal padat itu juga dilakoni tim-tim Inggris selama dua dekade lebih, bahkan saat sanggup berjaya di Eropa.

    Namun motivasi ekonomi punya akar yang kuat, mengapa klub-klub EPL jadi tak terlalu serius mengejar prestasi Eropa. Para investor asing lebih tergiur keuntungan pasti yang disajikan kompetisi domestik ketimbang keuntungan tak menentu dari Eropa.

    Seperti dilansir deloitte, jika di Liga Champions tim Inggris yang jadi kampiun punya potensi meraup keuntungan mencapai €140 juta, maka di EPL mereka bahkan sudah bisa menerima €100 juta dengan jadi tim juru kunci klasemen! Jumlah itu bahkan melebihi Juventus sebagai tim paling untung di Liga Champions musim lalu, yang hanya mendapat €89,2 juta. Kita juga belum menghitung apresiasi Liga Europa, yang tak sampai setengahnya Liga Champions.

    Bagaimanapun, EPL mungkin masih bisa berjaya mengandalkan daya jual kompetisi domestiknya. Tapi siasat itu hanya akan mempercepat putaran roda ke arah keterpurukan, jika mereka tak lagi memperhatikan prestasi di Eropa. Ingat beberapa pihak kini sudah berani berontak dengan menyebut La Liga Spanyol yang dipersenjatai Barcelona dan Real Madrid, sebagai liga terbaik di dunia.

    Untuk perhitungan matematis lebih detail mengenai aturan koefisien UEFA, silahkan klik di sini.

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, Terpuruk Di Liga Champions, Pertanda Kilau Liga Primer Inggris Mulai Meredup?
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page