Tip Lengkap dari Dua Founder Kudo

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Sep 23, 2015.

Discuss Tip Lengkap dari Dua Founder Kudo in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,757
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Pada Selasa (22/9) lalu, Tech in Asia mengadakan sesi AMA (Ask Me Anything) dengan dua Founder Kudo, Albert Lucius & Agung Nugroho. Kudo adalah platform kios O2O (online to offline) yg memungkinkan konsumen membeli & membayar secara offline untuk produk online yg mereka inginkan.

    Sesi AMA ini digelar dengan durasi 8 jam, mulai pukul 14.00 WIB & berakhir pada pukul 22.00 WIB. Seperti biasa, banyak pertanyaan yg bermunculan. Dari pertanyaan seputar entrepreneurship, sampai bagaimana memilih antara perusahaan besar yg menjanjikan & merintis startup.

    Jawaban yg diberikan dua founder startup ini tentunya menyumbang banyak inspirasi, tip, & nasihat untuk kamu yg ingin mengembangkan startup / baru lulus kuliah & bingung menentukan langkah berikutnya. Kami sudah merangkum pertanyaan & jawaban terbaik yg ada dari sesi AMA kemarin. Penasaran? Simak selengkapnya di bawah ini.

    P. S. Jawaban di bawah diambil langsung dari komentar Albert Lucius & Agung Nugroho dengan sedikit perubahan mengikuti standar penulisan Tech in Asia. Tidak ada jawaban yg diubah maknanya.

    Apa yg menyebabkan kalian meninggalkan pekerjaan di Amerika Serikat yg menjanjikan, untuk pindah ke Indonesia? Terlebih lagi Albert dulu bekerja di Apple, & Agung adalah Senior Associate di Boston.

    Agung Nugroho: Kalau aku, pengin bikin impact yg cepat & menyeluruh melalui teknologi, di US aku lihat semua itu mungkin. Di Indonesia, kesempatan lebih banyak lagi, & aku mau mengambil kesempatan itu. Yang lebih penting lagi, kerja di Indonesia, untuk Indonesia, bersama dengan orang Indonesia itu oke banget!! [​IMG]

    Albert Lucius: Kami sederhananya mau membangun Indonesia yg lebih maju. Peluang potensi untuk mendirikan perusahaan yg akan bermanfaat untuk rakyat middle class Indonesia itu sangat besar. Dan kami berpikir, perusahaan besar itu mungkin saya dapat kembali ke depannya jika ada kesempatan. Akan tetapi, apa yg kami kerjakan di Kudo ini sifatnya lebih urgent, makanya dikerjakan sekarang.

    Bagaimana sih rasanya sewaktu bekerja di Apple? Boleh share tidak bagaimana bedanya kultur bekerja di AS terutama perusahaan ternama seperti Apple, dengan kultur bekerja di Indonesia pada umumnya?

    Albert Lucius: Boleh tentunya. Yang saya rasakan sekali ketika bekerja di US itu adalah spirit kerja yg bersifat kompetitif. Artinya rata-rata kami dapat merasakan bahwa mereka itu benar-benar memasang target yg tinggi sekali dibanding apa yg biasa saya rasakan di perusahaan asing yg ada di Indonesia.

    Khusus kultur di Apple ini memang sangat unik. Sebelumnya saya pernah bekerja juga di Goldman Sachs & Motorola di Amerika. Kalau Apple, itu sangat secretive, & extremely consumer oriented. Inilah yg menurut saya agak sedikit unik dibanding perusahaan lainnya.

    Apakah pengalaman bekerja di luar negeri berpengaruh terhadap pembentukan ide & eksekusi ketika menjalankan startup?

    Albert Lucius: Menurut aku sih bukan requirement pastinya. Tapi tentunya akan sangat bermanfaat untuk masukan ide & inspirasi. Dengan pengalaman global, kamu akan tahu pasti apa saja yg terjadi di negara lain. Misalnya untuk perusahaan kamu, kamu bisa melihat apa yg terjadi di negara lain seperti India & Cina yg secara teknologi mungkin beberapa tahun di depan Indonesia. Kebanyakan tren itu akan menjalar juga ke tanah air, tentunya hanya adaptasi yg perlu dilakukan untuk menyesuaikan ke kebutuhan Indonesia.

    Dari pengalaman kalian di perusahaan besar & kuliah di Berkeley, gimana sih cara startup di sana bisa develop produk yg keren & cepat? Apakah bisa diimplementasikan di Indonesia?

    Albert Lucius: Sebenarnya tidak masalah kuliahnya di mana, / past experience di mana. Rumusannya sangat sederhana, dream big and work as hard as you can to achieve it. Orang di luar negeri itu tidak lebih pintar dibanding orang Indonesia.

    Mungkin yg kurang adalah hanya mentalitas siap kerja & siap implementasikan sesuatu yg baru, tanpa hanya mengikuti apa yg sudah dibuat orang lain. Nah dengan mentalitas tersebut, saya yakin orang Indonesia pun mampu bersaing dengan yg lain.

    Halo, mau tanya nih, kalau di startup sistem penggajian untuk para founder bagaimana ya? Apakah gaji lebih besar dari pekerjaan sebelumnya?

    Albert Lucius: Masalah gaji ini benar-benar relatif dengan pengalaman kerja sebelumnya. Apakah mas datang dari eksekutif perusahaan besar, / masih awal di karier.

    Rata-rata startup itu awalnya gaji founder akan kecil sekali, mungkin lebih kecil dibanding gaji dari beberapa karyawan senior. Ini dikarenakan kita harus conserve cash perusahaan sehingga perusahaan bisa bertahan lebih lama untuk mencapai MVP ke customer.

    Boleh tanya soal perjanjian dengan pemberi dana? Apakah kita mendapat saham, / mereka semacam beli putus & akhirnya kita hanya menjadi pekerja dengan mendapat uang pendanaan itu sendiri? Saat ini aplikasi saya sudah ready walau mungkin belum sempurna & masih harus disempurnakan. Apakah penyempurnaan itu bisa dilakukan setelah pitching?

    Agung Nugroho: Kalau investor, biasanya mereka membeli saham (equity) dari company. Akan sangat susah kalau dalam bentuk hutang (debt), karena startup biasanya belum punya cashflow untuk menutupi pembayaran hutang secara berkala.

    Untuk aplikasi, tentunya langsung pitching, jangan tunggu lagi. As long as sudah bisa jalan, langsung jalankan, pasti ada penyempurnaan anyway. Ada konsep namanya MVP (minimum viable product); kalo sudah MVP, langsung dites dulu.

    Baca juga: 2 Lulusan Amerika Ini Kembali ke Indonesia untuk Menjembatani Dunia Online & Offline

    (Diedit oleh Lina Noviandari)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page