Video Games: The Movie Review

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Aug 14, 2014.

Discuss Video Games: The Movie Review in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    7,632
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    Ketika video game udah jadi sebagian dari jiwa kita, darah daging yg akhirnya berevolusi menjadi hasrat hidup yg sering kita kenal dengan "Passion", kita akan berusaha mencoba menggali & mengenali lebih dalam yg namanya video game. Begitu kita denger hal apapun yg berbau video game, pasti bakal kita samperin.

    Sama halnya seperti salah satu film dokumenter video game yg rilis bulan lalu, berjudul Video Games: The Movie. Setelah sukses menggalang &a dengan berkampanye di Kickstarter,
    Video Games: The Movie rilis secara resmi pada tanggal 18 Juli 2014 lalu. Buat yg bulan lalu udah ngebet pengen nonton, terutama buat kalian yg di Indonesia tentunya beruntung banget karena versi torrent film ini udah nongol 3 hari lebih awal sebelum dirilis secara resmi. Hahaha!

    So, segimana kerennya sih Video Games: The Movie buat kalian tonton, terutama buat yg katanya ngaku gamer? Gamexeon udah siapin reviewnya di paragraf berikutnya. ;)

    SEJARAH VIDEO GAME


    Dengan lagu "Don't Stop Me Now"-nya Queen, dikombinasi dengan potongan-potongan adegan video game mulai dari yg jadul sampe yg baru, Video Games: The Movie mengawalinya dengan epic sebelum kita nonton konten yg lebih epic lagi. Sejarah Video Game.

    Sebagai generasi gamer yg kritis, pastinya belum cukup rasanya kalo kita kenal video game sebatas ngerti, punya, & mainin gamenya doang. Kita perlu ngerti gimana proses awal mula terciptanya video game & siapa orang-orang yg berada di belakangnya? Evolusi apa aja yg udah dilewati video game hingga bisa berkembang sampe seperti sekarang ini?

    Dari salah satu cuplikan film, kelihatan lucu & nyenengin ketika tiap orang punya jawaban yg beragam ketika ditanya,"Siapa Bapak Video Game?"

    Ada yg jawab Nolan Bushnel (founder Atari), Ralph Baer (pencipta home-console pertama), Shigeru Miyamoto, bahkan sampe Hideo Kojima. Kita semua punya role-model yg kita kagumi dalam dunia video game. Haha! Siapapun orangnya bukan masalah. Yang terpenting adalah ucapan terima kasih buat mereka yg nyiptain & turut membantu ngembangin video game dengan segala "keajaibannya" yg jadi bagian dari masa kecil kita hingga seperti sekarang ini.

    VIDEO GAME ADALAH SENI, DAN SENI BERSIFAT SUBYEKTIF
    [​IMG]

    Yup, pendapat ini bener. Seni sifatnya subyektif. Ngga semua orang paham & bisa suka sama seni itu. Bahkan ada yg nganggep sebuah seni adalah "sampah". Sesuatu yg dianggep sebagai seni bagi sebagian orang, bisa jadi adalah "sampah" bagi orang lain. Vice versa.

    Sama halnya dengan video game. Awal-awal masa ketika banyak orang nganggep video game sebagai sebuah seni inilah yg justru bikin developer game saling berlomba-lomba untuk bisa memberikan pengalaman main game yg ngga terlupakan dengan limitasi kualitas grafis dari spesifikasi platform yg mereka gunakan.

    Kita udah pernah bahas di artikel Video Game Lebih dari Sekedar Grafis di Gamexeon sebelumnya.

    CLOUD GAMING, MASA DEPAN VIDEO GAME(?)
    [​IMG]

    Bahasan akan masa depan video game yg memasuki era cloud gaming juga sempet disinggung dalam film ini oleh David Perry (Co-founder Gaikai). Dengan manfaatin teknologi cloud-computing, main game seberat apapun dengan platform berspesifikasi apapun, selama pemrosesan data berjalan di cloud-server & gamer punya kecepatan akses internet yg mumpuni, ngegame kapanpun & dimanapun bukan masalah.

    JATUH BANGUN ERA VIDEO GAME
    [​IMG]

    Biarpun omzet yg dihasilkan industri video game udah melebihi pendapatan tahunan Hollywood sekalipun, bukan berarti keuntungan dalam berbisnis di industri ini sifatnya kekal. Para developer game & gaming platform terutama, bisa belajar dari kesalahan Atari yg mengalami kebangkrutan & berimbas di menurunnya minat masyarakat terhadap video game. Saat itulah Nintendo masuk ke pasar dengan memboyong Nintendo Entertainment System (NES) yg kita kenal semasa kecil. Kejelian Nintendo dalam membaca permintaan pasar berhasil sekali lagi bikin video game hidup di tengah-tengah kita sampe sekarang.

    VERDICT
    [​IMG]

    Video Games: The Movie ngga cuman nunjukin sebuah film dokumenter sebagai sebatas medium gamer untuk belajar sejarah video game. Ada beberapa segmen bahasan dalam film yg juga menyinggung sedikit-banyak info & fakta menarik tentang video game sebagai sebuah budaya.

    Ada satu kutipan kalimat menarik dari Wyeth Johnson (Art Director, Epic):

    "Even though I make them every day, even though I play broken games for years before they're perfect and we put them on a shelf, and, you know, there's so many issues that go along with that, I still have the capability of being transported back to that little kid wrapped in a blanket staying up way too late sitting in front of a tiny television, obsessed. And I really, really wanna give that to another eight-year-old kid and have him feel the same thing thirty years from now as well."

    Yup, kita akan mengalami masa disaat kita jadi orang tua. Orang tua yg memperkenalkan video game pada anak-anak mereka. Berbagi asiknya pengalaman bega&g semalam suntuk di akhir pekan, hanya untuk tenggelam dalam permainan video game di ruang keluarga rumah kita.

    [​IMG]

    Biarpun dari sisi konten sebenernya masih banyak hal yg belum dibahas secara lebih mendalam di film Video Games: The Movie, editingnya cukup bagus & pemilihan & eksekusi latar musiknya keren & cukup kena feel-nya. Singkat kata, Video Games: The Movie wajib ditonton terutama buat kalian yg ngaku seorang gamer. Tertarik dengan sejarah, budaya, perkembangan, & punya kecintaan or rasa nostalgia terhadap video game? Tonton Video Games: The Movie.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page