William Tokopedia Founders Story

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Dec 31, 2015.

Discuss William Tokopedia Founders Story in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,755
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Siapa yg tidak tahu Tokopedia? Salah satu pemain e-commerce besar di Indonesia dengan visinya Ciptakan Peluangmu. Saya bertemu dengan Co-Founder sekaligus CEO Tokopedia, William Tanuwijaya, di acara Binus Journalist Gathering beberapa waktu lalu. Lulusan Teknik Informatika Universitas Binus tahun 2003 ini, berbagi pengalamannya dalam membangun & mengembangkan Tokopedia.

    William yg lahir & besar di Pemantang Siantar, Sumatera Utara, menyebut dirinya sebagai entrepreneur by necessity / wirausaha karena kepepet. Ceritanya, ketika lulus SMA, orang tuanya ingin William memiliki kehidupan yg lebih baik. Dan untuk hal itu, mereka paham bahwa tiketnya adalah pedidikan yg baik.

    Ayah & paman William membelikan tiket kapal sekali jalan ke Jakarta sebagai jalan William melanjutkan pendidikan ke tingkat universitas. Namun ketika kuliah semester awal, ayahnya jatuh sakit & ia harus berusaha menghidupi diri sendiri tanpa bantuan keluarga. Saat itu, William mencoba bekerja menjadi penjaga warnet di sekitar Binus.

    Saya bekerja dari jam 9 malam sampai jam 9 pagi setiap hari. Berat menjalani hal tersebut apalagi dibarengi dengan kewajiban kuliah. Tapi kesempatan menjaga warnet ini menjadi sebuah berkah terselubung bagi saya. Karena pada saat itu, internet cukup mahal & saya bisa menggunakannya selama 12 jam gratis & dibayar lagi.

    Dari sana, William yg suka membaca buku dari sampul ke sampul dulunya, mengaku jatuh cinta dengan internet yg bisa memberikan beragam informasi dengan mudah & cepat hanya dari genggaman tangan / sentuhan jemari keyboard. Saya percaya internet suatu saat akan mengubah dunia, katanya.

    Ketika lulus kuliah, seperti kebanyakan anak IT yg ingin bekerja di perusahaan teknologi ternama di dunia seperti Google, namun sayangnya perusahaan tersebut belum memiliki kantor di Indonesia. William bekerja di beberapa perusahaan di Jakarta sampai tahun 2007. Karena situasi keluarga saya harus mencari tambahan sebagai software engineer di malam hari setelah pulang kerja. Saya banyak diminta untuk membangun situs bagi para UKM. Mereka ingin memiliki website layaknya Bhinneka.com.
    Perjalanan menuju marketplace
    Pada masa awal William bekerja, media sosial sedang berkembang & banyak yg menggunakan kesempatan itu untuk berjualan online. Hal tersebut memberikan pandangan baru bagi William, bahwa banyak orang yg sudah melihat kesempatan & kebutuhan belanja online tapi belum ada platform yg bisa secara aman melayani kebutuhan tersebut.

    Menurutnya, ada 3 model bisnis internet pada saat itu:

    * Iklan baris, seperti yg banyak ada di surat kabar, di Indonesia saat itu sudah banyak website yg menyediakan jasa iklan baris. Dalam hal ini, transaksi melalui telepon, lalu bertemu antara penjual & pembeli, cek barang, bayar, baru barang diterima oleh si pembeli.

    * Ritel, yg modelnya seperti supermarket. Mereka menjual produk secara online langsung ke konsumen. Contoh pelaku bisnis ini adalah Bhineka.com.

    * Marketplace, seperti sebuah mall / kota dimana banyak yg jualan & banyak yg berbelanja namun ada aturannya. Konsumen bayar dahulu ke pengelola marketplace, lalu pengelola marketplace konfirmasi ke penjual. Jika barang sudah diterima oleh konsumen, pengelola marketplace akan meneruskan pembayaran ke penjual. Hal ini, menyelesaikan masalah kepercayaan tadi.

    Pada saat itu belum ada model bisnis marketplace yg sukses di Indonesia. Dari sana, William termotivasi untuk membangun bisnis marketplace online di Indonesia. Tapi, ia sadar bahwa membangun bisnis marketplace tersebut membutuhkan modal yg tidak sedikit & ia juga dalam posisi yg tidak memungkinkan menjalankan startup secarabootstrap karena ia harus membantu keluarga & pengobatan ayahnya.

    Terinspirasi oleh para entrepreneur muda dari Sillicon Valley yg menggandeng pemberi modal / investor yg dapat membantu mengembangkan bisnis mereka, William berusaha untuk mencari dukungan modal. Karena pada saat itu William tidak kenal investor manapun, satu-satunya orang yg ia kenal punya modal, yaitu atasannya di tempat ia bekerja. William mencoba menceritakan ide bisnisnya. Beliau cukup berbaik hati & memperkenalkan dengan teman-teman yg juga punya modal.

    Sayang, selama 2 tahun dia menjajakan ide bisnisnya, tidak ada yg mau membantu. Alasannya karena mereka tidak yakin dengan ide bisnis marketplace tersebut. Pasalnya, belum ada satu pun orang Indonesia yg berhasil, sukses & kaya dari bisnis internet. Investor tidak pernah melihat uangnya / untungnya dimana. Dan bagaimana ia bisa bersaing dengan raksasa dari luar negeri seperti eBay.

    Bahkan suatu hari, ada seseorang yg mencoba mengatakan bila sosok yg kini menjadi CEO ini hanya sebagai pemimpi.

    William, kamu datang membawa mimpi tinggi dari Amerika. Kamu masih muda & hidup hanya sekali & jangan disia-siakan dengan mimpi yg terlalu tinggi. Semua role model yg kamu bawa dari Amerika yg sukses itu dilahirkan spesial & kamu tidak spesial

    Mendapat opini seperti itu tentu terasa pahit, tapi hal ini justru tidak membuat William menyerah & menyadari bahwa bisnis ini tidak mudah dijalankan di Indonesia. William justru tertantang untuk mengubah hal itu.
    Tantangan sebagai kesempatan untuk berkembang
    Di tahun 2010, sebenarnya banyak investor yg datang ke Indonesia untuk memberi modal, tapi William gagal untuk meyakinkan mereka karena tidak mahir berbahasa Inggris. Tapi ia tidak menyerah untuk mencari dukungan, sampai akhirnya bertemu dengan investor dari Jepang yg ternyata kemampuan bahasa Inggris-nya juga pasif.

    Akhirnya komunikasi melalui telepati & nyambung. Kesempatan itu menjadi jalan bagi saya untuk mulai belajar berbahasa Inggris. Setiap bulan saya berkomunikasi dengan mereka, berlatih & pada akhirnya mahir berbahasa Inggris.

    Ketika awal membuka Tokopedia, William kembali ke Binus & membuka booth di sana untuk mengembangkan tim. 2 hari di sana, ia berdiri tapi tidak ada yg mau mendaftar ke Tokopedia. Sementara, di depan booth Tokopedia ada booth salah satu bank terbesar di Indonesia dengan SPG(sales person girl) ramai dikunjungi mahasiswa yg ingin bergabung dengan bank tersebut & William sebagai seorang pendiri perusahaan berusaha menjual mimpi namun tidak satupun yg mau bergabung di Tokopedia.

    Belajar dari pengalaman itu, William mencoba untuk mengalahkan diri sendiri. William yg introvert, belajar untuk lebih baik berkomunikasi. Saya percaya bahwa produk buatan saya adalah sebagus dirinya & sebagus orang-orang yg bergabung dengan perusahaannya, tuturnya.

    Oleh karena itu, setiap ada kesempatan, William menceritakan mimpi & idenya. Dan itu membuka jalan bagi orang-orang yg percaya akan mimpi & idenya untuk bergabung dengan Tokopedia.Mereka kinig menjadi pemimpin di Tokopedia saat ini. Mereka bergabung karena mereka percaya akan misi Tokopedia, lanjut William.
    Analogi Bambu Runcing
    William menganalogikan Tokopedia seperti bambu runcing. Seperti pejuang Indonesia yg membawa bambu runcing untuk merebut kemerdekaan yg melambangkan 3 hal.

    Keberanian

    William merasa beruntung karena memilih untuk berani percaya kepada diri sendiri ketika tidak ada orang yg percaya padanya. Percaya pada mimpinya, ketika tidak ada orang lain yg percaya akan mimpinya. Ia tahu bahwa masa lalu sudah tidak bisa diubah namun, ia percaya masa depan ada di tangannya.

    Kegigihan

    Seluruh perjalanan Tokopedia dari awal hingga saat ini adalah tentang kegigihan. William membutuhkan waktu 2 tahun untuk meyakinkan investor pertama untuk menanamkan modal ke Tokopedia. Dalam perjalanannya ternyata tidak mudah karena 6 bulan setelah itu, eBay datang ke Indonesia & menggandeng Telkom, perusahaan telekomunikasi raksasa Indonesia. Dan beberapa perusahaan besar luar lainnya pun masuk ke pasar Indonesia.

    Secara kasat mata, Tokopedia tidak memiliki kemampuan untuk menandingi perusahaan-perusahaan tersebut, tapi dengan kegigihan, Tokopedia berhasil menjadi bisnis e-commerce pertama di ASEAN yg mendapat investasi 100 juta USD(setara 1,4 Triliyun Rupiah).

    Baca Juga: Berusia 6 Tahun, Apa Saja Pencapaian Tokopedia?Harapan

    Bayangkan pejuang Indonesia yg melawan penjajah dengan senjata canggih diadu dengan bambu runcing. Kalau tidak dengan harapan yg besar atas kemerdekaan, mereka tidak akan berjuang mati-matian. Begitu juga dengan Tokopedia, harapan untuk menciptakan peluang bisnis bagi masyarakat Indonesia secara mudah & aman yg membuat William tidak menyerah terhadap keadaan. Jika William & seluruh tim Tokopedia butuh waktu dua tahun untuk membangun Tokopedia, sekarang semua orang bisa memiliki toko online sendiri hanya dalam 2 menit.
    Bermimpi dengan mata terbuka
    William merasa beruntung karena lahir di generasi internet. Berbeda dengan generasi ayah & kakeknya yg sulit untuk memiliki kesempatan bersaing dengan para pemain besar. Tapi di generasi internet, siapa saja punya kesempatan yg sama.

    Contohnya Google & Facebook. Google bukanlah perusahaan search engine pertama di dunia. Ada Yahoo yg dulunya begitu besar. Begitu pula dengan Facebook yg juga bukan social media pertama di dunia. Sebelum facebook ada MySpace & Friendster yg sangat populer pada jamannya. Saat ini, Google & Facebook membuktikan bahwa mereka bisa besar berkembang dengan kegigihan melawan segala ketidakmungkinan.

    Tokopedia yg saat ini sudah memiliki 400 pegawai, tidak hanya mengubah hidup William tapi juga mengubah hidup para penjual di Tokopedia. Ada lebih dari 500.0000 penjual di Tokopedia yg berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, mahasiswa sampai cleaning service.

    Terakhir William mengutip kata-kata dari Bung Karno

    Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

    Pendiri bangsa Indonesia adalah seorang visioner. Jika negara ini dibangun oleh visioner yg mengajak kita untuk bermimpi besar, ini adalah tanggung jawab generasi kita untuk berani menyemangati teman-teman, adik-adik kita yg memiliki mimpi yg lebih besar dari diri mereka.

    Bagi William, bermimpi yg besar itu adalah bermimpi dengan mata terbuka. Sangat sederhana, apa yg kamu mimpikan, pikirkan, ucapkan, & lakukan itu selalu konsisten.

    (Diedit oleh Pradipta Nugrahanto)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page