Liga Inggris 100 Tahun Skandal Judi Manchester United - Liverpool

Discussion in 'Bola' started by Bola, Mar 20, 2015.

Discuss 100 Tahun Skandal Judi Manchester United - Liverpool in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,317
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Tentu tidak ada yang membantah panasnya rivalitas antara Manchester United dan Liverpool. Status keduanya sebagai klub terbaik Inggris di ranah domestik maupun Eropa semakin meruncingkan permusuhan di antara para pemain maupun fans kedua klub. Oleh karena itu, bentrok Liverpool dan United pada Minggu (22/3) esok di Anfield sudah pasti bakal menyajikan duel seperti biasa yang sengit dan sarat gengsi.

    Namun siapa sangka, rivalitas abadi United dan Liverpool ini sempat tercoreng pada tahun 1915 atau tepat 100 tahun yang lalu. Setan Merah dan Si Merah ternyata pernah bersekongkol dalam sebuah skandal pengaturan skor yang mengarah pada kegiatan judi.

    Insiden ini terjadi saat Jumat Agung, hari suci umat Kristiani, pada 2 April 1915 dalam sebuah laga Liga Primer Inggris, yang saat itu masih bernama Football League Divisi Satu. Ketika itu, United sedang berupaya menghindari degradasi, sementara Liverpool duduk di papan tengah sehingga tidak ada ancaman terdegradasi.

    Satu-satunya ancaman bagi kedua klub adalah suasana Perang Dunia Pertama yang berlangsung sejak musim panas 1914. Saat itu, hampir dipastikan liga akan diistirahatkan setelah musim 1914/15 berakhir sehingga para pemain bakal tanpa gaji selama beberapa tahun ke depan dan karier sepakbola mereka terancam selesai.

    Mengetahui hal tersebut, para pemain dari kedua kesebelasan ini mengadakan pertemuan rahasia di pub Dog and Partridge, Stretford, untuk merekayasa hasil akhir pertandingan demi mendapat keuntungan finansial dari bandar judi.

    Keganjilan sudah terasa sebelum kick-off dimulai di mana Old Trafford yang saat itu bisa berkapasitas lebih dari 50 ribu tempat duduk hanya terisi 15 ribu penonton. Publik sepertinya sudah mencium adanya gelagat tidak beres di laga ini.

    United sudah unggul dua gol sejak menit 22 berkat sepasang gol George Anderson. "Sejak saat itu, mereka seperti tidak berniat menambah keunggulan. Sementara Liverpool tak punya kesan ingin mencetak gol. Di babak kedua, sepakbola benar-benar mati,ā€ demikian yang dilaporkan oleh koran lokal The Manchester Daily.

    Dan benar saja, kapten United Pat Oā€™Connell seperti sengaja membuat eksekusi penaltinya gagal. Bahkan, ketika tembakan Fred Pagnam membentur mistar United, pemain Liverpool itu langsung dikerubungi dan dicaci maki oleh rekan setimnya sendiri karena berisiko mengubah rencana kotor yang sudah disiapkan.

    Ditiupnya peluit panjang oleh wasit ternyata tidak serta merta membuat laga ini benar-benar berakhir. Publik sepakbola yang jeli mulai mengendus adanya persengkongkolan. Mulai beredar laporan yang menuduh adanya uang dalam jumlah besar yang dipasang dalam bursa taruhan dengan keuntungan 7/1 untuk kemenangan 2-0 United.

    Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) pun melakukan investigasi. Hasilnya, mereka mendapati tujuh pemain dari kedua klub terlibat dalam rekayasa pertandingan tersebut: Sandy Turnbull, Arthur Whalley, dan Enoch West dari United; Jackie Sheldon, Tom Miller, Bob Pursell, dan Thomas Fairfoul dari Liverpool. Sheldon yang merupakan eks pemain United, ditengarai sebagai otak utama dari kisruh ini. Mereka dilarang bermain seumur hidup lewat keputusan yang diluncurkan pada akhir Desember 1915.

    Namun, ada juga beberapa pemain jujur seperti Fred Pagnam dari Liverpool dan George Anderson dari United. Pagnam, yang nyaris mengacaukan rekayasa skor ini lewat tembakannya yang membentur mistar, sempat bersaksi dalam sidang FA untuk membuka kebobrokan laga tersebut.

    Pada akhirnya, ketok palu FA menegaskan bahwa konspirasi ini murni terjadi di kalangan pemain dan tidak ada ofisial dari kedua klub yang terlibat dalam skandal ini. United dan Liverpool juga lolos dari denda maupun pengurangan poin.

    "Itu adalah episode kelam,ā€ tutur Mark Wylie, kurator museum Manchester United, seperti dikutip di laman resmi United. "Para pemain sudah melihat bahwa sepakbola akan berubah karena perang. Tidak akan ada gaji di musim panas. Selain itu, masih belum jelas apakah liga akan berlanjut di musim depan. Itulah yang mendorong para pemain untuk melakukan aksi ini.ā€

    Larangan bermain ini sejatinya tidak langsung berdampak pada karir sepakbola pemain, karena liga sudah resmi diistirahatkan untuk beberapa waktu sebagai dampak dari PD I yang baru berakhir pada tahun 1918. Football League kemudian bergulir kembali pada musim 1919/20. FA menambahkan dua tim di Divisi Satu sehingga liga diikuti 22 tim dengan Chelsea dan Arsenal batal terdegradasi.

    Lalu bagaimana dengan nasib para pemain nakal itu? Ketiga penggawa United, Sandy Turnbull, Arthur Whalley, dan Enoch West, ikut wajib militer sehingga dosa mereka diampuni. Sayang, Turnbull terbunuh saat berperang sehingga mendapat anumerta. Hanya Whalley yang melanjutkan kariernya bersama United setelah perang.

    Nasib berbeda dialami West karena ia mendapat sanksi lagi karena pernah bermain dengan nama palsu di Irlandia. Ia harus menunggu hingga 1945 untuk pencabutan larangannya dan tentu hal tersebut sudah terlambat karena ia sudah berusia 59 tahun. Adapun di kubu Liverpool, Fairfoul tidak kembali ke dunia sepakbola walau ia sudah dipulihkan nama baiknya sembari tiga rekannya kembali bermain sepakbola usai perang.

    liga inggris musim depan, liga inggris live, jadwal bola liga inggris di tv, 100 Tahun Skandal Judi Manchester United - Liverpool
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page