5 ecommerce Asia paling "menggigit" 2015

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Dec 16, 2015.

Discuss 5 ecommerce Asia paling "menggigit" 2015 in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,762
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    eMarketer memprediksi bahwa di tahun 2015 ini, total belanja online akan menyentuh angka $1.7 triliun (sekitar Rp23,6 kuadriliun), & pada tahun 2019 mendatang diperkirakan meningkat hingga mencapai $3,5 trilun (sekitar Rp48,6 kuadriliun).

    Dari data yg sama juga didapat fakta memaparkan bahwa faktor utama pertumbuhan global dalam belanja e-commerce didorong oleh meningkatnya permintaan di wilayah Asia Pasifikyang diprediksi akan naik hingga 25 persen setiap tahunnya. Di penghujung tahun 2020 nanti, pasar jual beli online akan mengantongi pemasukan hingga 12,5 persen dari jumlah keseluruhan penjualan produk ritel di seluruh dunia.

    Terlepas dari berbagai prediksi tadi, pertumbuhan di wilayah Asia Pasifik masih tertinggal dari wilayah Barat. Tingkat belanja e-commerce di wilayah ini diperkirakan hanya berjumlah satu persen dari jumlah penjualan produk ritel saat ini. Angka tersebut masih jauh bila dibandingkan Eropa & Amerika Utara dengan enam hingga delapan persen.

    Dipastikan masih ada peluang tumbuhnya perekonomian di kawasan ini, yg sedikit memberi penjelasan mengapa miliaran rupiah mengalir ke pasar yg (relatif) belum terjamah di India, Thailand, Singapura, & Indonesia.

    Seiring dengan makin banyaknya masyarakat yg terhubung secara online, tantangan yg harus dihadapi startup e-commerce adalah terus berinovasi, sekaligus menggali ceruk bisnis yg lebih niche.

    Pada akhirnya, jika konsumen puas & senang terhadap layanan yg mereka dapatkan saat bertransaksi online, konsumen mungkin akan kembali berbelanja di layanan tersebut. Hal itu dapat mendorong pengguna terus menggunakan aplikasi sekaligus menekan biaya yg dibutuhkan dalam mengakuisisi konsumensalah satu biaya terbesar dalam marketing.

    Berikut kami tampilkan secara acak lima startup yg paling“menggigit” terhadap pasar e-commerce di wilayah Asia pada tahun 2015.
    1. Craftsvilla
    [​IMG]

    Crafstvilla e-commerce yg menjual berbagai produk khas Indiasudah hampir menginjak usia lima tahun, namun mereka mampu menunjukkan keperkasaannya tahun ini. Pendanaan yg berhasil diraup Craftsvilla berjumlah $54 juta (sekitar Rp750 miliar) yg terbagi ke dalam dua putaran selama jangka waktu delapan bulan. Kemungkinan, dalam waktu dekat ini, mereka akan bersiap untuk melakukan IPO.

    Nilai jual startup yg sering kali disebut sebagai “Etsy-nya India” ini terletak pada kemampuan mereka menghubungkan konsumen global dengan perajin & desainer lokal India. Sebagian besar tidak menjual karyanya di kota-kota besar, yg artinya konsumen tak akan menemukan produk mereka di mal / toko ritel lain.

    Craftsvilla menghadirkan solusi atas masalah ini dengan memperkenalkan karya-karya mereka kepada konsumen global. Ada lebih dari 25.000 desainer & sekitar dua juta produk yg tersedia.
    2. Honestbee
    [​IMG]

    Honestbee, startup yg mengadopsi layanan serupa Instachart, adalah salah satu nama besar di Singapura saat ini. Startup yg menggunakan jasa pelari freelancer untuk membeli serta mengantar produk pesanan langsung ke pelanggannya. Mereka mengutamakan kecepatan layanan sebagai ciri khas, serta sebagai diferensiasi dari kompetitor seperti RedMart & GoFresh.

    Persaingan sengit untuk memperebutkan dominasi di ranah e-commerce ini tak terelakan lagi. Namun, meski terlambat bergabung ke dalam lingkaran persaingan ini, Honestbee menegaskan kalau mereka tak akan menyerah begitu saja. Startup ini berhasil meraih pendanaan $15 juta (sekitar Rp208 miliar) dalam putaran seri A sejak beberapa bulan peluncurannya & mengumumkan rencana ekspansi ke Hongkong.

    Satu hal yg mungkin menjadi keuntungan bagi Honestbee dibanding pesaingnya adalah mereka tak perlu mengalokasikan dana dalam jumlah besar untuk berinvestasi gudang, peralatan, serta logistik. Mereka mengandalkan toko ritel yg sudah ada. Namun, kompetitor unggul dari sisi harga yg lebih murah. Alasannya karena mereka membeli barang dalam jumlah banyak langsung dari sumbernya, tidak melalui perantara toko ritel.

    Jaminan Honsetbee mengantarkan barang dalam satu jam berpotensi menjadi game-changer. Redmart sudah menyediakan layanan serupa, namun patut ditunggu siapa yg berhasil menjadi nomor satu.
    Baca juga: 6 Startup yg Berpeluang Menaklukkan Asia Tenggara di Tahun 2016
    3. Shoppee
    [​IMG]

    Marketplace yg mengusung konsep consumer to consumer (C2C) bukanlah hal yg baru. Contoh startup yg telah lebih dulu mengusung konsep serupa adalah Carousell & Tokopedia. Ada rumor yg berkembang bahwa Facebook sedang mengamati ranah ini, karena mereka beranggapan bahwa e-commerce menjadi bagian tak terpisahkan dari platform media sosial mereka. Namun, Shopee tak begitu khawatir akan kabar ini.

    Meski Startup asal Singapura yg juga merupakan bagian dari Garena ini baru saja diluncurkan, namun mereka telah berhasil memiliki pasar sendiri. Pasalnya, mereka sukses memperkenalkan fitur yg tak dilirik oleh pesaing mereka.

    Sebagai contoh, pengguna aplikasi Shopee membayar barang langsung dari aplikasi melalui solusi pembayaran terjamin yg mereka sebut Garansi Shopee. Saat transaksi telah dikonfirmasi, Shopee menyimpan uang yg telah dibayarkan, / disebut dengan istilah escrow, lalu membayarkan uang tersebut kepada penjual saat barang telah sampai ke tangan konsumen.

    Kemitraan yg mereka jalin dengan startup spesialisasi pesan antar Ninja Van, mempermudah transaksi di Shopee, & hal ini membedakan mereka dengan aplikasi marketplace lain yg mengharuskan konsumen mengurus sendiri pengirimannya.

    Shopee juga menyematkan elemen jejaring sosial ke dalam aplikasi mereka. Pelanggan dapat saling follow, menggunakan tagar, & bahkan ada fitur semacam news feed. Strategi mereka tampaknya membuahkan hasil. Menurut App Annie, popularitas Shopee sudah melampaui nama besar seperti Carousell, khususnya untuk pasar Singapura, Taiwan, & Malaysia.
    Baca juga: [REVIEW] Shopee, Marketplace Unik dengan Elemen Media Sosial
    4. Ninja Van / aCommerce
    [​IMG]

    Kecepatan & keandalan logistik merupakan salah satu faktor utama efisiensi e-commerce. Tak ada gunanya mengiklankan secara online, jika kita tak memiliki cara untuk memastikan barang sampai dalam jangka waktu yg telah dijanjikan.

    Sebelumnya Tech in Asia pernah mengutarakan bahwa dalam ranah e-commerce logistik, peluang terbuka lebar bagi pemain yg mengedepankan efisiensi. Seperti contohnya startup yg mengatasi hambatan dalam pengiriman dengan menggunakan algoritma penyortiran. Dua startup yg sangat menonjol dalam hal ini adalah Ninja Van asal Singapura & aCommerce asal Thailand.

    aCommerce, dengan kantor & pusat distribusi di Thailand, Indonesia, serta Filipina, memiliki lebih dari 140 klien bisnis & angka pertumbuhan 300 persen sejak Januari tahun ini. Startup ini mengumpulkan pendanaan lebih dari $20 juta (sekitar Rp278 miliar) & sedang memperkuat lini produk offline ke online setelah mendapat investasi & menjalin kemitraan dengan DKSH, perusahaan terkemuka asal Swiss.

    [​IMG]

    Ninja Van telah membuktikan efektivitas yg sama baiknya. Saingan utama mereka adalah Singpost, namun Ninja Van telah menerapkan teknologi agar mampu melayani dengan lebih gesit & lincah. Keahlian Ninja Van adalah algoritma untuk menemukan rute tercepat menuju tempat tujuan. Mereka mengirimkan sekitar 5 ribu paket setiap harinya, & angka itu terus tumbuh 10 hingga 15 persen.
    5. Quikr
    [​IMG]

    Dana investasi dalam jumlah yg besar dialirkan pada situs e-commerce tradisional di India, seperti Flipkart & Snapdeal yg membuat persaingan kian sulit bagi pendatang baru. Namun hal itu tak membuat situs iklan baris seperti Quickr gentar.

    Situs iklan baris mungkin tak memiliki pendekatan modern / daya tarik marketing layaknya e-commerce lain, namun pendekatan mereka terbilang efektif. Quickr, bersaing dengan OLX yg disponsori oleh Naspers, berhasil meraih status startup unicorn tahun ini. Setelah meraih pendanaan $150 juta (sekitar Rp2 triliun) pada putaran seri B, valuasi perusahaannya menjadi $1,5 miliar (sekitar Rp20,5 triliun). Jelas itu jumlah uang yg fantastis.

    Namun perusahaan ini tak hanya menunggu datangnya bola. Mereka terus mengeluarkan produk baru, memperkenalkan kategori baru, & membeli startup lain yg dianggap memiliki nilai tambah bagi mereka. Kini, Quickr mulai gencar merambah bisnis real estate online. Pada awal tahun ini mereka meluncurkan QuickrHomes, & mengakuisisi Realty Compass, startup yg fokus pada analisis perkembangan real estate.

    Realty Compass adalah perusahaan real estate kedua yg mereka beli tahun ini. Sebelumnya, mereka mengakuisisi Indian Realty Exchange, aplikasi aggregator real-estate pertama yg berbasis mobile.

    Situs iklan baris raksasa ini jelas punya ambisi besar buat masa depannya. Mereka telah merambah pasar vertikal seperti jasa pernikahan, barang elektronik, & hewan peliharaan. Namun mereka juga menunjukkan keinginannya untuk ikut bersaing dalam bisnis produk dengan harga jual tinggi.

    Situs iklan baris mungkin terbilang jadul, namun kegigihan, keberanian, & strategi untuk terus berbenah memastikan posisi Quikr pantas berada dalam daftar ini.

    (Diterjemahkan oleh Faisal Bosnia & diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page