Liga Italia ANALISIS: Eksploitasi Roma Pada Benteng Rapuh FC Internazionale

Discussion in 'Bola' started by Bola, Dec 2, 2014.

Discuss ANALISIS: Eksploitasi Roma Pada Benteng Rapuh FC Internazionale in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,271
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Seru, ketat, dan menghibur, tiga kata itu jadi gambaran sempurna grande partita Serie A Italia, di mana AS Roma sukses membekap FC Internazionale lewat skor 4-2, Senin (1/12) dini hari WIB. Laga tersebut jadi kekalahan perdana pelatih anyar Inter, Roberto Mancini, sekaligus jadi kali pertama Roma kebobolan di Olimpico pada Serie A musim ini.

    Ketika semua orang memprediksi bahwa Roma -- yang sedang berjuang mengejar Juventus -- akan kesulitan menghadapi Inter dengan Mancini-nya, apa yang terpapar di lapangan justru sebaliknya. Benar jika kejar-mengejar angka sempat terjadi, tapi hal itu sama sekali tak membantah dominasi mutlak Tim Serigala dalam partai tersebut.

    Tak percaya? Simak komentar bintang Roma malam itu, Miralem Pjanic, selepas laga. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah malam yang sulit, karena Inter tidak memberikan banyak masalah untuk kami. Kalaupun iya, kami menciptakan sendiri masalah dengan dua gol yang bisa dihindari dan membuang-buang peluang di lini depan. Kami bisa saja mencetak gol lebih banyak malam ini, tapi Inter tak pernah benar-benar superior terhadap kami. Kami jauh lebih tangguh malam ini dari pada mereka," tegas gelandang yang sukses mencetak sepasang gol dalam pertandingan tersebut.

    Apa yang dikatakan Pjanic memang sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Skema 4-3-1-2 ala Mancini memang lebih kaya ketimbang 3-5-2 milik pelatih terdahulu, Walter Mazzarri. Tapi rapuhnya benteng pertahanan Inter musim ini, jelas jadi masalah pelik yang wajib dipecahkan pria 50 tahun tersebut, sebelum segalanya bertambah buruk.

    [​IMG] Benteng pertahanan Inter begitu rapuh

    Roma menurunkan komposisi terbaik yang mereka miliki dalam bentrokan ini. Mengandalkan ramuan 4-3-3, Rudi Garcia kembali menunjuk Francesco Totti sebagai ujung tombak, ketimbang Mattia Destro atau Alessandro Florenzi, yang memiliki fisik lebih segar.

    Sementara kejutan dilakukan Inter, lewat Mancini, dengan mencadangkan Mauro Icardi dan lebih memilih Rodrigo Palacio sebagai pendamping Pablo Osvaldo di sektor penyerangan. Sementara di lini belakang Juan Jesus jadi pilihan otomatis menemani Andrea Ranocchia, menyusul cederanya Nemanja Vidic. Yang menjadi keheranan adalah diturunkannya Hugo Campagnaro sebagai bek kanan, untuk menambal absennya Yuto Nagatomo. Kita tahu penggawa internasional Argentina itu adalah pemain spesialis tiga bek dan bukan seorang wing-back murni.

    Gebrakan langsung dilakukan Roma selepas sepakan mula dilakukan. Saat bombardir berlangsung, terjadi kekacauan posisi antara Ranocchia dan Jesus akibat koordinasi yang buruk. Seakan tak mempelajari dahulu video pertandingan Roma sebelumnya, fokus Jesus terletak pada Totti, yang gemar bermain lebih ke dalam dan melebar. Ranocchia juga naif dengan menjaga Gervinho, hingga dibuat bingung karena pemain asal Pantai Gading itu kerap bertukar posisi dengan Adem Ljajic.

    Alarm sudah berbunyi saat Gervinho mencetak gol di menit kelima, lewat sontekan mudah hasil sodoran Ljajic dari sisi kiri pertahanan Inter. Untungnya gol itu dianulir karena sang mantan Arsenal terjebak offside. Dalam prosesnya, Roma memulai dengan penetrasi Maicon dari sisi kanan, yang dilanjutkan oleh Ljajic. Alih-alih Totti yang menerima bola di kotak penalti, sang kapten memilih menarik diri ke belakang, untuk menarik Juan dan Ranocchia. Ruang kosong yang ditinggalkan Totti, lantas dieksploitasi oleh Gervinho.

    Ranocchia cs belajar dari peristiwa itu? Tidak sama sekali, mereka malah makin terlena dalam bombardir serangan Roma, hingga akhirnya Gervinho mencek gol dengan cara yang sama persis di menit ke-30! Dua menit berselang kejadian yang sama bahkan terulang kembali, yang untungnya diselamatkan oleh offside.

    I Nerazzurri memang mampu menyamakan keadaan lewat situasi set-piece, favorit Ranocchia. Tapi superioritas Roma sama sekali tak terkikis. Berporos pada Radja Nainggolan, lini belakang Inter sungguh jadi santapan empuk karena entah itu Fredy Guarin, Yann M'Villa, atau Gary Medel, mereka sama sekali gagal untuk membendung dominasi lini tengah tuan rumah.

    Di paruh kedua para Serigala Roma benar-benar menggila. Baru beberapa detik laga berjalan, Jose Holebas dengan mudahnya sanggup melewati Campagnaro dan Ranocchia untuk untuk mencetak gol bernilai mahal. Bukan kejutan, karena gol macam itu -- kita tentu ingat gol Victor Ibarbo ke gawang Inter dua bulan lalu -- sering terjadi di gawang Samir Handanovic musim ini. Kurangnya daya juang para bek Inter dalam mengejar dan mengganggu lawan jadi masalahnya. Mancini terlihat kesal, dan kemudian meninggikan garis pertahanan untuk lebih memberi tekanan pada lawan.

    Dodo jadi kunci di situ. Pemain pinjaman asal Brasil ini adalah sosok brilian ketika bola berada di kakinya. Kontrolnya bagus dan kecepatannya luar biasa. Inter pun sanggup menyamakan keadaan menjadi 2-2, lewat Pablo Osvaldo, yang diawali oleh aksi Dodo.

    Tapi pergerakan tanpa bola pemain berusia 22 tahun itu adalah bencana. Dodo kurang bisa membaca permainan lawan dan selalu terlambat untuk turun menutup ruang. Gol pertama Roma adalah bukti perdana dan penegasan terjadi pada gol ketiga. Gervinho dibiarkannya menari, sebelum Totti membuat kemelut yang diakhiri gol Pjanic.

    Ya, Roma pasti punya alasan mememinjamkan Dodo ke Inter dan lebih memilih untuk mendatangkan duo bek kiri gaek, seperti Holebas, Ashley Cole, dan Urby Emanuelson. Jangkauan berlarinya yang hanya mencapai 2,1 kilometer dalam laga tersebut sudah jadi gambaran tegas seperti apa daya juangnya.

    Roma lantas menegaskan kepantasannya sebagai antagonis utama Juventus, lewat gol indah Pjanic melalui tendangan bebas di akhir laga. Il Giallorossi pun menutup kemenangan dengan skor meyakinkan 4-2.

    "Roma bermain dengan sangat baik sejak musim lalu, jadi kami tahu laga ini akan sulit. Kami membuat beberapa kesalahan, karena mereka mampu menusuk dari sisi kanan dan kiri terlalu sering. Anda tidak bisa memberikan ruang bagi mereka untuk bermain. Kami terlalu amat lambat untuk menutup mereka," ujar Mancini menganalisis performa timnya usai laga.

    Ya, setumpuk pekerjaan menanti Mancini untuk memperbaiki prestasi Inter, tapi jelas tidak dengan cara yang instan. Bursa transfer musim dingin yang sudah semakin dekat, mungkin bisa dijadikan momentum. Namun fokus pembenahan di lini belakang sama sekali tak boleh dilepas.

    Sementara bagi Roma, dengan performa seperti ini, siapa lagi yang berani mengacuhkan potensi mereka untuk mengakhiri dominasi Juventus?

    liga italia seri a b, liga italia era digital, liga italia tabla, liga italia terkini, liga italia tvri, liga italia klasemen, ANALISIS: Eksploitasi Roma Pada Benteng Rapuh FC Internazionale
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page