Asal Muasal dan Peranan Minangkabau dalam Sriwijaya & Majapahit

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Oct 20, 2014.

Discuss Asal Muasal dan Peranan Minangkabau dalam Sriwijaya & Majapahit in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,117
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]
    Minangkabau or yg biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis Nusantara yg berbahasa & menjunjung adat Minangkabau. Wilayah penganut kebudayaannya meliputi Sumatera Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatera Utara, barat daya Aceh, & juga Negeri Sembilan di Malaysia.

    Seperti yg dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Pa&g, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatera Barat yaitu kota Pa&g. Namun, masyarakat ini biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yg bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri.



    Asal-usul Minangkabau menurut TAMBO
    Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang & kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yg dikenal di dalam tambo (babad, hikayat).

    [​IMG]

    Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing yg datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui & menyediakan seekor kerbau yg besar & agresif, se&gkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yg lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yg lapar itu menygka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu & menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut.

    Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau, yg berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau).

    Yang jelas bangunan rumah adat Minangkabau mencirikan tanduk kerbau & hewan ini banyak dipelihara untuk korban upacara adat. Akan tetapi suku bangsa ini lebih suka menyebut daerah mereka Ranah Minang (Tanah Minang ) bukan Ranah Kabau ( Tanah Kerbau ).

    [​IMG]

    Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai & juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yg sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut. Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yg terletak di kecamatan Sungayg, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat.

    Dari tambo yg diterima secara turun temurun, menceritakan bahwa nenek moyg mereka berasal dari keturunan Iskandar Zulkarnain. Walau tambo tersebut tidak tersusun secara sistematis & lebih kepada legenda dibanding fakta, serta cenderung kepada sebuah karya sastra yg sudah menjadi milik masyarakat banyak. Namun demikian, kisah tambo ini sedikit banyaknya dapat dibandingkan dengan Sulalatus Salatin yg juga menceritakan bagaimana masyarakat Minangkabau mengutus wakilnya untuk meminta Sang Sapurba (tokoh mitos di Bumi Melayu) salah seorang keturunan Iskandar Zulkarnain tersebut untuk menjadi raja mereka.



    Asal-usul Minangkabau menurut Sejarah
    Untuk menelusuri kapan gerangan nenek moyg orang Minangkabau itu datang ke Minangkabau, perlu dibicarakan mengenai peninggalan lama seperti megalit yg terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota & tempat-tempat lain di Minangkabau yg telah berusia ribuan tahun. Di Kabupaten Lima Puluh Kota peninggalan megalit ini terdapat di Nagari Durian Tinggi, Guguk, Tiakar, Suliki Gunung Emas, Harau, Kapur IX, Pangkalan, Koto Baru, Mahat, Koto Ga&, Ranah, Sopan Ga&g, Koto Tinggi, Ampang Ga&g.

    [​IMG]

    Seperti umumnya kebudayaan megalit lainnya, berawal dari zaman batu tua & berkembang sampai ke zaman perunggu. Kebudayaan megalit merupakan cabang kebudayaan Dongsong. Megalit seperti yg terdapat disana juga tersebar ke arah timur, juga terdapat di Nagari Aur Duri di Riau. Semenanjung Melayu, Birma & Yunan. Jalan kebudayaan yg ditempuh oleh kebudayaan Dongsong. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa kebudayaan megalit di Kabupaten Lima Puluh Kota sezaman dengan kebudayaan Dongsong & didukung oleh suku bangsa yg sama pula.



    [​IMG]
    Menhir-menhir di cagar budaya Bawah Parit yg merupakan lokasi menhir terbesar dari 7 situs menhir di Nagari Mahat. Lebih dari 348 Menhir berdiri tegak di sini Bentuknya pun macam-macam. Ada yg berbentuk pe&g, tanduk maupun kepala manusia. Menurut penelitian para ahli, menhir-menhir ini telah ada sejak Periode Neolitikum yaitu sekira 2500-1500 tahun sebelum Masehi.



    Menurut para ahli bahwa pendukung kebudayaan Dongsong adalah bangsa Austronesia yg dahulu bermukim di daerah Yunan, Cina Selatan. Mereka datang ke Nusantara dalam dua gelombang. Gelombang pertama pada Zaman Batu Baru (Neolitikum) yg diperkirakan pada tahun 2000 sebelum masehi. Gelombang kedua datang kira-kira pada tahun 500 SM, & mereka inilah yg diperkirakan menjadi nenek moyg bangsa Indonesia sekarang.



    [​IMG]
    [​IMG]
    Pakaian Minang & suku Dong di Yangshuo & Guilin. kredit Aswilnazir.com



    Bangsa Austronesia yg datang pada gelombang pertama ke nusantara ini, disebut oleh para ahli dengan bangsa Proto Melayu (Melayu Tua), yg sekarang berkembang menjadi suku bangsa Barak, Toraja, Dayak, Nias, Mentawai, Kubu & lain-lain. Mereka yg datang pada gelombang kedua disebut Deutero Melayu (Melayu Muda) yg berkembang menjadi suku bangsa Minangkabau, Jawa, Makasar, Bugis & lain-lain. Dari keterangan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa nenek moyg orang Minangkabau adalah bangsa melayu muda dengan kebudayaan megalit yg mulai tersebar di Minangkabau kira-kira tahun 500 SM sampai abad pertama sebelum masehi yg dikatakan oleh Dr. Bernet Bronson.

    Perpindahan ini berjalan bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Dua kelompok ini sama-sama mempunyai ikatan matrilinear. Ada kelompok yg mencari aliran sungai. Pada saat perpindahan ini apa yg terjadi di belahan dunia yg sudah lama memasuki zaman logam antara lain dapat kita jelaskan sebagai berikut :

    India berkembang agama budha yg dibawa Sidharta Gautama (563-483 SM). Gautama adalah putera Raja Sudho&a dari kerajaan Kavilawastu yg wilayahnya meliputi Nepal, Bhutan & Sikkin, 1600 SM di India sudah pula berkembang agama Hindu (mahabratha). China di kala itu dikuasai Dinasti Chou tahun 1050-256 SM waktu itu hidup filosof Konfutse, Laotse & Mengtse

    Kedua daerah itu adalah tempat turunnya ras detro malayu termasuk Minangkabau, dapat dipastikan gelombang ke 2 yg datang 500-400 SM beragama Budha & Hindu, dilihat secara kontekstual kemungkinan mereka yg turun dari Burma, Kamboja & Thailand sebagai embrio suku besar melayu di Minangkabau (suku melayu di Minangkabau adalah Melayu, Ben&g, Kampai, Mandahiling & Panai) & mereka yg datang dari India Selatan (pantai timur) adalah embrio suku Jambak, Pitopang, Salokutiannyia, Bulukasok & Banuhampu or sebaliknya, namun kedua kelompok ini disebut sebagai Melayu Continental.

    Dalam rentang waktu 500-400 SM itu mereka telah membentuk kekuasaan budaya seperti raja gunung & raja sungai. Agama Budha sudah dikembangkan pada saat itu. Mungkin saja pada periode ini mereka sudah sampai ke hulu Batang Kampar, hulu Batang Rokan, hulu Batanghari & hulu sungai lainnya.

    Situasi kehidupan masyarakat waktu itu hidup dengan berdagang, sawah & mulai berkembang pertambangan emas & hasil hutan lainnya,



    [​IMG]
    Kredit: Aswilnazir.com



    Ada pertanyaan dengan apa mereka menyelusuri dataran tinggi Minagkabau jawabannya adalah dengan kerbau, karena agama yg dianutnya perlu menyaygi binatang kerbau, gajah, lembu, sehingga dari kerbau ini mereka dapat mengembangkan permainan rakyat melalui adu kerbau. Dr Nooteboom memperkuat alasan tentang kegiatan berlayar yg dimiliki oleh ahli Yunani zaman purba Strabo & Pilinius bukanlah Srilangka akan tetapi adalah Sumatera atas dasar itu Dr Nooteboom (pengikut zulkarnain) ketika ia berlabuh di India berarti sudah ada hubungan Minangkabau dengan India berkenaan waktunya adalah 336 SM.

    Jika pendapat diatas ini kita hubungkan dengan apa yg diceritakan oleh Tambo mengenai asal-usul orang Minangkabau kemungkinan cerita Tambo itu ada juga kebenarannya.



    Asal Usul Kata Melayu & Minangkabau
    Prof.Dr.Husain Naimar, guru besar antropologi Universitas Madras menerangkan bahwa kata melayu berasal dari bahasa Tamil. Malai berarti gunung, malaiur adalah suatu suku bangsa pegunungan & sebutan malaiur fonetis menjadi melayu. Penduduk sebelah pesisir selatan pegunungan Dekkan adalah orang malabar,orang minangkabau menyebutnya malabari. Malayalam adalah bahasa yg dipergunakan oleh suku bangsa dravida yg mendiami pegunungan. Di minangkabau menurut penelitian Prof.Husein Naimar banyak terdapat kata-kata tamil & sanskerta hal ini membuktikan a&ya hubungan sejarah antara Minangkabau & Malabar.

    [​IMG]

    Di Malabar pun sistem masyarakatnya juga menurut garis keibuan & pusako tinggi turun dari mamak ke kemanakan. Prof. Yean quisiner dari salah satu universitas di Perancis meneliti ke minangkabau, mendapatkan a&ya hubungan antara Minangkabau dengan Burma, Muangthai, Kamboja & Vietnam bukti a&ya hubungan terlihat dari kata pagaruyung paga (suku matriakat seperti juga dijumpai pada suku khazi, malabar & lainnya) “ru” artinya pusat “yung” (&yun) artinya kerapatan, jadi Pagaruyung dapat diartikan pusat kerapatan suku yg menganut sistem keibuan. Durian ditakuak rajo adalah perobahan fonetik dari Durum patakai raya.

    Du : kata bilangan dua/seluruhnya
    Rum : kerekel/pasir
    Pataka : dataran pantai
    Raya : luas/besar



    Asal-usul Nama Minangkabau
    ~ Prof Van de Tuuk menerangkan bahwa Minangkabau asalnya dari Pinang Khabu yg
    artinya tanah asal

    ~ Prof Dr Husein Naimar menyatakan bahwa Minagkabau adalah perubahan fonetik dari
    menonkhabu bahsa tamil yg artinya tanah pangkal

    ~ Drs Zuhir Usman menyatakan bahwa di dalam hikayat raja-raja Pasai Minagkabau diartikan menang
    adu kerbau

    ~ Hal ini mendapat bantahan dari Prof. Dr. Purbacaraka karena bersifat legenda.
    Beliau mengatakan bahwa Minagkabau berasal dari Minanga tamwan artinya pertemuan dua
    muara sungai.



    Minang berasal dari Kerajaan Minanga asal dari Raja pertama Sriwijaya?
    Minanga merupakan salah satu nama dari Kerajaan Melayu yg telah muncul pada tahun 645. Berita tentang keberadaan kerajaan ini didapat dari buku T’ang-Hui-Yao yg disusun oleh Wang p’u pada tahun 961 masa Dinasti Tang, dimana kerajaan ini mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 645 untuk pertama kalinya. Kemudian didukung oleh Prasasti Kedukan Bukit yg bertarikh 683.

    Menurut Prasasti Kedukan Bukit berangka tahun 605 saka (683 masehi), menceritakan seorang Raja bergelar Dapunta Hyg melakukan Siddhayatra (perjalanan suci) dengan naik perahu. Ia berangkat dari Minanga Tamwan dengan membawa satu armada dengan kekuatan 20.000 bala tentara menuju ke Matajap & menaklukan beberapa daerah.



    [​IMG]
    Prasasti Talang Tuwo



    Beberapa prasasti lain yg ditemui juga menceritakan Siddhayatra & penaklukkan wilayah sekitar oleh Sriwijaya, yaitu prasasti yg ditemukan di Kota Kapur di Pulau Bangka (686 masehi), Karang Brahi di Jambi Hulu (686 masehi) & Palas Pasemah di selatan Lampung, semua menceritakan peristiwa yg sama. Dari keterangan prasasti-prasasti ini, dapat disimpulkan bahwa Dapunta Hyg mendirikan Kerajaan Sriwijaya setelah mengalahkan musuh-musuhnya di Jambi, Palembang, Selatan Lampung & Pulau Bangka, & bahkan melancarkan serangan ke Bhumi Jawa yg mungkin menyebabkan keruntuhan kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat.

    Slamet Muljana mengaitkan Dapunta Hyg di dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai “Sri Jayanasa”, karena menurut Prasasti Talang Tuwo yg berangka tahun 684 masehi, Maharaja Sriwijaya ketika itu adalah Sri Jayanasa. Karena jarak tahun antara kedua prasati ini hanya setahun, maka kemungkinan besar “Dapunta Hyg” di dalam Prasasti Kedukan Bukit & “Sri Jayanasa” dalam Prasasti Talang Tuwo adalah orang yg sama.



    [​IMG]
    Prasasti kedukan Bukit



    Prasasti Kedukan Bukit
    1. Swasti, sri. Sakawarsatita 605 ekadasi su-
    2. klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyg naik di
    3. samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
    4. wulan Jyestha Dapunta Hyg marlapas dari Minanga
    5. tamwan mamawa yg wala dua laksa &gan kosa
    6. dua ratus cara di samwau, &gan jalan sariwu
    7. telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
    8. sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
    9. laghu mudita datang marwuat wanua …..
    10. Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa

    Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
    1. Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 605 hari kesebelas
    2. paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyg naik di
    3. perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
    4. bulan Jesta Dapunta Hyg berlepas dari Minanga
    5. tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
    6. dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
    7. tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
    8. sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
    9. lega gembira datang membuat wanua …..
    10. Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna

    Timbul setumpuk pertanyaan:
    1. Benarkah Minanga sekarang disebut Minang?
    2. Benarkah Minanga merupakan asal dari Dapunta Hyg (raja pertama Sriwijaya), orkah hanya daerah taklukan Sriwijaya?
    3. Apakah arti kalimat marwuat wanua? Benarkah kalimat ini menyatakan pembangunan sebuah kota seperti pendapat banyak ahli sejarah?
    4. Benarkah peristiwa itu merupakan pembuatan ibukota or perpindahan ibukota Sriwijaya?

    Demikianlah prasasti Kedukan Bukit mengandung banyak persoalan yg tidak sederhana. This text has caused much ink to flow kata Prof. Dr. George Coedes dalam bukunya, The Indianized States of Southeast Asia, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1968, h. 82.

    Asal-usul Raja Jayanasa & letak sebenarnya dari Minanga Tamwan masih diperdebatkan ahli sejarah. Karena kesamaan bunyinya, ada yg berpendapat Minanga Tamwan adalah sama dengan Minangkabau, yakni wilayah pegunungan di hulu sungai Batanghari. Sementara Soekmono berpendapat Minanga Tamwan bermakna pertemuan dua sungai (Tamwan berarti temuan), yakni sungai Kampar kanan & sungai Kampar kiri di Riau, yakni wilayah sekitar Candi Muara Takus.



    Hubungan Kerajaan Dharmasraya-Pagaruyung & Singhasari-Majapahit
    Dharmasraya adalah nama ibukota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera. Nama ini muncul seiring dengan melemahnya kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendra Chola I (raja Chola dari Koromandel) pada tahun 1025.



    [​IMG]
    Komplek Candi Muara Takus, salah satu Kawasan yg dianggap sebagai ibukota Sriwijaya



    Kemunduran kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra & Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yg mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yg disebut dengan nama Wangsa Mauli.

    Prasasti tertua yg pernah ditemukan atas nama raja Mauli adalah Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand. Prasasti itu berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi yg bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin. Yang mengerjakan tugas membuat arca tersebut bernama Mraten Sri Nano.

    Prasasti kedua berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Pa&g Roco tahun 1286. Prasasti ini menyebut raja Swarnabhumi bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa yg mendapat kiriman hadiah Arca Amoghapasa dari Raja Kertanagara, raja Singhasari di Pulau Jawa. Arca tersebut kemudian diletakkan di Dharmasraya.



    [​IMG]
    Arca Amogaphasa



    Dharmasraya dalam Pararaton merupakan ibukota dari negeri bhmi mlayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat pula disebut sebagai raja Malayu. Tribhuwanaraja sendiri kemungkinan besar adalah keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja pun bisa juga dianggap sebagai raja Malayu, meskipun prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.

    Yang menarik di sini adalah daerah kekuasaan Trailokyaraja pada tahun 1183 telah mencapai Grahi, yg terletak di selatan Thailand (Chaiya sekarang). Itu artinya, setelah Sriwijaya mengalami kekalahan, Malayu bangkit kembali sebagai penguasa Selat Malaka. Namun, kapan kiranya kebangkitan tersebut dimulai tidak dapat dipastikan. Dari catatan Cina disebutkan bahwa pada tahun 1082 masih ada utusan dari Chen-pi (Jambi) sebagai bawahan San-fo-ts’i, & disaat bersamaan muncul pula utusan dari Pa-lin-fong (Palembang) yg masih menjadi bawahan keluarga Rajendra.

    Istilah Srimat yg ditemukan di depan nama Trailokyaraja & Tribhuwanaraja berasal dari bahasa Tamil yg bermakna tuan pendeta. Dengan demikian, kebangkitan kembali Kerajaan Malayu dipelopori oleh kaum pendeta. Namun, tidak diketahui dengan jelas apakah pemimpin kebangkitan tersebut adalah Srimat Trailokyaraja, orkah raja sebelum dirinya. Karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti Wangsa Mauli yg lebih tua daripada prasasti Grahi.



    [​IMG]
    Prasasti ini ditemukan pada tahun 1911 di dekat sumber sungai Batanghari, Pa&groco



    Dalam Kidung Panji Wijayakrama & Pararaton menyebutkan pada tahun 1275, Kertanagara mengirimkan utusan dari Jawa ke Sumatera yg dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu yg dipimpin oleh Mahisa Anabrang or Kebo Anabrang. Kemudian ditahun 1286 Kertanagara kembali mengirimkan utusan untuk mengantarkan Arca Amoghapasa yg kemudian dipahatkan pada Prasasti Pa&g Roco di Dharmasraya ibukota bhumi malayu, sebagai hadiah dari Kerajaan Singhasari. Tim ini kembali ke Pulau Jawa pada tahun 1293 sekaligus membawa dua orang putri dari Kerajaan Melayu yg bernama Dara Petak & Dara Jingga. Kemudian Dara Petak dinikahi oleh Raden Wijaya yg telah menjadi raja Majapahit penganti Singhasari, & pernikahan ini melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit. Se&gkan Dara Jingga dinikahi oleh sira alaki dewa (orang yg bergelar dewa) & kemudian melahirkan Tuan Janaka or Mantrolot Warmadewa yg identik dengan Adityawarman, & kelak menjadi Tuan Surawasa (Suruaso) berdasarkan Prasasti Batusangkar di pedalaman Minangkabau.

    Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja or raja bawahan Majapahit, sekaligus melakukan beberapa penaklukan yg dimulai dengan menguasai Palembang. Kidung Pamacangah & Babad Arya Tabanan menyebut nama Arya Damar sebagai bupati Palembang yg berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343. Menurut Prof. C.C. Berg, tokoh ini dianggapnya identik dengan Adityawarman.



    [​IMG]
    Adityawarman



    Setelah membantu Majapahit dalam melakukan beberapa penaklukan, pada tahun 1347 masehi or 1267 saka, Adityawarman memproklamirkan dirinya sebagai Maharajadiraja dengan gelar Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa & menamakan kerajaannya dengan nama Malayapura. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Melayu sebelumnya, & memindahkan ibukotanya dari Dharmasraya ke daerah pedalaman (Pagaruyung or Suruaso). Dengan melihat gelar yg disan&g Adityawarman, terlihat dia menggabungan beberapa nama yg pernah dikenal sebelumnya, Mauli merujuk garis keturunannya kepada bangsa Mauli penguasa Dharmasraya, & gelar Sri Udayadityavarman pernah disan&g salah seorang raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra nama penakluk penguasa Sriwijaya, raja Chola dari Koromandel. Hal ini tentu sengaja dilakukan untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa di Swarnnabhumi.

    [​IMG]
    Keturunan Minang?



    Dari Sejarah diatas, terlihat sangat erat hubungan antara Singhasari-Majapahit di Jawa dengan Dharmasraya-Pagaruyung. Bahkan raja Majapahit Jayanegara pun ibunya adalah orang minang/melayu (Dara Petak). Jadi mungkin tidak terlalu mengada-ada (belum ada bukti sejarah) jika Gajah Mada adalah juga orang Minang, mengingat Mada dalam bahasa minang berarti bebal, pemalas or masif (lamban). Hal ini cocok dengan binatang Gajah yg terkesan lamban.



    [​IMG]
    Terracota yg dipercaya sebagai wajah dari Gajah Mada



    Gajah Mada (wafat k. 1364) adalah seorang panglima perang & tokoh yg sangat berpengaruh pada zaman kerajaan Majapahit. Menurut berbagai sumber mitologi, kitab, & prasasti dari zaman Jawa Kuno, ia memulai kariernya tahun 1313, & semakin menanjak setelah peristiwa pemberontakan Ra Kuti pada masa pemerintahan Sri Jayanagara, yg mengangkatnya sebagai Patih. Ia menjadi Mahapatih (Menteri Besar) pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi, & kemudian sebagai Amangkubhumi (Per&a Menteri) yg mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yg tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yg ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, & darimana dia berasal, sampai saat ini masih kontroversial. Pada masa sekarang, Indonesia telah menetapkan Gajah Mada sebagai salah satu Pahlawan Nasional & merupakan simbol nasionalisme & persatuan Nusantara.

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Asal Muasal dan Peranan Minangkabau dalam Sriwijaya & Majapahit diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. Asal Muasal dan Peranan Minangkabau dalam Sriwijaya & Majapahit.
     
    dono likes this.

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page