Liga Indonesia CATATAN DARI BANGKOK: Tak Perlu Jauh, Sepakbola Indonesia Bisa Berkaca Dulu Dari Thailand

Discussion in 'Bola' started by Bola, Feb 12, 2015.

Discuss CATATAN DARI BANGKOK: Tak Perlu Jauh, Sepakbola Indonesia Bisa Berkaca Dulu Dari Thailand in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,256
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Beberapa waktu lalu, saya koresponden Goal Indonesia untuk Madura, Aditya Wahyu Pratama bersama Donny Fahrochi (Koresponden Goal Indonesia untuk Samarinda), berkesempatan berkunjung ke Thailand untuk memenuhi undangan Running Ball, salah satu perusahaan di bawah naungan Perform Group. Kami diundang untuk menghadiri konferensi statistik pertandingan yang diadakan di Thai Public Broadcasting Service (PBS) pada 7-9 Februari 2015.

    Kesempatan itu juga tak kami sia-siakan untuk melihat perkembangan maupun pengelolaan sepakbola di Negeri Gajah Putih, julukan Thailand. Apalagi timnas Thailand baru saja menjadi yang terbaik di Asia Tenggara setelah menjuarai Piala AFF 2014 dengan barisan pemain muda mereka seperti Chanatip Songkrasin, Adisak Kraisorn, hingga Charyl Chappuis.

    Kebetulan, dalam susunan kegiatan kami selama di sana juga berkaitan dengan pendataan sebuah pertandingan sepakbola. Otomatis, ada semacam latihan untuk mendata sebuah laga sepakbola di Thailand langsung di stadion. Sebagai pembicara dan pembimbing kami dalam kegiatan tersebut adalah Hiep Hoang Vu yang berasal dari Vietnam.

    Sebelum kegiatan, Hiep menunjukkan susunan acara yang berlangsung selama tiga hari. Kegiatan yang akan dilakukan tim cukup beragam mulai pengenalan aplikasi, pengambilan data dengan media rekaman pertandingan, hingga Live Training dalam sebuah pertandingan uji coba. Sesuai draft, jadwal Live Training akan dilaksanakan di hari kedua mulai jam 5 sore hingga 8 malam di Stadion Thupatemee. Di stadion itu kami akan melihat uji coba antara Looktabfah FC kontra JW FC.

    Tapi, jadwal akhirnya diubah mengingat pertandingan tersebut dimundurkan oleh pihak panitia dan Hiep mendapatkan informasi ada sebuah laga uji coba yang dihelat tidak jauh dari tempat kegiatan.

    Meski pertandingan berlangsung di hari pertama konferensi, dan materi masih sebatas pengenalan aplikasi, hal ini tidak menyurutkan keinginan kami untuk segera mencoba mengambil data di lapangan sekaligus menikmati suasana yang akan tersaji.

    Pertandingan yang akan kami datangi justru melibatkan salah satu tim yang cukup besar di Thailand Premier League (setingkat Indonesia Super League), Bangkok United. Tuan rumah akan menjamu Samutsongkhram yang berada dua level di bawah mereka. Meski begitu, tim tamu terkenal karena memiliki Crazy Man di bawah mistar gawang.

    Perjalanan antara Thai PBS ke Thai-Japanese Stadium, tempat laga tersebut digelar, bisa ditempuh sekitar 14 menit dengan menggunakan taxi. Tarif yang dikenakan juga terhitung murah, tidak sampai 100 baht (sekitar Rp 40 ribu) untuk perjalanan sekitar 9 kilometer. Sebagai informasi, tarif taxi di sini memang sangat murah bila dibandingkan dengan kota-kota besar di Indonesia.

    Sesampainya di sana, hal sangat kontras tampak dalam pengelolaan stadion. Kompleks olahraga Thai-Japanese Stadium disusun sangat matang, dengan mempertimbangkan penggunaannya sebagai ruang terbuka hijau serta tempat rekreasi dan olahraga. Lapangan tenis dan jogging track di antara taman-taman menghiasai kompleks stadion. Selain itu, tidak tampak satu pun pedagang asongan yang berjualan di dalam kompleks stadion.

    Mereka terlihat hanya berdagang tepat di pintu masuk kompleks stadion. Para pedagang minuman juga mengetahui larangan membawa botol ke dalam lapangan, sehingga telah menyiapkan gelas plastik dalam ukuran besar kepada pembeli. Hal yang sangat berbeda dengan stadion di Indonesia, di mana para pedagang makanan maupun minuman dengan leluasa menjajakan dagangannya selagi pertandingan berlangsung, serta tetap menggunakan botol plastik sebagai wadah air mineral. Dalam kompleks stadion, hanya tempat penjualan merchandise resmi Bangkok United yang kami temui.

    Duduk di tribun penonton Thai-Japanese Stadium juga cukup nyaman. Meski tidak memiliki nomor, seluruh area telah menggunakan kursi meskipun hanya kelas VIP maupun ekonomi. Hal yang membuat kami betah menonton jalannya pertandingan. Selain itu, di dalam stadion juga telah terpasang papan skor elektronik raksasa yang menunjukkan waktu dan tim yang bertanding. Kami tidak mengetahui, apakah layar raksasa itu juga menampilkan jalannya pertandingan atau tidak saat digunakan dalam kompetisi resmi.

    [​IMG]

    Para penonton menikmati pertandingan dengan nyaman di Thai-Japanese Stadium, Bangkok.​

    Rumput lapangan terlihat seperti terawat dengan rapi. Begitu pula sistem drainase lapangan tersebut juga sudah tersistem dengan baik. Sehingga apabila terjadi hujan deras, air tidak akan tergenang di lapangan.

    Meski begitu, belum ada atap stadion di beberapa area penonton. Kondisi bench dan toilet juga cukup sederhana. Keunikan lainnya, dari tribun yang berseberangan dengan bench pemain, kita bisa melihat tulisan Bangkok dalam ukuran cukup besar yang dibentuk dari serangkaian kursi berwarna putih dalam dominasi warna biru kursi tribun.

    Tepat pukul 18.00 waktu setempat sebuah lagu terdengar dari pengeras suara stadion. Kami mengira pertandingan akan segera dimulai. Tetapi ini bukan FIFA anthem, melainkan lagu kebangsaan Thailand, Phleng Chat Thai. Salah satu rekan kami dari Goal Thailand, Lorenzo Fofi, menjelaskan bahwa setiap pukul 8 pagi dan 6 malam waktu setempat, seluruh kegiatan akan dihentikan sejenak untuk memberikan penghormatan kepada raja mereka. Hal baru bagi kami yang bukan berasal dari Thailand.

    Menariknya, walaupun bertajuk uji coba, laga Bangkok United melawan Samutsongkhram ini dilakukan mengikuti standar pertandingan resmi. Dengan keberadaan medis, steward, dan sebagainya layaknya pertandingan liga. Ini semakin meyakinkan kami bahwa pengelolaan pertandingan di sini masih di atas ISL.

    [​IMG]

    Fasilitas kursi stadion yang juga membuat nyaman penonton,wanita di Thai-Japanese Stadium.​

    Menurut pantauan kami, banyak yang berpakaian formal ala kantoran yang menonton laga uji coba ini, bahkan ada yang masih memakai jas. Untuk laga bertajuk uji coba, tak sedikit penonton yang hadir. Itu juga tidak terlepas dari tidak adanya biaya tiket untuk pertandingan itu alias gratis. Genderang para suporter tak mau kalah riuh, yang ternyata memakai satu set drum lengkap seperti bass drum, hi-hat, symbal, crash dan tom-tom ke dalam Stadion.

    Satu nilai positif lagi, walaupun tim Bangkok United sebagai tuan rumah secara mengejutkan kalah 2-1 dari tim tamu, tidak ada teriakan intimidasi ataupun lemparan dari para suporter maupun penonton biasa. Malahan setelah wasit meniup peluit tanda pertandingan berakhir, banyak penonton yang berdiri dan memberikan tepuk tangan kepada tim tamu.

    Di sisi lain, meski memiliki segala atribut stadion yang cukup mentereng dan layak, Lorenzo menyebut bahwa Thai-Japanese Stadium adalah stadion yang kualitasnya masih kurang bila dibandingkan dengan stadion lainnya yang berada di Thailand. Selain itu, Lorenzo juga menyampaikan pendapatnya tentang tim nasional Thailand. Menurutnya, target Thailand saat ini bukan lagi memenangi level kompetisi Asia Tenggara melainkan bersaing di tingkat yang lebih tinggi.

    "Sekarang kami (timnas Thailand) sudah tidak memikirkan Asia Tenggara. Kami memandang Uzbekistan dan tim Timur Tengah lainnya sebagai lawan kami saat ini. Dan berharap mampu lolos ke Piala Dunia," tuturnya.

    Penjelasan Lorenzo itu seakan menjadi tamparan keras bagi kami sebagai masyarakat pecinta sepakbola Indonesia. Ya, mereka kini semakin berkembang dan mulai menatap level yang lebih tinggi, setelah terus mengembangkan kualitas kompetisi dan sarana dan prasarana penunjang lainnya seperti pembinaan usia dini serta peningkatan kualitas stadion.

    Sementara Indonesia yang memiliki kompetisi domestik dengan balutan fanatisme yang luar biasa, masih banyak persoalan yang harus dihadapi dan tak kunjung tuntas. Mulai dari jadwal yang tidak menentu, tunggakan gaji, kualitas beberapa stadion yang tidak layak seperti genangan air saat hujan, seakan menjadi pekerjaan rumah yang selalu berulang bagi pengelola maupun otoritas tertinggi sepakbola di Indonesia, yakni PT Liga Indonesia dan PSSI.

    Sebuah perbandingan yang cukup telak antara sepakbola Indonesia dan Thailand. Saat ini, tim nasional kebanggaan kita masih terseok-seok di level Asia Tenggara. Vietnam dan Filipina yang beberapa tahun lalu bisa timnas Indonesia lumat dengan mudah, saat ini dengan mudah memberikan pelajaran bagi tim Merah Putih. Myanmar juga mulai mengimbangi tim Garuda.

    Meski kompetisi tanah air terkesan mewah, kualitas permainan timnas yang ditunjukkan di level Asia masih jauh dari kata memikat. Sempat muncul timnas Indonesia U-19 yang mampu memberikan permainan modern nan menghibur. Namun akhirnya terbenam di kompetisi Asia setelah menjadi komoditi di tanah airnya.

    Kenyataan ini seharusnya menyadarkan para pemangku kepentingan sepakbola Indonesia, tak perlu melihat jauh dengan negara yang lebih maju sepakbolanya di Eropa maupun Amerika. Tapi, lihatlah dan berkacalah lebih sering dulu dari Thailand, yang sudah lebih maju satu langkah sepakbolanya dari kita. (gk-62)(gk-59)

    liga indonesia isl, live score, wikipedia, pes 2013, divisi 1, 2014, super, CATATAN DARI BANGKOK: Tak Perlu Jauh, Sepakbola Indonesia Bisa Berkaca Dulu Dari Thailand
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page