Entrepreneur Juga Butuh Pendidikan Tinggi

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Jan 23, 2016.

Discuss Entrepreneur Juga Butuh Pendidikan Tinggi in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,760
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Jadi entrepreneur tidak perlu kuliah tinggi? Benarkah? Untuk mengetahuinya, saya mewawancarai Martin Fu, Founder Rooangyang bisa dibilang memiliki latar pendidikan luar biasa.

    Martin mendapatkan gelar S1-nya dari University of Illinois at Urbana-Champaign & gelar MSc di Stanford University. Selain itu ia juga mempelajari budaya & bahasa Cina selama satu tahun di Beijing Language and Culture University serta budaya & bahasa Jepang di Kanazawa Institute of Technology.

    Pada tahun 2014, Martin mendirikan Rooang, startup yg mempertemukan kebutuhan pemilik rumah dengan para arsitek & desainer interior terbaik di Indonesia.

    Yuk, mari kita simak cerita & kisahnya sebagai seorang entrepreneur muda!
    Menutup gap antara pemilik rumah & arsitek
    [​IMG]

    Ide Rooang sendiri muncul ketika Martin melihat adanya gap antara kebutuhan pemilik rumah & arsitek. Di tengah meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia, muncul banyak kebutuhan untuk membuat rumah menjadi lebih indah.

    “Kelas menengah ini datang ke mal, melihat-lihat, & mereka ingin rumahnya didesain secara profesional seperti ruangan dalam mal-mal itu. Tapi, mereka sering kesulitan menemukan arsitek yg sesuai, apalagi mereka yg tinggal di luar kota,” ungkapnya.

    Memang, di Indonesia belum banyak platform yg secara sistematis mempertemukan dua kebutuhan tersebut. Sebagian besar arsitek saat ini lebih banyak mendapatkan pelanggan dari informasi mulut ke mulut. Martin ingin agar Rooang bisa menawarkan sistem yg efisien untuk memenuhi kebutuhan, baik pemilik rumah maupun desainer.

    Selain mempertemukan dua kebutuhan tersebut, Rooang juga membantu pemilik rumah yg ingin mendapatkan inspirasi lewat artikel-artikelnya. Penambahan fitur juga diberikan berdasarkan masukan-masukan dari pengguna Rooang, antara lain penambahan kategori DIY (do it yourself), perubahan desain, & beberapa perubahan lainnya.

    Martin juga menekankan bahwa Rooang tidak terbatas hanya pada desain rumah, tetapi juga kantor, restoran, & lain-lain. Alasannya adalah karena rumah tidak hanya ada di satu tempat, tapi juga ada “rumah kedua” seperti kantor / kafe. Dan seringkali waktu kita lebih banyak dihabiskan di sana.
    Mau jadi entrepreneur sampai level apa?[​IMG]Sumber foto Pexels

    Yang unik dari Martin sebagai seorang founder adalah latar belakang pendidikannya yg tinggi. Padahal selama ini banyak berkembang ide bahwa entrepreneur itu tidak harus pintar / bahkan tidak perlu sekolah.

    Semua orang bisa jadi entrepreneur, tapi mau jadi entrepreneur sampai level apa?

    Martin mengungkapkan bahwa risiko kegagalan menjadi entrepreneur itu sangat tinggi, sehingga kita perlu memikirkan bagaimana risiko tersebut dapat dikelola. Salah satunya dengan cara belajar di sekolah.

    Martin melihat bahwa mereka yg percaya bahwa entrepreneur tidak perlu sekolah itu terpengaruh oleh apa yg ia sebut sebagai celebrity entrepreneur, seperti Bill Gates & Steve Jobs.

    Ia berpendapat bahwa pemikiran itu tidak salah, tetapi perlu diwaspadai juga bahwa tidak banyak orang yg bisa beruntung sepertiFounder Microsoft & Apple itu. Banyak juga orang yg dropout, memulai usaha, kemudian gagal & tidak berhasil. Ini disebabkan karena risiko kegagalan seorang entrepreneur itu sangat tinggi.

    Nah, di sekolah kita diajarkan cara berpikir yg terbaik & belajar dari best practice untuk meminimalkan risiko kegagalan tersebut,” tambah Martin.

    Selain itu, lewat sekolah kita juga mendapatkan jaringan. Menurutnya, banyak co-founder yg dulunya teman sekolah, seperti duo-pendiri Google. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sekolah bisa memberikan manfaat yg besar bagi perkembangan diri seorang entrepreneur.
    Pitching, pitching, & pitching[​IMG]Sumber foto Pexels

    Ditanya soal kesibukannya, Martin bercerita bahwa, selain merintis Rooang, ia juga aktif berperan sebagai direktur PT Mikatasa Agung, sebuah perusahaan yg memproduksi lem & cat. Perusahaan ini dirintis oleh keluarganya & sudah lebih dari 40 tahun beroperasi.

    Tentu merupakan sebuah tantangan tersendiri mengelola dua perusahaan yg sifatnya berbeda. Bagi Martin, tantangan terbesar mengelola Mikatasa sebagai sebuah perusahaan tradisional adalah mengubah budaya & sistem yg sudah mengakar ke bentuk baru yg lebih modern & efisien.
    Baca juga: Adhika Dwi Pramudita: Menjadi Entrepreneur Itu Seperti Naik Roller Coaster

    Sementara itu, tantangan mengelola startup seperti Rooang adalah bagaimana meyakinkan orang bahwa ide yg kita lakukan akan berjalan.

    “Namun, sesuatu yg baru ini memiliki risiko. Karena itu banyak orang yg enggan untuk ikut terlibat,” tambah Martin.

    Ini berlaku baik bagi partner bisnis Rooang maupun karyawan yg bekerja di dalamnya.

    “Kita sebagai nakhoda mesti meyakinkan tim kita bahwa mereka ada di kapal yg benar,” ungkapnya.

    Martin memberikan satu kata kunci untuk memecahkan masalah baik pada perusahaan tradisional maupun startup: pitching. Sebagai seorang entrepreneur, kita harus bisa mengartikulasikan ide kita kepada orang lain dengan jelas, sehingga mereka dapat diyakinkan dengan feasibilityide yg kita jalankan.

    Entrepreneur itu harus jualan terus. Pitching, pitching, pitching!

    Tentu selain pitching, mereka juga perlu pembuktian.

    “Kita perlu membuktikannya pelan-pelan dari hal terkecil, quick wins” ungkapnya.

    Dari keberhasilan ide-ide kecil ini orang akan yakin dengan ide-ide besar yg kita miliki.
    Peluang dari kesemrawutan[​IMG]Sumber foto Jude Lee

    Martin kemudian menceritakan alasannya untuk kembali ke Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak seperti negara maju yg sudah teratur.

    Di sini semrawut, tapi dari kesemrawutan ini justru muncul peluang,” katanya.

    Keputusannya itu terbukti tepat. Kenyataannya, saat ini Indonesia mengalami “dot-com boom” kedua yg menurutnya dimulai sekitar tahun 2013 & masih berlangsung hingga sekarang. Ini ditandai dengan masuknya modal dalam jumlah besar untuk startup teknologi di Indonesia.
    Baca juga: Entrepreneur Ini Membuat Startup untuk Mengatasi Masalah Ibunya

    Untuk para entrepreneur pemula yg ingin ikut terlibat dalam perkembangan pesat industri ini, Martin memberikan sarannya:

    Startup itu brutal. Jangan menjadi entrepreneur karena ingin jadi kaya, karena startup gak ada duitnya setidaknya sampai satu / dua tahun; & jangan jadi entrepreneur karena ingin kerja fleksibel, seorang entrepreneur itu bekerja 24 jam.

    Ia menyarankan untuk menjadi entrepreneur karena ingin memecahkan sebuah masalah yg meaningful. Artinya, lanjut Martin, bahwa masalah tersebut dialami oleh banyak orang, sehingga dengan memecahkannya kita bisa mengubah kehidupan orang lain ke arah yg lebih baik.

    “Mimpi yg besar akan membantu kita bertahan dalam kondisi seberat apa pun,” tutupnya.

    (Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page