Hambatan Jakarta Dalam Menerapkan Smart City

Discussion in 'Berita Online' started by Ophelia, Nov 30, 2015.

Discuss Hambatan Jakarta Dalam Menerapkan Smart City in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. Ophelia Game Maniacs Journalist

    Messages:
    6,755
    Likes Received:
    22
    Trophy Points:
    18
    [​IMG]
    Tak hanya sebagai ibukota, Jakarta juga merupakan kota terbesar di Indonesia. Luas wilayahnya mencapai 661 km2 dengan jumlah penduduk lebih dari 10 juta orang.Demi memberikan pelayanan yg maksimal & efisien untuk seluruh warganya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yg akrab disapa Ahok mencanangkan JakartaSmart City begitu ia mulai menjabat di akhir 2014 lalu.

    Untuk mewujudkannya, Ahok pun membentuk sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) smart city pada tanggal 2 Februari 2015, yg saat ini dipimpin oleh Setiaji.Agarkonsep smart city bisa segera diwujudkan di Jakarta, Ahoktelah menyiapkan anggaran sebesar Rp857 juta untuk pembuatan masterplan smart city & dana Rp34,7 miliar untuk menerapkannya. Namun, dalam perjalanannya yg hampir mencapai setahun, program Jakarta Smart Citydinilai belum sukses.

    Dalam acara Talk Session yg diadakan di EV Hive, Jakarta, Selasa (24/11), Michael Sianipar, asisten pribadi Ahok, mengatakan kalau ada beberapa hambatan yg dialami Jakarta dalam penerapan smart city. Hambatan itu adalah rendahnya partisipasi publik, kurangnya sumber daya manusia, & minimnya infrastruktur pendukung.
    Rendahnya partisipasi publik[​IMG]Tampilan aplikasi KawalAPBD

    Sebagai ibukota negara, Jakarta juga menjadi pusat pemerintahan & pusat ekonomi Indonesia. Dari total perputaran uang di Tanah Air,60 persen di antaranya terjadi di Jakarta. Oleh karena itu, menurut Michael, Jakarta punya anggaran pembangunan yg sangat besar, mencapai Rp70 triliun.

    “Dana besar tersebut sangat rawan untuk disalahgunakan. Oleh karena itu, salah satu fokus dari smart city adalah bagaimana membuat data anggaran menjadi transparan,” ujar Michael.

    Itulah yg mendasari dibuatnya aplikasi KawalAPBD. Dengan aplikasi ini, semua orang bisa melihat & mengkritisi seluruh rencana pengeluaran, baik yg dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, maupun yg telah disetujui & akan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta.

    Sayangnya, menurut Michael, partisipasi masyarakat untuk mengkritisi rencana pengeluaran tersebut sangat rendah. Hal yg sama juga terjadi dengan Qlue, padahal masyarakat Jakarta seharusnya sudah bisa melaporkan masalah yg terjadi di tiap wilayah dengan aplikasi mobile tersebut.

    “Kita sudah membuat semua fasilitas itu, tapi penduduk Jakarta yg memanfaatkannya masih sangat jarang,” ujar Michael.
    Baca juga: Penggunaan Internet of Things (IoT) untuk Pengembangan Smart City di Indonesia

    Isu Sumber Daya Manusia[​IMG]Michael Sianipar, Asisten Pribadi Ahok, dalam acara Talk Session di EV Hive

    Hal lain yg menghambat penerapan smart citydi Jakarta adalah kurangnya orang-orang yg mampu membuat perencanaan baik & merealisasikannya. Di sisi lain, Pemda Jakarta tidak diperbolehkan untuk merekrut para profesional untuk melakukannya.

    Salah satu langkah Ahok untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membuka kesempatan magang selama tiga bulan di kantor Gubernur DKI Jakarta. Selama tiga bulan, orang-orang yg terpilih akan dibagi menjadi beberapa tim.

    Mereka akan diminta untuk membuat proyek-proyek yg bermanfaat, termasuk yg berkaitan dengan smart city. Sejak mulai berjalan pada tahun 2013, ratusan orang selalu mendaftar di setiap periodenya.

    “Keuntungan utama dari mengikuti program magang ini adalah akses langsung terhadap semua data yg ada di kantor pemerintah DKI Jakarta, serta kesempatan untuk berhubungan langsung dengan Pak Gubernur,” ujar Michael.
    Minimnya infrastruktur pendukung[​IMG]Taman Suropati, salah satu taman di Jakarta yg telah dilengkapi Wi-Fi

    Hal lain yg juga menghambat terwujudnya mimpi Jakarta Smart City adalah kurangnya infrastruktur yg mendukung. Pemda DKI Jakarta sebenarnya telah mencoba mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan cara memasang Wi-Fi di enam taman publik di Jakarta, serta di tiga Taman Pemakaman Umum (TPU).

    Selain itu, Pemda DKI Jakarta juga tengah membangun sebuah Command Center di kantor Gubernur DKI Jakarta (Balaikota), untuk memantau segala hal yg terjadi di Jakarta secara online. Command Center ini dibangun dengan biaya sebesar Rp30 miliar & dilengkapi dengan co-working space yg bisa digunakan oleh startup-startup yg tertarik untuk memanfaatkan data-data pemerintahan di DKI Jakarta.
    Baca juga:Jakarta Smart City Membuka Kesempatan Kerja Sama dengan StartupLokal
    Mengubah UPT smart citymenjadi Badan Usaha
    Saat ini, UPT smart cityberada di bawah Dinas Komunikasi, Informatika, & Kehumasan DKI Jakarta. Menurut Michael, hal itu dirasa kurang tepat, karena pelaksana smart city seharusnya bisa mengkoordinasikan beberapa dinas, bukan berada di salah satu dinas.

    Itulah mengapa, di kemudian hari, UPT smart city ini diharapkan bisa berubah menjadi sebuah Badan Usaha, agar bisa lebih cepat dalam memberikan pelayanan publik yg baik dengan solusi teknologi terbaru. Hal seperti ini telah diterapkan oleh Singapura dengan membuat perusahaan NCS untuk menangani penerapan smart city di negara tersebut.

    Bagaimana pendapat kamu tentang penerapan smart citydi Jakarta? Apakah sudah berjalan dengan baik? Apa masukan kamu untuk program Jakarta Smart City?

    (Diedit oleh Fadly Yanuar Iriansyah;Sumber gambarthousandwondersdandisanagimana)

    Dikutip dari sini
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page