Ilmu Gaib Nabi dan Wali dari Agama Islam

Discussion in 'Supranatural dan Mitos' started by ariyahandara, Feb 25, 2015.

Discuss Ilmu Gaib Nabi dan Wali dari Agama Islam in the Supranatural dan Mitos area at Nyit-Nyit.Net

  1. ariyahandara TK 0 Besar Level 1

    Messages:
    113
    Likes Received:
    27
    Trophy Points:
    57
    Game:
    Tidak Ada
    Region:
    Tasikmalaya
    Allah Swt berfirman:

    "Katakanlah, "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (QS. al-A'raf: 188)

    Dalam al-Quran dan Hadis banyak penjelasan yang menunjukkan para nabi dan wali Allah memiliki ilmu gaib. Tapi pada saat yang sama, ada juga ayat dan riwayat yang menunjukkan mereka tidak memiliki ilmu gaib, seperti ayat 188 dari surat al-A'raf ini! Ada beberapa cara untuk menggabungkan dua kelompok ayat dan riwayat dalam masalah ini:

    1. Ketika disebutkan bahwa mereka tidak mengetahui ilmu gaib, maksudnya mereka tidak mengetahui gaib dari diri mereka sendiri. Tapi ketika di ayat atau riwayat yang mengatakan mereka mengetahui gaib, maka maksudnya adalah dengan kehendak, ilham dan wahyu. Sama seperti kita mengatakan bahwa kota itu tidak memiliki minyak. Maksud dari ucapan itu adalah kota itu tidak memiliki sumber minyak. Sementara yang dimaksud dengan memiliki minyak adalah minyak sampai ke sana lewat pipa, mobil, kapal dan kereta api.

    2. Ilmu gaib terbagi dalam dua kelompok, dimana para nabi mengetahui sebagian besarnya seperti berita-berita yang disampaikan lewat wahyu kepada Nabi Muhammad Saw. "Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad)..."[1] Sebagian lagi dari ilmu gaib milik Allah dan tidak satupun yang mengetahuinya, seperti kapan hari terjadinya kiamat. Dengan demikian, ketika disebutkan bahwa nabi tidak mengetahui ilmu gaib, artinya yang khusus diketahui Allah Swt saja, dan yang diketahui mereka adalah bagian lain yang didapat melalui wahyu.

    3. Orang yang diajak berbicara oleh Nabi Saw berbeda-beda. Sebagian dari mereka adalah orang yang berlebih-lebihan, sehingga para nabi atau Imam as berkata kepada mereka, "Kami tidak mengetahui hal yang gaib," agar mereka tidak berlebih-lebihan berbicara tentang dirinya. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang punya pengetahuan tidak sempurna tentang para nabi dan Imam as. Untuk mereka ini, terkadang Nabi Saw atau Imam as membuka sedikit tentang masalah gaib kepada mereka.

    4. Yang dimaksud dengan tidak mengetahui ilmu gaib adalah tidak ingat pada waktu itu. Sesuai dengan sejumlah riwayat disebutkan bagi para Imam as ada tiang cahaya vertikal yang ketika mereka merujuk kepadanya, mereka kemudian menjadi tahu. Sama seperti manusia yang mengatakan saya tidak tahu nomor telepon si fulan, tapi memiliki buku telepon dan dengan merujuk kepadanya, ia jadi tahu nomor teleponnya.

    5. Mengetahui hal yang gaib untuk segala hal bukan tanda kesempurnaan, tapi terkadang justru menjadi kekurangan. Sebagai contoh, malam ketika Imam Ali as tidur menggantikan Nabi Muhammad Saw, bila beliau tahu tidak akan ada bahaya yang mengancamnya, maka itu tidak termasuk kesempurnaan baginya. Karena dalam kondisi ini semua orang siap untuk tidur menggantikan Nabi Saw. Dalam masalah ini, kesempurnaan ada pada ketidaktahuan.

    6. Allah Swt tidak memberikan ilmu gaib kepada para nabi dan Imam as bila di sana ada harapan keuntungan atau kerugian. Contohnya seperti ayat 188 surat al-A'raf ini. Tapi lain halnya ketika tujuan dari ilmu gaib adalah memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia, maka Allah Swt memberikan ilmu gaib kepada mereka. Sama seperti ketika Nabi Isa as berkata kepada para sahabatnya, "... aku dapat mengabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu..."[2]

    Penduduk Mekah berkata kepada Nabi Saw, "Bila engkau memiliki hubungan dengan Allah, mengapa engkau tidak tahu tentang mahal atau murahnya harga barang di kemudian hari, sehingga engkau dapat meraih keuntungan dan menghindari kerugian?" Setelah itu ayat 188 surat al-A'raf ini diturunkan kepada beliau.[3] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

    Sumber: Mohsen Qarati, Daghayeghi ba Quran, Tehran, Markaz Farhanggi Darsha-i az Quran, 1388 Hs, cet 1.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page