Ini Rekaman dan Transkrip Lengkap dari Papa Minta Saham

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Dec 3, 2015.

Discuss Ini Rekaman dan Transkrip Lengkap dari Papa Minta Saham in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    16,075
    Likes Received:
    51
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]MKD / Mahkamah Kehormatan Dewan menggelar sidang tentang dugaan pelanggaran kode etik Ketua DPR, Setya Novanto.

    Pada sidang perdana, MKD turut menghadirkan Menteri ESDM, Sudirman Said sebagai terlapor.

    Pada sidang tersebut, Sudirman Said mengatakan kalau Setya Novanto seakan mengkondisikan permintaan saham pada PT Freeport Indonesia.

    Bukan hanya itu saja, Setya juga dikatakan mendesak PT Freeport Indonesia mengenai saham.

    Hal tersebut diungkapkan oleh Sudirman berdasarkan rekaman & transkrip pembicaraan antara Setnov (SN), M Riza Chalid (MR), & Direktur PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin (MS).

    “Kalau didengar (rekaman) secara utuh, meskipun yg mengatakan angka (saham) Riza, tapi yg mengondisikan, merespons, & memberikan penekanan adalah Pak SN (Novanto),” jawab Sudirman, Rabu (2/12/2015).

    Berikut ini transkrip lengkap & rekaman lengkap pembicaraan sepanjang 120 menit itu, seperti yg dikutip dari nyapnyap.com:

    MS: Assalaamualaikum Pak

    SN & MR: Widiiiihh

    SN: Gak keluar Pak

    MS: Enggak Pak, ada tahllilan.

    SN: Gak ke Solo?

    MR: Besok?

    MS: Ke Solo kan lusa

    SN: Kan acaranya 11, Kamis ya

    MR: Bukan 12, kata Lucas. Pak Luhut pesen musti ketemu dia.

    SN: Yang bayar duluan

    MR: Gua duluan ya.

    MS: Wah ramai

    MR: Loe mau ngikut pesawat gua gak.

    SN: Pak Luhutnya kan

    MR: Gua sebentar, gua salaman, gua ketemu Pak Luhut gua kabur ke airport. Habis mau ngapain lagi lama-lama, yg penting buat kita nongol, salaman, ketemu Pak luhut udah.

    MS: Airport sama kota kan deket.

    MR: Iya

    MS: Cuma macetnya Solo itu.

    MR: Kalau gak naik itu, bisa jam 3 hari hari. Kalau mau. Tapi kira-kira kan bapak kira-kira sudah dapat Garuda kan. Freeport nyupport? (untuk pernikahan anak Jokowi)

    MS: Nggak ada. Nggak ada kita

    MR: Maklumlah presidennya, sudah banyak. (ketawa)

    MS: Tidak mungkin juga terbatas kali. Bikinnya kan di Solo. Kalau seperti Pak SBY dulu bikinnya di istana kan besar-besaran. Kapasitasnya juga besar.

    MR: Ini cuma 2000, 3000.

    MS: Itu yg diundang. Belum keluarga. Kapasitas terbatas.

    SN: Saya ditanyain wartawan di kita, Pak itu kan dibatasi oleh Menteri PAN hanya 400. Presiden sudah 2000-3000. Ya nggak ada masalah, namanya masyarakat pengin ketemu presiden.

    MS: Menteri PAN kan kadang masih ecek-ecek. Dia pikir, entar gua ngawinin gua sudah pensiun. Ya kan, anaknya Menteri PAN kan masih kecil-kecil. Bayangin aja 400.

    MR: Suka-suka dia Pak

    MS: Susah Pak, budaya orang Indonesia kan ndak bisa begitu Pak. Bagi orang barat 400 sudah besar banget

    MR: Pak Syaf waktu ngawinin anaknya, banyak, pokoknya gua gak peduli. Pesta gua yg bikin.

    SN: Syaf siapa?

    MR: Syafruddin.

    SN: Ooo

    MR: Banyak yg datang.

    MS: Mana mungkin itu pak.

    MR: Tapi jangan saya katanya gitu. Ada aja alasannya.

    MS: Susah pak budaya kita budaya kekeluargaan

    SN: Nanti saya Desember. Eh membengkak

    MR: 9.000 lebih. Yang bikin acarnya caranya gitu. Jadi caranya undangan yg kanan untuk besan saja, yg kiri kita. Jadi bukan saya yg undang tapi besan saya. Selesai

    SN: Saya itu pak, sudah ketemu presiden, waktu sampai ada 5 pimpinan negara lainnya. Ada ketua MA, Ketua KY, Ketua MK. Saya bilang Pak, bapak ke Papua. Iya kata presiden. Padahal di sana gak ada yg jemput. DPRDnya, bupatinya, gubernurnya. Kesel juga. Soal PSSI macam-macam. Saya bilang bikin itu saja istana di papua. Setuju pak, kata presiden. Masak ada Tampak Siring, Bogor. Masak di sana tidak ada. Saya sudah lihat di sana ada tanah kosong, depannya laut. Jadi secara politis ke depan pasti ke sana. Semua manggut-manggut. Lagi seneng dia. Freeport itu saya sudah ketemu Jim Bob, Dirutnya, saya minta dipertimbangkan. Waktu itu dengan menteri itu, soal perpanjangan itu kan DPR minta untuk duduk. Sedangkan sekarang kan ada tiga hal, kemarin menteri ESDM menemui saya di Surabaya, khusus bicara ini. Beliau bicara tiga hal. Satu, penerimaan minta ditingkatkan. Kedua adalah privatisasi, permintaan itu 30 Juta untuk 51%. Mana mungkin saya bilang gitu. Ketiga adalah pembangunan smelter. Oh oke Pak Ketua. Kalau berhenti itu soal penerimaan saya gak sependapat Pak Ketua. Karena kita itu paling hanya nerima 7-8 triliunlah. Tapi kita keluarkan dananya untuk di Papua, Otsus itu, kita 35 T. Ndak imbang. Tapi kan itu udah dibantu CSR. Iya tapi tidak cukup Pak ketua. Kita besar sekali.

    Kedua kalau smelter. Kalau di sana bangun smelter di sana lebih banyak rawa. Jadi kuatirnya waktu. Kalau lihat gitu saya lihat di Gresik ada smelter kecil yg tinggal diterusin. Terus di sana juga ada pabrik semen juga untuk pupuk yg penting kan pakai dana sendiri, tidak melalui dana perbankan kita. Kita harus paksa supaya cepat-cepat dibangun. Ya kalau gitu. Habis itu baru Timika, Pak Ketua. Yang mana duluan Pak. Dia diam saja. Yang ketiga, soal apa Pak Ketua. Soal penyerahan soal sahamnya itu, kan sudah 30 % diminta 51%. Itu tidak mungkin Pak. Ini kan sudah berbagi dengan daerah yg 250 ribu Ha itu, susah juga. Kebayang juga dengan kabupaten lain. Ini tidak mungkin. Terus dia diam saja. Pak Luhut cuma bilang: kita runding. Pas saya makan, presiden samperin saya. Ini kan Pak Luhut. Itu apa Pak Luhut sudah bicara belum. Oh iya sudah Pak, Pak Luhut yg banyak memberikan pendapat. Bagusnya kalau bisa segera. Ngobrol-ngobrol itu. Oh iya sekarang Pak karena sekarang sudah waktunya.

    Lalu saya pulang. Saya mau rundingan dengan sama Pak. Jangan-jangan ini karena yg dulu ada keributan antara anak buahnya Pak Luhut, Si Darmo & si siapa itu, Sudirman Said diekspos. Ini minta diklirken. Saya akan ngomong ke Pak Luhut. Ya udah. Makanya perlu ketemu itu. Hahahahaa

    MR: Jadi gini Pak. Ini bahan dari Pak Luhut & timnya. Sudah baca?

    MS: Perpres sudah baca yg percepatan pembangunan ekonomi Papua.

    MR: Jadi mereka itu kan mau maju dulu dibangun di sana. Apa sudah ada konsep di sana? Dari Pak menteri

    MS: Oh tidak begitu.

    MR: Jadi tetap di Gresik

    MS: Oh ndak, UU tidak mengatakan begitu. PP juga tidak mengatakan begitu. Jadi pemurnian harus dibangun di dalam negeri. PPnya juga begitu, Pemurnian itu dilakukan 100 persen di dalam negeri. Kemudian tanggal 23 Januari 2015, pas setengah bulan yg lalu, itu persyaratan untuk memperpanjang izin ekspor harus melengkapi, salah satu diantara enam itu harus menentukan eksak location. Satu lagi soal feasibilty study. Dapatlah di Gresik. Jadi tidak ada yg mengatakan harus di Papua . Setelah kita umumkan di Gresik & kita tanda tangani 23 Januari itu baru muncul Pemda Papua yg mengatakan harus dibangun di Papua.

    SN: Terus janji presiden

    MS: Ya betul, kemudian Presiden ke sana, janjikan oke kalau gitu dibangun. Kalau kita bangun di Papua siapa yg mau kasih. Di Gresik saja sudah 2,3 M. Kalau di Papua bisa hampir 4 M. Dari mana mau dananya. Gak mungkin bangun di Papua.

    MR: Ya ya. Jadi begini Pak, soal itu saya ngomong sama Darmo. Saya bilang Darmo siap ya. Dia kan ngurusi semua. Dia akan melihatnya ini kalau perlu biayanya besar juga.

    SN: Pengusaha juga

    MR: Kalau Ini tugasmu untuk mengamankan. Jadi saya sudah bicara, Pak Jokowi. Urusan dia saya. Dia dipakai Pak Luhut semua.

    MR: Soal saham itu ada pemikiran, PLTA.

    MS: PLTA? Yang mau memiliki sahamnya siapa Pak?

    MR: Ada nominenya, punya Pak Luhut.

    MS: Pak Luhut

    MS: Yang sahamnya itu juga maunya Pak Luhut itu jaminan guarantee itu dari Freeport untuk saham itu. Seperti dulu yg dilakukan oleh Freeport kepada pengusaha.

    SN: Pak Luhut pernah bicara dengan Jim Bob di Amerika.

    MR: Jadi kalau itu bisa diolah, ini rahasia yg tahu cuma kita berempat ya Pak. Diolah gitu

    MS: Pak itu harus ada yg perlu dihitung pak sekarang. Waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Dari enam isu yg saya kasih Pak Ketua itu, waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Kalau itu tidak keluar, katakanlah 23 Juli nanti, tanggal 1 Juli tidak ada kepastian, maka kita akan arbitrase internasional

    MR: Apa?

    MS: Arbitrase internasional jalan. Tidak ada lagi itu. 1 Juli lah pak sudah ada kepastian. Sekarang apa guaranteenya kalau permintaan itu dipenuhi, ini juga keluar. Apa garansinya kalau permintaan itu ada singnal, 1 Juli sudah ada signal, apa garansinya? Ya to Pak. Apa garansinya

    MS: Ini kan masih di Solo.

    MR: Ya ketemunya di sinilah. Ketemu Pak Luhut, ini kan masih ada kesibukan. Habis itu baru.. Habis itu Jumat ke Pak Luhut. Harus ditugasin itu dia. Kalau bisa tuntas & minggu depan sudah bisa settlement. Tanggal 22, seperti usul lalu, Itu yg sekarang sudah kerja. Kita sudah approach beberapa kali. Benar. Kalau Freeport memiliki 15 %, kita pasti bilang.

    MS: Kalau tidak salah ada feasibility study, coba ditinjau lagi. Kalau tidak salah Freeport itu off taker.

    MR: Itu tadi Pak. Saran saya jangan off taker dulu. Kalau bapak off taker dulu itu akan ada di kedua belah pihak.

    MS: Dari mana

    MR: Dari third parties yang..

    MS: Bapak juga nanti baru bisa bangun kalau kita kasih purchasing guarantee lho pak.

    MR: Oh ya betul

    MS: Ketergantungan bukan dari third party tapi dari kita dong.

    MR: Oh iya, tapi kan kalau bapak ikut bikin kan, bapak ikut mengendalikan. Bapak bikin PLTA-nya, bapak ikut mengendalikan

    MS: Artinya investasinya patungan, 49, 51.

    MR: Iya.

    MS: Investasi patungan. Tapi off taker kita juga.

    MR: Iya

    MS: Kalau gitu double dong.

    MR: Enggak double Pak

    MS: Modal dari kita, kita juga yg off taker. Anu, kita bicara dulu di depan, supaya kita bisa mengolahnya.

    MR: Pak Off taker itu hanya sugar guarantee

    MS: Iya purchasing guarantee

    MR: Purcahsing guarantee itu tidak ada uang keluar. Hanya guarantee. Maka cuan. Uang keluar itu hanya unruk pembangunan. Kalau itu bapak juga harganya bisa dikontrol pada yg wajar.

    SN: Harga itu sektor terbesar.

    MR: Iyalah itu kira-kira. Harga perlu dikendalikan yg wajar. Atau kalau terbalik, kalau pure itu, itu kan satu deal. Misalnya Jim bilang Freeport gak usah ikut. Silahkan yg lain, murni. Investor banyak yg mau, gak susah kalau Freeport. Marubeni ngotot mau masuk situ, Cuma harga tinggi. Itu maksud saya Pak. Justru kita sebagai lokal, merasa nyaman kalau itu opsinya sama Freeport. Dibandingkan kalau sama orang luar. China pun ada yg mau Pak.

    MS: Ini yg Pak Riza sampaikan yg lalu sama Dharmawangsa itu kan

    MR: Iya. Itu harganya yg wajar. Bukan harga yg tidak ketinggian tidak kerendahan. Kan PTnya milik bapak juga, 51 %. Nanti bapak juga jangan sampai menekan ke induk usaha Freeport, pertambangan.

    MS: Kuncinya kan itu lagi, surat perpanjangan itu. Tidak mungkin keluar purchasing guarantee kalau tidak. PLTA mau dibangun itu kan untuk underground mining. Underground mining baru bisa dipastikan mau dilanjutkan kalau ada perpanjangan.

    MR: Betul perpanjangan. Ini Komitmen itu dibutuhkan. Komitmen itu belum off take guarantee belum Pak

    MS: Lho kalau komitmen, Freeport komitmen. Begitu ada perpanjangan komitmen kita akan jalankan. Saya pertaruhkan itu.

    MR: Itulah pak yg perlu duduk itu komitmen

    MS: Karena tidak mungkin itu pak. Freeport sudah menanam 4 M dollar. Sudah yg mempersiapkan underground, untuk infrastruktur & pesiapan operasional, meskipun tanpa kepastian. Jadi jangan ragu dengan komitmen. Terus untuk smelter Desember nanti kita taruh lagi 700 ribu dollar, itu commitment fee. Itu Desember. Tanpa ada kepastian lho Pak. Karena kita tidak tahu dianggap tidak komitmen

    MR: 700 juta ya Pak?

    MS: Sorry 700 juta dollar. Apalagi yg kita kurang komitmen. Tidak perlu komitmen lagi. Ini sudah komitmen. Ndak ada ndak ada

    MR: Tapi kira-kira kalau konsep tadi mau ambil apa enggak?

    MS: Saya nggak jamin mau apa nggak. Tapi kasihkan dulu itu Pak.

    MR: Wah kalau ada 700 juta, proposal gitu gua lepas ini

    SN: Artinya kalau ada opportunity. Kan ada di Pak Luhut

    MS: Signed dulu itu.

    MR: Singned itu pasti itu akan segera

    MS: Tapi kalau dengar penjelasan Pak Ketua tadi sayanya enggak begitu jelas. Dari Pak Jokowi ya enggak jelas

    SN: Kalau Pak Jokowi itu dia, beliau sudah setuju kalau sarannya untuk di Gresik. Tapi berikutnya di Papua. Tapi ada ujungnya-ujungnya, waktu saya makan itu Pak Ketua sudah bicara belum Pak Luhut, saya disuruh ngadep ke Pak Luhut, ngobrol-ngobrol. Saya langsung tahu ceritanya ini waktu rapat, yg terjadi antara si ESDM dengan Darmo. Kalau menurut saya, memang Pak, Presiden itu ada yg mohon maaf ya, ada yg dipikirkan untuk ke depan memang. Kalau dilihat dari, karena dia dengar Pak Jusuf Kalla itu kan terjadi begitu, makanya selalu menyinggung masak Jusuf Kalla terus. Kalau lihat begitu memang dia

    MS: Ada ganjalan

    SN: Ada ganjalan. Makanya kita harus menutupi. Gak habis-habis

    MS: Mempercantik

    SN: Mempercantik. Tapi kalau pengalaman kita, artinya saya dengan pak Luhut, pengalaman-pengalaman dengan presiden, itu rata-rata 99 % itu goal semua Pak. Ada keputusan-keputusan penting kayak Arab itu, bermain kita. Makanya saya tahu. Makanya Bung Riza begitu tahu Darmo, dimaintaince, dibiayai terus itu Darmo habis-habisan supaya belok. Pinter itu

    MS: Anu The lobbies

    (MS, SN, MR ketawa)

    SN: Itulah

    MR: Pak, Pak. Hubungan Pak Luhut itu dekat sekali dengan Pak Jokowi. Kalau kasih sign beliau keluar, kasih sign, eh beliau kayaknya begini gini, rahasia ya. Ngerti nggak. Paling nggak Pak, kalau saya bilang confirm on, kalau meleset saya habis Pak.

    MS: Ndak Pak. Kalau meleset komitmen, kalau sudah keluar komitmen tidak akan meleset Pak. Kalau sudah keluar komitmen. Seperti saham berapa persen Pak.

    MR: Itu yg saya juga belum, yg belum

    MS: Bapak harus jelas juga berapa persen sahamnya. Karena itu bukan uang kecil lho Pak soal saham itu & nilai aset Freeport itu bukan main.

    MR: Kedua, nilainya berapa. Sama yg itu kan diambilnya harus untung, biar pinjaman bisa recover

    MS: Mungkin harus jelas juga Pak, supaya anunya, perhitungannya lebih jelas juga

    MR: Bapak itu sudah jalan divestasi sudah berapa persen?

    MS: 30 % yg sudah jalan

    MR: Yang sudah jalan 9 persen dong

    MS: 9,3 %. DIpegang BUMN

    SN: Kalau gak salah itu Pak Luhut sudah bicara.

    MR: Pak Luhut sudah bicara

    SN: Pak Luhut bicara dengan Jim Bob. Pak Luhut udah ada unek-unek Pak

    MR: Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut.

    SN: Iya. Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di San Diago, dengan Jim Bob, empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia memang di sini 10 %. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini. Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu lhp hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu. Strateginya gitu lho.. Hahahaa

    MS: Lobbies

    MR: Untuk pertama kali, berapa yg saya olah. Disampaikan, kalau cawe-cawe kan dia juga kerja di konsultan. Dia kan kalau konsultan datang, dia langsung bikin titik.

    MS: Ada saya baca..

    MR: Saya punya presentasinya. Habis presentasi sedetil itu, habis itu langsung saya telpon. Tanggal berapa itu

    SN: Sekarang sudah digarap sama Bung Riza. Hahahaa Saya tahu Pak..

    MS: Tanggal 14

    MR: Memang kita tidak mau mencampuri politik. Tapi kenyataannya barier politik itu ada. Kerjanya cepat..Makanya.dan happy. KIta akan kasih pengertian. Pak Luhut pasti oke. Karena Pak Luhut gak terlalu gini juga. Kita happy-happy semua Pak. Kalau bapak happy, kita semua juga happy.

    SN: Kita happy Pak kalau Bung Riza yg mengatur

    MR: Bukan, kita kerja, kita kan sunggung-sungguh kerja ya Pak ya. Ada prospek. Insya Allah, Allah kasih rezeki. Berjalan. Kan masalah banyak disitu. Sampai empat tahun Pak

    MS: Nggak setahun saja, ini selesai urusan monster.

    MR: Kalau itu itu bisa sampai 25 tahun

    MS: Lama itu Pak. Nggak cuma ini aja Pak. Setiap pembangunan di Papua nanti butuh power tinggal nambah, nambah, nambah Pak.

    SN: Pinter ini dibayar sama itu

    MR: Menurut saya, cara itu elegan. Freeport yg kontrol, harga dikendali. Freeport bantu cari guarantee, pinjaman. Terus, di sana cicil bagus, bisa kredit guarantee sesuai. Yang enak gitu lho pak. Freeport yg kontrol, semua jalan semua. Pengendali. Kalau kita bikin CSR ke orang-orang kampung kita bisa. Ada Freeport juga di situ. Itulah Pak, bagus sekali itu. Kalau itu misalnya sama China. Jepang itu lain lagi.

    MS: Teknologi mau pakai teknolohi mana?

    MR: China? Gampang itu Pak

    MS: Enggak, kalau begini Pak

    MR: Dari China. Oh bisa

    MS: Ini kan perusahaan Amerika, harus dilihat juga. Jangan lupa yg kecil-kecil gitu. Biar strateginya nyambung nanti pak

    MR: Turbin dapat kredit ekspor dari sana.

    MS: Itu Pak, smelter Papua sudah ada statement bersama. Pemda Papua akan mencari investor. Statement bersama dihadiri oleh Komisi 7, Ketua DPRP, Ketua MRP, ada Menteri ESDM. Statement bersama.

    SN: Yang waktu itu ya

    MS: Iya. Dan gubernur mendukung pembangunan smelter. Freeport di Gresik. Kalau dia punya smelter jadi, Freeport akan menyuplai konsentratnya dengan perhitungan B to B ke smelter yg sudah ada akan dibangun. Begitu Pak

    SN: Perjalanan tambah sudah mulus dong

    MS: Sudah ada komitmen, Gubernur Lucas itu sudah mengeluarkan statemen itu. Cuma kan ada kemungkinan, ini gubernur punya pemikiran bahwa semua smelter semua spesifikasinya sama. Di setiap komoditas minerail itu, mainnya itu beda. Tidak bisa tembaga / emas itu makan nikel / bauksit. Di pergi ke China nyari. Teknologinya nikel & bauksit. Kalau teknologi tembaga emas itu adanya di Jepang. Dia salah langkah Pak. Gitu lho Pak. Makanya dia agak mandeg mau membangun smelter. Kan teknologinya beda pak. Njlimet itu pak teknologi setelah saya pelajari. Yang top itu teknologinya Mitshubishi.

    MR & SN: Ooooooo

    MS: Untuk smelter. Memang gila itu, Jepang memang top. Tidak pakai kimia, tidak pakai kimia, semua fisik. Makanya Freeport itu tidak ada proses kimia dalam pemurnian. Salah langkah dia untuk Papua. Harusnya dia lakukan ini dulu, sudah bentul. Bangun dulu Papua secara keekonomian. Bangun dulu infrastruktur Papua secara keekonomian. Jangan bangun smelter dulu di depan. Bagaimana mau bangun smelter kalau enggak ada listrik, enggak ada pelabuhan, enggak ada jalan, enggak ada air bersih, enggak ada gas. Mahal Pak. Bangun dulu nilai keekonomian. Makanya itu Keppresya sudah betul. Makanya Bappenas, sudah cocok itu. Bangun dulu infrastruktur, bagun pabrik semen, pabrik pupuk.

    SN: Sudah Pak. Kemarin itu saya diarahkan sama Bu RIni, menteri ESDM jadi nanti itu ditunjuk di Bintuni. Bintuni itu arealnya 6000 hektar. Itu dibuat di sana itu pabrik pupuk, Antam juga disitu, pelabuhan bukan hanya Sorong pak tapi di situ. Sehingga ini sebenarnya untuk menunjang perekonomian itu. Ini lagi mulai pembuatan-pembuatan itu yg pihak Dirut Antam, Pak Budi ketemu saya waktu itu, memang betul sedang membuat. Gasnya selain gasnya itu dari apa itu yg di sana

    MS: Tangguh

    SN: Tangguh, tetapi juga dari Malaysia, dari Ginting. Mereka dapat itu

    MR: Genting, genting

    SN: Genting

    MR: Benar itu Pak. Ada 5 TCf cadangan di Papua. Itu yg akan disuplai ke tempatnya bapak.

    MS: Bintuni kalau mau membawa nanti konsentratnya dari Timika, coba dilihat kondisi geografinya Pak, bagimana berapa cost deliverynya. Faktor cuaca melalui laut. Kalau lewat darat wah pembangunannya gila berat, very costly. Bapak harus lihat line costnya, garis pantainya untuk membawa konsentrat dari Timika ke situ.

    SN: Yayaya.

    MS: Kenapa tidak dari Timika dibawa ke Gresik. Karena line costya gampang. Kalau mau dibawa ke Papua harus lihat dari garis pantai

    MR: Ooo geografi dengan costnya ya.

    MS: Harus lihat itu Pak. Modal

    MR: Kalau begitu, tidak ada jaminan pupuk bangun, tidak ada jaminan semen bangun. Sehingga revisinya. Makanya gandeng kita. Mau bangun enggak, gitu. Tapi kalau dipressing nggak ada semua. Orang yg ngasih duit uang ke Freeport, sudah pasti oke, sudah pasti dibeli nih

    MS: Off takernya banyak.

    MR: Banyak off takernya.

    SN: Iya purchasing guarantee

    MS: Harus integreted Pak. Susah ini pak

    MR: Kalau orang mau menggaransi, off taker baik pasti bangun pabrik pupuk. Bangun di sana

    MS: Itu nanti menjual hasil konsentrat itu secara internasional juga harus dipikiran marketnya

    SN: Kalau semen itu Pak, pada akhirnya bisa dibangun di situ gak, Di Timika? Kalau seandainya presiden sudah setuju. Udah, Pak Ketua kita di sini, tapi harus janji di Timika, sesuai permintaan itu bangun pabrik semen di sana

    MS: Pak, masalah lahan di Papua itu juga masalah besar. Masalah hak ulayat itu susah. Pak Riza mau bangun di sana, berhubungan sama yg punya, Pak Iza sudah bayar. Nanti pamannya datang kamu bayar ke dia, saya mana. Datang lagi keponakannya. Itu yg bikin perang suku Pak.

    MR: Itu mirip di Padang. Sama kalau di Padang

    MS: Kepastian hukumnya tidak ada. Ada kebon sawit besar bagus cantik udah jadi Pak. Tiba-tiba ditutup sama gubernur katanya merusak alam. Kasihan Pak buat investor. Itu orang nggak jadi males menginvestasi

    MR: Provinsinya Dajjal

    MS: Betul Pak zamannya Dajjal

    MR: Sama Pak. Gila itu. Itu waktu Riza mengondisikan ngurusi gula, sudahlah begini begini, dia sudah kuasai lahan Pak, pada waktu itu. Beda kongsi. Gua ketawa aja. Makan dulu, kalau udah jalan 5 tahun baru saya ambil.

    MS: Diganggu?

    MR. Ya enggaklah. Dia juga memulai itu jalan pelan-pelan sekarang. Miliknya Antam. Akhirnya dia bikin pabrik gula di NTT. Hmm begitu

    MS: Ati-ati Pak. Betul Pak.

    SN: Ngeri, makanya bolak-balik situ.

    MR: Tentara

    MS: Saya sudah dari 1983 sudah ke Papua.

    SN: Oh oke

    MS: Saya sudah tahu Papua, bagaimana antropologinya. Hati-hati Pak, gak semudah itu.

    SN: Yayayaa. Percaya Pak

    MS: Gak semudah itu Pak Papua. Mengedukasi mereka untuk merasa bahwa mereka akan dibangun untuk kesejahteraan mereka, tidak mudah Pak. Costnya tinggi Pak, betul. Kita bangun sekolah, minta dibangun rumah sakit. Tapi kalau ajak pers, hormat bapak. Masak kita sinterklas terus.

    MR: Itu ya Freeport pernah bangun pagar yg bagus, yg indah itu buat di gedung. Itu yg bikin perusahaan gua. Punya pabrik di Bandung. Itu besinya di bawa pakai pesawat ke sana. Pegawai saya di bawa pakai pesawat. Gak tahu masih ada apa enggak sekarang. Loe bayangin, tukang-tukang gua naik pesawat

    MS: Anu itu memang soal sikap mental Pak.

    MR: Sadis itu, memang tidak gampang

    MS: Kalau mau pembebasan lahan itu tidak mudah lho pak. Kalau tidak salah itu tiga kabupaten untuk PLTA itu.

    MR: Kalau itu mudah-mudahan bisa cepat. Karena

    MS: Yang anti sama gubernur juga banyak lho pak. Yang dulu sakit hati sama gubernurnya sekarang sudah mulai kuat lho Pak.

    MR: O ya

    MS: Iya. Wagub itu belum tentu bisa jalan sama gubernurnya.

    SN: Papua sama Papua Barat

    MS: Papua. Coba tolong dimatangkan mengenai saham.

    MR: Yang saham. Soal saham itu, saya bicara ke Pak Luhut. Kita sudah bicara. Weekend saya ketemu. Biar Pak Luhut yg bicara ke bapak

    SN: Biar cepat selesai

    MR: Kan ini long weekend, Hari minggu nanti, saya temui Pak Luhut, bisa minggu malam. Biar Pak Luhut cek & kita. Saya yakin itu

    SN: Presiden sudah dikasihkan ke Pak Luhut itu berapa kali. Si Darmo, kalau bapak denger cerita di dalam. Apa yg kita inginkan bisa, presentasi ke presiden tiap hari.

    SN: Presentasi ke presiden setiap hari

    MR: Kalau memang gawat keadaannya, saran saya jika mau malam sabtu / malam minggu

    SN: Besok

    MR: Why not. Pak Luhut oke. Kita ketemu sama Pak Maroef, hari minggu malam. Kita ngumpetlah. Seeeeeeeet dia action minggu depan. Nggak lama Pak. Next week two week. Bisa kau angkat akhir Juni selesai urusan. Begitu ini selesai ini saham bisa

    SN: Saya sih yakin itu karena presiden sendiri kasih kode begitu & itu berkali-kali. Yang urusan kita di DPR, itu kita ketemu segitiga, Pak Luhut, saya & presiden. Akhirnya setuju. Ngomongnya gini presiden. Saya sudah ketemu presiden cocok itu. Pengalaman ya, artinya ini demi keberhasilan semua. Ini belum tentu bisa dikuasai menteri-menteri, yg gini-gini. Enggak ngerti malah bapak

    MS: Ada lobbiesnya

    SN: Strategi

    MS: Ini Henry Kisingernya

    SN: Henry Kisinger Hahahaa

    MR: Kita ini orang kerja, strateginya. Jadi Freeport jalan, bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa. Kumpul-kumpul. Gua gak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yg bagus, representative. Apalagi

    SN: Iya

    MR: Buat kita itu tak ada yg rakus. Ini mutual benefit, konsepnya mutual benefit. Barangnya kita semua. Kita semua kerja. Freeport 51 kasih kita lokal, support financing. Ya Pak

    SN: Kalau Freeport menjamin, semua juga gampang. Semua bank langsung kasih.

    MR: Kan itu buat tambang

    SN: Otomatis, merem aja itu

    MR: Lumayan ini, untuk kumpul-kumpul paling 1 juta dollar.

    SN: Hayyaah

    MR: Saya ikut masuk ke Dharmawangsa ini, cost yg mereka bawakan sudah, tapi masih gedean mereka porsinya. Terlalu lama mereka itu boros. Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia.

    MS: Yang jadi itu Amerika. Nggak diterima di Amerika

    SN: Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak koppig (kopeh, bahasa belanda) tapi bisa merugikan semua. Contoh yg paling gampang itu PSSI. Apa susahnya ini ya, saya bicara. Saya harus bicara Freeport itu saya bicara dulu PSSI. Saya bilang, Pak Presiden pengalaman saya zaman SBY, SBY turun tangan. TVOne yg sudah menyiarkan liga & lakunya bukan main, terpaksa harus dihentikan karena sudah teriak-teriak, ini menyangkut sponsor, pengangguran mereka, menyangkut macem-macem. Jadi bisa menurunkan juga kredibilitas isu-isu presiden. Presiden, Pak Ketua khusus PSSI saya tidak ada apa, apa tidak ikut campur dengan pihak mereka. Supaya Indonesia itu bangkit. Saya bilang, ada peraturan FIFA mengharuskan. Kalau saya yg kurang menguasai, Ketua MA menyampaikan hukum-hukumnya. Disampaikan pak, hukum-hukumnya. Kalau sudah bilang enggak, ya enggak, susah kita. Tetap saja. Kita dikte saja. Gitu Pak. Koppignya dia buat bahaya kita. Kedua, Ketua MA sampai merasani sama saya enggak berkenan sama presiden. Wah gak cocoklah.

    MS: Chemistry enggak nyambung

    SN: Enggak nyambung Pak. Ketemu dua kali di tempatnya Menteri PAN, waktu pelantikan ngobrol itu lagi. Ketemu lagi. Enggaak. Ini harus kita rekayasa pak.

    MS: Pengalaman ini ya Pak

    SN: Kadang-kadang dia kalau egonya ketinggian, ngerusak Pak. Ngono Pak. Makanya pengalaman-pengalaman saya sama dia, begitu dia makin dihantam makin kenceng dia. Nekat Pak. Waah

    MR: Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi, lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya, Pak Hendropriyono & Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak Hendro ama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong. Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau sosialis. Itu bukan

    SN: Berbahaya Pak. Bahaya kalau dia selalu begitu. Ada lagi pengalaman saya Pak.

    MS: oke

    SN: Pengalaman yg betul-betul saya mengalami bersama-sama Pak ini, bersama-sama Pak Luhut. Akhirnya saya minta tolong Pak Luhut, untuk memulai pemilihan Kapolri. Itu asli Pak. Bagaimana itu kita berusaha supaya Budi, karena Ibu Mega yg call, yg telpun. Itu kita pakai apa aja enggak pak. Itu bisa terjadi pada saat beliau mau ke DPR. Bingung dia Pak menghadapi DPR gitu. Disuruhlah Menkopolhukam, sama Setneg, sama Mendagri ketemu saya. Saya bilang udah deh nanti kita atur duduknya gini, enam pertanyaannya saja deh. Itu telpun lagi, tadi kan semua tim. Dia minta dua saja. Duduknya minta yg santai, sesantainya, tidak ada pertanyaan yg ini. Wah nanti cuma bulat-bulat itu Pak. Bagaimana saya menenangkan fraksi-fraksi supaya mau begitu kan. Banyak akal, pokoknya bisalah. Dia datang, kita akali. Soal BG itu, pokoknya lari ke BG minta kapolri dia. Nanti Pak Luhut. Saya cepet-cepet ke Pak Luhut gimana jalan keluarnya. Pak Luhut kasih jalan. Entar gini. kita malam-malam ya waktu itu. Entar jawabannya gini aja, Presiden ngomong gini soal BG akan kita serahkan kepada nanti yg terpilih. Siapapun yg diusulkan oleh pejabat yg terpilih setuju. Ayo kita draft. Draft kita bertiga. Bener Pak Luhut itu. Begitu draft selesai, Pak Luhut jam 9 keluar lagi, Wah kalau Pak Jusuf Kalla datang nanti bisa berubah. Pak Jusuf Kalla itu ngotot BG. Ini bener, Pak Jusuf Kalla itu bener. Itu pun diatur gimana akhirnya presiden bisa perintahkan Pak Jusuf Kalla enggak datang. Dia pindahkan ke sana, pindah ada acara. Padahal kita sudah siapin tempatnya itu pak. Jadi satu itu, satu ini. Jadi waktu pagi-pagi kita rapat jam 10 mundur jam 10,30. Itu jam 08.00 Pak Luhut datang. Catat aja begitu banyak. Kata Pak Luhut, jangan. Ini cukup selembar ini. Saya sudah runding dengan saya. Betul kan saya sudah ketemu Pak ketua. Waktu dia datang, saya buat bercanda buat apa, buat apalah semua. Akhirnya kita duduk. Saya lihat dia bawa tas kayak orang norak. Ajudan bawa tas yg isinya banyak yg banyak itu. Itu kertasnya ini. Terus gimana Pak Luhut. Bapak periksa aja. Nanti saya atur, saya ngomong, bapak ngomong. Kira-kira nanti kan ada dua hal, soal masalah Kapolri & soal masalah APBN. Terus dia ambil. Saya lihat lirikan kertas yg mana yg diambil, kertasnya Pak Luhut. Jadi waktu di APBN semua fraksi ngomong tapi semua ngomong BG, semua ngomong BG. PDIP ngantem presiden. Dia berbisik-bisik, masak PDIP sendiri ngantem saya, saya kan presiden. Tapi gak peduli apapun kehendak Bu Mega gak peduli. Dijawab pertanyaannya. Setelah saya dengarkan semua soal Pak Budi Gunawan, semua saya turut tampung tetapi mekanismenya adalah saya serahkan kepada Kapolri yg terpilih. Persisnya itu dibaca begitu. Dibaca. Ini pengalaman Pak ya. Selesai, sampailah cerita itu ke Ibu Mega. Marahlah pokoknya, sampai ke Solo & macam-macam.

    MR: Di Solo ada., ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto pokoknya koalisi mereka, Dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan.

    SN: Termasuk Papua

    MR: Termasuk Papua. Noken kita habis.

    SN: Habis Pak, hampir setengah triliun.

    MR: Kapolda Papua itu kan sahabat saya, sahabat deket.

    MS: Tito

    MR: Tito. Akhirnya ditarik ke Jakarta supaya nggak menyolok, jadi Asrena. Sekarang Papua sudah jalan, kasih hadiah sama Jokowi. Padahal maunya Jakarta bukan dia. Pak BG maunya bukan Tito. Pak BG maunya Pak Budi. Tapi Budi ditaruh Bandung. Tito Jakarta. Yang minta Jokowi.

    SN: Jawa Barat hahaha

    MR: Gila Pak. Alot pak orangnya Pak.

    SN: Pengalaman itu, maksudnya saya pengalaman itu. Jadi kita harus pakai akal. Kita harus pakai ini. Kuncinya kan ada kuncinya. Kuncinya kan ada di Pak Luhut, ada saya. Nanti lempar-lemparan. Ada dia strateginya. Cek gocek

    MR: Darmo ini disayang sama dia karena, Si Darmo kalau presentasi, lulusan Amerika, sudah kuliah PHD pintar. Jokowi happy terus. Ini saya tahu. Darmo ngomong Pak itu didengerin. Gitu Pak

    SN: Cuma sudah dibeli gara-gara ketemu bapak, dikunci, sreeeet. Berubah

    MR: Dikawanin lah.

    MS: Hasil lobi ya

    SN: Semuanya, semua istana beliau bisa biaya yg lain-lain, biayain semualah.

    MR: Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya ini kan pedagang, Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul.

    SN: Panggil Pak Luhut

    MR: Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama wapres enggak boleh diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yg ada di sana, Ini temen-temen & kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong rurururuurr Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yg enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punyajalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur.

    SN: Kesalahan menteri-menterinya juga.

    MR: Ya presiden juga andil.

    SN: Ya kita harus jujur

    MR: Kalau Pak JK presiden,

    SN: Wah terbang kita.

    MR: Atau dia pasrahin Pak JK urus ekonomi saja, saya pergi dah blusukan. Pak JK urus saja ekonomi

    SN: Ya tapi sekarang sudah dibatasin terus presiden

    MR: Obyektif ya Pak, kita pengi ada growth, bisnis kita jalan, semua orang gitu kan. Gaji lancar pajaknya gak gila-gilaan. Pajaknya gila Pak. Pajaknya dahsyat Pak

    MS: Semua macam-macam dipajakin ya

    SN: Hancur

    MR: Iya.

    SN: Mobil jeblok, orang beli gak bisa. Perbankan gak mau lagi, hancur.

    MR: Kalau Freeport mah gak ada kaitannya sama ini. Kalau saya ada ritel, saya punya air lines, hancur berdarah. Rupiahnya jelek marketnya drop. Saya ada perusahaan ritel, saya punya toko-toko orang perempuan di mall-mal, gubrak, waduh gila pak. Bagaimana nasibnya. Perkebunan sawit juga jeblok perusahannya. Gimana pula

    SN: Gak ada uang

    MR: Gak ada uang. Rakyat udah gak ada uang. Gak ada demand, drop.

    MS: Itu konsep PP 15 untuk sawit gak jalan Pak? Padahal itu konsepnya presiden untuk CPO

    MR: Hancur pak, hancur Pak

    SN: Presiden itu senang meresmikan meresmikan. Tapi sekarang gak jalan. Sekarang dia serahin ke Pak Jusuf Kalla. Saya ketemu Pak Jusuf Kalla. Jusuf Kalla bilang wah ini banyak yg gak jalan. Saya bilang jangan meresmikan terus

    MR: Kalau pak JK itu pengusaha.

    SN: Bagus itu Pak

    MS: Dia bisa menghitung

    MR: Bagus Pak. Dia bisa mengcreate. Kalau tahu sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam. Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah

    SN: Ini kaya PSSI babak belur.

    MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura

    MR: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan, otot-ototnya rusak semua

    MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua Pak

    SN: Kembali itu Pak. Pak Luhut ditakutin, enggak bisa enggak

    MR: Sebetulnya lepas dari apapun, nasibnya jelek. Jujur saja ya Pak, nasibnya jelek sebagai bangsa Indonesia. Mendingan karena Jokowi tapi kita kan berdarah. Masak musuhan itu kan gilaaa. Aduuhhh Ampuuunnn ampuunnn.

    SN: Ampuun

    MR: Si Alid, Alidu mau ngomong sama KEN. Sama KEN kan hopeng. Ngomonglah duluan sama Cicip. Dapat ijin nangkap ikan. Beli kapal 10, join ama China, bikinlah KMA. Ada ijin, keluar semua. Kapal sudah datang. Cicip diganti Bu Susi. Sama Bu Susi, kapal asing gak boleh nangkap. Bangkrut dia langsung. Ganti pakai bendera Indonesia kapalnya. Kapal 350 Dwg harus buatan Indonesia. Buatan asing gak boleh beroperasi di sini. Bangkrut langsung. Edan Pak, ini ngaco Pak, gawat ya

    SN: Eksport aja berhenti. Megenai di tempatnya Susi semua, banyak gulung-gulung tikar semua.

    MR: Enggak cuma situ. Tempat lain juga sama

    SN: Iya. Itu presiden gak tahu

    MR: Ada lagi teman Pak. Dia memang bisnisnya minuman. Dia bikin UIC, Si Aseng, tahu kan Pak. Ini pabrik dia,150 juta dollar investasinya. Pabrik dibikin udah mau jadi, ada peraturan ama Rahmat Gobel, penyalur-penyalur itu gak boleh jualan bir. Berhenti. Pabrik gak jadi diresmikan. Bayangkan Pak. Berdarah Pak. Gila

    MS: 150 juta dollar Gila

    MR: Banyak kasus Pak. Belum lagi pengusaha batubara.Tapi pak kita muter-muter dia masih presiden Pak. Suka gak suka harus kita bayar udah Pak. Ya kan

    MS: Masih panjang

    SN: Masih panjang

    MR: Yang penting gak papa, yg penting halal

    SN: Rakyat itu suka gak suka ama dia dianggap itu bener semua.

    MR: Iya. Salah gak salah jalan terus. Yang dianggap salah menteri-menterinya. Dia enggak. Gila dah. Haduuuhh

    MS: Tapi kan Pak Riza masih ada Pak Ketua yg back up.

    MR: Ah kalau saya kan Pak, hidupnya biasa saja. Itu kan sudara saya, banyak saudara pak.

    SN: Karena Itu Pak, seperti kata presiden, rata-rata kita minta itu setuju tapi harus pakai strategi. Ya kita selalu kadang-kadang salah kita

    MR: Pak Jokowi sudah baik, sudah baik Pak cuma sekarang dirombak. Sekarang sudah baik banget. Sekarang dirombak lagi. Jangan bawa ke ranah politik

    MS: Membantu politik, membantu urusan politik

    MR: Betul Pak.

    SN: Kayak HR.

    MR: Saya sama Pak Marciano. Aduh Pak Riza, jangan muncul, jangan muncul kata saya. Biarkan dia bantu Prabowo tapi jangan muncul. Pak, saya gak muncul susah Pak. Gimana muncul ketahuan.. Usahakan jangan muncul. Percaya omongan saya. Bener juga omongannya. Gua muncul di Polonia, puk puk puk langsung muncul di sosmed. Aduuuh saya lagi sama Prabowo & hati. Ya udah mau apa, nasib.

    SN: Nasib duit keluar banyak. Duit Pak. Itu saya lihat kasihan. Ngapain itu, udah. 50 M, 30 M. Begitu kita hitungin udah 500 M. Ngapain. hahahaa

    MS: Lewat Pak

    SN: Lewat Pak

    MR: Padahal duit kalau kita bagi dua pak, hepi Pak. 250 M ke Jokowi JK, 250 M ke Prabowo Hatta, kita duduk aja. Ke Singapura, main golf, aman. hahahaa. Itu kan temen, temen semualah, Pak Susahlah. Kita hubungan bukan baru kemarin. Masak kita tinggal nggak baik. tapi kan sekarang udah gak ada masalah. Sudah normal. Gitu

    SN: Saya ngomong sama presiden, ini Pak Bung Riza juga bantu. Oh ya ya itu dia kawan saya baik. hahaha

    MR: Memperjuangkan dia itu capek sob. Segala macam cara, Pak Hendro ngomong sama Megawati waktu di Kebagusan. Belum saatnya. Dikira sekaligus. Belum Pak. Saya itu baik, saya kasihan sama Pak Jokowi, saya akan bantu Pak Jokowi ke Hatta sebagai cawapres. Pak Jokowi sama Hatta mungkin Pak, tapi Meganya gak mau. Saya sama Hatta itu sahabat.

    MS: Jokowinya mau, Pak?

    MR: Jokowinya mau banget sama Hatta.

    SN: Tahu tahu pisah, pusing sudah terlanjur ke Pak Hatta

    MR: Tapi itu kan pengalaman.

    SN: Tapi kalau ngomong baik-baik, lamaa menikmati. Kayak yg kemarin itu yg Fahri & Fadli Zon marah itu. Itu kan gitu Pak soal UU. Udah kerja capek-capek. Jam 2 kita ketemu lagi, Semua wakil ketua & komisi II saya ajak ketemu presiden. Jelasin. Sama Fahri dijelasin, efeknya bahayanya. Jelasin. Saya tengahin bapak presiden, sambil becanda nih. Udah becanda terus dia tenanglah. Itu menteri-menteri, menteri Polhukam gak ada yg ngomong Pak. Nanti jawab gini pak. Saya tidak setuju karena ini ni, singkat. Marah dong temen-teman. Bapak presiden, kalau buat saya ini pak. Apa gak sebaiknya kita pertimbangkan dulu. Ya saya setuju Pak ketua. Ya bapak kan mau rapat kta pertimbangkan, Walau nanti diputuskan enggak tapi paling enggak jadi dipertimbangkan. Tapi pakai guyon dulu. Kalau enggak gitu dia stik. Dia stik mati kita.

    MR: Saya bilang ke Pak Marciano. Pak saya gak berani ke rumah bapak dulu Pak. Begitu saya ke rumah bapak, ada yg ngabarin kalau sudah dicap. Habis Pak Jokowi dilantik, saya nggak berani dulu. Udahlah biar bapak kerja tenang, Sekarang dia sudah aman.

    SN: Udah tahu lah, kan Pak Luhut lapor semua pertemuan itu kalau Bung Riza semua yg ngatur

    MR: Saya sih bukan menjilat dia pak. Tapi kalau temen-temen saya paling gak hepi, pada ribut semua. Nanti rusak negara kita.

    SN: Waduh hancur

    MR: Iya kan. Maksudnya biar harmonis, harmonis rukun. Kalau Pak Luhut kan sahabat lama. Ya udah kita duduk Pak Luhut.. Pak Luhut gak percaya. Belum cukup sama gue. Udahlah bisalah. Gua yg atur, gua jamin. Wah seneng banget, Pak Luhut ke Pak Jokowi. Nih si bos yg urus katanya. Dia mau bawa ke istana, Riza tolak. Wah kalau saya ke istana, ada yg motret. Tambah pusing kepala saya. Susah ini Pak, tukang gosip

    MS: Makanan empuk

    MR: Iya makanan empuk. Wah gila betul. Kita kerja benar.

    MS: Pak terima kasih waktunya Pak

    SN: Sekarang komisaris di sana. Komisarisnya orang papuanya tiga, kemudian Indonesia non Papua Pak Marsillam, Pak Andi Mattalata, satu lagi bekas Presdir.

    MR: Pak Rozik ya

    MS: Oh, bukan itu presdir waktu kontrak

    SN: Hidayat itu beberapa kali ketemu saya. Nututi, saya menghindar terus. Saya sudah tahu itu. Kan saya tahu bahasa di Presiden kayak apa. Kan dia tiggal begini Pak. Rahasia terjamin, Orang lain gak ada yg ikut, Menteri pun gak tahu.

    MS: Kalau tahu Pak?

    SN: Kalau misal, situasi menterinya juga bisa terus, tapi juga belum tentu terus. Kalau gak terus tahu Pak bocor.

    MS: Lain cerita lagi itu Pak

    SN: Karena menterinya enggak share ini. Surabaya sama presiden itu hadir di PDIP. Dia ikut dari Papua pak. Dia lihat ada di VIP lounge, dia cari saya. Pak Ketua saya tahu pak ketua ada di sini. Urusan Papua tolong pak ketua. Insya Alla. Sudirman gitu. Jadi panjangan ngomongnya, bapak presiden gini gini. Baik-baikan aja. Kalau ribut, masih muda saya dihantam ama Darmo.

    MR: Darmo ikut ke papua dia

    SN: Darmo ikut ke papua?

    MR: Ikut dia.

    SN: Terus di pulang dia

    MR: Dia sama presiden hanya sampai Surabaya. Terus menterinya pulang

    SN: Presiden itu gak hepi gara-gara itu, Dia gak gepi itu, menteri ini, Jonan & Bappenas. Kalau ngomong itu saya pusing Pak Ketua, sama menteri ini.

    MS: Andrinof

    SN: Andrinof

    MS: Terima kasih waktunya. Kita tunggu anunya aja kepastian gimana, kelanjutannya

    MR: Saya bicara Pak luhut, kira-kira apa. Terus oke, kita ketemu.

    SN: Harus itu pak

    MR: Saya akan bilang Pak Luhut

    SN: Harus cepet. Karena kasihan beliau, Pak Luhut dikasih tanggung jawab. Kasih tanggung jawab share holder. Gimana caranya sukses, harus cari akal kan gitu.

    MS: Tanggung jawab itu paling berat itu karyawan & keluarganya

    MR: Betul itu Pak

    MS: Kalau share holder kan duitnya banyak. Tapi karyawan itu 30 ribu lebih. Itu kan bangsa kita semua. Kalau share holder ini tutup masa bodo amat.

    MR: Dan selalu dipikir karyawan

    MS: Dan Freeport gak pernah PHK lho pak. Itu saja Pak. Pikiran saya itu karyawan. Karena saya sudah lama masuk Papua. Saya tahu betul masyarakat Papua.

    SN: Oke Pak.

    MS: Baik Pak. Terima kasih Pak Ketua. Saya duluan Pak. Makasih Pak, mari. Pak Riza makasih Pak. Mari

    SN: Yuk Pak

    MR: Cakep deh

    Setnov Membenarkan

    Setya Novanto mengakui transkrip yg beredar itu adalah percakapan antara dia & bos Freeport. “Saya membenarkan ada transkrip yg beredar yg tentu tidak utuh,” kata Setya di kediamannya, Jakarta, Rabu 18 November.

    Oleh karena itu, dia menyayangkan beredarnya transkrip percakapan itu. Sebab, ketika transkrip itu utuh, maka akan terlihat pertemuannya dengan Freeport memiliki tujuan yg baik.

    “Makanya saya agak menyayangkan itu. Pembicaraan saya itu tujuannya baik, namun yg saya lihat tidak tahu ya, saya juga belum lihat rekamannya,” kata Setya.

    Dia juga mencurigai ada maksud tertentu dalam menyebarkan transkrip pembicaraan itu.

    “Saya merasa ini kayak blackmail juga, diedar-edarkan. Saya begini juga Ketua DPR, kok sampai tega mem-blackmail begitu. Saya enggak ngerti juga apa motif & tujuannya,” ujar Setnov.

    Transkrip Lengkap Rekaman Setnov, Riza Chalid & Bos FreeportMahkamah Kehormatan Dewan (MKD) menggelar sidang dugaan pelanggaran kode etik Ketua DPR Setya Novanto. Dalam sidang perdana, MKD menghadirkan Menteri ESDM Sudirman Said sebagai terlapor.

    Dalam sidang itu Sudriman Said menyatakan, Setya Novanto mengondisikan permintaan saham kepada PT Freeport Indonesia. Selain itu, Setya juga disebut menekan Presdir PT Freeport Indonesia terkait saham.

    Hal itu diungkap Sudirman berdasarkan rekaman & transkrip pembicaraan antara Setya Novanto, pengusaha Riza Chalid, & bos PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

    “Kalau didengar (rekaman) secara utuh, meskipun yg mengatakan angka (saham) Riza, tapi yg mengondisikan, merespons, & memberikan penekanan adalah Pak SN (Novanto),” jawab Sudirman, Rabu (2/12/2015).

    Berikut ini transkrip lengkap rekaman pembicaraan sepanjang 120 menit itu:

    MS: Maroef SjamsoeddinSN: Setya NovantoMR: Muhammad Riza Chalid

    MS: Assalaamualaikum Pak

    SN & MR: Widiiiihh

    SN: Gak keluar Pak

    MS: Enggak Pak, ada tahllilan.

    SN: Gak ke Solo?

    MR: Besok?

    MS: Ke Solo kan lusa

    SN: Kan acaranya 11, Kamis ya

    MR: Bukan 12, kata Lucas. Pak Luhut pesen musti ketemu dia.

    SN: Yang bayar duluan

    MR: Gua duluan ya.

    MS: Wah ramai

    MR: Loe mau ngikut pesawat gua gak.

    SN: Pak Luhutnya kan

    MR: Gua sebentar, gua salaman, gua ketemu Pak Luhut gua kabur ke airport. Habis mau ngapain lagi lama-lama, yg penting buat kita nongol, salaman, ketemu Pak luhut udah.

    MS: Airport sama kota kan deket.

    MR: Iya

    MS: Cuma macetnya Solo itu.

    MR: Kalau gak naik itu, bisa jam 3 hari hari. Kalau mau. Tapi kira-kira kan bapak kira-kira sudah dapat Garuda kan. Freeport nyupport? (untuk pernikahan anak Jokowi)

    MS: Nggak ada. Nggak ada kita

    MR: Maklumlah presidennya, sudah banyak. (ketawa)

    MS: Tidak mungkin juga terbatas kali. Bikinnya kan di Solo. Kalau seperti Pak SBY dulu bikinnya di istana kan besar-besaran. Kapasitasnya juga besar.

    MR: Ini cuma 2000, 3000.

    MS: Itu yg diundang. Belum keluarga. Kapasitas terbatas.

    SN: Saya ditanyain wartawan di kita, Pak itu kan dibatasi oleh Menteri PAN hanya 400. Presiden sudah 2000-3000. Ya nggak ada masalah, namanya masyarakat pengin ketemu presiden.

    MS: Menteri PAN kan kadang masih ecek-ecek. Dia pikir, entar gua ngawinin gua sudah pensiun. Ya kan, anaknya Menteri PAN kan masih kecil-kecil. Bayangin aja 400.

    MR: Suka-suka dia Pak

    MS: Susah Pak, budaya orang Indonesia kan ndak bisa begitu Pak. Bagi orang barat 400 sudah besar banget

    MR: Pak Syaf waktu ngawinin anaknya, banyak, pokoknya gua gak peduli. Pesta gua yg bikin.

    SN: Syaf siapa?

    MR: Syafruddin.

    SN: Ooo

    MR: Banyak yg datang.

    MS: Mana mungkin itu pak.

    MR: Tapi jangan saya katanya gitu. Ada aja alasannya.

    MS: Susah pak budaya kita budaya kekeluargaan

    SN: Nanti saya Desember. Eh membengkak

    MR: 9.000 lebih. Yang bikin acarnya caranya gitu. Jadi caranya undangan yg kanan untuk besan saja, yg kiri kita. Jadi bukan saya yg undang tapi besan saya. Selesai

    SN: Saya itu pak, sudah ketemu presiden, waktu sampai ada 5 pimpinan negara lainnya. Ada ketua MA, Ketua KY, Ketua MK. Saya bilang Pak, bapak ke Papua. Iya kata presiden. Padahal di sana gak ada yg jemput. DPRDnya, bupatinya, gubernurnya. Kesel juga. Soal PSSI macam-macam. Saya bilang bikin itu saja istana di papua. Setuju pak, kata presiden. Masak ada Tampak Siring, Bogor. Masak di sana tidak ada. Saya sudah lihat di sana ada tanah kosong, depannya laut. Jadi secara politis ke depan pasti ke sana. Semua manggut-manggut. Lagi seneng dia. Freeport itu saya sudah ketemu Jim Bob, Dirutnya, saya minta dipertimbangkan. Waktu itu dengan menteri itu, soal perpanjangan itu kan DPR minta untuk duduk. Sedangkan sekarang kan ada tiga hal, kemarin menteri ESDM menemui saya di Surabaya, khusus bicara ini. Beliau bicara tiga hal. Satu, penerimaan minta ditingkatkan. Kedua adalah privatisasi, permintaan itu 30 Juta untuk 51%. Mana mungkin saya bilang gitu. Ketiga adalah pembangunan smelter. Oh oke Pak Ketua. Kalau berhenti itu soal penerimaan saya gak sependapat Pak Ketua. Karena kita itu paling hanya nerima 7-8 triliunlah. Tapi kita keluarkan dananya untuk di Papua, Otsus itu, kita 35 T. Ndak imbang. Tapi kan itu udah dibantu CSR. Iya tapi tidak cukup Pak ketua. Kita besar sekali.

    Kedua kalau smelter. Kalau di sana bangun smelter di sana lebih banyak rawa. Jadi kuatirnya waktu. Kalau lihat gitu saya lihat di Gresik ada smelter kecil yg tinggal diterusin. Terus di sana juga ada pabrik semen juga untuk pupuk yg penting kan pakai dana sendiri, tidak melalui dana perbankan kita. Kita harus paksa supaya cepat-cepat dibangun. Ya kalau gitu. Habis itu baru Timika, Pak Ketua. Yang mana duluan Pak. Dia diam saja. Yang ketiga, soal apa Pak Ketua. Soal penyerahan soal sahamnya itu, kan sudah 30 % diminta 51%. Itu tidak mungkin Pak. Ini kan sudah berbagi dengan daerah yg 250 ribu Ha itu, susah juga. Kebayang juga dengan kabupaten lain. Ini tidak mungkin. Terus dia diam saja. Pak Luhut cuma bilang: kita runding. Pas saya makan, presiden samperin saya. Ini kan Pak Luhut. Itu apa Pak Luhut sudah bicara belum. Oh iya sudah Pak, Pak Luhut yg banyak memberikan pendapat. Bagusnya kalau bisa segera. Ngobrol-ngobrol itu. Oh iya sekarang Pak karena sekarang sudah waktunya.

    Lalu saya pulang. Saya mau rundingan dengan sama Pak. Jangan-jangan ini karena yg dulu ada keributan antara anak buahnya Pak Luhut, Si Darmo & si siapa itu, Sudirman Said diekspos. Ini minta diklirken. Saya akan ngomong ke Pak Luhut. Ya udah. Makanya perlu ketemu itu. Hahahahaa

    MR: Jadi gini Pak. Ini bahan dari Pak Luhut & timnya. Sudah baca?

    MS: Perpres sudah baca yg percepatan pembangunan ekonomi Papua.

    MR: Jadi mereka itu kan mau maju dulu dibangun di sana. Apa sudah ada konsep di sana? Dari Pak menteri

    MS: Oh tidak begitu.

    MR: Jadi tetap di Gresik

    MS: Oh ndak, UU tidak mengatakan begitu. PP juga tidak mengatakan begitu. Jadi pemurnian harus dibangun di dalam negeri. PPnya juga begitu, Pemurnian itu dilakukan 100 persen di dalam negeri. Kemudian tanggal 23 Januari 2015, pas setengah bulan yg lalu, itu persyaratan untuk memperpanjang izin ekspor harus melengkapi, salah satu diantara enam itu harus menentukan eksak location. Satu lagi soal feasibilty study. Dapatlah di Gresik. Jadi tidak ada yg mengatakan harus di Papua . Setelah kita umumkan di Gresik & kita tanda tangani 23 Januari itu baru muncul Pemda Papua yg mengatakan harus dibangun di Papua.

    SN: Terus janji presiden

    MS: Ya betul, kemudian Presiden ke sana, janjikan oke kalau gitu dibangun. Kalau kita bangun di Papua siapa yg mau kasih. Di Gresik saja sudah 2,3 M. Kalau di Papua bisa hampir 4 M. Dari mana mau dananya. Gak mungkin bangun di Papua.

    MR: Ya ya. Jadi begini Pak, soal itu saya ngomong sama Darmo. Saya bilang Darmo siap ya. Dia kan ngurusi semua. Dia akan melihatnya ini kalau perlu biayanya besar juga.

    SN: Pengusaha juga

    MR: Kalau Ini tugasmu untuk mengamankan. Jadi saya sudah bicara, Pak Jokowi. Urusan dia saya. Dia dipakai Pak Luhut semua.

    MR: Soal saham itu ada pemikiran, PLTA.

    MS: PLTA? Yang mau memiliki sahamnya siapa Pak?

    MR: Ada nominenya, punya Pak Luhut.

    MS: Pak Luhut

    MS: Yang sahamnya itu juga maunya Pak Luhut itu jaminan guarantee itu dari Freeport untuk saham itu. Seperti dulu yg dilakukan oleh Freeport kepada pengusaha.

    SN: Pak Luhut pernah bicara dengan Jim Bob di Amerika.

    MR: Jadi kalau itu bisa diolah, ini rahasia yg tahu cuma kita berempat ya Pak. Diolah gitu

    MS: Pak itu harus ada yg perlu dihitung pak sekarang. Waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Dari enam isu yg saya kasih Pak Ketua itu, waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Kalau itu tidak keluar, katakanlah 23 Juli nanti, tanggal 1 Juli tidak ada kepastian, maka kita akan arbitrase internasional

    MR: Apa?

    MS: Arbitrase internasional jalan. Tidak ada lagi itu. 1 Juli lah pak sudah ada kepastian. Sekarang apa guaranteenya kalau permintaan itu dipenuhi, ini juga keluar. Apa garansinya kalau permintaan itu ada singnal, 1 Juli sudah ada signal, apa garansinya? Ya to Pak. Apa garansinya

    MS: Ini kan masih di Solo.

    MR: Ya ketemunya di sinilah. Ketemu Pak Luhut, ini kan masih ada kesibukan. Habis itu baru.. Habis itu Jumat ke Pak Luhut. Harus ditugasin itu dia. Kalau bisa tuntas & minggu depan sudah bisa settlement. Tanggal 22, seperti usul lalu, Itu yg sekarang sudah kerja. Kita sudah approach beberapa kali. Benar. Kalau Freeport memiliki 15 %, kita pasti bilang.

    MS: Kalau tidak salah ada feasibility study, coba ditinjau lagi. Kalau tidak salah Freeport itu off taker.

    MR: Itu tadi Pak. Saran saya jangan off taker dulu. Kalau bapak off taker dulu itu akan ada di kedua belah pihak.

    MS: Dari mana

    MR: Dari third parties yang..

    MS: Bapak juga nanti baru bisa bangun kalau kita kasih purchasing guarantee lho pak.

    MR: Oh ya betul

    MS: Ketergantungan bukan dari third party tapi dari kita dong.

    MR: Oh iya, tapi kan kalau bapak ikut bikin kan, bapak ikut mengendalikan. Bapak bikin PLTA-nya, bapak ikut mengendalikan

    MS: Artinya investasinya patungan, 49, 51.

    MR: Iya.

    MS: Investasi patungan. Tapi off taker kita juga.

    MR: Iya

    MS: Kalau gitu double dong.

    MR: Enggak double Pak

    MS: Modal dari kita, kita juga yg off taker. Anu, kita bicara dulu di depan, supaya kita bisa mengolahnya.

    MR: Pak Off taker itu hanya sugar guarantee

    MS: Iya purchasing guarantee

    MR: Purcahsing guarantee itu tidak ada uang keluar. Hanya guarantee. Maka cuan. Uang keluar itu hanya unruk pembangunan. Kalau itu bapak juga harganya bisa dikontrol pada yg wajar.

    SN: Harga itu sektor terbesar.

    MR: Iyalah itu kira-kira. Harga perlu dikendalikan yg wajar. Atau kalau terbalik, kalau pure itu, itu kan satu deal. Misalnya Jim bilang Freeport gak usah ikut. Silahkan yg lain, murni. Investor banyak yg mau, gak susah kalau Freeport. Marubeni ngotot mau masuk situ, Cuma harga tinggi. Itu maksud saya Pak. Justru kita sebagai lokal, merasa nyaman kalau itu opsinya sama Freeport. Dibandingkan kalau sama orang luar. China pun ada yg mau Pak.

    MS: Ini yg Pak Riza sampaikan yg lalu sama Dharmawangsa itu kan

    MR: Iya. Itu harganya yg wajar. Bukan harga yg tidak ketinggian tidak kerendahan. Kan PTnya milik bapak juga, 51 %. Nanti bapak juga jangan sampai menekan ke induk usaha Freeport, pertambangan.

    MS: Kuncinya kan itu lagi, surat perpanjangan itu. Tidak mungkin keluar purchasing guarantee kalau tidak. PLTA mau dibangun itu kan untuk underground mining. Underground mining baru bisa dipastikan mau dilanjutkan kalau ada perpanjangan.

    MR: Betul perpanjangan. Ini Komitmen itu dibutuhkan. Komitmen itu belum off take guarantee belum Pak

    MS: Lho kalau komitmen, Freeport komitmen. Begitu ada perpanjangan komitmen kita akan jalankan. Saya pertaruhkan itu.

    MR: Itulah pak yg perlu duduk itu komitmen

    MS: Karena tidak mungkin itu pak. Freeport sudah menanam 4 M dollar. Sudah yg mempersiapkan underground, untuk infrastruktur & pesiapan operasional, meskipun tanpa kepastian. Jadi jangan ragu dengan komitmen. Terus untuk smelter Desember nanti kita taruh lagi 700 ribu dollar, itu commitment fee. Itu Desember. Tanpa ada kepastian lho Pak. Karena kita tidak tahu dianggap tidak komitmen

    MR: 700 juta ya Pak?

    MS: Sorry 700 juta dollar. Apalagi yg kita kurang komitmen. Tidak perlu komitmen lagi. Ini sudah komitmen. Ndak ada ndak ada

    MR: Tapi kira-kira kalau konsep tadi mau ambil apa enggak?

    MS: Saya nggak jamin mau apa nggak. Tapi kasihkan dulu itu Pak.

    MR: Wah kalau ada 700 juta, proposal gitu gua lepas ini

    SN: Artinya kalau ada opportunity. Kan ada di Pak Luhut

    MS: Signed dulu itu.

    MR: Singned itu pasti itu akan segera

    MS: Tapi kalau dengar penjelasan Pak Ketua tadi sayanya enggak begitu jelas. Dari Pak Jokowi ya enggak jelas

    SN: Kalau Pak Jokowi itu dia, beliau sudah setuju kalau sarannya untuk di Gresik. Tapi berikutnya di Papua. Tapi ada ujungnya-ujungnya, waktu saya makan itu Pak Ketua sudah bicara belum Pak Luhut, saya disuruh ngadep ke Pak Luhut, ngobrol-ngobrol. Saya langsung tahu ceritanya ini waktu rapat, yg terjadi antara si ESDM dengan Darmo. Kalau menurut saya, memang Pak, Presiden itu ada yg mohon maaf ya, ada yg dipikirkan untuk ke depan memang. Kalau dilihat dari, karena dia dengar Pak Jusuf Kalla itu kan terjadi begitu, makanya selalu menyinggung masak Jusuf Kalla terus. Kalau lihat begitu memang dia

    MS: Ada ganjalan

    SN: Ada ganjalan. Makanya kita harus menutupi. Gak habis-habis

    MS: Mempercantik

    SN: Mempercantik. Tapi kalau pengalaman kita, artinya saya dengan pak Luhut, pengalaman-pengalaman dengan presiden, itu rata-rata 99 % itu goal semua Pak. Ada keputusan-keputusan penting kayak Arab itu, bermain kita. Makanya saya tahu. Makanya Bung Riza begitu tahu Darmo, dimaintaince, dibiayai terus itu Darmo habis-habisan supaya belok. Pinter itu

    MS: Anu The lobbies

    (MS, SN, MR ketawa)

    SN: Itulah

    MR: Pak, Pak. Hubungan Pak Luhut itu dekat sekali dengan Pak Jokowi. Kalau kasih sign beliau keluar, kasih sign, eh beliau kayaknya begini gini, rahasia ya. Ngerti nggak. Paling nggak Pak, kalau saya bilang confirm on, kalau meleset saya habis Pak.

    MS: Ndak Pak. Kalau meleset komitmen, kalau sudah keluar komitmen tidak akan meleset Pak. Kalau sudah keluar komitmen. Seperti saham berapa persen Pak.

    MR: Itu yg saya juga belum, yg belum

    MS: Bapak harus jelas juga berapa persen sahamnya. Karena itu bukan uang kecil lho Pak soal saham itu & nilai aset Freeport itu bukan main.

    MR: Kedua, nilainya berapa. Sama yg itu kan diambilnya harus untung, biar pinjaman bisa recover

    MS: Mungkin harus jelas juga Pak, supaya anunya, perhitungannya lebih jelas juga

    MR: Bapak itu sudah jalan divestasi sudah berapa persen?

    MS: 30 % yg sudah jalan

    MR: Yang sudah jalan 9 persen dong

    MS: 9,3 %. DIpegang BUMN

    SN: Kalau gak salah itu Pak Luhut sudah bicara.

    MR: Pak Luhut sudah bicara

    SN: Pak Luhut bicara dengan Jim Bob. Pak Luhut udah ada unek-unek Pak

    MR: Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau enggak ribut.

    SN: Iya. Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di San Diago, dengan Jim Bob, empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia memang di sini 10 %. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini. Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu lhp hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu. Strateginya gitu lho.. Hahahaa

    MS: Lobbies

    MR: Untuk pertama kali, berapa yg saya olah. Disampaikan, kalau cawe-cawe kan dia juga kerja di konsultan. Dia kan kalau konsultan datang, dia langsung bikin titik.

    MS: Ada saya baca..

    MR: Saya punya presentasinya. Habis presentasi sedetil itu, habis itu langsung saya telpon. Tanggal berapa itu

    SN: Sekarang sudah digarap sama Bung Riza. Hahahaa Saya tahu Pak..

    MS: Tanggal 14

    MR: Memang kita tidak mau mencampuri politik. Tapi kenyataannya barier politik itu ada. Kerjanya cepat..Makanya.dan happy. KIta akan kasih pengertian. Pak Luhut pasti oke. Karena Pak Luhut gak terlalu gini juga. Kita happy-happy semua Pak. Kalau bapak happy, kita semua juga happy.

    SN: Kita happy Pak kalau Bung Riza yg mengatur

    MR: Bukan, kita kerja, kita kan sunggung-sungguh kerja ya Pak ya. Ada prospek. Insya Allah, Allah kasih rezeki. Berjalan. Kan masalah banyak disitu. Sampai empat tahun Pak

    MS: Nggak setahun saja, ini selesai urusan monster.

    MR: Kalau itu itu bisa sampai 25 tahun

    MS: Lama itu Pak. Nggak cuma ini aja Pak. Setiap pembangunan di Papua nanti butuh power tinggal nambah, nambah, nambah Pak.

    SN: Pinter ini dibayar sama itu

    MR: Menurut saya, cara itu elegan. Freeport yg kontrol, harga dikendali. Freeport bantu cari guarantee, pinjaman. Terus, di sana cicil bagus, bisa kredit guarantee sesuai. Yang enak gitu lho pak. Freeport yg kontrol, semua jalan semua. Pengendali. Kalau kita bikin CSR ke orang-orang kampung kita bisa. Ada Freeport juga di situ. Itulah Pak, bagus sekali itu. Kalau itu misalnya sama China. Jepang itu lain lagi.

    MS: Teknologi mau pakai teknolohi mana?

    MR: China? Gampang itu Pak

    MS: Enggak, kalau begini Pak

    MR: Dari China. Oh bisa

    MS: Ini kan perusahaan Amerika, harus dilihat juga. Jangan lupa yg kecil-kecil gitu. Biar strateginya nyambung nanti pak

    MR: Turbin dapat kredit ekspor dari sana.

    MS: Itu Pak, smelter Papua sudah ada statement bersama. Pemda Papua akan mencari investor. Statement bersama dihadiri oleh Komisi 7, Ketua DPRP, Ketua MRP, ada Menteri ESDM. Statement bersama.

    SN: Yang waktu itu ya

    MS: Iya. Dan gubernur mendukung pembangunan smelter. Freeport di Gresik. Kalau dia punya smelter jadi, Freeport akan menyuplai konsentratnya dengan perhitungan B to B ke smelter yg sudah ada akan dibangun. Begitu Pak

    SN: Perjalanan tambah sudah mulus dong

    MS: Sudah ada komitmen, Gubernur Lucas itu sudah mengeluarkan statemen itu. Cuma kan ada kemungkinan, ini gubernur punya pemikiran bahwa semua smelter semua spesifikasinya sama. Di setiap komoditas minerail itu, mainnya itu beda. Tidak bisa tembaga / emas itu makan nikel / bauksit. Di pergi ke China nyari. Teknologinya nikel & bauksit. Kalau teknologi tembaga emas itu adanya di Jepang. Dia salah langkah Pak. Gitu lho Pak. Makanya dia agak mandeg mau membangun smelter. Kan teknologinya beda pak. Njlimet itu pak teknologi setelah saya pelajari. Yang top itu teknologinya Mitshubishi.

    MR & SN: Ooooooo

    MS: Untuk smelter. Memang gila itu, Jepang memang top. Tidak pakai kimia, tidak pakai kimia, semua fisik. Makanya Freeport itu tidak ada proses kimia dalam pemurnian. Salah langkah dia untuk Papua. Harusnya dia lakukan ini dulu, sudah bentul. Bangun dulu Papua secara keekonomian. Bangun dulu infrastruktur Papua secara keekonomian. Jangan bangun smelter dulu di depan. Bagaimana mau bangun smelter kalau enggak ada listrik, enggak ada pelabuhan, enggak ada jalan, enggak ada air bersih, enggak ada gas. Mahal Pak. Bangun dulu nilai keekonomian. Makanya itu Keppresya sudah betul. Makanya Bappenas, sudah cocok itu. Bangun dulu infrastruktur, bagun pabrik semen, pabrik pupuk.

    SN: Sudah Pak. Kemarin itu saya diarahkan sama Bu RIni, menteri ESDM jadi nanti itu ditunjuk di Bintuni. Bintuni itu arealnya 6000 hektar. Itu dibuat di sana itu pabrik pupuk, Antam juga disitu, pelabuhan bukan hanya Sorong pak tapi di situ. Sehingga ini sebenarnya untuk menunjang perekonomian itu. Ini lagi mulai pembuatan-pembuatan itu yg pihak Dirut Antam, Pak Budi ketemu saya waktu itu, memang betul sedang membuat. Gasnya selain gasnya itu dari apa itu yg di sana

    MS: Tangguh

    SN: Tangguh, tetapi juga dari Malaysia, dari Ginting. Mereka dapat itu

    MR: Genting, genting

    SN: Genting

    MR: Benar itu Pak. Ada 5 TCf cadangan di Papua. Itu yg akan disuplai ke tempatnya bapak.

    MS: Bintuni kalau mau membawa nanti konsentratnya dari Timika, coba dilihat kondisi geografinya Pak, bagimana berapa cost deliverynya. Faktor cuaca melalui laut. Kalau lewat darat wah pembangunannya gila berat, very costly. Bapak harus lihat line costnya, garis pantainya untuk membawa konsentrat dari Timika ke situ.

    SN: Yayaya.

    MS: Kenapa tidak dari Timika dibawa ke Gresik. Karena line costya gampang. Kalau mau dibawa ke Papua harus lihat dari garis pantai

    MR: Ooo geografi dengan costnya ya.

    MS: Harus lihat itu Pak. Modal

    MR: Kalau begitu, tidak ada jaminan pupuk bangun, tidak ada jaminan semen bangun. Sehingga revisinya. Makanya gandeng kita. Mau bangun enggak, gitu. Tapi kalau dipressing nggak ada semua. Orang yg ngasih duit uang ke Freeport, sudah pasti oke, sudah pasti dibeli nih

    MS: Off takernya banyak.

    MR: Banyak off takernya.

    SN: Iya purchasing guarantee

    MS: Harus integreted Pak. Susah ini pak

    MR: Kalau orang mau menggaransi, off taker baik pasti bangun pabrik pupuk. Bangun di sana

    MS: Itu nanti menjual hasil konsentrat itu secara internasional juga harus dipikiran marketnya

    SN: Kalau semen itu Pak, pada akhirnya bisa dibangun di situ gak, Di Timika? Kalau seandainya presiden sudah setuju. Udah, Pak Ketua kita di sini, tapi harus janji di Timika, sesuai permintaan itu bangun pabrik semen di sana

    MS: Pak, masalah lahan di Papua itu juga masalah besar. Masalah hak ulayat itu susah. Pak Riza mau bangun di sana, berhubungan sama yg punya, Pak Iza sudah bayar. Nanti pamannya datang kamu bayar ke dia, saya mana. Datang lagi keponakannya. Itu yg bikin perang suku Pak.

    MR: Itu mirip di Padang. Sama kalau di Padang

    MS: Kepastian hukumnya tidak ada. Ada kebon sawit besar bagus cantik udah jadi Pak. Tiba-tiba ditutup sama gubernur katanya merusak alam. Kasihan Pak buat investor. Itu orang nggak jadi males menginvestasi

    MR: Provinsinya Dajjal

    MS: Betul Pak zamannya Dajjal

    MR: Sama Pak. Gila itu. Itu waktu Riza mengondisikan ngurusi gula, sudahlah begini begini, dia sudah kuasai lahan Pak, pada waktu itu. Beda kongsi. Gua ketawa aja. Makan dulu, kalau udah jalan 5 tahun baru saya ambil.

    MS: Diganggu?

    MR. Ya enggaklah. Dia juga memulai itu jalan pelan-pelan sekarang. Miliknya Antam. Akhirnya dia bikin pabrik gula di NTT. Hmm begitu

    MS: Ati-ati Pak. Betul Pak.

    SN: Ngeri, makanya bolak-balik situ.

    MR: Tentara

    MS: Saya sudah dari 1983 sudah ke Papua.

    SN: Oh oke

    MS: Saya sudah tahu Papua, bagaimana antropologinya. Hati-hati Pak, gak semudah itu.

    SN: Yayayaa. Percaya Pak

    MS: Gak semudah itu Pak Papua. Mengedukasi mereka untuk merasa bahwa mereka akan dibangun untuk kesejahteraan mereka, tidak mudah Pak. Costnya tinggi Pak, betul. Kita bangun sekolah, minta dibangun rumah sakit. Tapi kalau ajak pers, hormat bapak. Masak kita sinterklas terus.

    MR: Itu ya Freeport pernah bangun pagar yg bagus, yg indah itu buat di gedung. Itu yg bikin perusahaan gua. Punya pabrik di Bandung. Itu besinya di bawa pakai pesawat ke sana. Pegawai saya di bawa pakai pesawat. Gak tahu masih ada apa enggak sekarang. Loe bayangin, tukang-tukang gua naik pesawat

    MS: Anu itu memang soal sikap mental Pak.

    MR: Sadis itu, memang tidak gampang

    MS: Kalau mau pembebasan lahan itu tidak mudah lho pak. Kalau tidak salah itu tiga kabupaten untuk PLTA itu.

    MR: Kalau itu mudah-mudahan bisa cepat. Karena

    MS: Yang anti sama gubernur juga banyak lho pak. Yang dulu sakit hati sama gubernurnya sekarang sudah mulai kuat lho Pak.

    MR: O ya

    MS: Iya. Wagub itu belum tentu bisa jalan sama gubernurnya.

    SN: Papua sama Papua Barat

    MS: Papua. Coba tolong dimatangkan mengenai saham.

    MR: Yang saham. Soal saham itu, saya bicara ke Pak Luhut. Kita sudah bicara. Weekend saya ketemu. Biar Pak Luhut yg bicara ke bapak

    SN: Biar cepat selesai

    MR: Kan ini long weekend, Hari minggu nanti, saya temui Pak Luhut, bisa minggu malam. Biar Pak Luhut cek & kita. Saya yakin itu

    SN: Presiden sudah dikasihkan ke Pak Luhut itu berapa kali. Si Darmo, kalau bapak denger cerita di dalam. Apa yg kita inginkan bisa, presentasi ke presiden tiap hari.

    SN: Presentasi ke presiden setiap hari.

    MR: Kalau memang gawat keadaannya, saran saya jika mau malam sabtu / malam minggu

    SN: Besok

    MR: Why not. Pak Luhut oke. Kita ketemu sama Pak Maroef, hari minggu malam. Kita ngumpetlah. Seeeeeeeet dia action minggu depan. Nggak lama Pak. Next week two week. Bisa kau angkat akhir Juni selesai urusan. Begitu ini selesai ini saham bisa

    SN: Saya sih yakin itu karena presiden sendiri kasih kode begitu & itu berkali-kali. Yang urusan kita di DPR, itu kita ketemu segitiga, Pak Luhut, saya & presiden. Akhirnya setuju. Ngomongnya gini presiden. Saya sudah ketemu presiden cocok itu. Pengalaman ya, artinya ini demi keberhasilan semua. Ini belum tentu bisa dikuasai menteri-menteri, yg gini-gini. Enggak ngerti malah bapak

    MS: Ada lobbiesnya

    SN: Strategi

    MS: Ini Henry Kisingernya

    SN: Henry Kisinger Hahahaa

    MR: Kita ini orang kerja, strateginya. Jadi Freeport jalan, bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa. Kumpul-kumpul. Gua gak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy. Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yg bagus, representative. Apalagi

    SN: Iya

    MR: Buat kita itu tak ada yg rakus. Ini mutual benefit, konsepnya mutual benefit. Barangnya kita semua. Kita semua kerja. Freeport 51 kasih kita lokal, support financing. Ya Pak

    SN: Kalau Freeport menjamin, semua juga gampang. Semua bank langsung kasih.

    MR: Kan itu buat tambang

    SN: Otomatis, merem aja itu

    MR: Lumayan ini, untuk kumpul-kumpul paling 1 juta dollar.

    SN: Hayyaah

    MR: Saya ikut masuk ke Dharmawangsa ini, cost yg mereka bawakan sudah, tapi masih gedean mereka porsinya. Terlalu lama mereka itu boros. Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat nyetop, jatuh dia.

    MS: Yang jadi itu Amerika. Nggak diterima di Amerika

    SN: Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak koppig (kopeh, bahasa belanda) tapi bisa merugikan semua. Contoh yg paling gampang itu PSSI. Apa susahnya ini ya, saya bicara. Saya harus bicara Freeport itu saya bicara dulu PSSI. Saya bilang, Pak Presiden pengalaman saya zaman SBY, SBY turun tangan. TVOne yg sudah menyiarkan liga & lakunya bukan main, terpaksa harus dihentikan karena sudah teriak-teriak, ini menyangkut sponsor, pengangguran mereka, menyangkut macem-macem. Jadi bisa menurunkan juga kredibilitas isu-isu presiden. Presiden, Pak Ketua khusus PSSI saya tidak ada apa, apa tidak ikut campur dengan pihak mereka. Supaya Indonesia itu bangkit. Saya bilang, ada peraturan FIFA mengharuskan. Kalau saya yg kurang menguasai, Ketua MA menyampaikan hukum-hukumnya. Disampaikan pak, hukum-hukumnya. Kalau sudah bilang enggak, ya enggak, susah kita. Tetap saja. Kita dikte saja. Gitu Pak. Koppignya dia buat bahaya kita. Kedua, Ketua MA sampai merasani sama saya enggak berkenan sama presiden. Wah gak cocoklah.

    MS: Chemistry enggak nyambung

    SN: Enggak nyambung Pak. Ketemu dua kali di tempatnya Menteri PAN, waktu pelantikan ngobrol itu lagi. Ketemu lagi. Enggaak. Ini harus kita rekayasa pak.

    MS: Pengalaman ini ya Pak

    SN: Kadang-kadang dia kalau egonya ketinggian, ngerusak Pak. Ngono Pak. Makanya pengalaman-pengalaman saya sama dia, begitu dia makin dihantam makin kenceng dia. Nekat Pak. Waah

    MR: Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi, lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya, Pak Hendropriyono & Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak Hendro ama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong. Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau sosialis. Itu bukan

    SN: Berbahaya Pak. Bahaya kalau dia selalu begitu. Ada lagi pengalaman saya Pak.

    MS: oke

    SN: Pengalaman yg betul-betul saya mengalami bersama-sama Pak ini, bersama-sama Pak Luhut. Akhirnya saya minta tolong Pak Luhut, untuk memulai pemilihan Kapolri. Itu asli Pak. Bagaimana itu kita berusaha supaya Budi, karena Ibu Mega yg call, yg telpun. Itu kita pakai apa aja enggak pak. Itu bisa terjadi pada saat beliau mau ke DPR. Bingung dia Pak menghadapi DPR gitu. Disuruhlah Menkopolhukam, sama Setneg, sama Mendagri ketemu saya. Saya bilang udah deh nanti kita atur duduknya gini, enam pertanyaannya saja deh. Itu telpun lagi, tadi kan semua tim. Dia minta dua saja. Duduknya minta yg santai, sesantainya, tidak ada pertanyaan yg ini. Wah nanti cuma bulat-bulat itu Pak. Bagaimana saya menenangkan fraksi-fraksi supaya mau begitu kan. Banyak akal, pokoknya bisalah. Dia datang, kita akali. Soal BG itu, pokoknya lari ke BG minta kapolri dia. Nanti Pak Luhut. Saya cepet-cepet ke Pak Luhut gimana jalan keluarnya. Pak Luhut kasih jalan. Entar gini. kita malam-malam ya waktu itu. Entar jawabannya gini aja, Presiden ngomong gini soal BG akan kita serahkan kepada nanti yg terpilih. Siapapun yg diusulkan oleh pejabat yg terpilih setuju. Ayo kita draft. Draft kita bertiga. Bener Pak Luhut itu. Begitu draft selesai, Pak Luhut jam 9 keluar lagi, Wah kalau Pak Jusuf Kalla datang nanti bisa berubah. Pak Jusuf Kalla itu ngotot BG. Ini bener, Pak Jusuf Kalla itu bener. Itu pun diatur gimana akhirnya presiden bisa perintahkan Pak Jusuf Kalla enggak datang. Dia pindahkan ke sana, pindah ada acara. Padahal kita sudah siapin tempatnya itu pak. Jadi satu itu, satu ini. Jadi waktu pagi-pagi kita rapat jam 10 mundur jam 10,30. Itu jam 08.00 Pak Luhut datang. Catat aja begitu banyak. Kata Pak Luhut, jangan. Ini cukup selembar ini. Saya sudah runding dengan saya. Betul kan saya sudah ketemu Pak ketua. Waktu dia datang, saya buat bercanda buat apa, buat apalah semua. Akhirnya kita duduk. Saya lihat dia bawa tas kayak orang norak. Ajudan bawa tas yg isinya banyak yg banyak itu. Itu kertasnya ini. Terus gimana Pak Luhut. Bapak periksa aja. Nanti saya atur, saya ngomong, bapak ngomong. Kira-kira nanti kan ada dua hal, soal masalah Kapolri & soal masalah APBN. Terus dia ambil. Saya lihat lirikan kertas yg mana yg diambil, kertasnya Pak Luhut. Jadi waktu di APBN semua fraksi ngomong tapi semua ngomong BG, semua ngomong BG. PDIP ngantem presiden. Dia berbisik-bisik, masak PDIP sendiri ngantem saya, saya kan presiden. Tapi gak peduli apapun kehendak Bu Mega gak peduli. Dijawab pertanyaannya. Setelah saya dengarkan semua soal Pak Budi Gunawan, semua saya turut tampung tetapi mekanismenya adalah saya serahkan kepada Kapolri yg terpilih. Persisnya itu dibaca begitu. Dibaca. Ini pengalaman Pak ya. Selesai, sampailah cerita itu ke Ibu Mega. Marahlah pokoknya, sampai ke Solo & macam-macam.

    MR: Di Solo ada., ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto pokoknya koalisi mereka, Dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan.

    SN: Termasuk Papua

    MR: Termasuk Papua. Noken kita habis.

    SN: Habis Pak, hampir setengah triliun.

    MR: Kapolda Papua itu kan sahabat saya, sahabat deket.

    MS: Tito

    MR: Tito. Akhirnya ditarik ke Jakarta supaya nggak menyolok, jadi Asrena. Sekarang Papua sudah jalan, kasih hadiah sama Jokowi. Padahal maunya Jakarta bukan dia. Pak BG maunya bukan Tito. Pak BG maunya Pak Budi. Tapi Budi ditaruh Bandung. Tito Jakarta. Yang minta Jokowi.

    SN: Jawa Barat hahaha

    MR: Gila Pak. Alot pak orangnya Pak.

    SN: Pengalaman itu, maksudnya saya pengalaman itu. Jadi kita harus pakai akal. Kita harus pakai ini. Kuncinya kan ada kuncinya. Kuncinya kan ada di Pak Luhut, ada saya. Nanti lempar-lemparan. Ada dia strateginya. Cek gocek

    MR: Darmo ini disayang sama dia karena, Si Darmo kalau presentasi, lulusan Amerika, sudah kuliah PHD pintar. Jokowi happy terus. Ini saya tahu. Darmo ngomong Pak itu didengerin. Gitu Pak

    SN: Cuma sudah dibeli gara-gara ketemu bapak, dikunci, sreeeet. Berubah

    MR: Dikawanin lah.

    MS: Hasil lobi ya

    SN: Semuanya, semua istana beliau bisa biaya yg lain-lain, biayain semualah.

    MR: Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya ini kan pedagang, Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul.

    SN: Panggil Pak Luhut

    MR: Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah. Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama wapres enggak boleh diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yg ada di sana, Ini temen-temen & kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong rurururuurr Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yg enggak mendukung Jokowi itu PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara aman kita punyajalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala. Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur.

    SN: Kesalahan menteri-menterinya juga.

    MR: Ya presiden juga andil.

    SN: Ya kita harus jujur

    MR: Kalau Pak JK presiden,

    SN: Wah terbang kita.

    MR: Atau dia pasrahin Pak JK urus ekonomi saja, saya pergi dah blusukan. Pak JK urus saja ekonomi

    SN: Ya tapi sekarang sudah dibatasin terus presiden

    MR: Obyektif ya Pak, kita pengi ada growth, bisnis kita jalan, semua orang gitu kan. Gaji lancar pajaknya gak gila-gilaan. Pajaknya gila Pak. Pajaknya dahsyat Pak

    MS: Semua macam-macam dipajakin ya

    SN: Hancur

    MR: Iya.

    SN: Mobil jeblok, orang beli gak bisa. Perbankan gak mau lagi, hancur.

    MR: Kalau Freeport mah gak ada kaitannya sama ini. Kalau saya ada ritel, saya punya air lines, hancur berdarah. Rupiahnya jelek marketnya drop. Saya ada perusahaan ritel, saya punya toko-toko orang perempuan di mall-mal, gubrak, waduh gila pak. Bagaimana nasibnya. Perkebunan sawit juga jeblok perusahannya. Gimana pula

    SN: Gak ada uang

    MR: Gak ada uang. Rakyat udah gak ada uang. Gak ada demand, drop.

    MS: Itu konsep PP 15 untuk sawit gak jalan Pak? Padahal itu konsepnya presiden untuk CPO

    MR: Hancur pak, hancur Pak

    SN: Presiden itu senang meresmikan meresmikan. Tapi sekarang gak jalan. Sekarang dia serahin ke Pak Jusuf Kalla. Saya ketemu Pak Jusuf Kalla. Jusuf Kalla bilang wah ini banyak yg gak jalan. Saya bilang jangan meresmikan terus

    MR: Kalau pak JK itu pengusaha.

    SN: Bagus itu Pak

    MS: Dia bisa menghitung

    MR: Bagus Pak. Dia bisa mengcreate. Kalau tahu sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam. Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah

    SN: Ini kaya PSSI babak belur.

    MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura

    MR: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan, otot-ototnya rusak semua

    MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua Pak

    SN: Kembali itu Pak. Pak Luhut ditakutin, enggak bisa enggak

    MR: Sebetulnya lepas dari apapun, nasibnya jelek. Jujur saja ya Pak, nasibnya jelek sebagai bangsa Indonesia. Mendingan karena Jokowi tapi kita kan berdarah. Masak musuhan itu kan gilaaa. Aduuhhh Ampuuunnn ampuunnn.

    SN: Ampuun

    MR: Si Alid, Alidu mau ngomong sama KEN. Sama KEN kan hopeng. Ngomonglah duluan sama Cicip. Dapat ijin nangkap ikan. Beli kapal 10, join ama China, bikinlah KMA. Ada ijin, keluar semua. Kapal sudah datang. Cicip diganti Bu Susi. Sama Bu Susi, kapal asing gak boleh nangkap. Bangkrut dia langsung. Ganti pakai bendera Indonesia kapalnya. Kapal 350 Dwg harus buatan Indonesia. Buatan asing gak boleh beroperasi di sini. Bangkrut langsung. Edan Pak, ini ngaco Pak, gawat ya

    SN: Eksport aja berhenti. Megenai di tempatnya Susi semua, banyak gulung-gulung tikar semua.

    MR: Enggak cuma situ. Tempat lain juga sama

    SN: Iya. Itu presiden gak tahu

    MR: Ada lagi teman Pak. Dia memang bisnisnya minuman. Dia bikin UIC, Si Aseng, tahu kan Pak. Ini pabrik dia,150 juta dollar investasinya. Pabrik dibikin udah mau jadi, ada peraturan ama Rahmat Gobel, penyalur-penyalur itu gak boleh jualan bir. Berhenti. Pabrik gak jadi diresmikan. Bayangkan Pak. Berdarah Pak. Gila

    MS: 150 juta dollar Gila

    MR: Banyak kasus Pak. Belum lagi pengusaha batubara.Tapi pak kita muter-muter dia masih presiden Pak. Suka gak suka harus kita bayar udah Pak. Ya kan

    MS: Masih panjang

    SN: Masih panjang

    MR: Yang penting gak papa, yg penting halal

    SN: Rakyat itu suka gak suka ama dia dianggap itu bener semua.

    MR: Iya. Salah gak salah jalan terus. Yang dianggap salah menteri-menterinya. Dia enggak. Gila dah. Haduuuhh

    MS: Tapi kan Pak Riza masih ada Pak Ketua yg back up.

    MR: Ah kalau saya kan Pak, hidupnya biasa saja. Itu kan sudara saya, banyak saudara pak.

    SN: Karena Itu Pak, seperti kata presiden, rata-rata kita minta itu setuju tapi harus pakai strategi. Ya kita selalu kadang-kadang salah kita

    MR: Pak Jokowi sudah baik, sudah baik Pak cuma sekarang dirombak. Sekarang sudah baik banget. Sekarang dirombak lagi. Jangan bawa ke ranah politik

    MS: Membantu politik, membantu urusan politik

    MR: Betul Pak.

    SN: Kayak HR.

    MR: Saya sama Pak Marciano. Aduh Pak Riza, jangan muncul, jangan muncul kata saya. Biarkan dia bantu Prabowo tapi jangan muncul. Pak, saya gak muncul susah Pak. Gimana muncul ketahuan.. Usahakan jangan muncul. Percaya omongan saya. Bener juga omongannya. Gua muncul di Polonia, puk puk puk langsung muncul di sosmed. Aduuuh saya lagi sama Prabowo & hati. Ya udah mau apa, nasib.

    SN: Nasib duit keluar banyak. Duit Pak. Itu saya lihat kasihan. Ngapain itu, udah. 50 M, 30 M. Begitu kita hitungin udah 500 M. Ngapain. hahahaa

    MS: Lewat Pak

    SN: Lewat Pak

    MR: Padahal duit kalau kita bagi dua pak, hepi Pak. 250 M ke Jokowi JK, 250 M ke Prabowo Hatta, kita duduk aja. Ke Singapura, main golf, aman. hahahaa. Itu kan temen, temen semualah, Pak Susahlah. Kita hubungan bukan baru kemarin. Masak kita tinggal nggak baik. tapi kan sekarang udah gak ada masalah. Sudah normal. Gitu

    SN: Saya ngomong sama presiden, ini Pak Bung Riza juga bantu. Oh ya ya itu dia kawan saya baik. hahaha

    MR: Memperjuangkan dia itu capek sob. Segala macam cara, Pak Hendro ngomong sama Megawati waktu di Kebagusan. Belum saatnya. Dikira sekaligus. Belum Pak. Saya itu baik, saya kasihan sama Pak Jokowi, saya akan bantu Pak Jokowi ke Hatta sebagai cawapres. Pak Jokowi sama Hatta mungkin Pak, tapi Meganya gak mau. Saya sama Hatta itu sahabat.

    MS: Jokowinya mau, Pak?

    MR: Jokowinya mau banget sama Hatta.

    SN: Tahu tahu pisah, pusing sudah terlanjur ke Pak Hatta

    MR: Tapi itu kan pengalaman.

    SN: Tapi kalau ngomong baik-baik, lamaa menikmati. Kayak yg kemarin itu yg Fahri & Fadli Zon marah itu. Itu kan gitu Pak soal UU. Udah kerja capek-capek. Jam 2 kita ketemu lagi, Semua wakil ketua & komisi II saya ajak ketemu presiden. Jelasin. Sama Fahri dijelasin, efeknya bahayanya. Jelasin. Saya tengahin bapak presiden, sambil becanda nih. Udah becanda terus dia tenanglah. Itu menteri-menteri, menteri Polhukam gak ada yg ngomong Pak. Nanti jawab gini pak. Saya tidak setuju karena ini ni, singkat. Marah dong temen-teman. Bapak presiden, kalau buat saya ini pak. Apa gak sebaiknya kita pertimbangkan dulu. Ya saya setuju Pak ketua. Ya bapak kan mau rapat kta pertimbangkan, Walau nanti diputuskan enggak tapi paling enggak jadi dipertimbangkan. Tapi pakai guyon dulu. Kalau enggak gitu dia stik. Dia stik mati kita.

    MR: Saya bilang ke Pak Marciano. Pak saya gak berani ke rumah bapak dulu Pak. Begitu saya ke rumah bapak, ada yg ngabarin kalau sudah dicap. Habis Pak Jokowi dilantik, saya nggak berani dulu. Udahlah biar bapak kerja tenang, Sekarang dia sudah aman.

    SN: Udah tahu lah, kan Pak Luhut lapor semua pertemuan itu kalau Bung Riza semua yg ngatur

    MR: Saya sih bukan menjilat dia pak. Tapi kalau temen-temen saya paling gak hepi, pada ribut semua. Nanti rusak negara kita.

    SN: Waduh hancur

    MR: Iya kan. Maksudnya biar harmonis, harmonis rukun. Kalau Pak Luhut kan sahabat lama. Ya udah kita duduk Pak Luhut.. Pak Luhut gak percaya. Belum cukup sama gue. Udahlah bisalah. Gua yg atur, gua jamin. Wah seneng banget, Pak Luhut ke Pak Jokowi. Nih si bos yg urus katanya. Dia mau bawa ke istana, Riza tolak. Wah kalau saya ke istana, ada yg motret. Tambah pusing kepala saya. Susah ini Pak, tukang gosip

    MS: Makanan empuk

    MR: Iya makanan empuk. Wah gila betul. Kita kerja benar.

    MS: Pak terima kasih waktunya Pak

    SN: Sekarang komisaris di sana. Komisarisnya orang papuanya tiga, kemudian Indonesia non Papua Pak Marsillam, Pak Andi Mattalata, satu lagi bekas Presdir.

    MR: Pak Rozik ya

    MS: Oh, bukan itu presdir waktu kontrak

    SN: Hidayat itu beberapa kali ketemu saya. Nututi, saya menghindar terus. Saya sudah tahu itu. Kan saya tahu bahasa di Presiden kayak apa. Kan dia tiggal begini Pak. Rahasia terjamin, Orang lain gak ada yg ikut, Menteri pun gak tahu.

    MS: Kalau tahu Pak?

    SN: Kalau misal, situasi menterinya juga bisa terus, tapi juga belum tentu terus. Kalau gak terus tahu Pak bocor.

    MS: Lain cerita lagi itu Pak

    SN: Karena menterinya enggak share ini. Surabaya sama presiden itu hadir di PDIP. Dia ikut dari Papua pak. Dia lihat ada di VIP lounge, dia cari saya. Pak Ketua saya tahu pak ketua ada di sini. Urusan Papua tolong pak ketua. Insya Alla. Sudirman gitu. Jadi panjangan ngomongnya, bapak presiden gini gini. Baik-baikan aja. Kalau ribut, masih muda saya dihantam ama Darmo.

    MR: Darmo ikut ke papua dia

    SN: Darmo ikut ke papua?

    MR: Ikut dia.

    SN: Terus di pulang dia

    MR: Dia sama presiden hanya sampai Surabaya. Terus menterinya pulang

    SN: Presiden itu gak hepi gara-gara itu, Dia gak gepi itu, menteri ini, Jonan & Bappenas. Kalau ngomong itu saya pusing Pak Ketua, sama menteri ini.

    MS: Andrinof

    SN: Andrinof

    MS: Terima kasih waktunya. Kita tunggu anunya aja kepastian gimana, kelanjutannya

    MR: Saya bicara Pak luhut, kira-kira apa. Terus oke, kita ketemu.

    SN: Harus itu pak

    MR: Saya akan bilang Pak Luhut

    SN: Harus cepet. Karena kasihan beliau, Pak Luhut dikasih tanggung jawab. Kasih tanggung jawab share holder. Gimana caranya sukses, harus cari akal kan gitu.

    MS: Tanggung jawab itu paling berat itu karyawan & keluarganya

    MR: Betul itu Pak

    MS: Kalau share holder kan duitnya banyak. Tapi karyawan itu 30 ribu lebih. Itu kan bangsa kita semua. Kalau share holder ini tutup masa bodo amat.

    MR: Dan selalu dipikir karyawan

    MS: Dan Freeport gak pernah PHK lho pak. Itu saja Pak. Pikiran saya itu karyawan. Karena saya sudah lama masuk Papua. Saya tahu betul masyarakat Papua.

    SN: Oke Pak.

    MS: Baik Pak. Terima kasih Pak Ketua. Saya duluan Pak. Makasih Pak, mari. Pak Riza makasih Pak. Mari

    SN: Yuk Pak

    MR: Cakep deh

    Setnov Membenarkan

    Setya Novanto mengakui transkrip yg beredar itu adalah percakapan antara dia & bos Freeport. “Saya membenarkan ada transkrip yg beredar yg tentu tidak utuh,” kata Setya di kediamannya, Jakarta, Rabu 18 November.

    Oleh karena itu, dia menyayangkan beredarnya transkrip percakapan itu. Sebab, ketika transkrip itu utuh, maka akan terlihat pertemuannya dengan Freeport memiliki tujuan yg baik.

    “Makanya saya agak menyayangkan itu. Pembicaraan saya itu tujuannya baik, namun yg saya lihat tidak tahu ya, saya juga belum lihat rekamannya,” kata Setya.

    Dia juga mencurigai ada maksud tertentu dalam menyebarkan transkrip pembicaraan itu.

    “Saya merasa ini kayak blackmail juga, diedar-edarkan. Saya begini juga Ketua DPR, kok sampai tega mem-blackmail begitu. Saya enggak ngerti juga apa motif & tujuannya,” ujar Setnov.

    Bagaimana menurut Anda?

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Ini Rekaman dan Transkrip Lengkap dari Papa Minta Saham diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber

    Forum N3 Nyit-nyit.net membahas Video games, indie games, standalone games, plugins, free games, game extensions, expansion packs, game episode, game cheat, cara curang, cheat engine, game mods, modifications, mods, development, total conversions, modification, enhancement, games, plugins, addons, extensions, episode, expansion packs. We talks about latest Game Cheats, Cracks, Keygens and Hacks. Hacks & Cheats and trainers for many other multiplayer games. Free download games, hacks, cheats tools, projects, graphics. We create Hacks for Games,Cheats Tools,Trainer Tools. Hack,Cheats,Hack iOS Games,Hack Android Games,Cheats facebook games, Online games hack. Ini Rekaman dan Transkrip Lengkap dari Papa Minta Saham.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page