Kerugian Akibat Kejahatan Siber Mencapai 5,2 Triliun

Discussion in 'Berita Online' started by ON3, Jun 11, 2014.

Discuss Kerugian Akibat Kejahatan Siber Mencapai 5,2 Triliun in the Berita Online area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,100
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    Kejahatan di dunia siber mempunyai efek yang sangat signifikan terhadap perekonomian dunia. Sebuah laporan dari lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dikutip oleh Net Security Senin, (09/06), menyebutkan bahwa kejahatan siber menyebabkan kerugian bisnis sekitar 445 miliar dolar atau sekitar 5,2 triliun rupiah di seluruh dunia.
    Kerugian yang paling penting adalah kerusakan yang berdampak terhadap kinerja perusahaan dan ekonomi nasional. Kerusakan akibat kejahatan siber terjadi pada daya saing, inovasi, perdagangan, pertumbuhan ekonomi global. Studi CSIS memperkirakan ekonomi internet tiap tahunnya menghasilkan antara 2 hingga 3 miliar dolar AS, sebuah bagian dari ekonomi global yang diharapkan mampu berkembang dengan pesat. Dan menurut CSIS, kejahatan mengambil sekitar 15 hingga 20% dari keuntungan tersebut.
    Menurut peneliti dari CSIS, Jim Lewis, kejahatan siber memiliki efek yang merugikan terhadap kekayaan intelektual dan negara yang perekonomiannya tergantung kekayaan intelektual akan sangat berdampak ketimbang negara yang bergantung kepada pertanian.
    “Kejahatan siber adalah bayaran atas inovasi dan dapat memperlambat laju inovasi global dengan mengurangi keuntungan untuk para inovator dan investor,” Jim Lewis menyatakan.
    Jim Lewis menambahkan bahwa untuk sebuah negara yang maju, kejahatan siber memiliki dampak serius terhadap dunia kerja. Pengaruh kejahatan dunia maya adalah dapat membuat pekerja kehilangan pekerjaannya yang dapat memberikan hasil. Bahkan perubahan kecil dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dapat mempengaruhi penyerapan tenaga kerja.
    Hasil temuan CSIS di Inggris Raya, melaporkan para pengusaha kehilangan lebih dari 850 juta dolar AS karena menjadi korban peretasan. Dan di Amerika Serikat sekitar 3000 perusahaan pada 2013 menjadi korban peretasan dan yang menjadi korban paling besar adalah pedagang. Sedangkan menurut laporan pemerintah Australia, negara tersebut mengalami penyerangan terbesar pada penerbangan, perhotelan, dan perusahaan layanan keuangan. Kejahatan tersebut menyebabkan kerugian sekitar 100 juta dolar AS.
    Untuk kawasan Asia Korea Selatan dan Tiongkok menjadi negara paling banyak dicuri informasi pribadinya pada tahun lalu yaitu masing-masing sekitar 20 juta orang. Bagian kerugian dari kejahatan siber tersebut berkaitan dengan apa yang disebut para ahli sebagai biaya pemulihan pembersihan digital yang harus dilakukan setelah terjadi serangan. Biaya pemulihan tersebut terkadang mengambil porsi yang besar dibanding kerugian dari penyerangan itu sendiri.
    Laporan McAfee-CSIS melaporkan sebuah temuan yang menyatakan bahwa sementar penjahat tidak mendapatkan keuntungan finansial dari data yang dicurinya, sang korban menghabiskan semua banyak dana lebih dibandingkan nilai serangan tersebut. Contohnya apa yang terjadi di Italia, kerugian yang diakibatkan oleh peretasan adalah sekitar 875 juta dolar AS, namun biaya untuk memperbaiki hingga 8,5 miliar dolar AS. Dengan kata lain, bisa ada peningkatan sepuluh kali lipat antara kerugian yang disebabkan oleh serangan hacker dibanding dengan pemulihan oleh perusahaan yang harus diterapkan pasca serangan tersebut.
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page