Mahapralaya Kerajaan Medang dan Supernova 1006

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Aug 30, 2014.

Discuss Mahapralaya Kerajaan Medang dan Supernova 1006 in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,100
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    [​IMG]
    Sebuah bintang membuat gebrakan pada debutnya sekitar tanggal 1 Mei 1006, di bagian selatan konstelasi Wolf (Lupus). Tercatat menerangi langit malam di atas wilayah yg sekarang dikenal sebagai Cina, Mesir, Irak, Italia, Jepang, & Swiss. Manusia yg hidup pada saat itupun terpesona & mencatat peristiwa tersebut! Seperti yg dikutip dari Alam Mengembang Jadi Guru, beberapa catatan masih ada & dapat dibaca saat ini. Ini adalah peristiwa Supernova yg paling terang yg pernah dilihat manusia dalam sejarah yg tercatat.



    [​IMG]
    Puing-puing sisa supernova SN1006 yg terlihat saat ini



    Biarawan biara Benediktin di Swiss mengagumi kecerahan bintang itu, & mengomentari variabilitas cahayanya, “ka&g-ka&g melemah, ka&g-ka&g terang sekali, & ka&g-ka&g padam” – mungkin karena kondisi atmosfer disana, & karena bintang itu terlihat cukup rendah di cakrawala selatan.



    [​IMG]
    Petroglip supernova 1006?



    Astronom Cina dari era yg sama menggambarkan bagaimana cahaya supernova itu cukup untuk menerangi obyek-obyek di lapangan.

    Dan pada tahun 2006, dua astronom amerika berspekulasi bahwa petroglyph (batu ukiran) yg dibuat oleh suku asli amerika yg ditemukan di Arizona, menunjukkan peristiwa supernova tahun 1006 itu.

    Ukiran tersebut menunjukkan obyek yg menyerupai bintang melayg di atas simbol kalajengking. meskipun beberapa archaeoastronomers terkemuka sangat skeptis terhadap klaim ini.

    Seorang dokter Mesir/Arab & astronom Ali bin Ridwan di tahun 1006 juga mencatat bahwa “langit bersinar” oleh cahaya dari sebuah bintang, menambahkan, “Intensitas cahayanya sedikit lebih dari seperempat cahaya bulan.” Dia juga membandingkan kecerahan bintang ini adalah tiga kali lebih besar dari Venus.

    [​IMG]

    Bintang itu saat ini dikenal sebagai sisa supernova SN 1006, awan puing kini tampak meluas sekitar 60 tahun cahaya & dipahami mewakili sisa-sisa dari bintang kerdil putih. Merupakan bagian dari sistem bintang biner, dimana bintang kerdil putih padat secara perlahan-lahan mengambil materi dari bintang pendampingnya. Penumpukan massa akhirnya memicu ledakan termonuklir yg menghancurkan bintang kerdil.

    Karena jarak ke sisa supernova adalah sekitar 7,000 tahun cahaya, ledakan tersebut sebenarnya terjadi 7,000 tahun sebelum cahaya-nya mencapai Bumi pada tahun 1006. Sentakan gelombang pada sisa-sisa mempercepat partikel ke energi ekstrim & diperkirakan menjadi sumber dari sinar kosmik misterius.

    [​IMG]

    Para astronom saat ini mengetahui bahwa pada puncaknya, yaitu pada musim semi tahun 1006, orang mungkin bisa membaca naskah di tengah malam dengan cahayanya.”

    Kalau bangsa-bangsa lain di dunia mengetahui & melihat peristiwa supernova ini di langit malam mereka, bagaimana dengan bangsa kita?

    Menariknya pada abad 10 & awal abad 11, sejarah bangsa indonesia yg diketahui saat ini adalah diwarnai oleh perseteruan dua kerajaan besar, yaitu Sriwijaya (sumatera) & kerajaan Me&g (jawa) or yg lebih dikenal dengan kerajaan Mataram Kuno/Hindu.

    Lebih menarik lagi, dalam perseteruan ini, di tahun 1006 ada istilah MahaPralaya or Pralaya yg sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli sejarah bangsa ini. Maha Pralaya ini mengacu pada kehancuran or keruntuhan kerajaan Me&g or Mataram Kuno.



    Pendapat Pertama
    Van Bemmelen -geolog legendaris- menyebutkan bahwa letusan katastrofik gunung api hanya bisa terjadi jika terdapat dua faktor pendukung dalam gunung tersebut: magma yg sangat asam & histori letusan katastrofik. Keasaman magma berbanding lurus dengan kekentalannya, & kekentalan magma berbanding lurus dengan kemampuannya menyekap gas vulkanik. Sehingga makin asam magma, makin kuat kemampuannya menahan gas. Ini kondisi mengerikan, karena ketika batas ketahanan magma terlampaui, gas vulkanik yg tertekan hebat akan langsung dikeluarkan dengan energi yg sangat tinggi. Secara kasat mata magma sangat asam ini bisa kita lihat sebagai batu apung (pumice). Sebuah gunung berapi juga hanya akan berpotensi meletus katastrofik jika histori letusannya menunjukkan a&ya peristiwa serupa di masa purba.

    Menurut van Bammelen sebagian puncak Merapi pernah hancur. Kemudian lapisan tanah begeser ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan, yg antara lain, membentuk Gunung Gendol & lempengan Pegunungan Menoreh.

    Sebagian sejarawan ada yg sependapat dengan teori van Bammelen bahwa Mahapralaya mengacu pada Kehancuran kerajaan Me&g di Jawa Tengah akibat bencana alam, yaitu meletusnya Gunung Merapi secara dahsyat. Letusan gunung ini membawa malapetaka yg mematikan: gempa bumi, banjir lahar, hujan abu, & batu-batuan yg mengerikan menimpa serta mengubur apa pun yg berada di sekitarnya, termasuk wilayah Bhumi Mataram yag berada disekitar gunung merapi (sampai saat ini belum diketahui secara pasti lokasi istana kerajaan Me&g di Jawa Tengah).



    [​IMG]
    Merapi dengan Letusan november 2010, belum ada apa-apanya dibandingkan letusan 1006



    Istana Me&g yg diperkirakan saat itu berada di Bhumi Mataram (bumi mataram adalah nama dari daerah yogyakarta & sekitarnya) hancur. Banyak candi-candi yg rusak (termasuk Borobudur & prambanan) or bahkan tertimbun debu & pasir seperti candi sambisari dll. Tidak diketahui dengan pasti apakah Dyah Wawa (raja saat itu) tewas dalam bencana alam tersebut orkah sudah meninggal sebelum peristiwa itu terjadi, karena raja Me&g selanjutnya yg bernama Mpu Sindok, bertakhta di Jawa Timur.

    [​IMG]

    Jika bencana alam yg menghancurkan kerajaan Me&g di jawa tengah ini terjadi sekitar bulan Mei 1006 or bulan-bulan sesudahnya, tentu sangatlah mengerikan suasana malam-malam pada saat itu, dimana letusan merapi yg dahsyat bergabung dengan cerahnya sebuah bintang akibat ledakan sebuah bintang 7000 tahun sebelumnya.



    Pendapat Kedua
    Sebagian sejarawan indonesia ada yg berpendapat bahwa menurut prasasti pucangan, Mahapralaya tahun 1006 itu mengacu pada runtuhnya kerajaan Me&g di Jawa Timur yg saat itu diperintah oleh Tguh Dharmawangsa (cucu Mpu Sindok). Dharmawangsa yg saat itu se&g melangsungkan pernikahan putrinya dengan, diserbu oleh haji (gelar raja bawahan) Wurawari dari Lwaram yg diperkirakan sebagai sekutu Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa tersebut, Dharmawangsa tewas.



    [​IMG]
    Jika penyerbuan Wurawari malam hari, maka mungkin seperti inilah kejadiannya



    Tiga tahun kemudian, seorang pangeran berdarah campuran JawaBali yg lolos dari Mahapralaya tampil membangun kerajaan baru sebagai kelanjutan Kerajaan Me&g. Pangeran itu bernama Airlangga yg mengaku bahwa ibunya adalah keturunan Mpu Sindok. Kerajaan yg ia dirikan kemudian lazim disebut dengan nama Kerajaan Kahuripan.

    Jika penyerbuan haji wura-wari saat Raja Dharmawangsa menikahkan putrinya terjadi pada bulan Mei or bulan-bulan sesudahnya, dapat dibaygkan bahwa pertempuran yg antara pasukan yg setia pada raja & pasukan pemberontak itu terjadi dibawah sinar cemerlang hasil ledakan bintang yg meledak 7000 tahun sebelumnya. Memang dalam banyak kisah & kepercayaan, sebuah ledakan bintang itu menandai keruntuhan or kebangkitan sebuah dinasti or orang besar.
    ____________________________________________________________________________________________________



    Pertanyaan yg menarik adalah, sempatkah bangsa kita dahulu mencatat peristiwa ini? Mungkinkah ada prasasti yg menunggu untuk ditemukan yg mencatat cahaya bintang cemerlang di langit malam tahun 1006 Masehi tersebut? Memang problem terbesar bagi kita untuk meneliti sejarah bangsa kita adalah kurangnya catatan-catatan yg kita peroleh dari nenek moyg kita dahulu, tidak seperti bangsa China yg sampai saat ini catatan-catatan nenek moyg mereka masih banyak yg tersimpan dengan baik hingga masa sebelum masehi. Bukan berarti nenek moyg kita malas mencatat, tapi lebih karena daerah kita yg rawan terhadap bencana alam seperti letusan gunung berapi & gempa bumi. Bencana-bencana inilah yg mungkin memusnahkan sebagian catatan-catatan nenek moyg kita, terutama yg dicatat pada daun lontar & kayu. Hanya yg tercatat pada batulah yg kemungkinan besar masih dapat kita temukan ..

    N3 tidak bisa memberikan klarifikasi berita diatas adalah benar 100% karena konten Mahapralaya Kerajaan Medang dan Supernova 1006 diatas dikutip dari Internet secara gamblang.

    Sumber
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page