Liga Spanyol Menakar Masa Depan Pep Guardiola Di Bayern Munich

Discussion in 'Bola' started by Bola, Aug 15, 2015.

Discuss Menakar Masa Depan Pep Guardiola Di Bayern Munich in the Bola area at Nyit-Nyit.Net

  1. Bola Tebak.Net Journalist

    Messages:
    46,952
    Likes Received:
    0
    Trophy Points:
    1
    Game:
    Tidak Ada
    Bayern Munich memang masih berada dalam salah satu periode terbaik dalam sejarah klub. Bagaimana tidak? Sejak musim 2012/13 The Bavarian tak pernah berhenti merengkuh gelar. Mulai dari level domestik, Eropa, bahkan dunia. Kekuatan mereka yang sedekade sebelumnya terkesan diremehkan, kini kembali elit.

    Namun nyatanya tak segalanya berjalan indah dalam periode emas tersebut. Kegagalan Bayern untuk kembali berjaya di Eropa dalam dua musim terakhir jadi penyebabnya, pun meski mereka tetap jadi raja di Jerman.

    Salah satu sosok paling bertanggung jawab atas hasil tersebut adalah sang pelatih kepala, Josep "Pep" Guardiola. Juru taktik asal Spanyol yang pernah membawa Barcelona treble winners itu tak kunjung bisa menyalin prestasi serupa milik pendahulunya, Jupp Heynckes, di Bayern pada musim 2012/2013 lalu.

    Lambat laun tekanan pada Pep untuk membawa Bayern ke level dua musim silam semakin membesar. Puncaknya bisa dikatakn ada pada musim ini, musim 2015/16. Momen itu sekaligus bertepatan dengan masa penghabisan kontrak sang entrenador di klub terbaik Jerman tersebut.

    Menilik kiprahnya dalam dua musim terakhir, hasil uji coba pra musim yang tergolong standar, dan kegagalan di Piala Super Jerman 2015, akankah 2015/16 jadi periode pamungkas Pep melatih Bayern?

    [​IMG]

    "Guardiola adalah pelatih kelas dunia. Namun sekarang dia harus membuktikan dengan mempersembahkan gelar Liga Champions bersama skuat ini [Bayern]. Bayern mengharapkannya bisa memberikan gelar tersebut karena untuk itulah dirinya berada di sini," begitu tuntut legenda Bayern, Steffan Effenberg, pada Guardiola.

    Tak bisa dimungkiri, Guardiola adalah pelatih kelas dunia. Ia bahkan salah satu yang terbaik di dunia. Namun menengok prestasinya sejak melatih Bayern di musim panas 2013, sejatinya tak ada yang benar-benar istimewa dari racikannya. Keraguan yang dipendam publik pun lambat laun muncul ke permukaan. Ia dicap sebagai sosok pelatih yang membutuhkan "dewa" layaknya Lionel Messi, seperti saat dirinya melatih Barcelona.

    Lima trofi mayor memang sudah diberikan nakhoda berusia 44 tahun tersebut ke rak lemari Die Roten. Dari jumlah tersebut, mari katakan bahwa gelar Bundesliga Jerman dan DFB-Pokal Jerman adalah yang sejati, karena benar-benar dilalui selama semusim penuh. Namun harus diakui pula, jika sepasang gelar tersebut sudah bagai tradisi bagi Bayern, sehingga jika sampai tak juara artinya mereka telah mengalami kegagalan yang luar biasa.

    Karenanya sesuai permintaan Effenberg, yang mewakili aspirasi seluruh fans Bayern di seluruh dunia, Guardiola harus membuktikan kualitas sejatinya dengan gelar Liga Champions! Inilah kesempatan terakhirnya, karena jika hanya gelar domestik lagi, Bayern tentu paham mereka tak butuh pelatih bergaji €17 juta per musim untuk mewujudkannya.

    [​IMG]
    Manajemen Bayern sudah berinvestasi banyak untuk Guardiola

    Untuk mewujudkannya Bayern bahkan sampai memudarkan aura elegannya, yang dikenal sebagai tim besar dengan bujet cerdas. Dahulu Bayern tak seperti Real Madrid, Barcelona, atau klub-klub Liga Primer Inggris, untuk membentuk skuat juara. Mereka memang yang terkaya di Bundesliga dan hobi mencomot pemain rival lawan, tapi tindakan itu selalu dilakukan dengan harga yang masuk akal.

    Bayern memang tidak benar-benar keluar dari tradisinya tersebut, tapi sejak kedatangan Guardiola, secara akumulatif mereka mulai terlihat kalap di lantai bursa. Total €193,1 juta digelontorkan untuk memperdalam skuat sejak kedatangan Guardiola. Jumlah itu jadi yang tertinggi sepanjang sejarah klub, dalam rentang tiga musim konsekutif.

    Dari situ dapat kita simpulkan sendiri, seberapa besar dukungan dan ekspektasi manajemen klub untuk Guardiola. Untuk mengeluarkan dana sebesar itu, mereka bahkan rela melepas para idola Jerman macam Mario Gomez, Toni Kroos, hingga yang terkini Bastian Schweinsteiger.

    Sayang, jika ukurannya adalah Liga Champions, maka tak ada satu pun transfer yang sukses dari jumlahnya fantastis itu. Medhi Benatia, Mario Gotze, hingga Robert Lewandowski tak kunjung bisa menampilkan performa puncak. Bagaiamana dengan ekspansi pemain Spanyol yang jadi request khusus Guardiola? Thiago Alcantara akarab dengan meja perawatan, Xabi Alonso tampak makin menggemari blunder, sementara Juan Bernat? Dirinya masih terlalu hijau.

    Menarik dinanti, apa yang bisa dibuktikan Arturo Vidal dan Douglas Costa yang jadi pembelian termahal Bayern di bursa musim panas ini?

    [​IMG]
    Guardiola harus makin bijak merotasi pemain agar tak terus mengambinghitamkan cedera

    Gaji besar, investasi pemain yang menggunung, hingga tak sungkan mengabulkan permintaan khusus di bursa transfer, Guardiola masih juga gagal memberikan "Si Kuping Lebar". Tapi ia masih memiliki alibi mengapa hal itu bisa terjadi. Sesuai dengan fenomenanya, cedera dijadikan kambing hitam.

    Tak bisa dipungkiri memang, salah satu faktor utama mengapa Bayern gagal di babak semi-final Liga Champions dua musim terakhir adalah karena para pilarnya terkapar di meja perawatan. Bak kehabisan bensin, setelah mulus di fase sebelumnya mereka kemudian kalah dengan skor mencolok secara agregat, yakni 5-0 dari Madrid dan 5-3 dari Barca.

    Saking gemasnya dengan masalah tersebut, secara kejam Guardiola bahkan sampai membuat dokter klub yang sudah mengabdi selama 40 tahun, Hans-Wilhelm Muller-Wohlfahrt, mengundurkan diri dari jabatannya. "Untuk alasan yang tak bisa dijelaskan, departemen medis dituding bertanggung jawab. Ikatan kepercayaan telah rusak," ungkap Muller-Wohlfahrt, saat mengumukan pengunduran dirinya.

    Namun jika dikorek lebih dalam lagi, sejatinya badai cedera juga tak bisa dilepaskan dari tanggung jawab Guardiola. Transisi gaya bermain dan kebijakan rotasi yang diterapkannya jadi pendukung faktor tumbangnya pemain. Para penggawa Bayern jelas butuh adaptasi tak sebentar untuk menerapkan filosofi tiki-taka, karena mereka terbiasa bermain dengan tempo stagnan ala sepakbola Jerman.

    Sementara untuk rotasi pemain, Guardiola memang bijak dalam hal rotasi menit bermain bukan pada kuantitas pertandingannya. Meski hanya lima menit bermain misalnya, pemain andalan yang turun -- kendati tak begitu dibutuhkan -- dalam jalannya laga, tentu memiliki potensi lebih besar untuk cedera. Sepetinya sang entrenador harus mulai mengurangi kebiasannya menurunkan skema inti di ajang DFB-Pokal, demi target wajib Liga Champions.

    [​IMG]

    Kesimpulannya bisa dilihat dengan jelas, yakni Liga Champions. Kompetisi tertinggi sepakbola Eropa itu jadi takaran masa depan Guardiola di Allianz Arena.

    Dan jika segala masalah yang hadir tak segera ditemukan solusinya, bukan tidak mungkin Bayern terhenti lebih dini di Liga Champions. Jika hal itu terjadi, maka jangan heran jika manajemen klub akan dengan kejam memecat Guardiola, sebelum musim 2015/16 berakhir.

    "Saya yakin Guardiola akan pergi. Di mana logisnya menunggu sampai musim dingin untuk memperpanjang kontrak? Perpanjang sekarang atau pergi sekalian," tutur legenda Bayern lainnya, Lothar Matthaus.

    Kini semuanya tergantung Guardiola, sukses di Liga Champions dan mendapat perpanjangan kontrak? Atau akhirnya gagal dan lebih dikenal sebagai pecundang, meski sudah memberi banyak gelar?


    [​IMG]
    addResponsivePlayer('1kkzo1bfxvivw1jiuq3as1v7tm', '', '', 'perf1kkzo1bfxvivw1jiuq3as1v7tm', 'eplayer40', {age:1433393554230});

    liga spanyol table, klasemen, seri b, malam ini, terkini, divisi 2, Menakar Masa Depan Pep Guardiola Di Bayern Munich
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page