Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji?

Discussion in 'Entigapedia' started by ON3, Jul 13, 2013.

Discuss Mengapa Di Indonesia Ada Gelar Haji? in the Entigapedia area at Nyit-Nyit.Net

  1. ON3 Mahasiswa Journalist

    Messages:
    17,123
    Likes Received:
    54
    Trophy Points:
    48
    <div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">Gelar haji Konon hanya dipakai oleh bangsa melayu. Tidak ada dalil yang mengharuskan jika setelah menunaikan ibadah haji harus diberi gelar haji/hajjah. Bahkan sahabat Rasulullah pun tidak ada yang dipanggil haji. </span></div><div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">&nbsp; </span></div><div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">Sejarah pemberian gelar haji dimulai pada tahun 654H, pada saat kalangan tertentu di kota Makkah bertikai dan pertikaian ini menimbulkan kekacauan dan fitnah yang mengganggu keamanan kota Makkah.

    </span></div><div class="separator" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;"><a class="noBottomLine" href="http://4.bp.blogspot.com/--pqdLcL0sDw/Ud0DravkADI/AAAAAAAARO8/vQiOLdR054g/s1600/pak-haji-kartun.jpg" target="_blank"><img border="0" height="297" src="http://4.bp.blogspot.com/--pqdLcL0sDw/Ud0DravkADI/AAAAAAAARO8/vQiOLdR054g/s400/pak-haji-kartun.jpg" width="400" /></a></span></div><div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">

    Karena kondisi yang tidak kondusif tersebut, hubungan kota Makkah dengan dunia luar terputus, ditambah kekacauan yang terjadi, maka pada tahun itu ibadah haji tidak bisa dilaksanakan sama sekalai, bahkan oleh penduduk setempat juga tidak.&nbsp;</span></div><div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">
    Setahun kemudian setelah keadaan mulai membaik, ibadah haji dapat dilaksanakan. Tapi bagi mereka yang berasal dari luar kota Makkah selain mempersiapkan mental, mereka juga membawa senjata lengkap untuk perlindungan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan. Dengan perengkapan ini para jemaah haji ibaratkan mau berangkat ke medan perang.

    Sekembalinya mereka dari ibadah haji, mereka disambut dengan upacara kebesaran bagaikan menyambut pahlawan yang pulang dari medan perang. Dengan kemeriahan sambutan dengan tambur dan seruling, mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari situ, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

    </span></div><div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: left;"><span style="font-size: small;">
    <span><b>Gelar Haji di Indonesia</b></span>
    Di zaman penjajahan belanda, pemerintahan kolonial sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapat ijin dari pihak pemerintah belanda. Mereka sangat khawatir dapat menimbulkan rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi, lalu menimbulkan pemberontakan.

    </span></div><table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; margin-left: 0px; margin-right: auto; text-align: left;"><tbody><tr><td><span style="font-size: small;"><a class="noBottomLine" href="http://2.bp.blogspot.com/-4ykWjOwmLnQ/Udz_988onbI/AAAAAAAAROs/DJrnLJ0fmMg/s1600/kh-hasyim-asyari.jpg" target="_blank"><img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-4ykWjOwmLnQ/Udz_988onbI/AAAAAAAAROs/DJrnLJ0fmMg/s400/kh-hasyim-asyari.jpg" width="300" /></a></span></td></tr><tr><td class="tr-caption"><span style="font-size: small;"><i><span>Ilustrasi K.H. Hasyim Ashari</span></i></span></td></tr></tbody></table><div style="text-align: left;"><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">Masalahnya, banyak tokoh yang kembali ke tanah air sepulang naik Haji membawa perubahan. Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam. </span></span><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">Hal-hal seperti inilah yang merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke tanah air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903. Pemerintahan kolonial pun mengkhususkan P. Onrust dan P. Khayangan di Kepulauan Seribu jadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia. </span></span><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">Jadi demikianlah, gelar Haji pertama kali dibuat oleh pemerintahan kolonial dengan penambahan gelar&nbsp; huruf&nbsp; “H” yang berarti orang tersebut telah naik haji ke mekah. Seperti disinggung sebelumnya, banyak tokoh yang membawa perubahan sepulang berhaji, maka pemakaian gelar H akan memudahkan pemerintah kolonial untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakan.</span></span><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><br style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;" /><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">Uniknya, pemakaian gelar tersebut sekarang malah jadi kebanggaan. Tak lengkap rasanya bila pulang berhaji tak dipanggil "Pak Haji" atau "Bu Hajjah". Ritual ibadah yang berubah makna menjadi prestise?&nbsp; Ironis...</span></span></div><div style="text-align: left;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">&nbsp;</span></span></div><div style="text-align: left;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">&nbsp;</span></span></div><div style="text-align: left;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;">&nbsp;</span></span></div><div style="text-align: left;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"><a href="http://www.apakabardunia.com/2013/07/mengapa-di-indonesia-ada-gelar-haji.html">sumber </a></span></span></div>
     

    Gunakan jasa Rekber N3 untuk menjamin jual beli anda atau menghindari penipuan dengan meng klik disini

Share This Page